Ricko sudah melakukan berbagai cara untuk mencari keberadaan ibu dari anak-anaknya. Akan tetapi, semua yang sudah di lakukan itu tidak membuahkan hasil. Pria tampan dengan sejuta pesona itu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Dia menghenyakkan punggungnya dengan kasar di sandaran kursi.
Ricko menghela nafas kasar berulang kali, seraya membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu. Di mana saat dia bertemu dengan ibu dari anak-anaknya untuk pertama kalinya.
Dia menyesal saat itu tidak berkenalan dengan gadis itu atau menatap wajahnya, ia terlalu angkuh saat itu, dan sekarang dia sangat menyesalinya.
“Daddy.” Rayyan menyembulkan kepalanya di balik pintu ruangan kerja ayahnya.
Ricko yang sedang larut dalam penyesalannya pun segera tersadar kemudian menatap putranya yang sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Boy.” Ricko menegakkan punggungnya sambil menatap Rayan yang berjalan ke arahnya.
“Daddy tidak kembali bermain denganku, kenapa? Daddy sedang sibuk?” Rayyan memandang ayahnya dengan tatapan polosnya.
Ricko tertawa pelan lalu mengangkat badan kecil putranya ke atas pangkuannya. “Daddy sedang sibuk mencari Mommy kalian,” jawab Ricko sambil membelai pipi gembul putranya.
Ada rasa sedih di dalam dada, saat melihat wajah polos putranya.
Seharusnya anak-anaknya mendapatkan kasih sayang utuh dari ibu mereka. Akan tetapi, karena keegoisannya, kedua anaknya menjadi menderita.
Rasa penyesalan itu semakin merasuk relung hati Ricko, hingga tidak terasa pria itu hampir meneteskan air matanya.
“Daddy tidak bohong ‘kan? Apakah Mommy akan datang kepada kami?” Kedua mata Rayyan berbinar dan sangat bersemangat, senyum indah terlukis di bibir mungilnya.
“Iya, Boy. Mommy pasti akan datang kepada kalian,” jawab Ricko seraya menghela nafas kasar, dadanya terasa sesak sekali seperti di hantam batu besar saat melihat antusiasme putranya. Dan dia takut akan mengecewakan kedua anaknya.
Terlebih lagi, Raisa harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang dari ibu mereka.
“Yes! Raisa pasti sangat senang mendengarnya.” Rayan bertepuk tangan sangat bahagia, lalu segera turun dari pangkuan ayahnya dan berlari keluar dari ruangan tersebut, menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
“Semoga gadis itu segera di temukan.” Ricko berdoa di dalam hati lalu berjalan keluar dari ruangannya, pergi menyusul putranya.
*
*
“Kau pasti berbohong, Yan!” Raisa menyangkal ucapan saudara kembarnya yang berbicara mengenai ibu mereka. Gadis kecil itu sudah bangun dari tidurnya dan saat ini sedang berada pangkuan Jasmine.
“Aku tidak berbohong! Daddy baru saja bercerita denganku!” Rayan berkata dengan kekeuh.
“Aku tidak percaya, kau ‘kan pandai berbohong.”
“Ih! Raisa!!” Rayan menjadi kesal kepada saudari kembarnya, kedua tangannya sudah bersiap untuk mencakar wajah Raisa, namun Jasmine segera menghentikannya.
“Rayan sayang, tidak boleh seperti itu. Ayo baikkan dengan Raisa,” ucap Jasmine.
“Tidak mau!” jawab Raisa dan Rayan bersamaan. Dua anak kecil itu saling bersedekap di dada sambil memalingkan wajah. Tingkah mereka sangat menggemaskan dan membuat Jasmine tertawa.
“Oh, jadi kalian tidak ingin berbaikan? Baiklah, jika tidak ada yang mau berbaikan maka Kak Jasmine akan membuat kalian tertawa.” Jasmine menunjukkan dua jari tangannya sambil menggerakkannya, seolah ingin menggelitiki.
“Ampun Kak, ha ha ha ha.” Rayan tertawa keras saat Jasmine menjawil pinggangnya, membuatnya kaget dan juga geli, kemudian tertawa keras.
“Gelitiki terus, Kak, yang kencang biar Rayan tidak berhenti tertawa.” Raisa menjadi Tim Hore untuk Jasmine.
Di ambang pintu kamar tersebut. Diam-diam Ricko mengintip kedua anaknya yang sedang bercanda dengan Jasmine. Seketika itu dia mengernyitkan keningnya saat baru menyadari sesuatu jika wajah Jasmine dan kedua anaknya sangat mirip.
“Mungkinkah ... ah, tidak mungkin.” Ricko segera menyangkal segala praduga yang melintas di otaknya.
Kemudian ia segera pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya yang tidak jauh dari kamar kedua anaknya.
*
*
Esok harinya, Ricko menjalani aktivitas seperti biasanya. Dia menyempatkan waktu untuk berolah raga di ruang Gym, agar badannya tetap bugar. Pria tampan dengan sejuta pesona itu terlihat sangat sexy saat tubuhnya bercucuran keringat, di tambah lagi saat ini dirinya hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek sambil menuruni tangga menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat di dapur dia melihat Jasmine sedang berkutat membuatkan sarapan untuk kedua anaknya.
“Jasmine, buatkan aku kopi setelah itu,” ucap Ricko sambil membuka pintu lemari pendingin lalu mengambil sebotol air mineral, dan segera di minumnya.
“Iya, Pak,” jawab Jasmine sambil menoleh pada Ricko. Kedua matanya membulat sempurna lalu segera memalingkan wajahnya, kembali fokus pada sayur sop yang sedang dia masak. Kedua pipinya memanas saat melihat pemandangan erotis itu. Dia segera menggeleng pelan, segera mengenyahkan pemandangan itu yang masih menari-nari di otaknya.
“Kenapa dia bertelanjang dada seperti itu? Apakah dia tidak punya malu!” batin Jasmine mendumel di dalam hati.
Apalagi di sana para pelayannya perempuan semua termasuk dirinya yang paling muda.
“Jas! Nanti letakkan kopiku di ruang makan!” titah Ricko sambil memandang punggung Jasmine.
“Iya, Pak.” Jasmine menjawab tanpa menoleh.
“Dasar aneh! Kalau di ajak bicara seharusnya kau memandang lawan bicaramu!” Ricko berbicara dengan nada naik satu oktaf.
“Maaf, Pak. Saya, tidak bisa memandang Bapak,” jawab Jasmine sambil mematikan kompor karena sayur sop yang ia masak sudah matang, kemudian dia berjalan miring seperti seekor kepiting menuju rak dapur yang menyimpan kopi, teh dan gula.
“Bagaimana mau memandang Bapak, kalau di suguhkan roti sobek seperti itu,” batin Jasmine, sambil menghela nafas kasar.
“Benar-benar aneh!” Ricko segera berlalu dari sana menuju kamarnya yang ada di lantai atas, tapi sebelumnya dia masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Dia tersenyum tipis saat melihat Rayan dan Raisa masih terlelap.
“Tidak biasanya jam segini mereka masih tidur,” gumam Ricko, keluar dari kamar tersebut, lalu memasuki kamarnya sendiri yang letaknya tidak jauh dari sana. Sepertinya kehadiran Jasmine membuat kedua anaknya merasa tenang dan nyaman. Ricko menyadari itu.
*
*
Tepat jam 7 pagi, Ricko sudah berada di meja makan sambil menikmati kopinya serta memeriksa beberapa email melalui ponselnya. Dia juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara kedua anaknya.
“Kenapa kalian menjadi pemalas sekali?” Jasmine menuruni tangga sambil menggendong kedua bocah itu dengan susah payah.
“Kami ingin memeluk Kak Jas. Rasanya sangat nyaman, apakah seperti ini rasanya pelukan seorang ibu?” tanya Rayan dengan polosnya.
Hati Jasmine dan Ricko tercubit saat mendengar pertanyaan polos itu.
“Mungkin saja iya. Kalian bisa memelukku kapan pun kalian mau.”
Jasmine berkata dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokannya. Dia bisa merasakan kesedihan sedang tengah di rasakan dua bocah kembar itu.
“Terima kasih, Kak Jas.” Rayan dan Raisa kompak memeluk leher Jasmine dengan erat.
Jasmine tersenyum sambil terus melangkah menuju ruang makan, lalu menurunkan kedua anak itu bersamaan.
Ricko ikut tersenyum saat melihat kedua anaknya merasa tenang dengan Jasmine. Kemudian, ia kembali memasang wajah datar saat Jasmine menatapnya.
“Selamat pagi, Rayan, Raisa,” sapa Ricko sembari mengulas senyum tipis.
“Selamat pagi juga Daddy,” balas Rayan dan Raisa bersamaan, lalu berjalan menghampiri ayah mereka dan memberikan kecupan selamat pagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
emng benihnya ditanam lgsg ap lewat media lain .masa iya kl lgsg ngg inget wajah ny.begitu jg sm jas hujan
2024-12-22
0
LENY
JGN2 JASMINE IBU SI KEMBAR SEBELUM SAKIT 5 THN YG LALU.
2024-07-02
1
Ani Ani
mukin ITU IBU nya
2024-05-08
1