Ch. 8. Bingung

Bab. 8

Belum juga jauh motornya melaju meninggalkan kawasan sekolah, motor yang dikendarai oleh Bina tiba-tiba saja terhenti dan tidak bisa dilajukan lagi.

"Loh loh ... ini kenapa motornya kok malah ngelamban kayak gini?" ucap Bina bermonolog sendiri ketika ada yang tidak beres pada motornya.

Hingga di beberapa detik selanjutnya motor itu benar-benar berhenti di tepi jalan. Beruntungnya, motor itu terhenti tepat di bawah pohon. Sehingga Bina tidak terlalu kepanasan.

"Aahh ... mana udah hampir jam setengah dua. Padahal bensinnya masih ada. Tapi kenapa kamu malah ngambek sih, Blue," rengek Bina pada motornya sendiri. Yang jelas gadis itu tidak akan mendapat balasan dari motornya.

Akhirnya Bina turun dari motornya dan berteduh dari teriknya sinar matahari.

"Bengkelnya masih jauh kayaknya dari sini, ya? Apa aku coba hubungi Gita aja, ya? Siapa tau dia masih ada di sekitaran sini," gumam Bina lagi.

Kemudian gadis itu merogoh ponselnya yang ada di saku seragam, lalu mencoba menghubungi Gita. Akan tetapi, nomor sahabatnya itu ternyata tidak aktif.

Tentu saja hal itu membuat Bina semakin panik. Menghubungi ibunya juga tidak mungkin. Ibunya masih kerja di jam seperti ini.b

Akhirnya, gadis itu mendorong motornya melewati tepi jalan. Dari pada mandek di sana saja dan dirinya akan melewatkan waktu untuk laporan kepada sang pencipta, Bina memutuskan untuk mencari masjid yang ada di sekitaran sana.

Beruntungnya tidak jauh mendorong motornya, Bina melihat ada sebuah bangunan masjid di sana. Bibir gadis itu tersungging ke atas di balik cadarnya.

Tidak membuang waktu, segera Bina menuju ke sana dan melaksanakan kewajibannya lebih dulu. Bina juga tidak berlama-lama di sana seperti biasa apa yang dia lakukan setelah sholat. Karena sekarang waktunya agak terdesak.

Kemudian Bina bertanya pada orang yang berada tidak jauh dari sana. Seorang bapak-bapak.

"Permisi, Pak. Maaf, di sekitaran sini ada bengkel apa tidak, Pak?" tanya Bina dengan nada yang sangat sopan.

Seorang pria paruh baya yang tengah membersihkan halaman sekitaran masjid pun menoleh.

"Kalau dari sini sih jauh, Neng," jawab pria paruh baya tersebut.

Membuat Bina menghela napas. Bagaimana cara dirinya agar segera sampai rumah dan segera berangkat ke cafe.

"Tapi ada kan ya, Pak? Masih satu arah?" tanya Bina lagi.

Tidak ada pilihan lain, Bina mau tidak mau harus meminta ijin untuk hari ini.

"Iya, Neng. Jalan aja, palingan lima ratus meter dari sini," jawab pria paruh baya itu.

"Terimakasih, Pak," ucap Bina sembari membungkukkan badannya begitu sopan.

Setelah itu Bina kembali ke motornya dan berniat untuk mendorong ke arah yang dituju oleh bapak-bapak tadi.

Namun, ketika ia mulai mendorong motornya, tanpa sengaja netranya menatap sosok yang tidak asing baginya. Bina hanya menatapnya sekilas. Lalu menggeleng kepala seolah mengusir apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.

"Kenapa malah kayak liat anak itu, sih!" rutuknya.

Mungkin karena kesal kehilangan gaji satu hari, di tambah lagi harus mendorong motornya, membuat pikiran Bina ke mana-mana. Bina pun melanjutkan mendorong motornya menuju bengkel.

Sementara itu seorang cowok yang tengah memakai sepatunya tanpa sengaja juga melihat sosok yang mampu menarik perhatiannya. Padahal dari penampilannya saja ia tidak tahu dia seperti apa. Gegas cowok itu segera menuju ke motornya.

"Lo mau ke mana sih? Buru-buru banget?" tanya Lucas yang tengah memakai sepatunya dengan cepat, namun salah-salah terus. Cowok itu menyadari jika sikap Al sedikit aneh.

"Iya. Biasanya juga ngadem dulu di bawah po ..."

Iyan yang menyahut ucapan Lucas pun tampak bengong dalam keadaan mulut terbuka. Tatapannya mengarah pada sosok yang sepertinya ia kenal.

"Eh, Bro. Bukannya itu Bina, ya? Si putri malu yang nggak bisa disentuh sembarangan?" tanya Iyan kepada teman-temannya. Takut-takut kalau dirinya salah lihat dan menganggap semua cewek yang bercadar itu teman barunya di kelas.

Lucas dan Genta yang baru selesai dengan urusan sepatunya pun segera menghampiri Al dan Iyan. Di mana dua cowok cakep itu tengah menatap ke arah seorang yang sedang mendorong motor maticnya ke arah kiri sisi masjid.

"Cewek misterius yang ada di kelas tadi?" tanya Lucas memperjelas. Sementara Genta diam namun juga memperhatikan.

"Sepertinya dia kehabisan bensin," celetuk Iyan.

"Itu jelas nggak mungkin. Lo nggak liat, itu di sebelah pintu masuk ke masjid ada yang jualan bensin eceran? Palingan motornya mogok, kali!" timpal Lucas.

Tentu saja, dugaan Lucas membuat Al semakin merasa khawatir. Namun, mau menolongnya juga bagaimana? Sedangkan di ajak bicara saja tidak mau menatap ke arahnya tadi sewaktu di kelas.

Maaf, yang ini padahal aku up jam 3 sore. tapi nggak lulus² review.

Terpopuler

Comments

Miss Typo

Miss Typo

coba aja Al gpp kali skrg mau nerima pertolongan darimu

2023-05-31

3

Puspa Trimulyani

Puspa Trimulyani

ga pa pa kak..... semangat 💪💪💪 aku selalu menunggu up nya🤗

2023-04-14

0

Rita

Rita

coba saja Al

2023-04-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!