Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini hari sudah berganti minggu. Seminggu kemudian, tepat di hari syuting iklan para BA.
Perusahaan Albern Food akhirnya memilih dua orang BA dari negara luar. Siapa kedua BA itu? Untuk yang pertama ada wanita bernama Inesa Baldey dan yang kedua ada pria yang bernama Calvin Harrist. Mereka berdua adalah seorang Aktor dan Aktris internasional yang sangat terkenal di negaranya bahkan di seluruh dunia karena film-film yang mereka bintangi.
Jangan tanyakan berapa harga keduanya, karena sudah pasti mahal. Meski begitu Perusahaan Albern Food tidak pernah mempermasalahkan harganya. Sebab kedua BA ini akan mempromosikan produk Albern Food dengan cara yang unik dan memikat publik. Otomatis penjualan produk Albern Food akan meningkat pesat dan akan sangat menguntungkan berkali-kali lipat dari bayaran yang Albern Food berikan pada kedua BA tersebut.
Pada saat syuting dilakukan, tiba-tiba Aleta ditunjuk oleh salah satu BA untuk membantu mereka dalam syuting. Itu artinya Aleta ikut syuting iklan. Tentu saja, begitu dirinya ditunjuk dia sangat terkejut. Bukan hanya Aleta saja yang tekejut melainkan semua yang menyaksikan syuting ikut terkejut.
Seketika semua karyawan mulai heboh. Terutama karyawan wanita. Kenapa? Karena yang menunjuk Aleta adalah Calvin Harrist, seorang aktor tampan yang memiliki tubuh atletis dan berlengan kekar. Tentu saja hal itu membuat karyawan wanita lainnya merasa iri dan ingin berasa di posisi Aleta.
"Ss-saya?" Aleta menunjuk dirinya sendiri dengan nada bicara yang gelagapan.
"Ciee, ada yang ditunjuk cogan nih," bisik Nisa di telinga temannya.
"Diam lo, jangan buat gue makin nervous!" bisik Aleta dengan nada yang tegas.
"Yes, Come here and help us." Calvin tersenyum ramah dengan menyuruh Aleta menghampirinya.
Aleta menoleh ke atasannya, karena dia tidak ingin melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuan dari atasannya. Tatapan Aleta dibalas anggukan oleh Presdir Bobby. Setelah itu barulah dia berani maju dan menghampiri kedua BA itu. Jujur, saat ini Aleta benar-benar nervous dengan debaran jantungnya yang cepat.
Tak lama kemudian, syuting di mulai. Aleta berusaha menetralkan debaran jantungnya dan fokus syuting. Team pun mengangkat tangannya sebagai tanda.
"Rolling, action!"
****
"Okay cut!" ucap seseorang. Setelah itu, syuting pun selesai.
Semuanya bertepuk tangan sebagai tanda apresiasi karena syutingnya lancar. Beberapa karyawan yang menyaksikan syuting bubar dan kembali bekerja. Begitupun dengan Aleta dan temannya.
Pada saat Aleta hendak pergi, tiba-tiba Calvin memanggil Aleta. "Wait!"
Aleta dan Nisa yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Calvin secara bersamaan. "Ya, anda memanggil kami?" tanya Aleta dengan sopan.
"Yes. Bisa aku bicara sebentar denganmu?" Calvin menatap ke arah Aleta. Dia bicara dengan bahasa Indonesia yang kurang begitu lancar.
Aleta langsung menoleh ke arah Nisa. Dia tidak mungkin meninggalkan temannya begitu saja demi bicara dengan aktor tampan itu. Sedangkan Nisa, dia mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia pun pergi lebih dulu dan membiarkan temannya bicara dengan Aktor Calvin.
"Aleta, aku duluan ya." Nisa berjalan meninggalkan Aleta dengan Calvin dan Inesa. Dibalas anggukan oleh Aleta.
"Ines, aku tinggal bentar ya. You wait for me in the car, okay?" Calvin mengedipkan sebelah matanya pada Inesa yang merupakan temannya.
"Okay, do not be long!" dibalas anggukan oleh Calvin.
Kemudian Calvin dan Aleta pun berjalan menuju pantry. Dia akan bicara santai di pantry sambil menikmati secangkir kopi. Sesampainya di pantry, Aleta dengan peka langsung menawarkan aktor tampan itu secangkir kopi.
"Do you want coffee?"
"Yes, i want," jawab Calvin.
"Wait a minute, I'll make you some coffee."
"Okay," jawab Calvin.
Sebenarnya Aleta tidak begitu pandai berbicara bahasa Inggris namun, dia belajar sedikit dari film yang sering dia tonton. Yup, dia belajar otodidak. Aleta kini membuat dua cangkir kopi. Satu untuk Aleta dan satu lagi untuknya.
"BTW, boleh saya tahu siapa namamu, Nona?" tanya Calvin seraya menatap ke arah Aleta yang sedang membuat kopi.
"Aleta Quenby Elvina, panggil saja Aleta," jawab Aleta tanpa menoleh karena matanya fokus kepada mesin kopi.
"Sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan siapa namaku karena kau sudah tahu siapa saya. nice to meet you." Calvin mengulurkan tangannya pada Aleta.
Aleta sontak langsung mengelap tangannya ke pakaiannya. Dia takut tangannya kotor. "Nice to meet you too." Aleta berjabat tangan dengan Calvin.
Tangan Aleta sedikit gemetaran karena ini pertama kalinya dia berjabat tangan dengan seorang aktor terkenal. Dalam hatinya dia sangat senang dan ingin melompat kegirangan saat ini juga. Namun, dia tahu posisi, jika saat ini sedang ada di hadapan Calvin.
Pada saat mereka berjabat tangan, tiba-tiba Presdir Bobby datang ke pantry dan melihat karyawannya sedang berjabat tangan dengan aktor yang dia bayar sebagai BA perusahaannya. Menyadari kehadiran atasannya pun Aleta langsung melepaskan jabatannya dan mengambil secangkir kopi yang sudah terisi kopi. Kemudian dia memberikan pada Calvin.
Sementara satu cangkir kopi lagi, Aleta tidak meminumnya. Dia pun menawarkan kopi yang dia buat kepada Presdir Bobby. "Pak Bobby mau kopi?" tawar Aleta seraya menatap Presdir Bobby.
"Boleh, apa kau mau membuatkan saya kopi?"
"Tentu saja, kebetulan saya membuat dua cangkir kopi. Ini," ucap Aleta seraya memberikan secangkit kopi pada atasannya.
"Kalau begitu, saya permisi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Aleta menundukkan kepalanya kepada Calvin dan Presdir Bobby.
Dia tidak ingin terjebak diantara dua cogan yang berkharisma. Lebih baik dia kabur dan melanjutkan pekerjaannya dari pada tetap bersama dua cogan itu. Bisa-bisa dia jadi bahan pembicaraan di kantor.
****
Ruangan Packing ....
Baru saja Aleta hendak memulai pekerjaannya, Nisa sudah datang menghampirinya. Nisa menatap dengan menaik-turunkan alisnya. Sesekali Nisa menyenggol badan Aleta.
"Ciee yang habis PDKT sama cogan," goda Nisa.
"Apaan sih, siapa yang PDKT. Ngaco lo," timpal Aleta dengan memutar bola matanya malas.
"Alah, jangan ngeles lo. Gimana, lo kasih 'kan nomor HP lo?" tanya Nisa, kepo.
"Nisa, gue enggak PDKT apalagi ngasihin nomor HP gue sama aktor Calvin itu. Dia hanya menanyakan namaku saja dan meminum kopi sebentar. Tidak terjadi apa-apa," jelas Aleta.
"Masa sih? Masa cuma nama lo doang?" goda Nisa.
"Iya, Zainisa. Dia hanya menanyakan nama gue doang. Lagian, tak lama setelah gue buatkan kopi buat dia, tiba-tiba Presdir Bobby datang."
"Apa? Jadi lo PDKT sama dua cogan sekaligus?" Nisa membelalakkan matanya.
"Tidak, Nisa! Mana ada kek gitu. Gue langsung cabut lah begitu gue buatin kopi buat Presdir Bobby. Gue canggung jika berada di antara dua cogan itu. Lebih baik gue kerja di sini dari pada dihantui rasa canggung," timpal Aleta.
"Bodoh sekali! Kenapa lo skip moment langka kek gitu sih." Nisa memukul pelan lengan Aleta.
"Yee, apaan sih lo. Kalau lo mau, lo aja yang deketin mereka. Nanti setelah itu terjadi sama lo, lo bukan hanya canggung tapi lo langsung pingsan, tau!" ujar Aleta dengan ketus.
BERSAMBUNG.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kalau Nisa pasti udah pingsan 😂
2023-04-06
3