Ratih sudah berpamitan pulang. Jasmine mulai bekerja hari itu juga. Kini ia di kenalkan dengan dua bocah kembar yang lucu dan sangat imut.
“Rayan, Raisa, ini adalah pengasuh baru untuk kalian,” ucap Jeje kepada dua anak kembar, laki-laki dan perempuan yang usia mereka baru 5 tahun.
Jasmine menatap dua anak kembar itu bergantian. Kemudian ia berjongkok dan menjajarkan tingginya dengan dua anak kembar itu.
“Kalian sangat tampan dan cantik sekali,” ucap Jasmine mulai mendekatkan diri. Jasmine merasa jatuh hati kepada anak kembar itu.
“Ingat kata Oma, jika bertemu dengan orang yang lebih tua harus mencium tangan.” Jeje mengingatkan dua cucunya itu dengan nada lembut.
Tidak perlu di suruh dua kali, kedua anak kembar itu langsung bersalaman dan mencium punggung tangan Jasmine. Kedua mata Jasmine tiba-tiba berkaca-kaca saat merasakan sentuhan dua tangan mungil itu. Entah kenapa ia merasa sangat dekat dengan dua anak itu.
Begitu pula dengan Rayan dan Raisa yang merasakan sesuatu yang aneh di dalam hati mereka. Mereka menatap Jasmine dengan lekat.
“Kakak juga sangat cantik,” puji Raisa tersenyum lucu.
Jeje terkejut saat mendengar cucunya memuji Jasmine, karena sebelumnya anak kembar itu sangat introvert dan tidak mudah menerima pengasuh baru.
“Sepertinya mereka menyukaimu, Jas,” ucap Jeje, ikut senang. Dia bernafas lega kalau begini.
“Semoga saja, Nyonya,” jawab Jasmine seraya berdiri.
“Kalian ke ruang bermain dulu ya. Oma ingin berbicara dengan Kak Jasmine,” ucap Jeje kepada dua cucunya.
“Iya, Oma,” jawab Rayan dan Raisa bersamaan. Lalu dua anak itu berlari menuju ruang bermain.
Jeje menjelaskan jika ayah si kembar sedang bekerja dan akan pulang saat sore hari. Sekaligus memberitahukan jadwal kegiatan si kembar kepada Jasmine.
“Nyonya, maaf sebelumnya. Apakah saya boleh bertanya, di mana ibu mereka?” tanya Jasmine dengan hati-hati.
“Mereka tidak mempunyai ibu,” jawab Jeje.
Jasmine membekap mulutnya, merasa kasihan dan sedih dengan nasib anak kembar itu.
“Maaf, Nyonya.” Jasmine merasa bersalah karena sudah mempertanyakan hal yang sangat sensitif.
“Tidak apa-apa. Kamu berhak tahu, karena mulai saat ini kamu adalah pengasuh mereka. Aku percayakan semua kepadamu, Jas. Dan aku tidak bisa berlama-lama di sini karena salah satu cucuku melahirkan di rumah sakit. Jika kamu perlu apa-apa, panggil salah satu pelayan di sini, mereka akan membantumu,” jelas Jeje lalu mengambil tasnya, dan berpamitan kepada Jasmine.
Jasmine menghela nafas panjang, kemudian ia segera berjalan menuju ruang bermain untuk menemui dua anak kembar itu.
Hari itu Jasmine melakukan tugasnya dengan baik, dua anak kembar itu tidak rewel justru terlihat patuh kepadanya.
Hingga tidak terasa sore hari telah tiba. Jasmine memandikan Rayan dan Raisa bergantian.
“Kalian sekarang sudah wangi, tampan, dan cantik.” Jasmine menjadi gemas dengan dua anak kembar itu lalu menciumi pipi mereka bergantian. Kemudian ketiganya itu keluar kamar, dan menuju ruang keluarga.
Tidak berselang lama terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah mewah itu.
Rayan dan Raisa saling pandang, kemudian mereka berlari ke halaman rumah sambil meneriakkan ayah mereka.
“Daddy!!
“Daddy!!”
Rayan dan Raisa tersenyum sambil joget-joget di depan pintu, mereka menyambut kedatangan ayah mereka dengan sangat bahagia.
Ricko yang baru turun dari mobil tersenyum lebar. Rasa lelahnya langsung lenyap begitu saja saat melihat dua buah hatinya menyambutnya dengan riang gembira.
“Kalian terlihat senang sekali,” ucap Ricko lalu menggendong kedua anaknya di kedua tangannya kanan, dan kiri, masuk ke dalam rumahnya.
“Hemm, kalian sudah wangi sekali. Siapa yang memandikan?” tanya Ricko ketika menciumi pipi kedua anaknya.
“Kak Jas, yang mandikan,” jawab Raisa dengan suara yang imut.
“Kak Jas?” Kening Ricko berkerut sembari berpikir. Ah, dia lupa kalau tadi pagi neneknya menghubungi jika ada pengasuh baru untuk kedua anaknya.
Ricko menurunkan kedua anak kembarnya saat sampai di ruang tengah. Bersamaan dengan Jasmin yang berjalan dari arah dapur sambil membawa sepiring nasi.
“Selamat sore, Pak,” sapa Jasmine, sembari menundukkan sedikit kepalanya dan tersenyum tipis, lalu menyamakan wajah Ricko yang dengan foto yang tertempel di dinding ruang tengah itu.
“Kau pengasuh baru kedua anakku?” tanya Ricko dengan nada datar.
“Iya, Pak, saya Jasmine,” jawab Jasmine.
“Daddy, Kak Jas, cantik ‘kan?” Raisa berkata sambil memeluk kaki ayahnya.
Ricko menunduk sambil tersenyum, “Iya , tapi Rara lebih cantik,” jawab Ricko.
“Terima kasih, Dad. Karena Daddy sudah memujiku maka Daddy akan mendapatkan ciuman dari Tuan Putri Rara,” ucap Raisa dengan gaya ala tuan putri. Kemudian ia meminta ayahnya untuk menundukkan kepalanya lalu mengecup pipi Ricko sekilas.
Ricko tertawa pelan, lalu mengusap pucuk kepala putrinya dengan gemas.
Lalu pandangannya teralihkan pada Jasmine yang menatapnya tidak berkedip.
“Apakah kau tidak punya pekerjaan lain selain menatapku!” ucap Ricko terdengar dingin dan datar.
Jasmin segera menundukkan pandangannya, “Maaf.”
Ricko menghela nafas panjang, seraya berjalan menuju tangga yang membawanya ke kamarnya.
“Ya ampun, galak sekali,” gumam Jasmin seraya mengelus dada dengan tangan kirinya.
“Ayo, anak-anak, waktunya makan!” seru Jasmine kepada dua anak itu.
Jasmine menyuapi Rayan dan Raisa di ruang keluarga sambil menonton televisi. Mereka berdua makan sangat lahap, namun tiba-tiba Raisya tersedak lalu kejang hebat.
Jasmine dan Rayan yang melihat itu pun langsung panik. Jasmine segera meletakkan piring dengan asal kemudian segera memeluk gadis kecil itu dengan erat.
“Daddy!!!” teriak Rayan sangat keras.
Salah satu pelayan di rumah itu berlari menuju lantai atas, untuk memberitahukan jika Raisa kejang.
Ricko yang baru saja selesai berpakaian langsung berlari keluar kamar dan menuju ruang keluarga.
“Rara!!!” seru Ricko panik lalu mengambil alih putrinya dari pelukan Jasmine.
“Ambilkan obat di laci kamar Rara!” titah Ricko kepada Jasmine.
“I-iya, Pak.” Jasmine yang panik langsung berlari dengan sangat cepat menuju kamar di si kembar yang ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Ricko. Tidak berselang lama Jasmine kembali lagi dengan membawa sekotak obat di tangannya dan menyerahkannya kepada Ricko.
Kondisi Raisa membaik setelah meminum obat, dan sudah tidak kejang. Semua orang yang ada di sana merasa lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Mega Biru
kenapa harus tanya siapa yang memandikan Thor? kan dia tau kalo di rumah itu cuma ada jeje
2024-12-08
0
Raufaya Raisa Putri
waduhh... Rara sakit ap tuh
2024-12-22
0
Ani Ani
kenapa dengan dia
2024-05-08
0