HAPPY READING
.
.
.
.
London Heathrow Airport
Setelah melakukan perjalanan selama hampir 8 jam, tiba juga dirinya di bandara Udara Heathrow. Melangkahkan kaki dengan menyeret kopernya turun dari pesawat, mengenakan mantel berwarna hitam dengan kaos abu-abu lengan panjang dan celana jeans hitam serta memakai kacamata hitam, tidak lupa pula sepatu boots hitam dan kupluk-nya. Penampilannya dapat menarik perhatian setiap mata yang melihatnya karena memang memiliki paras yang sangat cantik. Ya, wanita itu adalah Elleana.
Akhirnya setelah tiga tahun lamanya, meninggalkan Kota London. Baru kali ini ia menginjakkan kakinya lagi di negara kelahirannya, negara yang memiliki begitu banyak kenangan bersama mendiang kedua orang tuanya.
Wanita itu kembali dengan penuh tekad untuk membalaskan dendamnya, membalas perbuatan orang-orang yang sudah membuat perusahaan yang telah berpuluh-puluh tahun di jaga oleh daddy nya dengan seluruh nyawa daddy nya dalam sekejap saja bisa runtuh.
Elleana menghentikan langkahnya sejenak dan mengambil ponselnya yang berdering di dalam tas.
"Hallo kak. Aku sudah tiba di bandara. Kau dimana?" ucap Elleana.
"Sebentar lagi aku akan tiba," sahutnya di seberang sana.
"Ya, baiklah aku akan menunggumu."
Tidak lama kemudian, ia melihat seorang pria tampan yang melambaikan tangan ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Edward, kakak yang sangat ia sayangi itu, yang selama tiga tahun ini ia rindukan.
Elleana pun segera menghampiri kakaknya lalu memeluk sang kakak dan begitu pun sebaliknya, Edward memeluk dan mencium puncak kepala Elleana.
"Haaii kakakku tersayang, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau sangat tampan kak? Aku jadi tidak ingin melepaskan pelukan kita!" seru Elleana yang membuat Edward terkekeh dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Aku memang dari dulu sudah tampan honey. Dan kau juga terlihat semakin cantik," balas Edward sembari mengusap rambut adiknya itu.
Banyak sepasang mata yang melihat interaksi mereka, yang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang telah lama tidak bertemu.
Dan kakak beradik itu hanya tertawa ketika melihat orang-orang yang menatap mereka dengan kagum karena kemesraan dan keserasian mereka. Pria dan wanita yang keturunan Asia itu memang benar-benar tampan dan cantik.
Mereka pun berjalan menuju mobil. Edward membawakan koper Elle dan meletakkannya di bagasi.
Di dalam perjalanan mereka saling bertukar cerita sampai akhirnya mereka telah tiba di mansion mewah milik keluarga Miller.
Elleana dan Edward keluar dari mobil. Dan mereka di sambut oleh para maid dan juga para pengawal.
Elle menatap bangunan rumah mewahnya, ya masih tetap sama seperti dulu, rumah yang memiliki banyak kenangan bersama kedua orangtuanya. Sungguh Elle tidak ingin pergi lagi.
Edward berbicara pada satpamnya untuk mengambilkan koper milik Elle yang berada di bagasi mobil.
Kedatangan Elleana di sambut dengan ramah oleh para maid termasuk Bi Anne, yang telah mengasuh Elleana dari kecil.
"Hallo bi, bagaimana kabarnya ?" tanya Elleana seraya memeluk bi Anne.
"Baik nona, nona Elle apa kabar ? Mengapa nona begitu lama tidak pulang ?" tutur bi Anne membalas pelukan Elleana.
"Aku baik bi, karena aku begitu banyak pekerjaan jadi tidak bisa pulang dengan cepat bi." Elleana melepaskan pelukan mereka.
Hanya berbicara beberapa saat dengan bi Anne, sebelum kemudian wanita itu melangkah menuju kamarnya karena sudah terlalu lelah, ia ingin segera beristirahat.
Kamar nya masih tetap sama seperti tiga tahun yang lalu, seperti saat kedua orang tuanya masih hidup.
Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memejamkan mata, dirinya begitu merindukan kamarnya ini.
Baru beberapa menit ia memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Terlihat jelas nama si penelepon. Yang tak lain ialah Millie, sahabatnya.
Meraih ponselnya yang berada di atas ranjang. Elleana segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Mill?" jawabnya.
"Kau kemana saja Lea, aku menghubungi sejak pagi tetapi tidak tersambung. Apa kau baik-baik saja? Kau hanya mengirim pesan seperti itu tadi malam dan aku sangat mencemaskan mu!" Millie berucap dengan suara yang terdengar sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja Millie.. kau tidak perlu mencemaskan ku.. Aku berada di London. Maaf aku tidak memberitahumu," ucap Elleana yang merasa bersalah.
"Kenapa kau pulang ke sana? apa terjadi sesuatu?" tanya Millie sekali lagi memastikan.
"Aku belum bisa menjelaskannya saat ini, yang pasti aku baik-baik saja. Dan kalau nanti kau ada waktu, kau bisa menyusul ku kesini. Aku pasti akan selalu merindukanmu," tutur Elleana. Akan mengabiskan waktu seharian jika harus menjelaskannya di telepon.
"Ya syukurlah. Aku juga akan merindukanmu. Kabari aku jika terjadi sesuatu, oke?"
"Tentu.. tolong kau urus cafe di sana ya. Aku belum bisa memastikan kapan bisa kembali kesana," ucap Elleana seraya mengambil beberapa baju di lemarinya.
"Baiklah, kau tidak perlu cemas. Aku akan mengurusnya."
"Terimakasih, kau memang yang terbaik."
Dan telepon pun terputus.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu.
Tok.. Tok.. Tok
Ternyata yang mengetuk adalah Edward. Salah satu tangan pria itu membawa koper Elleana dan meletakkannya di sisi lemari.
"Kau mandi lah dulu, lalu turun untuk makan. Kau pasti belum makan 'kan?" ujar Edward disertai senyuman.
"Iya baiklah kak. Aku akan mandi dulu. Kau bisa makan duluan jika sudah kelaparan kak." Elleana berkata dengan terkekeh, sebelum kemudian memasuki kamar mandi. Edward hanya menggelengkan kepala lalu keluar dari kamar Elleana.
15 menit sudah Edward menunggu di meja makan, akhirnya Elle pun turun dan duduk di kursi berhadapan dengan Edward.
Elle mengambilkan nasi serta lauk untuk Edward lalu setelah itu ia mengambil nasi dan lauk juga untuk dirinya sendiri.
"Apa kau tau, selama tiga tahun ini aku selalu makan sendirian, dan hari ini aku senang kita bisa makan bersama lagi," ucap Edward dan seketika itu wajah Elle menjadi sendu.
"Maafkan aku kak, karena tidak bisa selalu menemanimu," tutur Elle merasa bersalah, ia hampir saja menangis jika Edward tidak segera memeluknya.
"Sssttt, sudah tidak apa-apa. Maafkan aku yang membuatmu menjadi bersedih." Edward mengusap kepala Elleana, dan di balas anggukan kepala oleh Elleana.
Keduanya pun kembali melanjutkan makannya masing-masing. Ya, tentunya sambil bercengkrama.
Setelah makan, mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton film action, bahkan Edward menemani Elleana yang menonton film drama romantis yang membuat wanita itu menangis, Edward yang melihat Elleana menangis karena film hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh adiknya itu sangat menggemaskan.
Mereka menonton hingga larut malam. Cemilan serta minuman berhamburan dimana-mana. Dan Elleana pun kini tertidur di sofa, karena wanita itu terlalu banyak menonton film hingga kedua matanya tak lagi kuat menahan kantuk.
Edward pun segera menggendong Elleana ala bride style menuju kamar adiknya, lalu membaringkannya di atas ranjang dengan berhati-hati agar Elleana tidak terbangun. Edward tersenyum melihat Elleana yang tertidur pulas. Mengusap lembut wajah wanita itu, sebelum kemudian ia segera keluar dari kamar Elleana.
Tidak lama setelah Edward keluar dari kamar, ponsel Elleana berdering beberapa saat, lalu mati dengan sendirinya.
Ya, ternyata Xavier telah menghubungi wanita itu berkali-kali. Terdapat 10 panggilan tak terjawab dan 6 pesan dari Xavier yang belum terbaca.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
.
Terimakasih yang sudah setia membaca 🤗🤗
Jangan lupa untuk Like, Vote and Follow ya 😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 216 Episodes
Comments
gian rasyid
wiidihh... banyak amat 🤭🤭
2023-11-22
0
Alexandra Juliana
Pasti Babang Xavier lg kesal niihh tlpnya g diangkat² dan pesan² ny blm dibalas..
2022-12-13
0
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
wah ada yg nunggu kabar dari Lea😂😂😂
2021-09-10
0