Satu bulan kemudian, Akademi Bulan Suci.
Mentari pagi bersinar dengan terang, diiringi kicauan burung dan udara sejuk pun terhirup segar memasuki paru-paru.
Sudah memasuki bulan kedua, tetapi Shen Zhou belum sadar. Diao Cha percaya jika pria bermanik mata biru itu akan siuman. Setiap hari selalu menjenguknya dan membersihkan tubuh Shen Zhou dengan tangannya sendiri.
Kaisar Lu Shao sudah mengikhlaskan Diao Cha untuk menikah lagi. Bahkan boleh menikah dengan siapapun atau tetap memenuhi surat wasiat dari anak yang paling dicintainya Pangeran Lu Bu.
Sudah dua bulan juga Hua Tuo menyalurkan energi chi untuk membuat Shen Zhou siuman, akan tetapi belum kunjung mendapatkan hasil.
Tiba-tiba mata Shen Zhou membelalak. Ia langsung bangkit untuk duduk, lalu berteriak, “Tolong! Perutku lapar!”
Hua Tuo yang sedang sendirian dan menyalurkan energi chi untuk membuat Shen Zhou siuman, bukannya iba malah kesal dan memukul kepala Shen Zhou.
“Dasar bocah tengik! Kau mengagetkanku saja! Hah!”
“Ampun guru, aku hanya lapar. Tolong berikan aku makanan, “ pinta Shen Zhou meringis kesakitan dan mengelus-elus cepat bekas bagian kepalanya yang dipukul oleh Hua Tuo.
“Ya, sudah. Diam disini sebentar, hmph! Menyusahkanku saja.”
Hua Tuo bangkit dan pergi ke arah dapur dengan raut muka lega dan menyeka bulir bening di kedua kelopak matanya. “Syukurlah, bocah tengik. Akhirnya kau siuman.”
Setelah kembali, Hua Tuo malah melihat pemandangan yang membuat benda pusakanya naik-turun tidak beraturan.
Ia melihat Shen Zhou sedang dipeluk oleh Diao Cha. Mungkin karena terkejut Hua Tuo bahkan sampai menjatuhkan rahangnya. Pria berambut hitam lurus tersebut juga kebingungan dengan Diao Cha yang memeluknya secara tiba-tiba begitu masuk ruangannya.
“Maaf, yang mulia. Ini tidak sopan, aku bisa dipenggal Yang Mulia Kaisar jika beliau melihatnya,” sergah Shen Zhou dan melepaskan pelukan Diao Cha dengan lembut agar tidak menyinggungnya.
“Sudah-sudah, Cha’er. Biarkan bocah tengik ini makan dahulu, suapi dia!” Hua Tuo menyodorkan semangkuk nasi pada Dia Cha dan langsung menyambutnya dengan raut muka sumringah.
“Hah? Suapi? Jangan bercanda guru! Aku bisa dipenggal oleh Yang Mulia Kaisar! Yang Mulia Pu … mmmm ….”
Diao Cha menyuapi Shen Zhou secara terus menerus, agar bocah tengik itu tidak berbicara lagi. Suaranya terlalu berisik didengar oleh Diao Cha dan Hua Tuo.
“Huff … huff … Khoooo ….!” Shen Zhou bernafas dengan tersengal-sengal karena Diao Cha terus memasukan makanan ke mulutnya. Setelah selesai makan dia bersendawa keras.
“Habis sudah nasibku akan dipenggal oleh Yang Mulia Kaisar.”
Hua Tuo yang kesal karena Shen Zhou selalu berbicara dipenggal oleh Kaisar Lu Sha mendorong dahinya dan berkata dengan tersenyum simpul, “Apanya yang dipenggal? Wajar saja Cha’er memperlakukanmu seperti seorang suami. Kau akan dinikahkan dengan Cha’er.”
“Hah? Menikah?” Shen Zhou kembali menjatuhkan rahang dan merasa syok berat.
Baru juga siuman, tetapi ia harus menikah dengan Diao Cha yang merupakan istri dari pangeran Lu Bu yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
“Lebih baik aku tidak usah siuman jika tiba-tiba seperti ini, huff ….” gerutunya di dalam hati.
“Guru, biarkan Zhou’er untuk berpikir kembali mengenai lamaranku ini. Aku yakin dia punya alasan yang bisa dijelaskan padaku.”
Diao Cha menunduk hormat pada Hua Tuo agar tidak terus mendesak Shen Zhou untuk segera menikahinya.
“Guru, Yang Mulia Putri Mahkota.”
Shen Zhou merubah wajahnya dengan raut muka serius dan menangkupkan ke arah mereka berdua bergantian.
“Sebelumnya aku meminta maaf, bukannya aku menolak untuk menikah dengan Yang Mulia Putri Mahkota. Aku hanya ingin balas dendam pada semua orang yang telah menyakitiku."
“Aku mengerti dan aku sudah mendengar semua berita tentangmu. Sekarang Kerajaan Angin Utara juga sudah kacau balau. Aku mendengar terjadi kudeta di sana. Raja Shen Long dibunuh dan digantikan oleh Shen Xin sepupumu. Aku harap kau tidak bertindak gegabah.”
Hua Tuo mengelus lembut rambut Shen Zhou seperti sentuhan lembut tangan seorang ayah pada anaknya. Shen Zhou mengeraskan rahang dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Akan tetapi karena elusan lembut dari tangan Hua Tuo, Shen Zhou menarik kembali aura membunuhnya, “Terima kasih guru. Aku akan giat berlatih dan menjadi lebih kuat agar aku bisa membalaskan dendamku.”
Shen Zhou pun bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Hua Tuo dan Diao Cha yang ditemani para dayangnya saling berbicara mengenai masa lalu Shen Zhou.
“Sungguh tega istrinya itu. Jika kau bertemu dengannya. Aku akan buat dia tidak bisa lagi mengandung anak!” bentak Diao Cha berapi-api dengan aura membunuh yang sangat kuat.
Shen Zhou keluar memakai pakaian pendekar berwarna putih. Duda itu sangat mempesona di mata Diao Cha dan ingin segera memakannya.
"Gluk! Sa-sangat tampan," gumamnya dengan meneguk salivanya dalam-dalam.
Shen Zhou memang tidak peka dengan perasaan Diao Cha yang mulai menyukainya, bahkan sangat menyukainya. Akan tetapi Diao Cha maklum, karena prioritas Shen Zhou saat ini adalah balas dendam.
“Maaf, yang mulia —”
“Panggil saja Diao Cha,” potong Diao Cha dengan suara lembut dan menundukan wajah dengan kedua pipi merona.
“Ba-baik, Di-di-diao Cha. B-begini ….”
Shen Zhou jadi salah tingkah dan gugup mendengar kelembutan suara Diao Cha.
“Ba-bagaimana kondisi Kekaisaran saat ini?”
“Buruk.” Hu Tuo malah menyela dengan memijat keningnya berkali-kali, “Sungguh buruk.”
“Aiih … kenapa Pak tua ini malah yang menjawab. Pasti ada maunya, hmph!” batin Shen Zhou dengan mendengus kesal.
“Kerajaan Bumi Barat dan pusat kota Kekaisaran beberapa wilayahnya hancur. Saat ini ekonomi Kekaisaran Hanya ditopang dari Kerajaan Bumi Timur, Utara dan Selatan juga masih cukup stabil. Hanya saja ….”
Diao Cha tidak melanjutkan jawabannya lagi, sebab menurutnya masalah tersebut tidak bisa diatasi dengan cepat.
"Kekuatan militer dan keamanan bukan?"
Shen Zhou sudah tahu dan tebakannya pasti benar.
"Aku rasa masalah ini bisa diatasi dengan mudah dan aku jamin di perang selanjutnya, Kekaisaran Han pasti akan memenangkan perang."
Hua Tuo dan Dia Cha beserta ketujuh dayangnya hanya bisa menjatuhkan rahang mendengar solusi dari Shen ZHou yang menurut mereka tidak masuk akal.
"Kenapa? Tidak masuk akal? Baiklah, guru buatlah daftar kitab yang mempercepat kultivasi dan daftar murid dari yang lambat sampai yang tercepat dalam berkultivasi dan mengkonsolidasikan pondasi kultivasinya!” pinta Shen Zhou.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Hua Tuo langsung menulis nama kitab yang ada di perpustakaan akademi dan daftar nama murid yang sesuai dengan permintaan Shen Zhou.
“Diao Cha, bisa tuliskan daerah di Kekaisaran Han yang memiliki banyak batu logam dan panggil semua pengrajin senjata untuk datang ke pusat kota Kekaisaran!” pinta kembali Shen Zhou.
Diao Cha pun melakukan hal yang sama seperti yang diminta Shen Zhou. Seketika ia menyuruh salah satu dayangnya untuk melaporkan semua permintaan Shen Zhou kepada Kaisar Lu Shao.
Hanya dalam sekilas mata, Shen Zhou langsung bisa membaca situasi dan memberikan solusi.
Hua Tuo pun segera menyerahkan kertas yang berisi informasi yang telah diminta Shen Zhou.
Pria bermanik mata biru itu membacanya dengan teliti satu persatu. Ia pun mulai menentukan kitab yang mana dan murid yang mana yang cocok untuk berkultivasi sesuai daftar kitab yang sudah dituliskan oleh Hua Tuo.
“Bagaimana, Zhou’er?” tanya Hua Tuo dengan raut muka penasaran menunggu solusi dari muridnya yang super jenius tersebut.
“Sebenarnya masalahnya bukan tentang kitab. Tapi sumber daya,” jawaban Shen Zhou langsung membuat Hua Tuo dadanya seperti ditusuk pedang, terlalu menohok.
“Aiih, kenapa kamu selalu menjawab dengan tepat bocah tengik?” Hua Tuo memijat keningnya beberapa kali.
“Semenjak putus hubungan dengan Kekaisaran Wei dan beberapa daratan di Kerajaan Bumi Barat hancur. Akademi bulan Suci sudah tidak mempunyai stok pil lagi.”
"Tenang, semua ada ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments