...Fitnah...
# 26 Juni 2008 (malam)
Menu Shop merupakan salah satu menu yang luar biasa yang dimana Felix mampu membeli skill atau fitur berbayar.
Saat melihat fitur itu, felix mempertanyakan ide nya.
"Viki, apakah System memiliki fitur penukaran? Soalnya rasa nya akan merepotkan jika aku harus menjual barang di toko yang bahkan aku belum percaya dengan harga nya."
Kling!
[Tuan, anda bisa mengunakan Kartu Trade yang dimana Tuan harus memiliki fitur bawaan diantara nya Kartu System Virtual Account dan Kartu S-Banking.]
Dalam penjelasannya, System Virtual Account adalah sebuah uang virtual yang dimana mampu menyimpan uang asli seperti aplikasi di tahun 2020-an.
Sedangkan, S-Banking adalah kepanjangan dari System Banking yang dimana memiliki fitur seperti mobile banking yang dimana pengguna mampu melakukan transaksi bank dimana pun dan kapan pun.
Dan, masing-masing dari fitur itu. Felix harus membayar nya dengan harga yang berbeda-beda.
Kartu S-Banking seharga 500G.
Kartu System Virtual Account seharga 100G.
Dan, terakhir Kartu Trade yang memiliki harga 1.000G.
Jika dirupiahkan Felix menghabiskan 320 juta Rupiah.
Seusai membeli semua fitur itu, Felix menjalankan ide nya dengan menukar 100 emas batang 1 kg 24 karat yang pada tahun 2008 memiliki nilai tukar 270 ribu. Maka, Felix pun mendapatkan ...
Kling!
[54 milliar rupiah telah masuk ke rekening Virtual Account Tuan.]
Setelah nya, Felix coba menukar uang rupiah dengan us Dollar yang mana tahun itu memiliki nilai tukar sebesar 10 ribu rupiah per dolarnya. Lalu, Felix pun menukar setengah rupiah nya.
Kling!
[2,4 juta US Dollar telah masuk ke rekening anda.]
[S-Banking: Transaksi berhasil. Sisa saldo: 24 milliar rupiah.]
Felix tersenyum lebar, "Viki, System memang luar biasa. Terimakasih."
Kling!
[Senang bisa membantu, Tuan.]
Memahami kemampuan System yang luar biasa, Felix pun menjadi penasaran dengan kemampuan yang sebenarnya dari System.
"Viki, kemampuan apa saja yang bisa dilakukan oleh System?"
Kling!
[Apapun System bisa melakukan dengan harga yang ditetapkan terkecuali menghidupkan yang mati.]
"Oh, menarik. Jika memang seperti itu, aku akan mengandalkan kalian, Viki dan System."
Kling!
[My Pleasure, Master!]
Tidak lama kemudian, sebuah panggilan telepon datang.
Drrt! Drrt!
Felix mengambil ponsel dan melihat layar yang dimana ayahnya lah yang menelepon. Lalu, mengangkat nya.
"Halo, ayah. Ada apa?"
"Felix, apakah kamu ada masalah di sekolah?"
"Eh? Tidak ada, ayah. Kenapa memang?"
"Kepala sekolah memanggil ayah besok?"
"Oh, begitu. Baiklah, ayah. Besok aku akan ke sekolah juga."
Lalu, panggilan pun berakhir. Tidak lama juga, sebuah pesan masuk dari guru Konseling yang meminta untuk Felix hadir besok dan langsung pergi ke ruang kepala sekolah.
Felix menduga-duga dan hanya ada satu kesimpulan.
"Mungkinkah ini akal-akalan dari Hassan dan gang nya," gumam Felix.
# 27 Juni 2008 (Pagi)
Pagi itu, Felix sedang berdiri didekat pintu ruang kepala sekolah yang dimana Hassan sedang duduk di kursi kepala sekolah dengan kaki diatas.
"Duh, rasanya sakit tahu, pak kepala sekolah! Mungkin, tulangku juga kena," rengek sengaja Hassan di depan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Kepala sekolah dan wakilnya tidak menegur sikap ketidaksopanan Hassan lantaran dia anak dari pemilik yayasan sekolah tersebut.
Wijaya Group.
Selain status Hassan yang dihormati kepala sekolah, Hassan juga memberikan bukti video pemukulan Felix terhadap dirinya dan mengancam kepala sekolah beserta wakilnya jika kasus itu tidak diusut.
"Apakah kita perlu pergi ke rumah sakit?" ucap perhatian kepala sekolah.
Felix tersenyum kecil melihat kelakuan kekanak-kanakan dari Hassan.
"Ayahku sudah menyumbang cukup banyak ke sekolah ini, kan? Tapi, perlakuan yang kudapatkan malah seperti ini ..."
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar dan kepala sekolah melihat kearah pintu. "Masuklah!"
Krek!
Pintu terbuka yang mana ayah dari Hassan datang bersama ayah nya Felix yang mengikuti dibelakang nya.
"Presdir, silahkan!" seru sekertaris ayahnya Hassan.
Dia Agung Wijaya, generasi kedua dan pemimpin tertinggi dari Wijaya Group.
Dengan wajah dingin, Agung masuk kedalam ruang kepala sekolah dan sesaat kedatangan nya, Hassan langsung berdiri begitu juga kepala sekolah dan wakilnya.
Lalu, Agung duduk di sofa tengah menghadap Felix sedangkan, Andika berdiri disamping putra nya tersebut.
Agung menatap dingin Felix namun, Felix tersenyum kecil serta menganggukkan kepalanya. Lalu, Agung memulai pembicaraan nya.
"Jadi, kamu adalah putra nya dari kepala departemen Andika, ya?"
Felix yang belum sempat menjawab, Andika sontak mengambil inisiatif untuk menjawab nya.
"Saya sangat minta maaf atas kejadian kali ini."
Hassan yang melihat itu, dia tertawa kecil.
"Eh, apa? Putra karyawan perusahaan memukul ku?"
Agung pun sontak menegurnya, "Hassan."
Hassan langsung terdiam dan Agung menyambung ucapan nya, "Mohon maaf soal putra ku yang tidak sopan ini."
"Tidak, itu tidak lah benar," jawab Andika.
"Namamu Felix, ya?"
Felix tersenyum kecil, "Iya, nama ku Felix."
Melihat senyuman Felix, Agung pun tersenyum remeh dan menyambung ucapannya. "Apa hukuman baginya? Sudah ditetapkan?"
"Ya, disekolah kami. Kekerasan tidak diizinkan atas alasan apapun. Lalu, berdasarkan peraturan sekolah. Kamu akan dikeluarkan," jawab kepala sekolah.
Andika sontak terkejut mendengar nya, "Apa? Dikeluarkan?"
Hassan yang mendengar itu, dia sontak meledeknya. "Eh... Dikeluarkan, ya."
Lalu, kepala sekolah menyambung ucapannya.
"Lalu, untuk hukuman pidana lainnya cukup serahkan ke kepolisian."
Agung memotong pembicaraan, "Ah. Soal itu mari sederhanakan saja. Karena hubungan ku dengan kepala departemen Andika itu sudah berlangsung lama-"
Sebelum menyelesaikan perkataan nya, Felix memotong.
"Maaf, menyela. Apa maksudnya ini semua, aku tidak mengerti sama sekali?"
Agung sontak terdiam melihat kearah Felix dengan tatapan tajam. Meski begitu, Felix tidak gentar untuk membalas tatapan nya.
Berbeda dengan Hassan, dia sontak berdiri dan marah. "Jangan pura-pura belaga baik! Gua punya bukti bahwa Lu yang memulai kekerasan memukul Gua."
Felix melihat kearah Hassan dengan jawaban santai. "Bukan itu seperti maling teriak maling. Lagipula rang yang melakukan tuduhan tanpa alat bukti dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur Pasal 311 ayat 1 KUHP karena telah melakukan fitnah."
Semua orang terkejut mendengar ucapan Felix yang mengerti hukum. Memang untuk beberapa saat sebelum, dia pernah belajar hukum-hukum dasar maka dari itu, dia sedikit tahu tentang hukum.
"Bedebah! Lu bicara apa, a-njing! Gua punya bukti nya!" seru kesal Hassan yang sontak mengambil handycam yang berada diatas meja.
Melihat itu, Felix bisa ambil kesimpulan bahwa ada sebuah video yang merekam kejadian perkelahian dirinya dengan Hassan dan jika itu benar, pasti video itu sudah di edit.
Memahami itu, Felix meminta bantuan System.
"Viki, aku butuh bantuan. Bisakah kamu menghapus video yang ada didalam video itu?"
Kling!
[Bisa. Saya akan menghapus video di handycam itu akan tetapi dengan biaya 50G. Apakah Tuan bersedia?]
Melihat harga yang berarti Felix harus membayar 10 juta rupiah untuk jasa penghapusan video. Meski demikian, Felix tidak mempermasalahkan.
"Tidak masalah. Lakukan!"
Kling!
[Service. Video telah terhapus.]
[50G telah terpakai.]
Felix sontak tersenyum dan memiliki kepercayaan diri untuk melawan beberapa orang yang ingin memfitnah nya.
"Kalau begitu, tunjukkan kepada ku video nya! Jika memang itu bukti. Maka aku siap menerima hukuman apapun." Felix melihat kearah Agung. "Meski masuk penjara sekalipun."
Agung tersenyum kecil begitu juga Felix.
Hassan pun semakin kesal. "Bajingan, lihat ini!"
Hassan bergegas membuka handycam nya dan ingin menampilkan video akan tetapi...
"Ke-kenapa tidak ada video satu pun disini?" kaget panik Hassan dan hal itu membuat tangan bergetar.
Kepala sekolah dan wakilnya sontak menghampiri Hassan. Lalu, memeriksa handycam tersebut.
"Ini sungguh aneh. Kenapa tidak ada?" ucap Kepala sekolah.
Kepanikan mereka tentu dari kepercaya diri sebelumnya yang mana mereka sudah mempersiapkan jebakan untuk Felix agar terkena hukuman keluar dari sekolah bahkan masuk penjara remaja. Namun, sistem milik Felix menggagalkan nya.
Memahami situasi itu, Felix menoleh kearah ayahnya dan memberikan senyuman kepada nya. Andika yang melihat itu, dia juga membalas nya dengan senyuman.
Lalu, Felix kembali melihat Agung dan lainnya.
"Jadi, bagaimana kalau kita menganggap kejadian ini tidak ada?" Felix menatap Agung dan membalas hinaan ayah nya. "Hitung-hitung untuk mempertahankan harga diri keluarga Wijaya dari anak yang memalukan seperti nya."
Agung tersenyum kecil namun, kedua tangan yang ditaruh disisi sofa dikepal erat.
Hassan yang mendengar itu, dia sontak maju dan melesatkan pukulan dengan senjata Handycam.
"Bajingan!"
Agung yang melihat itu, dia sontak menghentikan nya dengan seruan keras, "Hassan!"
Hassan sontak terdiam mendengar nada tinggi dari ayahnya.
Lalu, Agung dengan tatapan dingin dan marah. Dia sontak beranjak diri dan meninggalkan ruangan. Hassan juga mengikuti ayahnya dari belakang.
Felix juga mengajak ayah nya.
"Ayah, ayo kita pulang!"
"Oh, Iya. Ayo!"
Felix dan ayahnya juga berbalik badan dan meninggalkan ruangan namun, kepala sekolah menghentikan mereka.
"Maaf, bisakah tunggu sebentar?"
Mendengar itu, Felix dan Andika menghentikan langkahnya. Lalu, berbalik badan.
"Ada apa, pak?"
"Murid Felix, bapak mohon maaf atas kejadian tadi. Bapak ..."
Felix tersenyum, "Tidak apa-apa, pak. Aku mengerti. Uang bisa merubah salah benar namun, tidak bisa merubah hati. Terimakasih pak, anda sudah jujur."
"Terimakasih juga. Kamu memang murid jenius disekolah ini. Bapak bangga kepada mu!"
Felix dan Andika saling bertukar senyum mendengar pujian kepala sekolah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
kwon dae
senyum' muluu dahh,dikt' senyum muak elah thorr,apa-apa harus senyum taa?
2025-02-09
0
Nino Ndut
gw klo jd mc bakalan balik gw kerjain tuh bocah n bokapnya..secara udh seenaknya begitu memanfaatkan kekuasaan dan kekuatan dananya..minimal gw jadiin gelandangan tuh bokap anak
2023-08-01
4
Jimmy Avolution
Yo...ayo...
2023-07-29
2