Bab 20

Suasana yang terjadi semalam meninggalkan beribu tanda tanya di benak Natha dan suster Lya. Jika Natha takut bilamana Audri tahu ia berselingkuh maka suster Lya justru senang kalau benar seperti itu. Dengan begitu ia bisa membuat Audri pelan-pelan menyingkir. Ia teringat ucapan Audri semalam yang tentu saja bagaikan jackpot baginya.

Flash back on ....

Suster Lya juga tidak mau kalah, ia juga sama panasnya dengan Audri sehingga ia turut dalam percakapan tersebut. Ia juga ingin melihat seperti apa respon Natha padanya.

"Kalian memang pasangan yang serasi nona. Wah jika seperti itu, para pelakor tentu akan takut berhadapan dengan anda," ujar suster Lya.

"Tentu saja, aku akan membasmi para pelakor dan mereka akan berakhir tragis di tanganku. Tidak percaya, maka cobalah," ucap Audri.

Natha saja sudah kelimpungan menghadapi masalah pekerjaannya akibat ulah orang itu. Bagaimana dengan dirimu.

Suster Lya menganggukkan kepalanya sedangkan Natha mulai was-was ketika kedua wanita dalam hidupnya ini saling berbicara.

"Lalu bagaimana jika kekasihmu yang berselingkuh? Apa yang akan kau lakukan?" tanya suster Lya dengan pandangan tertuju pada Natha.

Natha melotot juga kesulitan menelan salivanya begitu mendengar pertanyaan suster Lya. Tapi sebenarnya dalam hati ia juga penasaran dengan jawaban Audri. Harap-harap cemas Natha dan suster Lya menanti jawabannya.

Audri menatap Natha dengan senyuman kecut kemudian membelai pipinya dengan lembut, "Jika Natha berselingkuh maka biar saja." Jawaban yang benar-benar tidak pernah Natha prediksi.

Suster Lya tercengang, tidak terima dengan jawaban Audri. Yang ia ingin dengar itu adalah jawaban yang dimana Audri mengatakan jika ia akan meninggalkan Natha, bukan dibiarkan saja.

"Wah anda sangat murah hati," ucap suster Lya dengan senyuman yang dipaksakan.

Audri terkekeh kemudian ia memeluk Natha dari samping, "Biarkan saja dia berselingkuh, aku tidak peduli. Paling juga aku hanya akan memenggal kepalanya dan mengambil nyawanya. Bukan begitu Nath? Kau 'kan pernah mengatakan itu padaku, jika kau berselingkuh maka kau siap dipenggal dan kau menjanjikannya dengan jiwamu," pungkas Audri, ia menaikturunkan kedua alisnya.

Natha terbelalak, ucapan Audri membuatnya teringat kembali akan mimpi buruknya. Ia sempat gemetar hanya karena jawaban Audri yang terdengar lucu tetapi tidak baginya.

Begitupun dengan suster Lya, ia kaget bukan main dengan jawaban Audri, lebih parah dari yang ia duga.

"Ya ampun tuan Natha, anda harus bersiap dipenggal kalau sampai berkhianat. Nona Audri anda begitu kejam," kelakar suster Lya padahal ia juga was-was dalam hati.

Tapi nggak mungkin juga. Mana berani Audri melakukan itu. Dia hanya wanita lemah!

Suster Lya mencibir dalam hati, ia kembali bersikap santai karena tidak ada yang perlu ditakutkan dari sosok Audri ini.

Audri tertawa renyah, berbeda dengan Natha yang dilanda keresahan. Ia tahu Audri tidak mungkin melakukannya tetapi jika hari itu tiba dimana Audri akan mengetahui segalanya, jelas mereka tidak mungkin akan baik-baik saja dan ia yakin tidak mungkin Audri membiarkan begitu saja.

Wajah Audri yang tadinya begitu senang kini berubah menjadi datar. Hal tersebut tak luput dari pandangan mata Natha dan suster Lya. Kembali mereka dibuat menerka-nerka apa yang ada dipikiran Audri.

"Nath, jika suatu saat nanti kau berselingkuh aku tidak akan melakukan itu karena itu adalah perbuatan kriminal," ucap Audri sambil tersenyum manis pada Natha. Natha yang ditatap dengan sehangat itu pun turut menerbitkan senyum. Sedangkan suster Lya yang melihatnya justru menjadi cemberut.

Natha memeluk Audri erat, pelukan yang terasa seperti hendak berpisah. Audri ingin menitikkan air matanya tetapi ia sebisa mungkin menahannya.

"Nath, jika kau melakukannya maka aku akan membiarkannya. Aku tidak akan menyuruhmu meninggalkannya tetapi kau harus ingat, akulah yang akan meninggalkanmu. Tidak percaya, maka mari kita buktikan. Kau tidak akan mudah untuk menemukanku lagi jika hal itu sampai terjadi," ucap Audri dengan suara lirih, ada setetes air mata yang jatuh namun dengan cepat ia menghapusnya.

.

.

Satu Minggu sudah Audriana menjalani perawatan dan akhirnya hari ini Natha mau juga berangkat ke kantor. Audriana sudah gelisah karena Natha berhubungan dengan Adrian Dameer dan pria itu mulai menghancurkan bisnis Natha. Audri khawatir, tidak menutup kemungkinan pria itu akan membuat Natha hancur bahkan meratakan semua perusahaan dan bisnis Natha dengan kekuasaan dan kelicikannya.

Setelah sarapan dan melakukan terapi berjalan, Audri meminta suster untuk mengantarnya ke taman. Ia ingin duduk sendirian sambil menikmati udara serta matahari yang perlahan mulai naik dan sinarnya begitu terik.

Audri diam saja sambil melihat-lihat tanaman di taman itu. Ia merindukan toko bunganya yang entah seperti apa saat ini karena ia sudah meninggalkannya selama setahun. Natha pernah mengatakan jika toko itu masih dirawat dan ia yang meminta seseorang untuk tetap menjaganya.

Tanpa suara, tetapi air mata itu membasahi pipi mulusnya. Punggungnya bergerak naik turun sehingga seseorang dibelakangnya tahu jika wanita ini sedang menangis dalam diam. Ia mendekat dan menyodorkan sapu tangannya pada Audri.

Audri terkejut dengan kehadiran orang tersebut. Ia ingin menolak tetapi perasaannya mengatakan jika ia mengenal pria ini tapi entah dimana. Ia juga merasa pria ini pernah menolongnya tetapi dalam hal apa ia pun tidak tahu.

"Menangislah jika itu membuatmu senang. Bukankah menahannya akan semakin membuatmu sakit?" ucap pria tersebut.

Audri tersenyum kaku, ia hanya bisa menatap pria tampan dengan kulit putih ini tanpa berkedip. Bukan karena terpesona, ia hanya sedang mengingat dimana ia pernah bertemu dengan pria asing tapi seperti tidak asing baginya.

"Jangan menatapku terus, bukankah kau ingin menyambung tangismu?" cibirnya yang membuat Audri kesal.

"Aku bukan perempuan cengeng ya. Aku Audriana bukan perempuan lemah!" tandasnya.

Pria itu mengangguk, ia membalas tatapan Audri yang mana membuat Audri kikuk. "Aku memperhatikanmu sedari tadi dan melihatmu menangis. Menangis bukan berarti kau menjadi cengeng dan lemah. Kau hanya bingung bagaimana cara menunjukkan rasa sakitmu. Tidak perlu malu ketika kau meneteskan air mata, tidak ada seorang pun yang bisa mengerti sedalam apa rasa sakit seseorang. Hanya kau dan Tuhan yang tahu, tidak usah pedulikan perkataan orang lain," ucapnya tanpa menatap Audriana lagi.

Mendengar ucapannya sontak langsung membuat Audri kembali menangis bahkan kini ia tidak ragu lagi mengeluarkan suara tangisnya. Ia memang sudah memendamnya sejak beberapa hari ini dan kini akhirnya ia bebas mengeluarkannya tanpa perlu takut akan dicemooh atau menimbulkan kecurigaan seseorang.

Pria itu mengusap bahu Audriana, ia tidak ingin lancang tetapi ia pun larut dalam kesedihan wanita ini. Ia tahu seperti apa perasaan Audriana saat ini namun ia tidak tahu seperti apa sakitnya di dalam sana. Ia hanya bisa memberikan nasihat yang entah Audriana dengarkan atau tidak.

"Hidup memang tidak selamanya tentang kebahagiaan, terkadang kita perlu jatuh dan sakit sampai akhirnya kita tahu siapa yang pantas berdampingan dengan kita. Kemarin mungkin kau lupa dan kau mengira bahagiamu berada di jalan yang kau pilih. Tapi ketika hari ini tiba dan semua yang kau anggap kebahagiaan itu justru berbalik menyerangmu, apa yang hendak kau lakukan? Bertahan atau pulang?"

Merasa sedikit kurang paham dengan ucapan pria ini, Audri berbalik menatapnya namun terlebih dahulu ia mengusap air matanya. Wajah cantik dan mata indah itu membuat pria yang ada di sampingnya ini sedikit gugup saat kedua netra mereka tak sengaja bertatapan.

"Maksudmu apa?" tanya Audri.

Pria itu tersenyum kemudian ia berdiri, "Kau akan paham sendiri. Aku tidak bisa berlama-lama disini karena masih memiliki pekerjaan. Jaga dirimu dan jadilah wanita yang kuat dan tegar seperti batu karang di lautan," ucapnya, tangannya mengusap kepala Audri.

"Oh ya, jangan lupa jika kau masih memiliki rumah. Pulanglah karena Adrian Dameer selalu menunggumu kembali. Percayalah dia sangat menyayangimu lebih dari yang kau tahu."

Audri tersentak mendengar ucapan pria tersebut. Matanya memanas karena pasukan air mata itu kembali memberontak ingin keluar. Buru-buru Audri menyadarkan dirinya hendak bertanya tetapi pria itu justru sudah hilang dari pandangannya.

"Dia tahu? Dia pasti bukan orang yang kebetulan datang padaku tadi. Dia pasti tahu siapa aku," ucap Audriana dan kali ini suaranya terdengar begitu tegas serta sorot matanya begitu tajam menusuk.

"Pulang ya? Tapi aku belum selesai dengan urusanku disini. Baiklah, aku akan pulang setelah semuanya selesai dan kakak, kau bersiaplah karena setelah ini adik nakalmu ini akan segera merepotkanmu lagi. Ahh ... ternyata aku merindukan pria jahat itu juga," gumam Audriana.

Terpopuler

Comments

Arin

Arin

makin seru....ternyt sy nemu novel yg critny menrik,mksh thor🙏😍

2023-10-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 BB 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59
60 Bab 60
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 BAB 91
92 BAB 92
93 BAB 93
94 BAB 94
95 BAB 95
96 BAB 96
97 BAB 97
98 BAB 98
99 BAB 99
100 BAB 100
101 BAB 101
102 BAB 102
103 BAB 103
104 BAB 104
105 BAB 105
106 BAB 106
107 BAB 107
108 BAB 108
109 BAB 109
110 BAB 110
111 BAB 111
112 BAB 112
113 BAB 113
114 BAB 114
115 BAB 115
116 BAB 116
117 BAB 117
118 BAB 118
119 BAB 119
120 BAB 120
121 BAB 121
122 BAB 122
123 BAB 123
124 BAB 124
125 BAB 125
126 BAB 126
127 BAB 127
128 BAB 128
129 BAB 129
130 BAB 130
131 BAB 131
132 BAB 132
133 BAB 133
134 BAB 134
135 BAB 135
136 BAB 136
137 BAB 137
138 BAB 138
139 BAB 139
140 BAB 140
141 BAB 141
142 BAB 142
143 BAB 143
144 BAB 144
145 BAB 145
146 BAB 146
147 BAB 147
148 BAB 148
149 BAB 149
150 BAB 150
151 BAB 151
152 BAB 152
153 BAB 153
154 BAB 154
155 BAB 155
156 BAB 156
157 BAB 157
158 BAB 158
159 BAB 159
160 BAB 160
161 BAB 161
162 BAB 162
163 BAB 163
164 BAB 164
165 BAB 165
166 BAB 166
167 BAB 167
168 BAB 168
169 BAB 169
170 BAB 170
171 BAB 171
172 BAB 172
173 BAB 173
174 BAB 174
175 BAB 175
176 BAB 176
177 BAB 177
178 BAB 178
179 BAB 179
180 BAB 180
181 BAB 181
182 BAB 182
183 BAB 183
184 BAB 184
185 BAB 185
186 BAB 186
187 BAB 187
188 BAB 188
189 BAB 189
190 BAB 190
191 BAB 191
192 BAB 192
193 BAB 193
194 BAB 194
195 BAB 195
196 BAB 196
197 BAB 197
198 BAB 198
199 BAB 199
200 BAB 200
201 BAB 201
202 BAB 202
203 BAB 203
204 BAB 204
205 BAB 205
206 BAB 206
207 BAB 207
208 BAB 208
209 BAB 209
210 BAB 210
211 BAB 211
212 BAB 212
213 BAB 213
214 BAB 214
215 BAB 215
216 BAB 216
217 BAB 217
218 BAB 218
219 BAB 219
220 BAB 220
221 BAB 221
222 BAB 222
223 BAB 223
224 BAB 224
225 BAB 225
226 BAB 226
227 BAB 227
228 Episode 228
229 BAB 229
230 BAB 230
231 BAB 231
232 BAB 232
233 BAB 233
234 BAB 234
235 BAB 235
236 BAB 236
237 BAB 237
238 BAB 238
239 BAB 239
240 BAB 240
241 End
242 Menikah Dulu, Jatuh Cintanya Nanti
243 Pengumuman
Episodes

Updated 243 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
BB 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59
60
Bab 60
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
BAB 91
92
BAB 92
93
BAB 93
94
BAB 94
95
BAB 95
96
BAB 96
97
BAB 97
98
BAB 98
99
BAB 99
100
BAB 100
101
BAB 101
102
BAB 102
103
BAB 103
104
BAB 104
105
BAB 105
106
BAB 106
107
BAB 107
108
BAB 108
109
BAB 109
110
BAB 110
111
BAB 111
112
BAB 112
113
BAB 113
114
BAB 114
115
BAB 115
116
BAB 116
117
BAB 117
118
BAB 118
119
BAB 119
120
BAB 120
121
BAB 121
122
BAB 122
123
BAB 123
124
BAB 124
125
BAB 125
126
BAB 126
127
BAB 127
128
BAB 128
129
BAB 129
130
BAB 130
131
BAB 131
132
BAB 132
133
BAB 133
134
BAB 134
135
BAB 135
136
BAB 136
137
BAB 137
138
BAB 138
139
BAB 139
140
BAB 140
141
BAB 141
142
BAB 142
143
BAB 143
144
BAB 144
145
BAB 145
146
BAB 146
147
BAB 147
148
BAB 148
149
BAB 149
150
BAB 150
151
BAB 151
152
BAB 152
153
BAB 153
154
BAB 154
155
BAB 155
156
BAB 156
157
BAB 157
158
BAB 158
159
BAB 159
160
BAB 160
161
BAB 161
162
BAB 162
163
BAB 163
164
BAB 164
165
BAB 165
166
BAB 166
167
BAB 167
168
BAB 168
169
BAB 169
170
BAB 170
171
BAB 171
172
BAB 172
173
BAB 173
174
BAB 174
175
BAB 175
176
BAB 176
177
BAB 177
178
BAB 178
179
BAB 179
180
BAB 180
181
BAB 181
182
BAB 182
183
BAB 183
184
BAB 184
185
BAB 185
186
BAB 186
187
BAB 187
188
BAB 188
189
BAB 189
190
BAB 190
191
BAB 191
192
BAB 192
193
BAB 193
194
BAB 194
195
BAB 195
196
BAB 196
197
BAB 197
198
BAB 198
199
BAB 199
200
BAB 200
201
BAB 201
202
BAB 202
203
BAB 203
204
BAB 204
205
BAB 205
206
BAB 206
207
BAB 207
208
BAB 208
209
BAB 209
210
BAB 210
211
BAB 211
212
BAB 212
213
BAB 213
214
BAB 214
215
BAB 215
216
BAB 216
217
BAB 217
218
BAB 218
219
BAB 219
220
BAB 220
221
BAB 221
222
BAB 222
223
BAB 223
224
BAB 224
225
BAB 225
226
BAB 226
227
BAB 227
228
Episode 228
229
BAB 229
230
BAB 230
231
BAB 231
232
BAB 232
233
BAB 233
234
BAB 234
235
BAB 235
236
BAB 236
237
BAB 237
238
BAB 238
239
BAB 239
240
BAB 240
241
End
242
Menikah Dulu, Jatuh Cintanya Nanti
243
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!