KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Athar menatap sekeliling melalui pandangan yang tertutup oleh kaca mata hitam itu. Lelaki itu menatap setiap sudut yang dia lalui dengan harapan yang masih sama. Semoga aku bisa kembali menjemputmu, masa laluku. Batin Athar dengan segala harapan egois yang ada dalam dirinya. Sungguh, saat ini Athar benar-benar mengesampingkan Raline dan Izel yang saat ini telah menjadi keluarga kecilnya.
“Maaf Raline, bukan salahku yang masih mencintainya, tapi hatiku yang tak bisa melupakannya dan sulit untuk menerimamu,” gumam Athar pelan tanpa bisa didengar oleh siapapun.
Berjalan beberapa menit, mereka sampai di restoran hotel yang terletak di bagian belakang hotel tersebut. Tepat di paling ujung, dino melihat seorang lelaki melambaikan tangan kearah mereka. “Ayo kita kesana,” ucap Dino mengajak Athar yang langsung dituruti oleh lelaki itu.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” ucap Dino mengajak lelaki yang menunggu mereka untuk bersalaman.
“Tidak apa-apa, pak. Harusnya saya yang berterimakasih karena bapak sudah mau menyusul kemari untuk meeting,” ucap lelaki itu sopan. “silahkan duduk, Pak Dino, Pak Athar,” sambungnya mempersilahkan Dino dan Athar untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Kau,,,” ucap Athar bingung harus memanggil apa, karena jujur saja athar sama sekali belum mengetahui nama lelaki di depannya ini.
Lelaki itu tersenyum. “Saya Fatan, Pak. Saya yang akan menjadi arsitek untuk pembangunan vila Bapak nanti. Harusnya saya berdua dengan teman perempuan saya, tapi saat ini dia izin karena harus merawat anaknya yang sakit, Pak,” jawab Fatan memberitahu.
Athar mengangguk dan setelahnya menatap Dino untuk memberi kode pada lelaki itu agar memulai meeting mereka.
“Em, baiklah Fatan tidak perlu basa-basi, ya. Bisa tunjukan kepada kami rancangan yang sudah kau janjikan seminggu yang lalu?” tanya Dino memulai meeting mereka.
Fatan mengeluarkan beberapa lembar kertas dengan tebal yang sudah dihiasi gambar bangunan dilengkapi warna yang sudah menyatu. Satu persatu fatan menjelaskan mengenai gambar yang sudah dia siapkan kepada athar dan dino.
“Apa semua ini kau yang membuatnya?” tanya Athar menatap helai demi helai kertas itu.
“Berdua dengan rekan saya, Pak,” jawab Fatan jujur.
Athar mengangguk. Setelah melihat semua lembar kertas itu, Athar memberikannya kepada Dino dan Dino yang meletakkan di meja depan mereka. “Semua rancanganmu bagus, aku suka. Tapi untuk menyesuaikan dengan perkembangan saat ini. aku ingin rancangan yang lebih baik lagi dan usahakan semuanya dilengkapi dan dihubungkan dengan teknologi.
Tujuan pembangunan vila ini adalah untuk semua kalanan. Aku yakin kau dan temanmu itu masih memiliki ide lain. Dan satu lagi, tolong tambahkan logo ini disetip kamar vila,” ucap Athar lembut namun sangat tegas memberi instruksi kepada fatan.
Dino menatap athar ketika melihat logo dua huruf itu. “kau serius?” tanya Dino sedikit berbisik.
“aku tidak main-main, dan kali ini jangan halangi aku,” ucap Athar tegas yang membuat Dino pasrah tanpa bisa membantah. Jika bukan dalam keadaan meeting, maka sudah dipastikan Athar dan Dino sudah terlibat perdebatan hebat.
Dino mengangguk beralih menatap Fatan. “Benar apa yang bapak athar sampaikan, Fatan. Kita akan tetap bekerjasama tapi kau harus membuat rancangan yang baru sesuai dengan masukan dari bapak athar tadi. Interiornya juga harus segera kau sesuaikan,” tambah Dino.
Fatan tersenyum dan mengangguk. Ternyata meeting dengan seorang pengusaha terkenal sekelan Athar dan Dino tidak semenekutkan yang dia kira. “Baik, Pak. Saya akan lakukan apa yang bapak perintahkan, dan saya janji rancangan selanjutnya nanti akan sesuai dengan permintaan bapak,” ucap Fatan sopan menatap Athar dan Dino bergantian.
“kapan aku bisa menerimanya?” tanya Athar setelah meneguk kopi yang tadi memang sudah disediakan terlebih dahulu oleh Fatan sebelum mereka datang.
Fatan terdiam sebentar. “Bagaimana jika minggu depan, pak?” tanya Fatan.
Athar menggeleg. “terlalu lama. Besok saya tunggu kamu di kantor pusat. Itu artinya kau dan rekanmu harus membawa rancangan yang baru ke jakarta besok,” ucap Athar santai. Seminggu terlalu lama untuknya hanya untuk sebuah gambar.
Sedangkan Fatan? Lelaki itu membulatkan mata menatap tak percaya mendengar rentang waktu yang diberikan oleh athar. “Be-besok, Pak?” tanya Fatan lagi mencoba meyakinkan pendengarannya.
“Ya. Apa kau keberatan?” tanya Athar tegas.
“Ah tentu tidak, Pak. Besok saya akan ke Jakarta dan membawa rancangan yang baru,” jawab Fatan yakin namun sebenarnya dia sangat ragu dengan apa yang dia sampaikan.
“Baiklah Fatan, besok kami akan menunggu kedatanganmu di Jakarta, dan semoga kerjasama kita ini berjalan lancar, ya. Kalau begitu kami permisi terlebih dahulu,” ucap Dino mengakhiri pertemuan mereka dan akan dilanjutkan besok.
“Baik, pak. Terimakasih banyak telah mempercayakan saya dalam proyek besar seperti ini,” ucap Fatan dengan sedikit membungkuk memberi hormat kepada Dino dan Athar.
Athar hanya mengangguk, sedangkan Dino membalas disertai dengan senyuman. Setelah meeting itu selesai, kini kedua lelaki itu sudah kembali berada di dalam mobil. “Kembali ke Jakarta?” tanya Dino saat keduanya sudah duduk dengan posisi yang sama seperti tadi saat berangkat.
“Bisakah kita melihat-lihat kota Bogor sebentar?” tanya Athar menatap Dino.
Dino menghela nafas pelan. “Bisa saja, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk turun atau singgah lebih lama. Kita harus sampai di Jakarta menjelang magrib, Pak karena kita ada janji makan malam dengan kolega dari Singapura,” ucap Dino mengingatkan Athar akan jadwalnya hari ini.
Athar menghela nafas pelan. “Kalau gitu kita langsung ke Jakarta saja, Pak,” ucap Athar memberi instruksi kepada sopir.
“Baik, Pak,” jawab Pak sopir patuh dan segera melajukan mobilnya menuju jakarta.
Dino menatap Athar dari samping yang kini sedang memejamkan mata menikmati alunan musik noostalgia yang di putar oleh sopir sesuai permintaan athar. Maaf Thar, bukan maksudku lancang, tapi aku hanya ingin membantu Ralin untuk mempertahankan rumah tangga kalian. Batin Dino sedikit merasa bersalah.
Ya, harusnya jadwal makan malam itu adalah besok, tapi Dino memajukannya malam ini agar Athar tidak berlama-lama di kota Bogor. Dino berani melakukan ini karena semua jadwal athar dialah yang mengatur, dan athar hanya akan menurut karena percaya dengan sahabatnya itu. Menurut Athar, Dino tidak akan melakukan hal yang dapat merugikannya.
Terbukti bukan, Dino melakukan hal yang benar dengan tujuan agar rumah tangga Athar dan Raline tidak hancur.
“Apa untuk makan malam ini kau akan mengajak Raline?” tanya Dino pelan. Dino tahu Athar tidak tertidur, dia hanya ingin menikmati lagu lebih dalam dengan maa terpejam.
“Apakah harus?” tanya Athar balik.
“Aku sarankan iya, karena rekan kerja kita yang dari Singapur ini membawa serta istrinya, dan dia berpesan kepadaku agar kau juga membawa istrimu,” jawab Dino jujur. Kali ini bukan akal-akalan melainkan sebenarnya pesan dari kolega bisnis mereka.
Athar mengangguk. “Kau sampaikan pada Raline, aku menunggu di parkiran resto saja nanti. Aku malas kalau harus pulang dulu. Aku ganti baju di kantor aja,” ucap Athar menyetujui yang dibalas anggukkan oleh Dino.
Tanpa membuang waktu, Dino langsung menghubungi Raline agar wanita itu tidak terburu-buru nanti.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments