Mendengar orang yang sudah menganggapnya sebagai saudara telah tewas dalam peperangan antara Kekaisaran Wei dan Kekaisaran Han, Shen Zhou segera mencari kuda untuk dinaikinya di Akademi Bulan Suci. Setelah menemukannya, Shen Zhou segera menarik pelana kuda agar kuda yang ditungganginya berlari lebih cepat.
......................
Perbatasan pusat kota Kekaisaran Han dan Kerajaan Bumi Barat.
Pasukan Kekaisaran Wei tiba di perbatasan pusat Kekaisaran Han dan Kerajaan Bumi Barat dengan jumlah pasukan yang sangat banyak, yakni 15.000 prajurit dengan membawa bendera logo Kekaisaran Wei.
Melihat banyaknya pasukan Kekaisaran Wei seperti kerumunan semut, para Jendral Kekaisaran Han, semua tetua sekte dari berbagai sekte di Kekaisaran Han terlihat cukup gentar.
“Tetua Hua, pasukan Kekaisaran Wei terlalu banyak. Aku khawatir murid sekte kami tidak bisa mempertahankan benteng ini,” kata tetua sekte Hantu Biru bernama Jin Yu dan juga Penatua keempat Akademi Bulan Suci.
Tetua Hua Tuo diam dan mengerti apa dia maksud dan membatin, “Pengecut tetaplah pengecut. Mana mungkin seekor ayam bisa menjadi seekor Elang. Mereka semua bernyali ayam, sialan!”
Pria tua dengan jenggot putih tersebut berlari di udara. Seperti memijak angin menuju pasukan Kekaisaran Wei seorang diri.
“Baguslah, pak tua itu sadar diri jika dirinya sudah tua dan tetua Akademi Bulan Suci akan menjadi milikku jika dia mati, hahaha …,” batin Jin Yu tertawa jahat.
Tetua Hua Tuo melayang di udara dan di bawahnya kerumunan pasukan Kekaisaran Wei yang sudah mengerahkan ratusan busur ke arahnya.
“Pergilah kalian! Atau aku musnahkan kalian semua!” ancam Tetua Hua Tuo dengan tatapan nyalang ke arah prajurit Kekaisaran Han yang berada di bawahnya.
Kemudian kedua kepalan tangannya benturkan, “Jurus tubuh Dewa Zhu Que!”
Tubuh Tetua Hua Tuo diselimuti aura api yang berkobar-kobar dan mengeluarkan gelombang kejut. Hingga menimbulkan ledakan yang sangat kuat. Ratusan anak panah yang dilesatkan ke arahnya langsung menjadi debu digerus oleh gelombang kejut energi miliknya.
Pasukan Kekaisaran Wei tidak menyerah, Jendral Cao Zhong melompat ke arah Tetua Hua tuo dan melesatkan tendangan, “Jurus tendangan dewa petir!” serunya.
Tetua Hua Tuo tetap diam dan justru membiarkan tubuhnya terkena tendangan yang diselimuti petir tersebut. Suara kaki Jendral Cao Zhong yang terus menghantam badan Tetua Huo sangat keras hingga memekakan telinga.
Tetua Huo menyunggingkan senyum dan berkata, “Butuh seribu tahun lagi kau bisa mengalahkanku dasar Jendral sampah!”
...ZRASH!...
Tetua Hua Tuo melesatkan pukulan yang sangat kuat untuk menyerang balik tendangan Jendral Cao Zhong. Hingga membuat tubuhnya meledak menjadi kabut darah.
Pria berjenggot putih tidak memperhatikan daerah sekitarnya. Pasukan Kekaisaran Wei berhasil mencapai dinding perbatasan dan berhasil mendobrak masuk pintu gerbangnya dengan kayu yang sangat besar dan telah diselimuti energi chi.
Bentrokan antara Pasukan Kekaisaran Han dan Pasukan Kekaisaran Wei tidak dapat dielakkan lagi. Keduanya saling memaki disela-sela mereka saling menebas dan memukul satu sama lain.
Tetua Hua Tuo panik. Dia merasa sangat khawatir jika pasukan Kekaisaran Wei berhasil mencapai Istana Han, maka semua yang dia lakukan akan sia-sia.
Tetua Hua Tuo akan melesat kembali ke dinding pembatas. Akan tetapi dihentikan oleh Jendral Zhang Liao.
“Mau kemana senior tua,” sergahnya dengan tersenyum licik.
“Minggir kau! Hyaa!” Tetua Hua Tuo melesat ke arah Zhang Lioa dengan pukulan yang diselimuti aura chi berwarna biru yang berkobar-kobar.
...BAM!...
Keduanya terpundur di udara sejauh 100 meter. Zhang Liao berhasil menangkis jurus pukulan Dewa Zhu Que milik Tetua Hua Tuo dengan senjata tombak berbilah lengkung besar miliknya.
“Apa?!” Tetua Hua Tuo melebarkan mata melihat Zhang Liao masih segar bugar dan tidak ada luka sedikit pun.
“Senior tua! Tutup mulutmu nanti kemasukan lalat,” cibir Zhang Liao dengan menyebikan bibir ke arah Hua Tuo dan membuatnya semakin kesal.
Keduanya melesat dan terus beradu tendangan serta pukulan di udara. Ribuan gerakan jurus mereka berdua peragakan dan belum ada tanda-tanda siapa yang akan menang atau kalah.
Keduanya bertarung sangat seimbang, sebab tanpa diketahui oleh Tetua Hua Tuo, jendral Zhang Liao telah mencapai tingkat kaisar perang bintang satu. Itu artinya, tingkat kultivasi Zhang Liao setara dengan tingkat kultivasi Tetua Hua Tuo.
Disisi lain, semua tetua sekte lari kalang kabut dan tunggang langgang begitu tiga Jenderal Kekaisaran Wei yang dijuluki tiga Naga datang. Mereka bertiga adalah Jendral Xiahou Dun, Jendral Xiaohou Yuan dan Jendral Zhang Jiao.
Satu persatu pasukan Kekaisaran Han dibunuh dengan dipenggal kepalanya. Permukaan tanah wilayah dinding pembatas kota bermandikan darah. Sejauh mata memandang yang dilihat hanyalah tumpukan mayat kedua prajurit kekaisaran yang bertarung.
Di garda terdepan hanya Tetua Hua Tuo seorang yang sedang berjibaku melawan Zhang Jiao. Stamina dan energi chi milik Hua Tuo mulai berkurang drastis.
Dadanya kembang kempis tidak beraturan. Tubuhnya sudah mencapai batas dan hampir tidak bisa digerakan.
“Senior tua, tampaknya hari ini adalah hari dimana kau terakhir kalinya melihat dunia, selamat tinggal!” Zhang Liao mengayunkan tombaknya dengan menyeringai untuk menebas leher Hua Tuo.
“Jurus pedang surga, gelombang api es!”
Shen Zhou dari jarak yang sangat jauh melepaskan tebasan silang dan membentuk siluet huruf X. Lalu siluet tersebut melesat ke arah dinding penghalang dan menembusnya.
...BOOM!...
Gelombang api es terus melesat ke arah Zhang Liao dan menghantam bilah tombak miliknya hingga hancur berkeping-keping.
...PRANG! BOOM!...
Zhang Liao terpental sangat jauh hingga lusinan meter dengan bagian tulang punggung retak.
Shen Zhou segera melompat dan kedua kakinya mendarat di kedua pedang miliknya yang sedang melayang.
Dengan melipat kedua tangan di dada, Shen Zhou terbang cepat di atas kedua pedangnya untuk segera menyelamatkan Hua Tuo sebelum terlambat.
“Uhuk-uhuk ….”
Hua Tuo berlutut lemas dan batuk darah. Jika tidak cepat ditangani, nyawa Hua Tuo bisa melayang. Dia terken racun lima jari yang disisipkan Zhang Liao ke dalam bilah tombaknya dan membuat aliran syarafnya membeku.
“Guru! Jangan mati guru!” Shen Zhou melompat sangat jauh ke depan Hua Tuo dan memberikan totokan untuk menekan racun lima jari agar tidak sampai ke jantungnya.
Setelah melakukan totokan, Shen Zhou menelankan pil naga emas untuk membuang semua racun di tubuh Hua Tuo. Akan tetapi, semua itu tidak bisa menolong Hua Tuo yang sudah mampu lagi bertahan dari ganasnya racun lima jari.
“Guru …! Aaaaargh …!” Shen Zhou mengamuk melihat gurunya tidak berdaya lemas dan tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini.
“Matilah kalian semua menjadi pengorbananku, aaaaaargh ….!”
Terjadi fluktuasi energi dewa dan energi iblis di dalam dantian Shen Zhou. Hal itu mampu merubah tubuhnya menjadi setengah dewa dan setengah iblis.
Tubuh yang memiliki satu sayap malaikat dan satu sayap iblis dengan kedua tanduk di dahinya. Pupil mata sebelah kanan berwarna putih dan pupil mata sebelah kiri berwarna merah dengan tatapan nyalang pada semua pasukan Kekaisaran Wei.
Tingkat kultivasinya naik drastis di tingkat kaisar perang sembilan. Dengan kedua cakra, pedang Bai Hu dan pedang Zhu Que, Shen Zhou menebas setiap kepala prajurit Kekaisaran Wei dengan brutal. Tentu saja tubuhnya bermandikan cairan merah yang menyembur dari setiap leher yang ditebasnya.
Shen Zhou melakukan ini demi sang guru agar tetap hidup dengan cara membangkitkan jurus Pedang Surga Xuan Wu yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit atau luka yang disebabkan apapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Adi hadi
lanjut boss...
2023-04-07
2