KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Raline tersenyum sayu. “Tatap aku sebentar saja, Mas,” ucap Raline sedikit memohon.
Athar menurut. Ditatapnya Raline yang saat ini terus menampilkan senyum dibalik keedihannya. “Jika nanti Mas benar-benar sudah menemukan kebahagiaan Mas, bicaralah dan aku yang akan menyerah, Mas,” ucap Raline dengan suara bergetar menatap Athar.
Athar hanya diam. Lelaki itu memilih untuk mengalihkan pandangannya dari pada harus menatap air mata Raline yang nantinya bisa saja meruntuhkan segala benteng yang sudah dia bangun.
“Sekeras ini hati kamu, Mas. Pasti akan beruntung wanita yang mendapatkan cinta kamu, Mas,” ucap Raline yang sama sekali tidak mendapat balasan dari Athar.
Raline mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Wanita itu kembali duduk lurus dengan pandangan ke luar jendela.
Menangis dan mengadu pada angin malam rasanya lebih menenangkan daripada harus bicara dengan suaminya. Bahkan wajah prihatin Raline pun sama sekali tidak bisa membuat Athar sedikit membaik.
Ternyata anggapanku bahwa cinta itu datang seiring berjalan waktu tidaklah benar. Batin Raline sendu dengan air bening yang terus saja menggenang di ujung matanya.
.....
Tiga puluh menit perjalalanan akhirnya sepasang suami istri itu sampai di rumah. Athar turun lebih dulu dari mobil dan langsung masuk ke rumah tanpa menunggu Raline. Raline yang menyaksikan itu lagi-lagi hanya bisa menghela nafas pelan.
“Selalu sabar ya, Bu,” ucap Sopir yang sejak tadi menyaksikan dan mendengar perdebatan sepasang suami istri itu. Bukan perdebatan, lebih tepatnya isi hati Raline yang tadi disampaikan kepada Athar.
Raline tersenyum. “Terimakasih, Pak. Bisa saya minta tolong, Pak?” tanya Raline lembut.
“Silahkan, bu,” jawab sopir sambil mengangguk.
“Jangan sampai orang lain mengetahui mengenai hubungan kami yang seperti ini ya, Pak.
Terutama kedua orang tua Mas Athar. Jangan sampai semua ini bocor ke mertua saya, Pak. Saya yakin bapak bisa saya percaya,” ucap Raline dengan sedikit memohon menatap sopir.
Pak sopir menghela nafas pelan. “Baiklah, bu. Sebenarnya bukan urusan saya juga untuk ikut campur urusan majikan, tapi jika diperlukan saya siap membantu ibu kapanpun,” ucap Pak sopir yang sudah setengah baya itu dengan sopan.
“Sekali lagi terimakasih, Pak. Kalau begitu saya masuk dulu,” ucap Raline lembut dan langsung turun dari mobil.
Pak sopir memandang sendu majikannya itu. “Ibu adalah istri yang sangat berbakti, Bu. Semoga nanti tuan Athar tidak menyesal dengan segela perbuatannya,” gumam Pak sopir yang prihatin dengan keadaan Raline.
Raline menghentikan langkah kakinya di depan pintu. Wanita itu menghela nafas pelan dan memastikan wajahnya agar nanti izel tak curiga dengan keadaannya.
Raline menerbitkan senyumnya dan mulai melangkah lagi memasuki rumah seolah semua baik-baik saja.
Sampai diruang keluarga, Raline melihat Izel yang sudah duduk dipangkuan Athar. Nampak ayah dan anak itu sangat fokus dengan tontonan di layar televisi. Raline ikut mengalihkan pandangannya ke arah televisi, pantas saja Athar ikut fokus karena mereka berdua sedang menonton kartun kesukaan keduanya, Doraemon. Walau suda berumur kepala tiga, Athar tidak akan pernah melupakan kartun kesukaannya Doraemon dan itu menurun kepada Izel.
“Fokus sekali, nak,” ucap Raline yang kini mendudukkan dirinya di sofa belakang Izel dan Athar yang duduk di karpet bulu.
“Doraemonnya episode baru, Ma. Tadi Papa beliin video barunya buat Izel,” ucap Izel memberitahu.
“Aku membeli sudah lama dan baru sempat nonton sekarang,” jawab Athar memberitahu Raline sebelum wanita itu bertanya padanya.
Raline mengangguk. “Aku ke atas dulu ya, Mas, mau bersih-bersih dulu. Mas juga jangan terlalu lama nontonnya, segera ganti baju nanti jika kartunnya selesai, ya,” ucap Raline lembut.
Wanita itu langsung berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Menunggu Athar merespon ucapanya akan percuma karena lelaki itu tidak akan menjawab sama sekali.
.....
Pukul sepuluh, Athar baru kembali ke kamar. “Izel sudah tidur,” ucap Athar yang melihat Raline akan bangun dari kasur ketika dia masuk kamar.
Raline mengangguk. Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi menghadap Athar. “Baju ganti Mas udah aku taroh di kamar mandi. Mas bisa mandi sekarang, air hangat juga udah aku siapin,” ucap Raline memberitahu.
Tanpa menjawab, Athar langsung berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya yang terasa gerah.
Lima belas menit pintu kamar mandi terdengar. Raline yang tadinya masih terbangun kini pura-pura memejamkan mata seolah dia telah tertidur.
Athar yang melihat Raline menghela nafas pelan. “Ayo bicara, Raline. Aku tahu kau belum tidur,” ucap Athar yang kini ikut mendudukkan tubuhnya di kasur.
“Aku tahu kau belum tidur, Raline,” ucap Athar lagi tegas.
Raline menyerah. Dia membuka mata dan mengganti posisinya menjadi duduk menghadap Athar. “Ada apa, Mas?” tanya Raline lembut. Sungguh, melihat wajah serius Athar membuat Raline tak karuan, pasti ada hal serius sehingga lelaki itu mengajaknya bicara.
Athar menghela nafas pelan sebelum memulai pembicaraan mereka. Kepala Athar menoleh dan matanya membalas tatapan Raline. “Kau mencintaiku?” tanya Athar singkat.
Raline mengangguk yakin. “Aku sangat mencintai kamu, Mas,” jawab Raline tegas.
“Ini sudah tujuh tahun, Raline. Tujuh tahun kita menikah dan perasaanmu masih sama seperti dulu?” tanya Athar lagi.
Raline kembali mengangguk. “Sama sekali tidak pernah berkurang perasaan aku sama kamu, Mas,” jawab Raline pelan.
“Sama,” ucap Athar singkat yang mengundang kerutan di dahi Raline.
“Tujuh tahun menikah dan perasaanku juga masih sama seperti dulu, Raline. Aku masih setia dengan perasaanku yang dulu. Kamu tahu itu artinya apa?” tanya Athar menatap Raline.
Raline tersenyum tenang dan mengangguk. “Kamu tidak mencintaiku, Mas,” jawab Raline tepat.
“Benar sekali, Raline. Aku berterimakasih karena pelayananmu selama tujuh tahun ini sebagai istriku. Kau mengurusku semua keperluanku, kau memberikan perhatian kecil yang membuatku sedikit tersentuh. Awalnya aku mencoba untuk sedikit berubah dan membuka hati untukmu, tapi tetap saja, Raline. Semuanya tak semudah yang aku bayangkan,” ucap Athar jujur menyampaikan apa yang ada di hatinya kepada Raline.
Sakit, sangat sekali sekali hati Raline mendengar apa yang Athar sampaikan. Rasanya ada longsor besar yang menerjang jantung dan hati Raline hingga tak ada udara yang bisa dia hirup untuk bernafas.
Tenggorokkannya tercekat hingga tak bisa berkata apa. Hanya air mata yang menjadi kata untuk menyampaikan segala perasaanya saat mendengar perkataan Athar.
“Maaf jika ini menyakitimu, Raline, tapi aku harus tetap menyampaikannya,” ucap Athar menatap wajah Raline lekat.
Raline mengangguk. Bibir wanita itu dia paksakan untuk bisa memberi senyum menatap Athar. “Sampaikanlah, Mas. Sekalipun sakit, aku akan tetap menelannya,” jawab Raline tegar.
“Aku ingin kembali dengan Sesil.”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Soeharti Rifangi
kembalilah athar ..klau itu membuatmu bahagia tp jangan menyesal bila kamu meninggalkan bidadari mu utk meraih impianmu ,lepaskanlah raline ,,utk apa mencintai lelaki yg tdk mencintai kita ..lanjuut kaaak
2023-06-15
1