Bab. 17
Hari yang ditunggu datang dan malam ini acara yang rutin mereka gelar, tampak terlihat lebih ramai dari sebelumnya.
Tidak asing bagi mereka anak orang kaya berada di lingkup pergaulan seperti ini. Karena memang uang taruhan yang mereka sepakati selalu dalam jumlah besar. Sehingga, selain sebagai ajang adu mekanik, mereka juga memanfaatkan untuk mendapatkan uang ceperan, walau asalnya dari orang tua mereka.
Namun, berbeda dengan niatan Al. Pria itu datang malam ini karena ingin menjaga nama geng mereka. Lebih lagi ada salah satu anggotanya yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu tim lawan mereka malam ini.
"Si Seno udah datang?" tanya Al pada Genta.
Genta yang tengah sibuk mengotak atik ipadnya, pria itu menolehkan wajahnya ke arah Al.
"Masih dijemput sama Iyan. Agak ribet, soalnya dia make kursi roda dan harus cari alasan yang tepat biar dikasih ijin sama orang tuanya," jawab Genta.
Al mengangguk paham. Orang tua mana yang tetap akan membiarkan putra mereka keluar dalam keadaan seperti Seno saat ini. Lebih lagi luka yang didapat Seno juga dari pergaulan mereka.
"Iyan sendiri?" tanya Al.
Ada rasa khawatir ketika sahabatnya itu keluar sendiri.
"Nggak. Dia sama Yogi. Lo tenang aja. Mereka berdua udah bisa kalahin sepuluh orang, kalau sampai di jalan nanti ada yang ganggu," balas Genta yang sangat tahu betul kekhawatiran Al pada anggotanya sendiri. Terutama pada mereka bertiga.
Seno yang mendapat cidera di kaki dan menyebabkan tulangnya retak, membuat Al merasa sangat bersalah pada anggotanya tersebut. Karena pada saat kejadian, Al tidak berada di tempat.
Terlebih lagi Seno merupakan anak kelas sepuluh dan baru bergabung di geng motor mereka. Masih belum paham betul dengan situasi pergaulan mereka.
"Lucas?" tanya Al. Karena setibanya di sini, ia tidak melihat Lucas.
"Dia sama Putra. Ngawasin beberapa titik yang akan lo lewati nanti," jawab Genta sudah seperti asisten Al saja.
Padahal mereka tidak sedang berada di kantor. Namun, sikap mereka saat ini menunjukkan seolah mereka dua pria dewasa yang tengah serius membahas sesuatu.
Orang tua mereka berteman, juga mempunyai kerja sama yang berjalan dari dulu. Al dan Genta juga sama-sama mulai terjun di perusahaan kedua orang tua mereka. Meskipun pada akhirnya Genta memilih untuk mendampingi Al di perusahaan temannya itu.
Karena Genta masih memiliki seorang kakak, sehingga orang tuanya pun tidak keberatan sama sekali dan alhasil Genta selalu mengekor pada Al. Apa lagi Al juga sangat percaya pada temannya yang satu ini.
"Langsung kita mulai saja kalau udah datang," ucap Al. "Gue tunggu di tempat biasanya." imbuhnya lagi dan mendapat anggukan dari Genta.
Kemudian Al berjalan menuju sebuah cafe yang juga merupakan satu tempat dengan lokasi yang akan mereka buat balapan nanti. Sedangkan Genta menjalankan tugasnya. Menyambut pesaing mereka dengan wajah datar seperti biasa.
Al sendiri memesan minuman terlebih dulu, sebelum melemaskan tangan dan kakinya. Lalu pria muda itu mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celana. Ia membuka sebuah aplikasi percakapan dan tidak lama kemudian bibirnya tersungging ke atas hingga membentuk sebuah senyuman mematikan di sana.
"Tunggu gue. Jaga mata. Jaga perasaan. Tetaplah bersikap acuh seperti itu. Seperti mawar yang banyak durinya. Karena cuma gue yang pantas dapatin semuanya dari lo. Sebab, gue jodoh lo," gumam Al sambil menatap sebuah kontak yang tersimpan di ponselnya.
Padahal di sana tidak ada foto pemilik nomor tersebut. Yang ada hanya setangkai mawar pink, namun di tangkainya penuh akan duri.
Maaf ya, Yaang. membuat kalian menunggu lama di novel ini🙏🏻 mulai sekarang bakalan rajin kok🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
ayang beibeh
2024-06-21
0
Miss Typo
Al dh klaim Bina jodohnya 😁
2023-06-01
2
Puspa Trimulyani
akhirnya up juga kak..... terima kasih 🤗🤗🤗
2023-05-03
0