“Haaa … ayah! Ibu! Wanita mesum dan cabul ini menamparku! Haaa ….” Shen Zhou malah ikut-ikutan seperti Xie Lan dan melakukan tindakan yang sama di samping untuk meledeknya. “Dasar perempuan manja, hmph!”
Meskipun begitu, Shen ZHou tidak tega melihat Xie Lan dalam kondisi baju compang-camping. Jadi dia membuka pakaiannya untuk menutupi tubuh Xie Lan, lalu melesat pergi sejauh mungkin darinya.
Setelah dirasa Xie Lan tidak mengikutinya, dan perut Shen Zhou berdemo keras, pria bermanik mata biru yang indah tersebut mencari sebuah restoran. Tentu saja restoran yang paling dia sukai adalah rumah bordil. Bukan karena wanita cantiknya, tetapi hampir semua informasi rahasia ada disana.
Baru saja Shen Zhou melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran bernama Mawar Kenanga, dia sudah dicegat oleh penjaga yang berbadan besar.
“Gembel mau apa —-”
Shen Zhou mengeluarkan uang 1000 koin emas dari cincing ruangnya dan dimasukan ke dalam mulut pria berbadan kekar tersebut untuk menyumpal mulutnya, “Ya, aku memang gembel. Tapi aku orang kaya, puas?”
Pria berkulit putih bagai giok kaca tersebut langsung disambut oleh beberapa wanita cantik. Gaun yang mereka pakai mempunyai belahan dari paha sampai ke pinggang, lengkap dengan belahan gunung kembar yang terekspos berlebihan.
“Tuan, mau aku temani Tuan?”
“Denganku saja Tuan, dijamin merem-melek Tuan.”
“Bersamaku aja Tuan, dijamin Tuan puas luar dalam, atas bawah.”
Kelima wanita itu langsung memperlihatkan pahanya yang mulus di depan Shen Zhou. Akan tetapi pria berhidung mancung tersebut tetap dingin.
Dia duduk dengan santai di kursi yang memiliki meja besar, “Ambilkan aku arak dan makanan yang terbaik disini!” ucapnya dengan mengeluarkan kantong kain berisi uang 1000 koin emas dan menaruh di atas meja besar.
Kelima wanita penghibur tersebut segera ke dapur untuk menyiapkan pesanan yang dipesan Shen Zhou.
“Cih, dia memang tampan. Tapi sayang gembel dan berani dia membuat rusuh di wilayahku,” gumam Ling Zhi, putra pertama keluarga Ling, keluarga terkaya nomor dua di pusat Kota Kerajaan Api Timur.
“Jika dia macam-macam disini! habisi saja dia!”
“Baik, Tuan Muda!” balas serentak lima pengawal Ling Zhi dari lantai atas restoran Mawar Kenanga.
Mata Shen Zhou terus berkeliling, mengamati, mendengarkan setiap orang yang sedang berbincang. Kemampuan kelima inderanya telah meningkat dan jika difokuskan bisa mendengar suara dalam radius satu kilometer.
“Sepertinya tidak informasi yang menarik atau memang menggunakan kode rahasia. Akan tetapi semua informasi ini banyak yang merujuk kepada Paviliun Bunga Amara dan keluarga Gun. Mungkin aku akan cari tahu dengan para wanita penggoda itu,” batin Shen Zhou dengan menghela nafas panjang karena dia tak menemukan informasi yang dia cari.
Tiba-tiba dari salah satu ruangan yang terhubung langsung dengan anak tangga, keluar seorang wanita berambut perak yang sangat lurus dan berkilau. Bibirnya merah merekah dan membuat semua lelaki yang berada di dalam restoran meneteskan air liur mereka, kecuali Shen Zhou yang tetap berwajah dingin.
Wanita itu mengernyit ketika melihat Shen Zhou, karena dari semua mata lelaki yang menatapnya, hanya dia yang tak terperangah dengan kecantikan sang ratu bordil dari
Restoran Bunga Kenanga yang bernama Mei Xin.
Wanita berambut perak itu menjentikkan jari untuk memanggil pelayan khusus miliknya. Untuk membawakan hidangan yang Shen Zhou pesan dan Mei Xin secara khusus mengantarkannya langsung ke meja Shen Zhou.
“Bangsat! Gembel itu merebut Mei Xin-ku!”
“Akan aku cincang dan aku jadikan benda pusakanya itu makanan a****ku!”
“Awas saja! Kalau keluar dari restoran ini aku jadikan kasim seumur hidupmu, bocah gembel!”
Semua lelaki yang mengidolakan Mei Xin merutuk keras Shen Zhou dan dia mendengarnya. Pria berambut hitam lurus tersebut terkesan sangat santai dan tidak menanggapi hardikan mereka.
“Huss … huss …!” Shen Zhou mengibas-ngibaskan tangannya ke makanan yang telah dihidangkan oleh Mei Xin untuk menghina semua lelaki yang telah menghardiknya.
.
“Berisik sekali disini! Sampai-sampai suara lalat ini mengganggu telingaku!”
“Sialan!” Ling Zhi yang juga mengidolakan Mei Xin mengeraskan rahang beserta semua lelaki di dalam Restoran Bunga Kenanga.
“Nona, Sayang sekali kecantikanmu harus terkotori oleh para lalat yang gosok gigi menggunakan air kencing. Bagaimana kalau kau menemaniku saja di dalam kamarmu?”
”Tenang, aku ini orang kaya. Berapapun biayanya pasti aku akan bayar. Bawa makanan itu ke kamarmu.”
Shen Zhou langsung memeluk pinggang Mei Xin dan membuat semua lelaki yang mengidolakan Mei Xin mukanya sudah semerah kepiting rebus dengan urat otot di dahi mereka yang menonjol besar.
Sesampainya di kamar pribadi Mei Xin, wanita berambut perak tersebut melepaskan mantel yang menutup baju dalamnya yang tipis hingga menampakan lekukan tubuhnya yang sangat menggoda dan mempesona.
“Tuan, mau main sekarang atau setelah makan dahulu?” tanya Mei Xin sudah dengan pose menantang.
Shen Zhou tidak perduli, dia malah asyik makan dengan lahapnya. Semua makanan dan arak yang berada di atas meja pribadi Mei Xin habis tidak tersisa.
“Khoo … mantap! Ah!”
Shen Zhou kembali mengeluarkan uang 1000 koin emas dan menumpuknya di atas meja ruangan pribadi Mei Xin. “Nona, aku tahu kamu sangat cantik.”
“Aku juga bukan seorang perjaka dan aku seorang duda. Akan tetapi aku masih punya harga diri sebagai seorang lelaki. Aku hanya ingin bertanya padamu satu hal, jika kau bisa memberikan jawaban yang sangat puas aku akan memberikanmu uang.”
“Tuan, Anda sangat menarik.”
Mei Xin bangkit dari pose menantangnya dan berjalan berlenggak-lenggok seperti pantat bebek untuk menggoda Shen Zhou. Lalu memeluknya dari belakang dan menggesekkan benda kenyal itu ke punggungnya. “Apakah Tuan sudah ingin?”
“Rupanya Nona ingin bermain denganku dan tidak menganggapku serius.” Shen Zhou berubah wajahnya menjadi dingin.
Lalu menarik rambut Mei Xin dan menaruh kepalanya di atas paha Shen Zhou dengan mata Pedang Zhu Que yang muncul tiba-tiba dari kehampaan terhunus ke arah mata kanannya.
“A-ampun, Tu-tuan. A-aku akan menjawab apapun pertanyaan Tuan. Silahkan Tuan! Silahkan!” Mei Xin melebarkan mata dengan raut muka seputih kertas dan tubuh gemetar seperti gempa berskala 1,8 skala richter.
“Apakah kamu tahu orang yang membunuh Pangeran Lu Bu?” tanya Shen Zhou dengan tatapan tajam setajam silet.
"Disini tidak a-ada informasi se-seperti ttu, T-tuan. Aku hanya mendengar seseorang berjubah hitam dan memiliki tanda Naga Hitam di lengan dalam kanannya mengatakan tentang Putri Mahkota Diao Cha akan dihabisi di perjalanan pulang menuju Kerajaan Bumi Barat,” jelas Mei xin dengan keringat dingin membasahi mukanya.
“Apakah kau tahu itu siapa? Atau organisasi apa?” tanya Shen Zhou dengan tatapan menyelidik.
“Ti-tidak tahu Tuan. Sungguh, aku tidak tahu. Jika aku berbohong aku rela digempur sama tuan sampai pagi, sumpah,” jawab Mei Xin dengan raut muka serius.
Hal itu membuat Shen Zhou menghela nafas panjang. Karena dia hanya menemukan petunjuk itu sepotong-sepotong. Shen Zhou ingat, Shen Xin juga memiliki tanda yang sama seperti yang diterangkan oleh Mei Xin.
Akan tetapi ingatan itu belum tentu mengarah ke arah Shen Xin pelakunya. Lalu motif apa yang diinginkan oleh Shen Xin hingga tega merencanakan pembunuhan Pangeran Lu Bu. Sedangkan dia berada di wilayah Kekaisaran Wu, bukan Kekaisaran Wei.
Shen Zhou mulai mengingat-ingat semua kejadian masa lalu sampai sekarang sambil menegakan tubuh Mei Xin dan mendudukan tubuh sintal itu di pangkuannya.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud kasar." Shen Zhou mengelus lembut rambut Mei Xin dan mencium keningnya.
Ada getaran yang sangat kuat merasuk ke dalam hati Mei Xin dari ciuman yang dilepaskan oleh Shen Zhou hingga dia tak bisa menahan untuk memejamkan mata. Setelah membuka mata, sosok pria bermanik mata biru tersebut hilang dari pandangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Hiu Kali
pemborosanmu harus dibayar dg menyita harta setiap musuh musuhmu thoor...
2023-04-09
0