“Kak Jas sudah tidak sayang lagi kepada kita,” ucap Raisa merengek kepada ayahnya.
“Iya! Ini semua karena Daddy!” Rayan menatap sengit ayahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Hei! Kenapa kalian menjadi kompak merajuk seperti ini?” Ricko tidak marah, justru dia menjadi gemas dengan kedua anaknya itu.
“Karena Daddy kejam, sudah memarahi Kak Jas,” jawab Rayan dan Raisa bersamaan, menatap tajam ayahnya.
“Oke ... Daddy akan meminta maaf kepada Kak Jas. Dan akan membujuk Kak Jas agar tidak marah lagi kepada kalian, jadi sekarang kalian stop memusuhi Daddy!” jawab Ricko sambil menoel hidung mancung kedua anaknya.
“Kami tidak percaya dengan Daddy sebelum ada buktinya! Daddy ‘kan pelit minta maaf,” jawab Raisa, dan diangguki saudara kembarinya.
“Oh ... god!” Ricko menepuk keningnya dengan kesal lantaran melihat sikap kedua anaknya yang sudah seperti orang dewasa, pandai menuntut.
“Oke ... Oke. Daddy akan meminta maaf kepada Kak Jas di hadapan kalian,” jawab Ricko merapatkan giginya sambil tersenyum paksa.
Raisa dan Rayan saling pandang lalu tersenyum penuh arti. Kemudian mereka berdua segera turun dari atas sofa.
“Kalian mau ke mana?” tanya Ricko.
“Mau membuktikan ucapan Daddy. Ayo!!” Rayan dan Raisa dengan kompak menarik tangan Ricko.
“Hei! Tidak harus sekarang ‘kan?!” seru Ricko yang terpaksa beranjak dari duduknya dan mengikuti kedua anaknya.
Gawat! Ini Gawat! Dia belum mempunyai persiapan sama sekali.
Pasalnya, dia belum pernah meminta maaf kepada seorang wanita sebelumnya. Apa yang harus dia katakan kepada Jasmine? Ricko berkata di dalam hati.
‘Apakah aku harus berkata, aku minta maaf, Jas!’ Ricko menyiapkan kata-kata di dalam hati yang akan di ucapkan kepada Jasmine.
‘Tidak! Kata-kata itu terdengar sangat monoton! Dan juga tidak romantis!”
Eh! Kenapa dia harus bersikap romantis? Dan kenapa dia menjadi gugup seperti ini? Pikir Ricko yang kini mulai merasakan getaran aneh di dalam dadanya.
“Daddy, ayo!!!” Raisa dan Rayan terus menarik ayahnya menuju tangga.
Suara Rayan dan Raisa mengejutkan Ricko yang sedang asyik dengan lamunannya. “Iya, sabar dong!” jawab Ricko sambil menghela nafas panjang.
Sampai di depan kamar si kembar. Rayan dan Raisa mendorong Ricko masuk ke dalam kamar tersebut, lalu si kembar langsung menutup kamar itu dari luar, membuat Ricko terkejut dengan tingkah usil kedua anaknya.
Dia ingin keluar dari kamar tersebut, akan tetapi kehadirannya sudah diketahui oleh Jasmine yang baru keluar dari kamar mandi.
“Pak, Anda di sini? Anak-anak mana? Mereka harus mandi,” ucap Jasmine menatap Ricko sesaat lalu menundukkan kepalanya.
“Anak-anak berada di luar. Aku di sini hanya ingin memberitahu sesuatu!” jawab Ricko dengan datar. Kulkas lima pintu tersebut terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari bibirnya.
“Bodoh! Bukankah kau ingin mengatakan maaf kepadanya? Tapi, kenapa malah berkata kasar seperti tadi?” Ricko merutuki dirinya di dalam hati.
“Oh, iya. Maafkan aku atas kejadian yang tadi. Bapak benar, kalau aku yang salah, tidak seharusnya aku meninggalkan kembar,” ucap Jasmine dengan lirih. Dia masih berdiri di depan kamar mandi sambil menunduk dan menautkan kedua tangannya bergantian.
“Itu kau tahu! Lain kali jangan di ulangi lagi!” Dengan reflek Ricko kembali memarahi Jasmine, tapi sedetik kemudian ia langsung membekap mulutnya. Alih-Alih meminta maaf, dia malah melontarkan kata-kata kasar kepada pengasuh kedua anaknya itu.
“Iya Pak. Terima kasih sudah mengingatkanku,” jawab Jasmine.
“Kalau begitu, kenapa Anda masih berada di sini? Tidak baik perempuan dan laki-laki berada dalam satu ruangan, karena takut ada pihak ketiga, yaitu Setan,” ucap Jasmine, kini ia berani mendongak sambil menatap Ricko.
“Kau pikir aku mau berada di satu ruangan dengan pengasuh sepertimu? Jangan bermimpi!” Ricko segera membalik badan dan membuka pintu kamar tersebut.
“Ish, dia itu kenapa sih? Aku ‘kan hanya bercanda,” gumam Jasmine. “Aku juga sadar diri kalau aku ini hanyalah seorang pengasuh rendahan!” lanjut Jasmine kesal sembari memandang punggung kokoh majikannya itu.
“Daddy! Bagaimana?” tanya Rayan dan Raisa saat ayahnya membuka pintu kamar mereka.
“Ehm ... itu ...” Ricko menjadi bingung mau menjelaskan kepada kedua anaknya, tapi beberapa detik kemudian ia terselamatkan oleh seruan Jasmine.
“Kalian di sini rupanya! Ayo mandi, sudah sore.” Jasmine berseru dengan riang kepada dua anak asuhnya.
Melihat Jasmine yang ceria, anak kembar itu berpikir kalau ayah mereka sudah meminta maaf kepada Jasmine.
“Siap, Kak!” Dua anak kembar itu segera masuk ke dalam kamar, mengikuti Jasmine menuju kamar mandi.
Ricko menoleh ke belakang, menatap kedua anaknya yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia bernafas lega tapi juga terus merutuki dirinya sendiri.
“Bodohnya dirimu ini!” Ricko kesal kepada dirinya sendiri. Padahal hanya meminta maaf saja, kenapa kata itu begitu sulit keluar dari bibirnya?!
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
lah... ngapain nunggu diluar kl mau bukti...aneh mbar
2024-12-22
0
LENY
BODOH DAN SOMBONG KAMU RICKO
2024-07-02
0
Ani Ani
mamang Kau bodoh2 bodoh tak terduga
2024-05-08
0