Cubitan Kirana menyisakan sakit yang luar biasa di salah satu kaki Ricko. Hingga membuat pria yang tadinya asyik tidur kini sudah bangun dan mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur sambil mendengarkan omelan dari ibunya.
“Kau tidur sudah seperti kuda nil! Raisa terluka karenamu,” omel Kirana. Setelah puas memarahi putranya ia segera keluar dari kamar tersebut.
“Kenapa aku yang di salahkan!” gerutu Ricko di dalam hati. Kemudian ia menatap putrinya yang berada di gedongan Jasmine, lalu beranjak mendekatinya.
Ricko mengusap kepala putrinya yang benjol dengan lembut. Tatapan tajamnya beralih memandang Jasmine dengan sengit.
“Seharusnya kau jangan meninggalkan mereka saat sedang tidur! Di sini kau yang harus di salahkan!!!” Ricko berkata dingin dan datar kepada gadis itu.
“Maaf, Pak ... tapi--”
“Aku membayarmu mahal untuk menjaga mereka! Jadi jangan banyak alasan! Dasar bodoh!” umpat Ricko lalu mengambil alih putrinya dari gendongan Jasmine dengan kasar.
Jasmine mengelus dada sambil berkata ‘sabar’, lalu menatap Ricko yang keluar dari kamar tersebut sambil menggendong kedua anak kembar itu.
Ricko sangat marah dan juga kecewa dengan Jasmine. Karena pengasuh itu, putrinya menjadi terluka. Tapi, setelah berhasil menguasai amarahnya, kini dia menjadi merasa bersalah kepada gadis itu. Tidak seharusnya ‘kan, dia menyalahkan Jasmine, karena kejadian ini murni kecelakaan.
Jasmine saat ini merasa sangat sedih, tapi benar yang di katakan Ricko kalau semua ini karena kesalahannya.
Seharusnya dia beberapa saat yang lalu tetap berada di dalam kamar tamu itu untuk mengawasi kedua anak asuhnya. Sekarang Ricko terlihat marah besar kepadanya.
*
*
“Kaka Jas tidak bersalah. Kenapa Daddy memarahi Kak Jasmine?” tanya Raisa dengan suara sedikit serak karena kebanyakan menangis.
“Kau memarahinya, Ricko?!” tanya Kirana kepada putranya itu. Saat ini mereka berada di ruang keluarga.
Ricko memangku Raisa sambil menempelkan alat kompres ke kepala Raisa yang benjol, sedangkan Rayan duduk di sebelahnya sambil memainkan mainan mobil.
“Iya!” jawab Ricko seraya mendesah kasar.
“Aku lihat dia sangat menyayangi kedua anakmu, berbeda dengan babysitter yang sebelumnya. Jadi, untuk kali ini tolong kerja samanya, jangan membuat Jasmine tidak betah bekerja di sini. Zaman sekarang sangat susah mencari pengasuh yang tulus dan baik seperti Jasmine.” Kirana menceramahi putranya.
“Hemmm!” Ricko hanya berdehem saja sebagai jawaban, tanpa menatap ibunya. Dalam hati, dia merasa sangat menyesal karena sudah memarahi dan memaki pengasuhnya itu. Dia akan meminta maaf kepada gadis itu.
Meminta maaf? Apakah benar dia akan memalukannya, mengingat Ricko adalah pria yang sangat dingin seperti kulkas lima pintu. Dan sebuah kata maaf adalah sebuah kata yang sangat sakral baginya.
“Sayang, sepertinya kita tidak bisa menginap di sini malam ini.” Nathan yang sedang menekuri layar ponselnya beralih menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Why? Aku sangat merindukan kedua cucuku!” protes Kirana kepada suaminya.
“Mommy Jeje memberitahukan kalau di rumah ada sedikit masalah, kita harus pulang secepatnya,” jawab Nathan seraya beranjak dari duduknya.
Kirana mendesah kasar, terpaksa mengikuti suaminya. Kemudian ia berpamitan kepada anak dan kedua cucunya sebelum keluar dari rumah mewah itu.
“Akhirnya mereka pergi.” Rayan berkata sambil menoleh ke arah pintu rumah.
“Kenapa Rayan berkata seperti itu?” tanya Ricko dengan kening yang mengerut.
“Mereka tidak tulus menyayangi kami.” Seorang anak kecil tidak pernah berbohong, mereka bisa merasakan kasih sayang yang tulus dan mana yang tidak.
Ricko mengusap pucuk kepala putranya dengan lembut. Kedua orang tuanya awalnya memang menentang kehadiran kedua anaknya, karena si kembar lahir tanpa seorang ibu. Tapi, sekarang kedua orang tuanya sudah sadar dan mulai menerima kehadiran Rayan dan Raisa.
“Mereka menyayangi Rayan dan Raisa. Seperti Daddy menyayangi kalian.” Ricko meyakinkan putranya.
“Aku tidak percaya.” Rayan masih tetap pada pemikirannya. Pria kecil itu mempunyai kecerdasan yang luar biasa, sama seperti Raisa, akan tetapi mereka jarang menunjukkan kecerdasan mereka.
Begitu sulit untuk meyakinkan kedua anaknya. Tapi, Ricko akan menjelaskan secara perlahan-lahan mengenai Oma dan Opanya yang sudah menyayangi kedua anaknya itu.
Jasmine keluar dari kamar tamu setelah selesai membereskan kamar tersebut. Dia berjalan melewati ruang keluarga sambil menundukkan kepala. Sungguh, saat ini dia merasa sangat takut kepada Ricko.
Ricko mendesah kasar melihat Jasmin mengabaikannya. Bahkan panggilan Rayan dan Raisa pun di abaikan oleh gadis itu. Apa sebegitu takutnya gadis itu kepadanya? Batin Ricko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
ni anak umur berapa y...kok pemikiran ny udah dewasa.cara bicara pun sm
2024-12-22
0
Ani Ani
dah Kau Merah takut lah dia
2024-05-08
0
Samsia Chia Bahir
😫😫😫😫😫
2024-03-23
0