KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Mantan suamimu yang ular itu sekarang berada di bogor, lin.
DEG
Jantung raline berdetak kencang. Wanita itu menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghalau semua pikiran buruk dan ketakutan yang membuatnya semakin dilanda kecemasan. “tidak-tidak! Bogor itu luas, dan Mas athar tidak akan bertemu dengan orang itu lagi. Aku percaya dengan suamiku,” gumam raline mencoba meyakinkan dirinya.
Raline memejamkan matanya, dan dia tidak mau jika izel menatap kekhawatiran dan ketidak tenangan dari pandangannya nanti. “tolong jaga hati suamiku, Ya Allah.”
“izel,” panggil raline pada anaknya.
“iya, ma,” jawab izel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi lebar itu.
“Mama ke kamar sebentar ya, nak. Nanti kalau izel butuh apa-apa, izel tekan tombol nomor dua di telepon rumah, ya,” ucap raline memberi interuksi agar anaknya itu tidak perlu naik ke lantai dua untuk memanggilnya.
“Iya ma,” jawab izel patuh tanpa menatap raline. Anak itu nampak sangat fokus dengan kartun botak yang sedang belarian membawa layang-layang.
Raline segera bangun dengan menguatkan tenaganya untuk mengayunkan kaki menaiki tangga satu persatu agar segera sampai di lantai dua.
Raline mentup pintu kamar dan bersandar di balik pintu dengan nafas yang tak beraturan. Ini bukan karena lelah, tapi karena sesak yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Badannya teras panas dingin setelah membaca pesan dari sahabatnya. Sungguh Raline menyesal, harusnya tadi dia tidak membuka aplikasi ungu itu. "aku harus tanya bang dino,” gumam raline dan segera memainkan ponselnya untuk melakukan panggilan dengan dino yang merupakan orang terdekat athar saat ini.
“Halo, bang dino,” ucap raline saat panggilan tersambung.
“Iya raline. Ada apa?” tanya dino dari sebenrang telepon dengan lembut. Kedua manusia sudah layaknya adik dan abang yang saling menyayangi.
“Apa nanti mas athar jadi ke bogor?” tanya raline dengan tangan gemetar memegang ponselnya.
“Jadi lin. Kita akan berangkat pukul sepuluh siang ini. ada apa?” tanya dino sedikit penasaran.
Raline menggeleng ditempatnya meskipun dia tahu jika dino tidak akan mengetahui hal itu. "aku hanya ingin titip mas athar, bang. Kalian hati-hatilah, dan tolong jaga suamiku dari apapun,” ucap raline lembut.
Terdengar helaan nafas dari dino. sekarang dia tahu kemana arah pembicaraan istri dari bos sekaligus sahabatnya itu. “kamu tenanglah! Teruslah berdoa dan jangan pernah putus asa.
Semua pasti akan baik-baik saja, lin” ucap dino menenangkan raline. "baik bang. Terimakasih banyak, ya. Aku tutup dulu teleponnya,” ucap raline dan memutus sambungan telepon mereka setelah mendapat persetujuan dari dino.
Raline menghela nafas pelan. Wanita itu meletakkan tangan di dada seraya mengusapnya pelan untuk menenangkan hati yang tak karuan. “aku percaya bahwa semua yang terjadi bukan semata karena kehendakku. Tapi ada campur tangan takdir yang telah engkau tuliskan, Ya Allah.”
.....
Ditempat lain, seorang wanita sedang menikmati tugasnya sebagai seorang ibu. Dia dengan telaten menyuapi anaknya yang saat ini sedang terbaring lemah di kasur rumah karena tidak enak badan. Dia sudah membujuk anaknya untuk ke rumah sakit, tapi yang namanya anak - anak, ketika mendengar kata rumah sakit mereka sudah takut duluan karena Yang terbayang dalam pikirannya adalah jarum suntik.
“Sekarang sania minum obat ya, nak,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut panjang sang anak.
Sang anak yang dipanggil sania mengangguk lemah. Anak itu nampak lesu dengan wajah yang pucat. Sudah tiga hari anak itu tidur di kasur tanpa banyak bergerak. Hari ini dia sudah agak baikan dan panasnya juga sudah hilang. Hanya saja masih ada batuk yang sesekali terdengar dari bibir anak manis itu.
“Besok sania udah boleh sekolah kan, ma?” tanya anak itu setelah menelan obat cair berupa sirup dengan rasa jeruk itu ke perutnya.
“Sania harus benar-benar pulih dulu, ya. Mama udah bilang Mis Yuna kalau sania sakit dan minta izin sampai sania sembuh,” jawab wanita itu lembut mencoba menjelaskan pada anaknya.
“Sania kangen sekolah, ma,” rengek anak berumur enam tahun itu.
“Sania sabar, ya. Nanti kalau sania tiba-tiba sakit di sekolah, yang susah kan sania sendiri nanti. Dan Pasti bakal ganggu kegiatan teman-teman sania yang lain juga. Sania sabar dulu ya, nak,” ucap wanitu itu sabar memberi penjelasan pada Sania.
Sania menghela nafas pelan. Dia mengangguk patuh mengikuti apa yang dikatakan oleh mamanya, Wanita itu tersenyum. Dia sangat bersyukur bisa memiliki harta berharga dalam hidupnya. Anak yang dulu sempat ingin dia musnahkan keberadaannya dari dalam rahim kini menjelma menjadi gadis kecil yang cantik dan pintar.
Kebahagiaan kamu adalah kewajiban bagi mama, nak. Batinnya menatap penuh kasih sayang pada gadis kecil yang kini kembali merebahkan tubuhnya sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya.
.....
Meskipun sudah menelpon dino, raline masih saja tidak tenang, dia menatap jam dinding di kamarnya yang baru menunjukkan pukul sembilan pagi, Artinya masih ada satu jam lagi waktu athar akan berangkat ke bogor.
“Bismillah,” gumam raline setelah sejak tadi mencoba meyakinkan dirinya untuk menekan kontak yang bertuliskan suami dengan emoticon love pink di belakangnya.
Dering pertama dan kedua tidak diangkat. Dengan meyakinkan diri raline kembali menelpon athar. “sekali lagi,” gumam raline dan kembali menekan tombol panggilan.
"Hallo."
“Ha-halo, mas,” jawab raline sedikit gugup ketika athar mengangkat panggilannya.
“Ada apa?” jawab athar singkat dari seberang sana.
“Mas jadi ke bogor?” tanya raline meberanikan diri.
“Ya, Kenapa?” Raline diam sebentar. Wanita itu memejamkan maa meyakinkan diri untuk mengajukan permintaan yang akan dia katakan pada athar. “bo-boleh aku dan izel ikut kamu, mas?” tanya raline pelan.
“Kamu pikir aku akan pergi berlibur?” tanya athar dengan nada datar namun terdengar sangat menyakitkan untuk raline.
“Tidak boleh, ya?” tanya raline lagi.
"Membuang waktu ku saja. Aku matikan!” ucap athar tegas dan langsung memutus sambungan teleponnya.
“Ralin bodoh!” umpat raline pada dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya. Sudah jelas permintaan itu akan membuat athar marah tapi dia masih saja menanyakannya. Entah apa yang raline pikirkan, tapi dia hanya ingin mencoba, siapa tahu athar dengan tidak sadar mengiyakan permintannya. Tapi tetap saja, yang namanya athar akan sangat sulit mengiyakan permintaan raline.
“Percaya Ralin, percaya pada suamimu karena Mas Athar tidak akan macam-macam. Lagi pula, wanita itu masa lalu dan Ini sudah tujuh tahun. Ayo berpikir positif, Raline,” ucap Raline menenangkan dirinya dan berali - kali membuang nafas dengan perlahan.
Bukannya Ralie tidak percaya dengan semua campur tangan tuhan dalam takdir kehidupannya, ketakutan itu tidak bisa dia hilangkan. Dia hanya seorang wanita yang menginginkan lelaki yang dia cintai tidak bertemu dengan masa lalunya.
Dia hanya seorang istri yang berharap suaminya tidak kembali pada wanita yang dulu sangat dicintainya. Dia hanya seorag ibu yang berharap bahwa ayah dari anaknya tidak membagi kasih sayang kepada anak yang lain.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
YuWie
dan 7th juga, suamimu tidak melihatmu raline...
2023-06-24
0