Bab. 14
Al tidak melepas pandangannya dari Bina. Mata yang terlihat terpejam tersebut terlihat begitu tenang. Seolah benar-benar membutuhkan waktu untuk istirahat barang sejenak saja.
'Dia butuh uang banget ya? Sampai kerja segitu larutnya?' gumam Al di dalam hati.
Dan ketika bel berbunyi, Bina terlihat menggeliat lalu menegakkan tubuhnya. Gadis mengucek matanya sebentar lalu menoleh ke arah Gita.
"Udah masuk, ya?" tanya Bina.
Gita mengangguk. "Barusan kok. Guru juga belum masuk," jawab Gita.
Belum sempat Bina bertanya lagi, tampak seorang wanita paruh baya memasuki kelas mereka.
Kelas pun di mulai dan Bina juga mulai mengeluarkan bukunya. Dia tidak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang tidak beralih sedikit pun darinya.
Al terus memperhatikan gerak gerik Bina. Seolah tidak ada puasnya walaupun yang terlihat hanya matanya saja. Namun, hal itu justru membuat Al semakin penasaran dan merasa tenang saja melihat gadis itu.
***
Jam istirahat tiba. Kebetulan hari ini Bina membawa bekal sendiri. Sehingga gadis itu tidak ikut Gita ke kantin.
"Kalau gitu gue ke kantin dulu, ya?" pamit Gita yang sebenarnya tidak tega meninggalkan Bina di kelas. Meskipun ada beberapa teman yang tetap tinggal di kelas. Sama seperti Bina, membawa bekal sendiri.
Mungkin bukan karena menghemat, tetapi lebih tepatnya mereka menjaga makanan mereka. Tidak seperti Bina yang memang lebih menghemat. Yang du bawa saja itu nasi goreng tadi pagi. Sisa sarapannya dengan sang bunda.
"Iya, keluar aja. Aku nggak apa-apa kok. Lagian juga banyak yang diam di kelas," ujar Bina sambil mengeluarkan bekalnya.
Gita berdecak. "Bukan itu kali yang gue maksud. Takutnya itu si Grace bakalan datang dan cari masalah sama lo lagi."
Gita masih sangat ingat betul mengenai kejadian ketika Grace datang ke kelas mereka dan berusaha untuk menarik cadar yang dikenakan oleh Bina. Beruntung teman mereka yang lain mencegah dan menolong Bina.
Bina tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit.
"Udah, tenang aja. Isnya'allah aku nggak apa-apa," ujar Bina meyakinkan Gita.
Walau sedikit berat, namun akhirnya Gita keluar juga.
Bina membuka bekalnya tanpa melihat ke arah sekitar. Gadis itu tampak menikmati nasi goreng yang dia bawa sendiri. Hingga Bina dikejutkan dengan suara seseorang yang membuatnya hampir terjingkat.
"Enak banget, ya? Sampai nggak sadar ada orang di sini," ujar cowok itu menatap ke arah Bina.
"Astagfirullahal'adzim!" kaget Bina. "Maaf, aku nggak tau kalau kamu masih di sini," ujar Bina kemudian sembari menganggukkan kepalanya sebagai tanda minta maaf.
Al mengerjap pelan.
"Enak?" tanya cowok itu lagi. Kini tatapannya berpindah ke arah bekal yang ada di depan Bina.
"Hah? Apanya?" tanya Bina yang masih belum paham.
"Bekal lo," jelas Al.
"Ah, nasi goreng nya? Alhamdulillah, lumayan enak menurutku," balas Bina kemudian.
Gadis itu merasa canggung mau melanjutkan makannya, ketika menyadari ada seorang pria yang ada di dekatnya. Bahkan sangat dekat sekali.
"Kenapa nggak dilanjut? Makan aja sudah. Gue nggak minta kok," ucap Al sembari melipat satu kakinya yang ditumpukan di atas kaki yang lain.
Bina meringis canggung. Masalahnya bukan makanannya yang bakalan diminta atau bukan. Akan tetapi ketika ia membuka cadarnya sedikit demi memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulut, akan terasa aneh jika ada orang yang terang-terangan menatapnya.
"Kamu nggak keluar bareng temanmu yang lain?" tanya Bina memilih untuk menghentikan makannya. Lagi pula juga perutnya tidak terlalu lapar.
Al menggeleng dengan tatapan yang masih mengarah ke Bina. Membuat gadis itu merasa kian tidak nyaman.
"Kenapa liatinnya kayak gitu? Aneh ya?" tanya Bina yang menatap sekilas lalu menatap ke arah depan.
Terdengar suara kekehan kecil darii mulut Al.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
StAr 1086
bukan aneh Bi tapi tersepona alias terpesona....
2023-07-14
2
Miss Typo
Al terpesona padamu Bina 😁
2023-06-01
0
fitri hutagaol
deg deg deg .. lanjutt ayang othor 😘
2023-04-21
0