Bab. 4
Pagi ini SMA Mahardika dihebohkan dengan datangnya siswa pindahan dari SMA Dahlia. Bukan hanya satu siswa saja, melainkan empat sekaligus. Dan masing-masing dari mereka merupakan anak dari orang yang sangat berpengaruh di negeri ini.
"Ck! Sama aja Bro suasananya. Malah di sini lebih berisik," ucap salah satu siswa pindahan itu. Menatap ke arah sekelilingnya dengan bibir yang tersenyum ramah.
"Bilang aja lo makin suka, karena banyak cewek-cewek cantik di sini," timpal cowok yang berdiri di sampingnya.
"Tinggal buat list ini mah. Mau coba dari yang mana dulu," celetuk si paling playboy di antara mereka.
Plak!
Sebuah geplakan pun mendarat dengan begitu sempurna diwajahnya yang mulus bak oppa oppa Korea itu.
"Kalian bisa diem, nggak? Jangan malu-maluin gue!" ucap cowok berwajah datar dan suaranya terdengar begitu dingin.
Semua langsung diem. Kecuali teman yang berdiri di samping kirinya.
"Kita ke sini juga karena lo, Al," ingat cowok bernama Genta.
Sedangkan dua temannya yang lain, Lucas dan Iyan, tidak berani memberi komentar. Karena tahu betul tabiat cowok berwajah dingin yang bernama Al tersebut. Jika sudah bersuara, cowok itu tidak mau dibantah ataupun dikomentari.
Mereka berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk melapor terlebih dulu. Di sepanjang koridor sekolah, banyak siswi-siswi yang berteriak melihat ketampanan dari empat cowok tersebut. Ada juga dengan cara bisik-bisik.
Iyan yang paling ramah di antara mereka, melambaikan tangannya ke arah para cewek itu. Hingga membuat teriakan mereka semakin kencang saja.
"Gila! Damage anak SMA Dahlia emang nggak ada obat!"
"Keren-keren banget, anj*r!"
"Mau dong jadi ceweknya yang dingin itu!"
"Waaahh ... yang ramah itu senyumnya bikin meleleh!"
"Nikahin dedek, Bang Lu!"
"Si Genta, calon bapak dari anak-anak gue!"
"Itukan Alther! Yeeiii ... Al ... gue pada lo, Al!"
Rupanya, anak-anak SMA Mahardika ini tidak sedikit yang kenal dengan para rombongan cowok pindahan tersebut.
"Bisa rajin masuk sekolah ini gue kalau ada anak Alluigent pindah beneran ke sini," ucap salah satu siswi yang membuat Al menoleh kepadanya.
Sontak, siswi itu salah tingkah ketika mendapat tatapan seperti itu dari ketua geng mereka.
Al yang penasaran pun mendekat ke arah siswi yang barusan berucap dan menarik perhatiannya.
"Lo tahu geng kita?" tanya Al seraya menaikkan alisnya. Tatapannya begitu tajam.
Membuat tiga temannya menatap heran ke arah Al. Pasalnya, ini kali pertamanya Al mau bertanya pada orang lain lebih dulu.
Siswi itu mengangguk.
"Tentu saja gue tau, Kak. Karena Abang kan masuk di gengnya Kak Al," jawab siswi itu sambil menahan napas.
Al hanya menatapnya diam dan tidak berniat untuk melanjutkan interaksi di antara mereka lagi. Tatapan cowok itu kembali dingin dan melanjutkan langkahnya menuju ruang kepala sekolah.
Sontak, siswi tadi langsung dikerumuni beberapa siswi yang lain. Entah itu untuk sekedar bertanya mengenai informasi Para cowok tampan tersebut. Yang jelas, mengenai mereka. Ingin tahu lebih dalam lagi tentang empat cowok yang baru pindah ke sekolah mereka.
***
"Bi Bi Bi!" teriak Gita yang sedikit berlari dan menghampiri Bina yang tengah melakukan hafalannya di bangku.paling belakang.
"Astagfirullah ... apa sih, Gi? Masih pagi juga. Udah heboh banget," kaget Bina.
Sementara Gita mencoba untuk mengatur napasnya yang terengah karena lari barusan. Setelah tenang, baru gadis itu bercerita pada temannya apa yang barusan ia lihat.
"Oke ... napas dulu, baru cerita," ingat Bina lagi.
"Lo tau nggak? Di—"
"Enggak!" jawab Bina cepat seraya memotong ucapan Gita. Membuat gadis itu kesal dan memukul pelan lengan Gita.
"Ih, dengerin gue dulu! Gue belum ngomong loh, Bi!" protes Gita. Bina tersenyum di balik cadarnya. Salah sendiri sudah mengagetkan dirinya saat hafalan.
"Ya udah, maaf. Mau cerita apa emangnya?" kini Bina melipat tangannya di atas meja, bersiap mendengar cerita Gita.
"Di luar sana, ada anak pindahan dari SMA Dahlia, Bi. Mana cakep-cakep anaknya!" beritahu Gita penuh antusias. Sementara yang dikasih tau hanya menatapnya dengan tatapan biasa saja.
"Terus?"
"Ya itu, Bi. Anaknya cakep-cakep. Kayak oppa oppa Korea semua. Mana pada keren-keren! Reino and the geng aja mah lewat," ujar Gita masih penuh dengan semangat.
Bina menghela napas. Lalu gadis itu memilih mengambil buku yang ada di dalam tasnya.
"Kirain ada yang penting. Ternyata sepele," desis Bina. Menyesal sudah menghentikan hafalannya barusan.
Sementara Gita menepuk jidat nya sendiri. Seolah ada yang dia lupakan.
"Gue lupa kalau lo nggak bakalan tertarik sama beginian, Bi."
"Nah, itu tau!" sahut Bina yang langsung mendapat cubitan kesal dari Gita. Gadis bercadar itu hanya tersenyum saja tanpa membalas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-05-08
0
Ass Yfa
ini si Al... pindah sini kayaknya cuma penasaran a Bina deh....
2023-06-02
1
Miss Typo
penasaran saat Al deketin Bina
2023-05-31
0