Ricko duduk di balkon kamarnya sembari menikmati kopi dan rokoknya. Pria tampan tersebut merasa heran pada dirinya sendiri karena ia selalu bersikap tidak masuk akal di hadapan Jasmine.
Sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirinya saat ini?
“Jasmine ... Jasmine ...” Ricko menggumamkan nama Jasmine di dalam hati, sedangkan mulutnya menyemburkan asap rokok dengan perlahan sambil memejamkan kedua matanya.
Mengingat nama Jasmine, ia menjadi ingat ibu kedua anaknya. Ricko segera membuka kedua matanya lalu beranjak dari sana memasuki kamar untuk mengambil ponselnya, setelah memegang ponsel ia segera kembali ke balkon lagi untuk menghubungi asistennya.
Panggilan telepon sudah tersambung. Ricko berharap asistennya memberikan kabar baik untuk dirinya.
“Halo ...” jawab asisten Ricko dari ujung telepon sana.
“Bagaimana? Sudah ada hasilnya?” tanya Ricko dengan nada datar.
“Maaf, Pak ...”
“Kenapa kinerjamu semakin menurun?! Apakah kau sudah bosan bekerja denganku? Iya!!!” bentak Ricko penuh emosi. “Kau tahu, nyawa putriku berada di tangan wanita itu!” lanjut Ricko.
“Maaf, Pak, berikan saya waktu beberapa hari lagi. Saya butuh waktu untuk mendapatkan data-data dari rumah sakit dan juga universitas wanita itu menimba ilmu,” ucap asistennya terdengar bergetar karena ketakutan. Pasalnya tidak mudah untuk mendapatkan identitas pasien dari rumah sakit, dan dari universitas tersebut.
“Aku berikan waktu 1 minggu lagi. Jika dalam kurun waktu yang sudah aku tetapkan kau masih belum mendapatkan informasi tentang wanita itu, maka kau akan di pecat! Paham!!” sentak Ricko sambil menatap ponselnya dengan penuh emosi, lalu mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
KLOTAK!
Ricko melemparkan ponsel mahalnya di atas meja dengan asal. Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian menyesap rokok yang terselip di antara jari tangan kirinya.
“Dasar bodoh! Mencari informasi seperti itu saja tidak becus!” umpat Ricko penuh emosi.
*
*
*
Rayan dan Ricko saat ini berada di ruang keluarga sambil bermain dan menonton televisi. Jasmine sedang membereskan meja makan, dan membantu mencuci piring salah satu pelayan. Setelah tugasnya selesai, ia segera menuju ruang keluarga untuk menemani dua anak asuhnya.
“Sudah malam, waktunya tidur anak-anak.” Jasmine berkata sambil mendudukkan diri di dekat Raisa yang duduk di atas karpet.
“Lima menit lagi, Kak,” jawab Raisa tanpa menoleh karena saat ini ia sedang asyik bermain barbie.
“Oke, Kak Jas akan menunggu kalian.” Jasmine tersenyum sambil mengelus kening Raisa yang sudah tidak benjol akan tetapi menyisakan lebam di sana.
Rayan meletakkan mainan robotnya, lalu mendekatkan dirinya pada Jasmine. “Kak, Jas ... aku ingin ke Mall. Apakah boleh?” tanya Rayan seraya memandang Jasmine dengan tatapannya yang sangat menggemaskan.
“Kalau itu harus izin kepada Daddy dulu,” jawab Jasmine sambil mencubit gemas pipi gembul Rayan.
“Yah, pasti tidak akan di izinkan.” Rayan menunduk, rasa kecewa sudah menggelayuti perasaannya lebih dulu.
“Daddy kalian ‘kan baik, pasti memberikan izin.” Jasmine menenangkan Rayan agar tidak merasa sedih lagi.
“Kamu mau pergi ke Mall? Untuk apa?” tanya Raisa kepada saudara kembarnya.
“Tentu saja mau healing!” jawab Rayan sambil mendengus. “Kamu tidak mau ikut?” Rayan menatap saudari kembarnya.
“Tidak mau ikut. Kata Oma Jeje ada banyak penculik di sana. Ih, takut.” Raisa menjawab sambil bergidik ngeri dan ekspresi wajahnya terlihat sangat menggemaskan.
“Oma Jeje hanya ingin menakuti kita agar tidak keluar rumah,” jawab Rayan sambil menjulurkan lidahnya pada Raisa.
Raisa hanya melirik sebal menanggapi ucapan Rayan.
“Kak Jas, ayo minta izin kepada Daddy!” ajak Rayan sambil menarik tangan Jasmine berulang kali.
“Daddy saat ini pasti sedang sibuk, besok pagi saja ya. Dan sekarang waktunya kalian untuk tidur,” jawab Jasmine sambil tersenyum.
“Ah, baiklah!” jawab Rayan lesu, sedangkan Raisa tertawa cekikikan melihat ekspresi saudara kembarnya.
*
*
“Raisa sebelum tidur harus minum obat dulu,” ucap Jasmine pada Raisa saat mereka bertiga sudah berada di dalam kamar.
“Obatnya tidak enak, Kak,” tolak Raisa sembari menutup mulutnya dengan rapat.
“Biar sembuh Raisa,” sahut Rayan yang sudah berada di tempat tidurnya sendiri.
“Tapi aku tidak sakit, kenapa harus minum obat terus!!!” protes Raisa dan kedua matanya sudah berkaca-kaca, sudah di pastikan gadis kecil itu sebentar lagi akan menangis.
“Huaaaa .... Daddyy!!!” jerit Raisa sambil menangis histeris dan mengucek kedua matanya yang terus mengeluarkan air mata.
Jasmine segera meletakkan obat yang ada di tangannya ke atas nakas. Kemudian ia menggendong gadis itu dan memeluknya dengan erat.
“Ssstt, jangan menangis, Sayang,” ucap Jasmine dengan sangat lembut.
Ceklek
Pintu kamar tersebut terbuka dari luar. Ricko masuk ke dalam kamar dengan tergesa saat mendengar jeritan putrinya.
“Apa yang terjadi kepada Rara?!” tanya Ricko sangat datar dan dingin kepada Jasmine yang sedang menggendong Raisa.
“Tidak apa-apa hanya saja dia sedang tidak mau meminum obatnya,” jawab Jasmine pelan.
Ricko beralih menatap obat putrinya yang ada di atas nakas. Wajar saja kalau Raisa tidak mau meminum obat dan kadang kala merasa bosan dan muak, karena obat putrinya itu banyak, lebih dari lima obat. Ricko yang tadinya merasa kesal kini menjadi melunak saat melihat Jasmine begitu lembut dan telaten merawat anaknya.
“Obat itu penuh dengan vitamin. Kalau Raisa meminumnya, maka gadis cantik ini akan menjadi super woman yang sangat kuat,” bujuk Jasmine dengan sangat lembut.
“Benarkah? Apakah nanti aku bisa terbang?” tanya Raisa yang sudah meredakan tangisnya.
“Iya, tentu saja bisa,” jawab Jasmine sambil tersenyum tipis.
“Kalau begitu, apakah tuan putrinya Daddy mau minum obat?” sahut Ricko.
“Mau, Daddy!” jawab Raisa penuh semangat.
“Gadis pintar. Daddy akan mengambilkan obat untukmu.” Ricko segera mengambil obat untuk putrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
jd inget Buna Asha ...mola.ay mis yu
2024-12-22
0
Ani Ani
macam 2 Cara DIA pujuk nya
2024-05-08
0
Nur Adam
lnjjt
2024-02-28
1