KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Maaf jika ini menyakitimu, Raline, tapi aku harus tetap menyampaikannya,” ucap Athar menatap wajah Raline lekat.
Raline mengangguk. Bibir wanita itu dia paksakan untuk bisa memberi senyum menatap Athar. “Sampaikanlah, Mas. Sekalipun sakit, aku akan tetap menelannya,” jawab Raline tegar.
“Aku ingin kembali dengan Sesil.” Raline memejamkan mata mendengar apa yang Athar sampaikan. Sungguh, tidak ada yang lebih sakit dari ini, rasanya Raline lebih baik ditusuk belati di punggungnya daripada mendengar yang baru saja Athar sampaikan.
“Lalu bagaimana dengan keluarga kita, Mas?” tanya Raline dengan suara bergetar. Wanita itu masih berusaha menahan tangisnya agar tak pecah di depan Athar. Berpura-pura tegar dan kuat adalah hal tepat yang harus dia lakukan saat ini.
“Kamu bisa mengambil hak asuh Izel nanti setelah kita bercerai, dan aku akan selalu memberi nafkah kepada kalian berdua, jadi kau tidak perlu susah payah bekerja untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Athar dengan mudahnya tanpa memikirkan perasaan Raline sedikitpun.
“Mudahnya kamu bicara seolah semua ini tidak akan berpengaruh pada aku dan Izel, mas,” ucap Raline menatap Athar.
“Ini mungkin lebih baik daripada kita harus hidup dalam ikatan namun hanya ada kesakitan di dalamnya, Raline,” ucap Athar mengalihkan pandangannya dari Raline. Lelaki itu menatap lurus ke depan seolah menghindari pandangan Raline yang sudah sendu.
Raline mengangguk dan memberikan senyum miris terhadap nasib yang menimpanya.
“Harusya aku tak perlu bertanya itu karena kamu pasti sudah memikirkan semua ini dari awal kan, Mas?” tanya Raline yang dibalas anggukkan oleh Athar.
“Apa kamu sudah bertemu lagi dengan Kak Sesil?” tanya Raline pelan.
Athar menggeleng. “Tapi aku akan mencarinya,” jawab Athar menatap Raline sebentar.
Raline mengangguk. “Untuk sekarang, apapun yang membuat kamu bahagia maka lakukanlah, Mas. Aku dan Izel akan membuat cara sendiri untuk bahagia juga,” ucap Raline pasrah, sangat pasrah. Raline hanya bisa menuruti apa yang Athar sampaikan saat ini.
mungkin lelaki itu terlalu lama terpenjara dalam rumah tangga dengan cinta sepihak ini dengan Raline, kini saatnya Raline yang mengikuti keinginan Athar. Cukup sudah rasanya Raline berusaha namun akan tetap berujung pada kegagalan.
“Masih ada yang ingin kamu sampaikan, Mas?” tanya Raline menatap Athar lembut diiringi dengan senyum manis penuh kesakitan.
Athar menggeleng. Lelaki itu menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Raline sedikitpun.
“Kalau begitu aku tidur dulu, ya. Kamu jangan tidur terlalu larut, gak baik buat kesehatan kamu, Mas. Selamat malam, suamiku,” ucap Raline penuh kelembutan dan langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Athar.
Sedangkan Athar, lelaki itu langsung berdiri dan berjalan keluar kamar setelah melihat Raline merebahkan tubuhnya tanpa sepatah katapun yang dia ucapkan untuk membalas ucapan selamat tidur dari sang istri.
Pecah sudah tangis Raline saat kesepian kini menemaninya. Tubuh wanita itu bergetar hebat degan air bening yang menetes membasahi pipi mulusnya. “Aku gak nyangka malam ini akan terjadi, Tuhan. Aku sungguh tak siap mendengar semuanya, tapi kenapa keadaan memaksaku,” ucap Raline seolah tak terima dan hendak protes, tapi dia bisa apa? Hanya pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang bisa keluar dari mulutnya saat ini. Sungguh, Raline sungguh sakit dengan semua ini, tapi kenapa dia harus terjerat dalam cinta sepihak dengan suaminya sendiri?
“Aku juga ingin tidak mencintai kamu, Mas. Tapi nyatanya aku gak bisa, aku gak bisa, hiks,” ucap Raline dengan tangisnya yang tertahan oleh selimut. Raline tidak mau tangisnya yang kencang nanti akan memenuhi kamar ini hingga menyisakan kenangan yang sangat Raline benci.
“Rasanya ingin sekali aku mengulang masa lalu,” gumam Raline penuh penyesalan. Andai saja, andai saja dulu Raline tidak memaksa perasaaannya agar terbalas dengan Athar, maka tidak akan ada yang tersiksa seperti ini.
Malam ini Raline hanya bisa menangis tanpa mengobati sakit hatinya. Air mata seolah menjadi sahabat dan kesakitan adalah rumah yang akan selalu menunggu kepulangan Raline. Ya, pada akhirnya hanya sakit dan kecewalah yang akan Raline temui.
.....
Sesuai dengan janjinya dengan pihak Arthesi Corporation, kini Sesil, Fatan beserta Sania sudah sampai di kantor pusat Arthesi. Sesil turun dari mobil dan memandang gedung tinggi di hadapannya. “Ternyata bukan perusahaan sembarangan ya, Tan,” ucap Sesil sedikit takjub. Pasalnya, Sesil mengira yang akan bekerjasama dengannya hanyalah perusahaan kecil, tapi ini perusahaan besar dengan bangunan megah dan pastinya pendapatan perbulannya tak main-main.
“Ini Arthesi, Sil. Perusahaan properti terbesar kedua di Asia,” ucap Fatan tak habis pikir dengan Sesil yang tak mengetahui info sepenting itu.
“Ya mana aku tahu,” jawab Sesil sewot merasa tak terima direndahkan oleh Satan.
“Sania kemana, Ma?” tanya Sania yang sejak tadi hanya memperhatikan sekelilingnya. Anak itu sama sekali tidak tidur dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, dia benar-benar menikmati pemandangan gedung besar dan jalanan yang padat, malah mamanya yang tertidur dan Sania menjadi teman Fatan yang menyetir agar tak mengantuk.
Sesil dan Fatan saling pandang. “Bawa aja, Sil. Bos Arthesi orang baik, mereka gak bakal marah karena lo bawa anak kecil apalagi anak lo sendiri,” ucap Fatan memberi ide.
“Beneran?” tanya Sesil ragu.
Fatan mengangguk. “Daripada Sania kita titip sama Satpam kan lebih gak mungkin,” ucap Fatan yang dianggukki oleh sesil. Dia tidak mau jika nanti anaknya kepanasan di Pos Satpam dan dia malah sejuk di ruangan ber AC.
“Sania ikut mama sama om Fatan, ya,” ucap Sesil menatap Sania yang dianggukki anak itu dengan semangat.
“Ayo kita masuk,” ajak Fatan dan mereka mulai melangkahkan kaki memasuki gedung mewah itu.
“Wah, bagus sekali, Ma,” ucap Sania kagum saat mereka sampai di meja resepsionis.
Sesil tersenyum. “Berdoa semoga nanti Sania bisa bekerja di tempat ini nak,” ucap Sesil yang diangukki anak itu dengan semangat.
“Permisi, Mbak. Maaf sebelumnya, saya Fatan dan ini rekan saya ingin bertemu dengan pimpinan Arthesi,” ucap Fatan sopan memperenalkan diri dan menyebutkan tujuannya.
“Apa bapa sudah ada janji?” tanya resepsionis itu ramah.
“Sudah, mbak. Sampaikan saja saya Fatan, perwakilan dari pihak design pembangunan gedung di bogor,” jawab Fatan jujur.
“Baiklah tunggu sebentar ya, pak. Saya akan konfirmasi terlebih dahulu,” ucap resepsionis itu dan dia langsung melakukan panggilan entah dengan siapa Fatan tidak tahu.
Setelah lebih kurang satu menit resepsionis itu mempersilahkan Fatan dan Sesil untuk segera naik ke lantai paling atas ke ruangan pimpinan.
Sesil, Fatan dan Sania berjalan menuju lift. Menunggu beberapa saat giliran mereka memasuki lift dan Fatan langsung menekan tombol dua puluh sembilan menuju lantai paling atas.
“Semoga kali ini berhasil ya, Tan,” ucap sesil penuh harap.
Fatan mengangguk dan tersenyum. “semoga pihak Arthesi ini membawa rejeki buat kita, Sil.”
“Aamiin,” jawab Sesil lembut. Tepat saat mereka keluar dari lift dan sampai di lantai dua puluh sembilan, Sesil, Sania dan Fatan segera berjalan menuju ruangan yang bertulisan CEO itu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Soeharti Rifangi
gembiralah athar sebentar lagi km akan ketemu pujaan hatimu walau itu akan menyakiti bidadari dirumahmu ..semangat raline ..pasti kan ada kebahagiaan menantimu ..lanjuuut kaaak
2023-06-15
1