S2 - Eps 14

Papa POV.

"Mama ini apa apaan sih, anak udah nikah malah di intipin." tegurku saat menuruni tangga setelah memergoki Alena didepan pintu kamar anaknya.

"Loh Mama bukan ngintipin Pa, tadi Mama denger suara Tika teriak. Padahal dia baru juga masuk kamar," ralatnya.

"Ya kan kalo ada apa-apa mereka pasti keluar dari kamarnya."

"Nah trus tadi tiba-tiba malah Dul lagi yang teriak, ya Mama khawatir lah."

"Mereka itu lagi berproses bikin anak, Mama malah ngetuk pintunya Dul. Kan Mama yang kepingin banget nimang cucu lagi," sewotku sambil masuk ke dalam kamar.

"Aishh! Papa ini."

------------------------

Jefri POV.

Tiga hari berlalu. Hari ini adalah jadwal kami ke rumah sakit untuk menemui Dokter Ranti. Aku sudah mengatur jadwal dengannya dibantu oleh Haikal, dia yang memberiku nomer telpon pribadi Dokter Ranti.

"Ma, kita berangkat dulu ya?" pamitku saat Mama sedang di dapur.

"Loh kalian mau kemana pagi-pagi begini?"

Aku menoleh pada Tika kilas, "Mau ngeliatin rumah, dari kemaren-kemaren kepingin ngeliatin ga jadi jadi. Berangkat ya.."

"Ya sudah hati-hati dijalan.." titah Mama saat aku mengecup pipinya.

Tika pun ikut mengecup pipi Mama untuk berpamitan. Lalu kami pergi.

"Kok bohong sih sama Mama?" tanya Tika saat dalam perjalanan.

"Aku cuman ga mau Mama rempong aja nanya-nanyain ngapain kita ke dokter." jawabku sambil melihat nya kilas, "Ga papa kan?"

"Ya ga enak aja klo harus bohong."

"Udah ga usah mikirin itu. Lagian habis kelar ini kita juga bakalan ke sana beneran ngeliatin rumah."

Ku genggam tangannya untuk sekedar meyakinkan dan membuat tenang pikirannya.

Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menuju ruangan Dokter Ranti. Ia menyambut kami dengan ramah.

"Ayo duduk. Jadi gimana-gimana? Ada apa?" serbu tanyanya.

"Kami boleh check-up organ kami gak?" tanya Tika to the point.

Dia heran, "Boleh, tapi sebelumnya aku boleh tanya hal-hal yang lebih privasi?"

"Apa?" jawabku cepat.

"Kalian sudah coba berapa kali sampai kalian memutuskan buat ngecek?"

Aku memandang Tika, kami saling bertatapan.

"Belum pernah." jawabku singkat.

Dokter Ranti tertawa, "Jadi selama ini kalian ngapain aja?"

"Tolong di cek aja ya, pleasee?" pinta Tika pelan.

"Oke bentar, aku panggilin temen aku dulu." akhirnya.

Setelah menunggu beberapa saat, seorang lelaki dengan pakaian khas putih-putih nya masuk ke ruangan ini.

Aku mengikuti nya untuk masuk ke ruangan periksa.

"Semuanya baik-baik aja, kalian sehat dan subur kok. Tidak ada satupun yang bermasalah. Mungkin hanya pikiran kalian saja yang membatasi. Aku kasih kalian vitamin aja ya?" ucap dokter lelaki itu pada kami saat periksa selesai.

"Tuh kan, kalian baik-baik aja." ucap Dokter Ranti setelah Dokter lelaki itu selesai dengan tugasnya dan keluar dari ruangan.

Aku dan Tika hanya bisa bernafas lega. Aku yang lega sebenarnya. Ku kecup keningnya kilas.

"Dia terlalu takut.." cerita ku pada Dokter Ranti.

"Kan sebelumnya sudah pernah aku bilang, kamu jangan terlalu stress. Otak itu organ tubuh yang paling vital menurutku. Apa lagi dengan kondisi kamu pasca operasi, semuanya butuh penyesuaian kembali." jelas Dokter Ranti.

Tokk..

Tokk..

Ceklek..

"Hai.." sapa Dokter Ranti saat melihat Haikal di ambang pintu.

"Kalian ga papa?" tanya Haikal mendekati kami.

"Mereka ga papa kok Kal, mungkin cuman terlalu banyak pikiran." jawab Dokter Ranti cepat.

"Aku udah denger dari Jefri, kamu jangan takut. Semuanya kembali ke pikiran kamu lagi. Hasil cek nya baik-baik aja kan?"

"Iya semuanya baik-baik aja, mereka hanya perlu berusaha lebih giat lagi. Mungkin karena ketakutan Tika itu, maka nya belum di kasih-kasih juga sama yang di atas." jelas Dokter Ranti lagi.

Haikal mengangkat dagu adiknya agar ia bisa melihat matanya.

"Kamu mikirin apa sih? Masalah Paul kan udah kelar." ucap Haikal.

"Iyaa. Ga papa kok. Oh iya kabar Paula gimana?" tanya Tika tiba-tiba.

Aku agak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkannya pada kakak nya itu.

"Baik, dia masih di ruang perawatan. Memang belum stabil sepenuhnya. Dan setiap Pablo datang menemuinya, dia ngamuk. Kadang juga nangis. Dia perlu konsultasi sama psikolog kayaknya." jelas Haikal.

"Aku boleh jenguk Paul?" izin Tika sambil menatap Haikal dan aku bergantian.

Aku hanya mengerdikkan kedua bahu ku pada Haikal, sebagai tanda bahwa semua keputusan di tangan Haikal.

"Kamu yakin?" tanya Haikal pelan.

"Iya, aku mau liat kondisi nya. Boleh gak?" dia menoleh pada ku.

"Semua terserah kamu, tapi aku ga mau kalo setelahnya kamu mikir yang enggak-enggak. Paul kayak gitu karena ulah ibunya. Dan ga semua anak seperti Paul. Nita sayang sama Jordy, dia bisa jadi ibu yang baik." ucapku memberi wawasan.

"Iya, Shilla juga jadi ibu yang baik buat anak-anaknya. Temen kamu Metta juga. Jadi jangan pernah berpikir takut untuk punya anak, oke?" tambah Haikal.

Tika menganggukkan kepalanya. Lalu setelah berpamitan dengan Dokter Ranti, aku dan Haikal membawa Tika untuk menemui Paul.

Ceklek...

"Tante egois!!!" seru Paul gembira melihat Tika didepanku.

"Loh Papi juga ke sini? Kok barengan tante egois sih?" tanya Paul lagi.

Tika berjalan mendekati ranjang Paul. Sedangkan aku dan Haikal bersalaman dengan Pablo yang tadi sedang menyuapi makan untuk Paul.

"Kok masih manggil Tante begitu sih?" rengek Tika manja sambil mengacak rambut Paul.

"Tante gak bawa apa-apa ya?" tanya Paul polos.

"Paul, ayah kan sudah bilang, jangan selalu berharap orang yang datang ke sini membawa hadiah, di jenguk dan di doa kan biar cepat sembuh itu lebih besar hadiahnya dari suatu benda." tegur Pablo.

Tika tersenyum, Paul cemberut, "Tante tadi mendadak ke sini nya, jadi ga sempet beli apa-apa. Memang Paul mau apa?"

"Jangan Tik..."

"Ga papa kok." sela Tika cepat saat Pablo menegur, "Gimana kalaaau nanti, setelah Paul keluar dari sini kita ke toko mainan, Paul pilih sendiri mau mainan apa? Gimana?"

"Bener ya Tante? Janji harus ditepati loooh.."

"Iya, tapi Paul harus cepet sehat. Kasian Ayah sama Mami ga bisa tidur jagain Paul terus." colek Tika pada ujung hidung Paul.

"Enggak, Ayah tidur kok tadi malam, Paul liat." protesnya khas anak-anak.

"Masa sih?"

"Iya, ih tante ga percayaan amat deh."

Tika tertawa, tiba-tiba ibu Paula masuk. Tika segera berdiri dari ranjang.

"Tante, kenalin ini Tika, istri aku." ucapku cepat saat mendekati beliau untuk bersalaman.

Tika pun ikut menyalami dan mencium punggung tangannya ramah.

"Oh iya. Saya Ibu nya Paula. Cantik ya.." puji beliau.

Tika tersenyum manis menjawab pujian beliau.

"Tante tadi dari kamarnya Paula. Dia tertidur."

"Tante, maaf ya." ucap Tika sambil meraih tangan beliau.

Lalu Tika memeluk beliau erat. Ibu Paula menyambut pelukkan Tika dengan hangat, "Tante yang minta maaf karena sikap Paula ke suami kamu."

"Enggak Tante, gara-gara Tika kondisi Paula jadi harus begitu." lirihnya.

"Sudah, lupakan aja. Lebih baik kita berdoa agar ke depannya semua baik-baik saja. Lagi pula kalian sudah menikah, hiduplah yang bahagia berdua. Suatu saat Paula pun pasti akan merelakan semuanya. Biarkan waktu yang mengobati semuanya." jelas beliau lalu tersenyum menatap wajah Tika.

Ternyata ibu Paula lebih bijak dari yang aku kira.

-------------------------

"Gimana ibunya?" tanyaku saat Pablo mengantarkan kami keluar rumah sakit.

"Beliau sudah nerima gua, bahkan kemarin beliau sempat memberikan sisa uang hasil beliau menjual rumahnya untuk keperluan biaya Paul. Gua juga nawarin biar nanti setelah Paul keluar dari rumah sakit, mereka bisa tinggal di rumah gua. Beliau setuju. Dan kemungkinan rumah Paula juga bakalan di iklankan. Gua juga belum bisa bantu apa-apa, tabungan sudah mulai menipis." cerita Pablo.

"Nanti aku coba minta bantu sama Haikal deh, siapa tau ada biaya yang bisa di pangkas. Kan lumayan." sahut Tika.

"Makasih banyak ya, kalian baik banget. Padahal Paula....."

"It's ok. Kita mulai semuanya dari awal. Anggap semuanya masa lalu. Kita harus nerima masa lalu masing-masing kan?" sela Tika.

Aku tersenyum mendengar dia mengulang kalimat ku untuk orang lain.

"Kami balik dulu ya, kalo ada apa apa hubungin gua aja. Pasti gua bantu semampu gua." pamitku saat sudah berada di lobby rumah sakit.

"Iya, sekali lagi makasih banyak ya? Kalo bukan karena kalian, gua mungkin bakalan pernah bisa meluk anak gua sendiri."

Aku menganggukan kepala ku cepat lalu pamit dan berjalan menuju mobil bersama Tika.

"Kita makan siang dulu ya? Mau kan?" ajakku saat diperjalanan menuju rumah kami.

"Makan dimana?"

"Gimana kalo makan di warung ibuk?"

"Boleh, udah lama kita gak makan disana. Aku kangen ramis nya.." sahut Tika manja.

Kini ia terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Aku senang melihatnya seperti ini. Setelah beberapa pekan kami menikah, aku jadi lebih banyak tau bagaimana sifatnya.

Ku harap ke depannya lebih banyak lagi kejutan kejutan yang akan kami lalui bersama.

Semoga..

Begitu sampai di warung biasa tempat kami pertama kali kenal, Tika langsung turun dan berjalan duluan memasuki warung itu tanpa menunggu ku.

"Ibuuukkk! Apa kabar?" seraya memeluk ibu pemilik warung.

"Baik, kamu apa kabar? Lama nya ga kesini setelah menikah.."

"Iya, soalnya masih banyak yang diurusin ternyata setelah punya suami." mereka tertawa.

"Waduh Nak Jefri, apa kabar?"

"Baik bu." singkatku sambil tersenyum.

"Ayo duduk, duduk! Kalian mau makan apa? Masih menu seperti biasa?" beliau antusias.

"Iya bu, tapi minumnya es teh aja, jangan kopi." pesanku.

"Oke, kamu mau makan apa? Ramis?"

Tika menganggukan kepalanya cepat sambil menggigit bibir bawahnya.

"Ya sudah duduk dulu, ibu siapin bentar.." beliau pergi menuju balik lemari display dan mulai menyiapkan makanan kami.

Aku menarik lengan istriku, membawa nya duduk di meja kami pertama kali bertemu. Kami serasa nostalgia disini.

"Kamu inget waktu dulu pertama kali kita kenal? Dengan cuek nya setelah makan kamu merokok di depan aku?" tanyaku.

Tika tertawa pelan, "Iya aku inget kok. Trus kamu juga cuek nonton bola di hape kamu setelah kita salaman."

"Trus aku boleh tau gak sejak kapan kamu suka sama aku?"

"What?? Kan kamu yang pertama kali ngajakin aku jalan? Nanya-nanya tentang kopi trus ngajakin hangout." protesnya.

"Itu kan hangout barengal anak-anak. Ya wajarlah aku jemputin kamu, yang lain pada gak bisa jemputin kan."

"Tapi kok mau? Kan jauhan rumah aku dibandingin sama warkop nya? Bolak-balik kan itu?"

"Ya habis gimana dong, kan gak tau kalo warkop nya disitu tempatnya." elakku lagi.

"Trus besok besok nya kenapa masih jemputin?"

"Emmm..." aku berpikir keras.

"Nah berarti kamu yang duluan suka sama aku. Ayo kenapa kamu suka aku waktu itu?" cercanya.

Belum sempat aku menjawab, makanan kami di hidangkan, wangi nya aroma masakkan ini membuat cacing di perutku seakan meronta-ronta untuk segera melahapnya.

"Makasih buu.." seru Tika girang melihat menu makanan favorite nya disini.

Kami langsung melupakan obrolan kami tadi dan melahap makanan kami masing-masing. Setelah selesai makan, tiba-tiba Tika menanyakan pertanyaan tadi yang belum selesai ku jawab.

"Jadi apa alasannya kamu tiap malem mau aja jemputin aku buat ke warkop?

"Emm, ga tau. Asik aja gitu ngomong sama kamu, nyambung. Kalo ngatain anak-anak yang lain, kamu juga jago ngelempar joke." jelasku.

"Masa?"

"Iya.. Trus kamu kalo udah berdua sama aku tuu rasanya beda aja. Pendiam tapi selalu penasaran."

"Maksudnya?" senyum Tika bingung.

"Ya pokoknya gitu deh, kamu bikin aku greget!"

Tika tertawa terbahak-bahak.

🎶

Can we just talk?

Can we just talk?

Talk about where we're goin'

Before we get lost,

lend me your thoughts

Can't get what we want.....

🎶

Ponselku berbunyi.

Ku ambil dari dalam saku celanaku.

Papa calling.

"Hallo iya Pa?" sahutku.

"Kamu dimana?"

"Lagi makan Pa sama Tika, kenapa?" tanyaku heran.

"Kata Mama kalian mau liatin rumah, kok kata Pak Andre kalian belum datang dari tadi pagi?"

Aku tercekat kaget, "Oh iya Pa, tadi aku ngajakin Tika ke mall dulu, ada yang aku cari. Kok Pak Andre ngehubungin Papa?"

"Ini sekarang Papa ada di rumah kalian."

"Oh Papa disana? Ya udah kalo gitu kami ke sana sekarang."

"Ya sudah, Papa tunggu."

Papa langsung mematikan teleponnya.

"Kenapa Papa?" tanya Tika.

"Papa ada di rumah kita." jawabku sambil terkekeh kecil.

"Serius?"

"Iya, aku bilang tadi kita ke mall dulu. Ya udah yuk, kita ke sana." ajakku.

Aku berdiri dan segera pergi ke kasir untuk membayar. Lalu kami berpamitan dengan ibu pemilik warung. Kemudian segera pergi meluncur menuju rumah kami.

Sesampainya di rumah kami, "Pa, Pak Andre." tegurku saat mendekati mereka yang berbincang di depan halaman.

"Rumah kalian sudah jadi dilihat dari luar." ucap Papa tersenyum menatap aku dan Tika bergantian.

"Iya, di dalam tinggal finishing. Jadi mulai minggu depan interior sudah bisa memulai pekerjaan nya." tambah Pak Andre.

Pak Andre adalah mandor yang mengurusi pembangunan renovasi rumah ini. Beliau sungguh luar biasa, kurang dari 4 bulan rumah ini sudah hampir selesai.

"Aku boleh liat ke dalam?" izin Tika memegang tanganku.

"Ya boleh lah.." sahutku gembira lalu membawanya masuk ke dalam.

"Katanya kamu kepingin bikin tempat usaha disini. Ga jadi?" tanya Tika saat di dalam rumah.

"Setelah aku pikir-pikir, kayaknya dibikin gini aja. Lebih homie, kalo nanti punya anak, mereka bisa lebih ngerasa aman kalo di rumah. Kamu suka?"

"Suka." jawab Tika sambil berkeliling melihat beberapa sudut rumah.

Ya, rumah ini berasal dari bangunan tua milik Papa yang dahulu aku pernah membawa Tika ke tempat ini untuk sekedar melihat sunset.

"Rumah ini buat kamu." seruku saat Tika hampir menghilang pada pandanganku saat ia memasuki sebuah ruangan.

Dia kembali memundurkan langkahnya dan kembali terlihat dalam pandangan mataku, menoleh menatapku sambil kedua sudut bibirnya tertarik sempurna.

"Kita bakal tinggal disini?" tanyanya.

Aku berjalan mendekatinya, "Iya, kita tinggal disini sebelum anak-anak kita lahir. Bikin anak nya juga disini." godaku sambil memeluknya.

Dia mengalungkan kedua lengannya di atas pundakku, tersenyum lebar memandangiku.

"Interior nya boleh aku yang pilih?" pintanya.

"Boleh, kamu yang atur semuanya. Aku mau kamu betah tinggal berdua sama aku."

"Beneerr?"

"Iya, asal jangan warna pink aja semua-semuanya."

Tika tertawa, "Aku juga kurang suka kalo warna pink. Makasih ya, kamu bikin aku bahagia terus." dia menggigit bibir bawahnya, "Semoga aku juga bisa bahagiain kamu."

Aku mengangguk lalu ku dekap erat tubuhnya. Kemudian kami mengelilingi lagi setiap sudut rumah ini, sambil berceloteh membahas konsep yang ada di otaknya.

Terpopuler

Comments

Wati_esha

Wati_esha

Tika sudah berdamai dengan pikirannya.
Senang ya, keluarga Tika begitu solid.

2020-10-22

0

es dawet

es dawet

tante egois...yaa...wkwkk

2020-06-29

1

Lisgiyanti Klumpit

Lisgiyanti Klumpit

Siip

2019-11-16

1

lihat semua
Episodes
1 Eps 1
2 Eps 2
3 Eps 3
4 Eps 4
5 Eps 5
6 Eps 6
7 Eps 7
8 Eps 8
9 Eps 9
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 S2 - Eps 14
15 S2 - Eps 15
16 S2 - Eps 16
17 S2 - Eps 17
18 S2 - Eps 18
19 S2 - Eps 19
20 S2 - Eps 20
21 S2 - Eps 21
22 S2 - Eps 22
23 S2 - Eps 23
24 S2 - Eps 24
25 S2 - Eps 25
26 S2 - Eps 26
27 S2 - Eps 27
28 S2 - Eps 28
29 S2 - Eps. 29
30 S2 - Eps 30
31 S2 - Eps 31
32 S2 - Eps 32
33 S2 - Eps 33
34 S2 - Eps 34
35 S2 - Eps 35
36 S2 - Eps 36
37 S2 - Eps 37
38 S2 - Eps 38
39 S2 - Eps 39
40 S2 - Eps 40
41 S2 - Eps 41
42 S2 - Eps 42
43 S2 - Eps 43
44 S2 - Eps 44
45 S2 - Eps 45
46 S2 - Eps 46
47 S2 - Eps 47
48 S2 - Eps 48
49 S2 - Eps 49
50 S2 - Eps 50
51 S2 - Eps 51
52 S2 - Eps 52
53 S2 - Eps 53
54 S2 - Eps 54
55 S2 - Eps 55
56 S2 - Eps 56
57 S2 - Eps 57
58 S2 - Eps 58
59 S2 - Eps 59
60 S2 - Eps 60
61 S2 - Eps 61
62 S2 - Eps 62
63 S2 - Eps 63
64 S2 - Eps 64
65 S2 - Eps 65
66 S2 - Eps 66
67 S2 - Eps 67
68 S2 - Eps 68
69 S2 - Eps 69
70 S2 - Eps 70
71 S2 - Eps 71
72 S2 - Eps 72
73 S2 - Eps 73
74 S2 - Eps 74
75 S2 - Eps 75
76 S2 - Eps 76
77 S2 - Eps 77
78 S2 - Eps 78
79 S2 - Eps 79
80 S2 - Eps 80
81 S2 - Eps 81
82 S2 - Eps 82
83 S2 - Eps 83
84 S2 - Eps 84
85 S2 - Eps 85
86 S2 - Eps 86
87 S2 - Eps 87
88 S2 - Eps 88
89 S2 - Eps 89
90 S2 - Eps 90
91 S2 - Eps 91
92 S2 - Eps 92
93 S2 - Eps 93
94 S2 - Eps 94
95 S2 - Eps 95
96 S2 - Eps 96
97 S2 - Eps 97
98 S2 - Eps 98
99 S2 - Eps 99
100 S2 - Eps 100
101 S2 - Eps 101
102 S2 - Eps 102
103 S2 - Eps 103
104 S2 - Eps 104
105 S2 - Eps 105
106 S2 - Eps 106
107 S2 - Eps 107
108 S2 - Eps 108
109 S2 - Eps 109
110 S2 - Eps 110
111 S2 - Eps 111
112 S2 - Eps 112
113 S2 - Eps 113
114 S2 - Eps 114
115 S2 - Eps 115
116 S2 - Eps 116
117 S2 - Eps 117
118 S2 - Eps 118
119 S2 - Eps 119
120 S2 - Eps 120
121 S2 - Eps 121
122 S2 - Eps 122
123 S2 - Eps 123
124 S2 - Eps 124
125 S2 - Eps 125
126 S2 - Eps 126
127 S2 - Eps 127
128 S2 - Eps 128
129 S2 - Eps 129
130 S2 - Eps 130
131 S2 - Eps 131
132 S2 - Eps 132
133 S2 - Eps 133
134 S2 - Eps 134
135 S2 - Eps 135
136 S2 - Eps 136
137 S2 - Eps 137
138 S2 - Eps 138
139 S2 - Eps 139
140 S2 - Eps 140
141 S2 - Eps 141
142 S2 - Eps 142
143 S2 - Eps 143
144 S2 - Eps 144
145 S2 - Eps 145
146 S2 - Eps 146
147 S2 - Eps 147
148 Eps 148
149 S3 - Eps 149
150 S3 - Eps 150
151 S3 - Eps 151
152 S3 - Eps 152
153 S3 - Eps 153
154 S3 - Eps 154
155 S3 - Eps 155
156 S3 - Eps 156
157 S3 - Eps 157
158 S3 - Eps 158
159 S3 - Eps 159
160 S3 - Eps 160
161 S3 - Eps 161
162 S3 - Eps 162
163 S3 - Eps 163
164 S3 - Eps 164
165 S3 - Eps 165
166 S3 - Eps 166
167 S3 - Eps 167
168 S3 - Eps 168
169 S3 - Eps 169
170 S3 - Eps 170
171 S3 - Eps 171
172 S3 - Eps 172
173 S3 - Eps 173
174 S3 - Eps 174
175 Eps 175
176 Eps 176
177 Eps 177
178 Eps 178
179 Eps 179
180 Eps 180
181 Eps 181
182 Eps 182
183 Eps 183
184 Eps 184
185 Eps 185
186 Eps 186
187 Eps 187
188 Eps 188
189 Eps 189
190 Eps 190
191 Eps 191
192 Eps 192
193 Eps 193
194 Eps 194
195 Eps 195
196 Eps 196
197 Eps 197
198 Eps 198
199 Eps 199
200 Eps 200
201 Eps 201
202 Eps 202
203 Eps 203
204 Eps 204
205 Eps 205
206 Eps 206
207 Eps 207
208 Eps 208
209 Eps 209
210 Eps 210
211 Eps 211
212 Eps 212
213 Eps 213
214 Eps 214
215 Eps 215
216 Eps 216
217 Eps 217
218 Eps 218
219 Eps 219
220 Eps 220
221 Eps 221
222 Eps 222
223 Eps 223
224 Ending Part
225 The End
Episodes

Updated 225 Episodes

1
Eps 1
2
Eps 2
3
Eps 3
4
Eps 4
5
Eps 5
6
Eps 6
7
Eps 7
8
Eps 8
9
Eps 9
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
S2 - Eps 14
15
S2 - Eps 15
16
S2 - Eps 16
17
S2 - Eps 17
18
S2 - Eps 18
19
S2 - Eps 19
20
S2 - Eps 20
21
S2 - Eps 21
22
S2 - Eps 22
23
S2 - Eps 23
24
S2 - Eps 24
25
S2 - Eps 25
26
S2 - Eps 26
27
S2 - Eps 27
28
S2 - Eps 28
29
S2 - Eps. 29
30
S2 - Eps 30
31
S2 - Eps 31
32
S2 - Eps 32
33
S2 - Eps 33
34
S2 - Eps 34
35
S2 - Eps 35
36
S2 - Eps 36
37
S2 - Eps 37
38
S2 - Eps 38
39
S2 - Eps 39
40
S2 - Eps 40
41
S2 - Eps 41
42
S2 - Eps 42
43
S2 - Eps 43
44
S2 - Eps 44
45
S2 - Eps 45
46
S2 - Eps 46
47
S2 - Eps 47
48
S2 - Eps 48
49
S2 - Eps 49
50
S2 - Eps 50
51
S2 - Eps 51
52
S2 - Eps 52
53
S2 - Eps 53
54
S2 - Eps 54
55
S2 - Eps 55
56
S2 - Eps 56
57
S2 - Eps 57
58
S2 - Eps 58
59
S2 - Eps 59
60
S2 - Eps 60
61
S2 - Eps 61
62
S2 - Eps 62
63
S2 - Eps 63
64
S2 - Eps 64
65
S2 - Eps 65
66
S2 - Eps 66
67
S2 - Eps 67
68
S2 - Eps 68
69
S2 - Eps 69
70
S2 - Eps 70
71
S2 - Eps 71
72
S2 - Eps 72
73
S2 - Eps 73
74
S2 - Eps 74
75
S2 - Eps 75
76
S2 - Eps 76
77
S2 - Eps 77
78
S2 - Eps 78
79
S2 - Eps 79
80
S2 - Eps 80
81
S2 - Eps 81
82
S2 - Eps 82
83
S2 - Eps 83
84
S2 - Eps 84
85
S2 - Eps 85
86
S2 - Eps 86
87
S2 - Eps 87
88
S2 - Eps 88
89
S2 - Eps 89
90
S2 - Eps 90
91
S2 - Eps 91
92
S2 - Eps 92
93
S2 - Eps 93
94
S2 - Eps 94
95
S2 - Eps 95
96
S2 - Eps 96
97
S2 - Eps 97
98
S2 - Eps 98
99
S2 - Eps 99
100
S2 - Eps 100
101
S2 - Eps 101
102
S2 - Eps 102
103
S2 - Eps 103
104
S2 - Eps 104
105
S2 - Eps 105
106
S2 - Eps 106
107
S2 - Eps 107
108
S2 - Eps 108
109
S2 - Eps 109
110
S2 - Eps 110
111
S2 - Eps 111
112
S2 - Eps 112
113
S2 - Eps 113
114
S2 - Eps 114
115
S2 - Eps 115
116
S2 - Eps 116
117
S2 - Eps 117
118
S2 - Eps 118
119
S2 - Eps 119
120
S2 - Eps 120
121
S2 - Eps 121
122
S2 - Eps 122
123
S2 - Eps 123
124
S2 - Eps 124
125
S2 - Eps 125
126
S2 - Eps 126
127
S2 - Eps 127
128
S2 - Eps 128
129
S2 - Eps 129
130
S2 - Eps 130
131
S2 - Eps 131
132
S2 - Eps 132
133
S2 - Eps 133
134
S2 - Eps 134
135
S2 - Eps 135
136
S2 - Eps 136
137
S2 - Eps 137
138
S2 - Eps 138
139
S2 - Eps 139
140
S2 - Eps 140
141
S2 - Eps 141
142
S2 - Eps 142
143
S2 - Eps 143
144
S2 - Eps 144
145
S2 - Eps 145
146
S2 - Eps 146
147
S2 - Eps 147
148
Eps 148
149
S3 - Eps 149
150
S3 - Eps 150
151
S3 - Eps 151
152
S3 - Eps 152
153
S3 - Eps 153
154
S3 - Eps 154
155
S3 - Eps 155
156
S3 - Eps 156
157
S3 - Eps 157
158
S3 - Eps 158
159
S3 - Eps 159
160
S3 - Eps 160
161
S3 - Eps 161
162
S3 - Eps 162
163
S3 - Eps 163
164
S3 - Eps 164
165
S3 - Eps 165
166
S3 - Eps 166
167
S3 - Eps 167
168
S3 - Eps 168
169
S3 - Eps 169
170
S3 - Eps 170
171
S3 - Eps 171
172
S3 - Eps 172
173
S3 - Eps 173
174
S3 - Eps 174
175
Eps 175
176
Eps 176
177
Eps 177
178
Eps 178
179
Eps 179
180
Eps 180
181
Eps 181
182
Eps 182
183
Eps 183
184
Eps 184
185
Eps 185
186
Eps 186
187
Eps 187
188
Eps 188
189
Eps 189
190
Eps 190
191
Eps 191
192
Eps 192
193
Eps 193
194
Eps 194
195
Eps 195
196
Eps 196
197
Eps 197
198
Eps 198
199
Eps 199
200
Eps 200
201
Eps 201
202
Eps 202
203
Eps 203
204
Eps 204
205
Eps 205
206
Eps 206
207
Eps 207
208
Eps 208
209
Eps 209
210
Eps 210
211
Eps 211
212
Eps 212
213
Eps 213
214
Eps 214
215
Eps 215
216
Eps 216
217
Eps 217
218
Eps 218
219
Eps 219
220
Eps 220
221
Eps 221
222
Eps 222
223
Eps 223
224
Ending Part
225
The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!