Bab. 15
Naaahhh ... ini yang bener, Yaang. Maapin Yuta, ya? Hiks.
***
Al menggelengkan kepalanya. Cowok itu kemudian merubah ekspresi wajahnya menjadi datar, ketika ada orang lain masuk ke dalam kelas xan menatap ke arah mereka.
"Enggak. Kenapa makannya kayak gitu?" tanya Al sembari menatap ke adah depan. Di mana terlihat ada sepasang murid yang juga tengah memakan bekal mereka dengan saling menyuapi.
Bina mengikuti arah tatapan Al. Lalu dia menoleh ke arah Al yang tidak melihat ke arahnya. Sehingga Bina berani menatap wajah itu.
"Ya mungkin mereka pacaran," jawab Bina mengenai pertanyaan Al.
Terdengar hembusan napas kasar dari Al.
"Bukan mereka, tapi kamu. Kenapa makannya kayak gitu? Kok nggak di lepas aja kainnya?" jelas Al menoleh sekilas ke arah Bina. Karena ia menganggap di kelas ini kebanyakan perempuan, dan yang laki-laki cuma dirinya juga ada satu siswa yang mungkin tengah menikmati makan siang bersama pacarnya di kelas.
"Oh ... ini?" tanya Bina sembari memegang cadarnya.
Ia yang kebetulan menoleh pun menganggukkan kepala, membenarkan.
Terdengar suara kekehan dari Bina, membuat Al tersentak kaget dan langsung menatap ke arah gadis itu.
Suaranya begitu indah nan lembut mesti gadis itu tertawa. Semakin menambah rasa penasaran Al.
Dipandang seperti itu, Bina menundukkan kepalanya.
"Ini namanya niqab. Kalau sudah mutusin buat makai ini, dalam keadaan apapun nggak boleh dibuka. Apa lagi di depan orang yang bukan mahramnya," jelas Bina membuat Al bingung.
"Meskipun di rumah?" tanya Al memastikan.
"Ya tergantung. Kalau di rumah isinya cuma keluarga inti aja, ya nggak apa-apa. Tapi kalau ada sepupu yang lawan jenis, tetep nggak boleh. Apa lagi kalau ada orang asing," jelas Bina begitu pelan.
"Lo nggak ribet?"
Bina menggeleng. "Udah terbiasa dan lebih nyaman begini," jawab gadis itu.
Al tidak menyangka. Jika gadis pada umumnya itu mereka akan berlomba saling menonjolkan kecantikan yabg mereka miliki, bahkan berusaha untuk tampil lebih cantik dari dasaran mereka. Apa lagi kalau sedang berhadapan dengan orang yang mereka suka.
Akan tetapi, gadis yang duduk di sebelah kursinya tersebut melakukan hal yang justru sebaliknya.
"Kalau sama pacar?" tanya Al yang sangat penasaran mengenai hal ini.
Bina tersenyum, meskipun tidak terlihat namun Al tahu dari mata Bina yang menyipit menyerupai bulan sabit.
"Ya jelas nggak boleh, dong. Pacaran aja nggak boleh, mana bisa liatin wajah ke pacar. Yang boleh ya sama mahramnya," jelas Bina kemudian menutup bekal makanannya. Membuat Al bingung.
"Suami?"
"Iya. Selain itu cuma sama ayah, ibu, dan saudara kandung. Pokoknya sama lawan jenis nggak boleh," jawab Bina.
Al yang bingung dengan sikap Bina menutup bekal makanannya, lantas cowok itu paham.
"Lo nggak nyaman, makan ada gue di sini?" tebak Al.
"Aku masih kenyang. Kebetulan diajak bicara, ya sudah. Kamu sendiri nggak keluar sama teman-teman kamu?" tanya Bina sembari menatap ke arah pintu kelas. Di mana di sana ada cowok yang Bina tahu dia sangat banyak bicara dan sering kali melempar kalimat menggoda. Kepada siapapun, bukan hanya kepada satu orang.
Al menatap ke arah pintu kelas, cowok itu mengumpat keras di dalam hatinya ketika melihat ada Iyan di sana yang tengah menunggu dirinya.
'Temen sialaan! Nggak ngerti gue sedang usaha, apa!' batin Al.
"Udah ditunggu itu. Keluar sana," ucap Bina.
Meskipun kalimatnya merupakan pengusiran secara terang-terangan, namun entah kenapa jika Bina yang mengucapkan dengan nada lembut seperti itu, Al rela diusir berapa kalipun. Eh!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ass Yfa
Al.... selera lo emang beda... the best
2023-06-02
2
Miss Typo
wah Al bener" dh tersihir oleh kelembutan Bina
2023-06-01
0
Rita
senyumin aja rela diusir sm calon mahram😄
2023-04-24
2