Viona yang sudah lumayan lama menaungi profesi dunia gelap ia tahu titik tempat-tempat persembunyian para brandal, penculik, preman, dan markas bandar narkoba. Sehingga Viona mengerahkan anak buahnya untuk langsung mencari ke titik tempat-tempat yang sudah pasti menjadi salah satu tempat persinggahan penculik cucu keluarga Arsenio.
Viona hanya mencari tahu markas para setan yang berwujud manusia jadi jika mereka membuat masalah di lingkup hidup Viona, maka Viona tidak perlu berlama-lama mencari keberadaan para setan itu. Seperti sekarang Viona sudah mengetahui dimana cucu Arsenio disekap, anak yang baru berusia 14 tahun seperti itulah informasi yang Viona dapat.
"Tidak akan kubiarkan kalian hidup tenang" gumam Viona horor dalam mobil, Robert yang duduk di depan merinding mendengar gumaman Viona. Meski dia lah yang mengajarkan Viona dalam hal dunia gelap ini tapi diluar ekspektasi Robert, Viona akan berubah lebih dari apa yang dia duga dan dia ajarkan. Bahkan kini gadis itu lebih seram dan sadis dari dirinya, sehingga tak masalah jika gadis itu menjadi atasannya.
setelah 45 menit perjalanan kini mereka telah sampai, Viona muncul dari depan markas para setan itu dan beberapa anak buahnya mengepung disegala sudut di luar markas itu diam-diam. Viona dengan angkuh dan gagah turun dari mobil dengan pakaian kebanggaannya serba hitam dan kacamata hitam baru yang ia sempat beli di Italia kemarin.
Viona tersenyum miring, rupanya para setan itu bodoh. Bagaimana bisa tidak ada penjagaan di depan markas, sepertinya Viona tidak memerlukan banyak tenaga untuk melawan para berandalan itu.
Viona, Robert dan Reynan mereka bertiga berjalan menuju pintu utama markas penculik itu, Robert yang hendak membuka pintu markas dihentikan oleh Viona dan menyuruh Robert dan Reynan berdiam di belakangnya. Seketika tanpa Robert dan Reynan duga Viona menendang pintu itu dengan begitu keras hingga pintu itu roboh.
Brakkk!!!!
Para berandalan yang berada di dalam markas yang tengah bersantai Terlonjak kaget mendengar suara pintu roboh, ketika mereka melihat siapa pelakunya ternyata seorang gadis dengan 2 dayang-dayang berjenis kelamin laki-laki.
Mereka sempat melihat sebelah kaki Viona yang sempat melayang dan menandakan bahwa gadis itu lah yang telah mendobrak pintu markas hingga roboh, Viona berjalan masuk dengan ekspresi wajah yang sangat tidak bersahabat bahkan tidak ramah bintang 1. Ekspresi Viona mirip dengan singa betina yang tengah marah akibat anaknya diculik.
"heh bocah ingusan, berani kalian datang ke tempat kita bahkan merusak pintu kita" ucap salah satu berandalan disana.
Viona hanya menunjukkan smirknya yang horor, membuat para penculik itu menelan ludah. Entah mengapa wajah Viona sangat menyeramkan bagi mereka, persisi seperti boneka Chucky yang psikopat itu.
"aku bukan bocah ingusan paman" ucap Viona dengan nada yang horor persis seperti di film boneka Chucky dan Annabelle atau bahkan seperti film the doll, sengat merinding di dengar.
"dimana cucu Arsenio?" kini Robert yang bersuara.
"oh jadi kalian suruhan keluarga Arsenio, cihh apakah keluarga Arsenio tidak memiliki anak buah yang lebih dewasa dan sebanding dengan kita" setelahnya pria itu tertawa dan begitu juga dengan teman-temannya.
Viona semakin menyeringai, rupanya pria ini meremehkan kekuatannya tanpa aba-aba dengan gerakan cepat Viona berlari ke arah pria yang sedang tertawa itu dengan gerakan memutar Viona mengarahkan kaki kanannya dan menghantam dagu pria itu. Seketika tubuh pria jangkung itu terpental bersamaan dengan darah dan gigi emasnya yang terpental keluar, membuat teman-teman penculik itu berhenti tertawa melihat temannya diserang secara tiba-tiba.
"serang" ucap salah satu teman berandalan itu. Dan seketika anak buah Cruel Devil masuk ke dalam markas dari berbagai sudut, pintu belakang, dan kaca kanan kira yang langsung mereka pecahkan agar bisa masuk, sontak membuat para berandalan itu terkejut tak menyangka bahwa gadis itu membawa banyak anggota.
Meski jumlah anak buah gadis itu lebih banyak dari mereka, mereka tetap berusaha melawan karena berpikir bahwa lawannya ini abal-abal. Tapi mereka tidak tahu jika lawan mereka adalah anggota Mafia yang juga terkenal hingga ke Italia, selagi semuanya berkelahi Viona mengitari semua ruangan yang ada di markas itu mencari keberadaan cucu Arsenio.
"Duh siapa lagi namanya gatau lagi gue" Viona membuka satu persatu ruangan dan setelah membuka beberapa ruangan akhirnya Viona menemukan bayi yang sedang tertidur pulas.
Viona mendekati bayi itu dan mengecek keadaan bayi itu, Viona pun menggendong bayi itu dan turun ke bawah. Terlihat sudah banyak para penculik itu terkapar, Viona dengan telaten menggendong cucu Keluarga Arsenio saat menuruni tangga.
Setelah menginjakkan kakinya di lantai bawah Viona pun berhenti melangkah "bawa mereka ke markas bawah tanah, selidiki semua jejak kriminal mereka setelah mendapat semua informasi tentang mereka, seret mereka ke pihak kepolisian atau ke Tuan Arsenio terserah kalian, Robert ku serahkan padamu. Reynan ikut saya antarkan saya ke rumah sakit, kita harus mengecek keadaan bayi ini terlebih dahulu"
Robert dan Reynan mengangguk patuh, Reynan pun mengikuti langkah Viona. Dan mereka pun meninggalkan tempat itu menuju ke rumah sakit, disepanjang perjalanan Viona mencoba membangunkan cucu Arsenio namun bayi itu tak terusik sama sekali. Viona khawatir kalo si penculik itu membius bayi ini dan khawatirnya bayi ini tidak tahan dengan obat bius yang mereka berikan, bagaimana pun dia masih sengat kecil tidak bisa di berikan obat bius sembarangan.
Setelah sampai di rumah sakit, Viona langsung berlari masuk meninggalkan Reynan yang masih di dalam mobil namun setelahnya Reynan menyusul masuk.
"suster, dokter Tolong saya" teriak Viona menggelegar di rumah sakit itu.
"iya ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu suster disana.
"tolong periksa bayi ini, dia habis diculik dan sejak tadi saya coba bangunkan dia tidak bangun, saya khawatir dia di bius atau diberikan sembarang obat-obatan" jelas Viona dengan panik.
"baik mari ikut saya" Viona pun mengikuti suster itu.
Cucu Arsenio itu pun kini tengah di periksa, Viona menunggu dengan perasaan cemas. Disisi lain dia takut terjadi apa-apa dengan bayi itu, disisi lain dia bingung bagaimana caranya menyerahkan bayi itu kembali pada keluarganya. Saat dia mengembalikan bayi itu dia harus menggunakan identitas yang mana? Viona atau Nona Vi?
"keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"iya saya dok, bagaimana keadaannya?"
"putra anda sepertinya di bius dengan obat bius Chloroform obat bius berbentuk cair, dengan menghirup aroma Chloroform, seseorang bisa langsung tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Cairan ini memiliki warna bening dan tidak berbau. Menjadikannya sebagai obat bius yang sangat kuat karena mampu bereaksi sangat cepat meski tidak memiliki bau"
"dan putra anda tidak tahan dengan obat bius ini yang cukup kuat sehingga membuat ia susah bernafas hingga mengeluarkan keringat dingin, tapi syukurlah sepertinya obat biusnya baru di berikan satu jam yang lalu sehingga masih bisa kita atasi dengan cepat"
"jadi, intinya dok?"
"putra anda tadinya berada di ambang bahaya namun sekarang sudah tidak terlalu bermasalah, dia sedang di infus oksigen, antibiotik dan juga infus untuk menghilangkan efek dari obat bius itu. Setelah infusnya habis dan perkembangannya baik maka dia sudah boleh pulang".
Mendengar penjelasan dokter membuat Viona bernafas lega setidaknya bayi itu tidak memiliki cedera yang serius, saking paniknya Viona tidak menyadari dokter di depannya menyangka bahwa dia adalah ibu sang bayi bahkan Viona tidak sadar sama sekali akan hal itu.
"baik dok terimakasih, apa saya boleh masuk?"
"tentu boleh, seorang bayi yang tengah sakit akan cepat sembuh dengan sentuhan kasih sayang dari ibunya, silahkan Bu"
Viona yang sejak tadi tidak sadar dengan perkataan dokter itu kini tersadar, ia mengerutkan dahinya. apa sentuhan kasih sayang dari ibunya, tapi dia bukan ibu dari bayi ini dan tadi dokternya memanggilnya Bu? Apakah dokter ini mengira dia adalah ibu-ibu.
Viona pun masuk ke dalam ruangan dimana tempat cucu Arsenio dirawat dengan pikiran berkecamuk.
'tunggu, jangan bilang dokter itu mengira dia adalah ibu dari bayi ini? Astaga' batin Viona lalu menghela nafas berat.
Viona mengamati bayi itu yang tengah lelap tidur, damai sekali menatap wajah bayi itu Viona pun tersenyum tipis tanpa sadar. Seandainya ada orang lain di dalam ruangan itu sungguh mereka akan terpesona dengan senyuman gadis itu meski hanya tersenyum tipis, Viona mengelus kepala bayi itu dengan kasih sayang.
Tak berselang lama ponsel Viona berdering, tertera nama Robert Viona pun langsung mengangkatnya.
"halo"
"Kita sudah bawa mereka ke markas bawah tanah, bagaimana keadaan cucu Arsenio?"
"gara-gara mereka bayi ini hampir meregang nyawa jika kita terlambat, tunggu sebentar aku akan kesana aku ingin mematahkan tulang-tulang mereka" ucap Viona tersulut emosi, Viona mematikan ponselnya dan langsung pergi menuju ke markas bawah tanah.
35 menit perjalanan Viona mengendarai mobil sendirian ia menyuruh Reynan untuk berjaga di rumah sakit menjaga cucu Arsenio, Viona mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Yang seharusnya jarak dari rumah sakit itu menuju markas bawah tanahnya memerlukan waktu sekitar 1 jam lebih. Namun bisa Viona terobos dalam waktu 35 menit saja.
Viona menatap nyalang para penculik itu, ia menatap satu persatu para penculik yang di Tawan didepannya.
"siapa yang kasih obat bius ke cucu Arsenio?" tanya Viona dengan hentakan, Viona sangat marah kali ini.
Hening, tidak ada yang menjawab membuat Viona semakin geram.
"cepat katakan brengsek, siapa yang memberikannya obat bius atau anak-anak kalian akan saya habisi sekarang juga" ancam Viona, namun tentu saja Viona tak akan melakukannya mana mungkin Viona akan membunuh anak-anak hanya karena kesalahan ayahnya.
Dia hanya menggertak saja lagipula ancamannya tidak berlaku Viona hanya akan mengambil anak-anak mereka dan menaruhnya di panti asuhan yang ia dirikan, agar anak-anak itu tumbuh menjadi orang baik bukan berandalan seperti ayahnya.
Seketika para penculik itu kompak menunjuk salah satu dari mereka, Viona pun langsung mengepalkan tangannya dan menghampiri orang yang ditunjuk.
"brengsek kau, keterlaluan" bentak Viona.
Viona pun menghajar pria itu dengan membabi buta tanpa ampun, Viona benar-benar tersulut emosi.
"apa kau tidak berpikir apa efek dengan memberikan obat bius sembarangan pada bayi, hah?!"
"dasar keparat, kurang ajar, bahkan kau lebih biadab daripada hewan" Viona terus membentak dan menghajar pria itu hingga pria itu Terkapar lemas tak berdaya.
Setelah melihat orang itu tak berdaya dan tak sadarkan diri Viona berhenti, ia mengusap keringat di dahinya. Robert pun tercengang melihat kebrutalan Viona, untuk pertama kalinya Viona begitu marah hanya karena orang lain atau atau mungkinkah efek gadis itu tengah pms?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments