Keluarga Abraham kini tengah menyantap sarapan pagi di meja makan, tampak sunyi tanpa pembicaraan hanya terdengar suara dentingan piring yang menggema.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda" ucap asisten rumah tangga yang bertugas sebagai penjaga pintu utama mansion Emmerson.
"siapa?"
"seorang wanita paruh baya, di memaksa masuk..."
"Yuhuuu mas Abraham" tiba-tiba ucapan asisten yang bernama pak ardi terpotong karena suara wanita paruh baya yang menggema.
Viona menaikkan sebelah alisnya dan menatap wanita itu tidak suka begitu juga dengan Ezra.
"ah kalian sedang sarapan bersama-sama, hai anak-anak" ucap wanita itu.
Viona memutar bola matanya malas, dia bingung siapa wanita yang berbaju ketat dan bibir yang merah seperti habis ditumpahi banyak saus, mungkinkah dia wanita penggoda laki-laki atau entahlah.
"apa yang kau lakukan disini?" tanya Abraham datar.
"aku ingin bertemu denganmu dan anak-anakmu, anggap saja sebagai perkenalan calon ibu baru"
Ucapan wanita paruh baya itu sontak membuat Viona dan Ezra yang tengah menikmati makanannya itu berhenti makan.
"maksud Tante apa?" tanya Ezra.
"maksud Tante, suatu saat Tante akan menjadi ibu kalian"
"ngimpi" celetuk Viona setelahnya ia meninggalkan ruang makan, dia tidak tahan melihat tingkah laku menjijikkan wanita paruh baya itu yang meliuk-liukan badannya persis seperti cacing kepanasan. Ezra pun kemudian begitu, ia meninggalkan ruang makan.
Wanita paruh baya itu pun tak merasa bersalah dan malah duduk di kursi meja makan.
"mas, gimana pendapat mas soal tawaran ku?"
"sudah ku katakan berapa kali Monic, aku tidak ingin menikah lagi" ucap Abraham tegas.
"kenapa sih mas? Apa kau pikir anak-anakmu tidak butuh kasih sayang seorang ibu?"
"kau bisa lihat sendiri bahkan mereka tidak Sudi melihatmu" ucap Abraham lalu beranjak dari ruang makan.
'sial, mereka semua meninggalkan ku. Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi nyonya di mansion mewah ini' gumam Monica dalam hati.
"pah, siapa wanita itu?" tanya Ezra saat melihat papanya akan kembali ke kamar.
"dia sahabat papa dan bunda"
"apa papa punya hubungan dengan wanita itu?"
"tidak hanya sebatas teman saja"
"aku harap papa tidak menikahi wanita ular itu"
Viona menuruni anak tangga dan melewati kakak serta papanya begitu saja.
"mau kemana kau?" tanya Abraham dingin.
"bukan urusan anda" jawab Viona.
"Vi, Lo gak sadar apa kalau lo lagi bicara sama papa Lo, yang sopan dikit" bentak Ezra.
"Hmm"
"wajahmu sepertu bundamu, tapi kenapa sifatmu tidak seperti bundamu Viona Ardelina"
"coba tanyakan pada diri anda sendiri, kenapa bertanya sama saya?" ucap Viona sembari berbalik menghadap ke arah mereka.
"bukankah kalian yang membentuk anak perempuan ini jadi seperti ini" lanjut Viona.
"Viona!!" Teriak Ezra.
"apa kami selalu mengajarkan kamu pulang larut malam ha? Apa yang kau lakukan di malam hari, kau menjual tubuhmu pada om-om ha?" ucap Ezra dengan nada tinggi.
"bukan urusan Lo"
"jangan bikin nama keluarga ini tercemar Viona"
"seharusnya kalian yang jangan membuat nama keluarga ini tercemar"
Abraham menampar pipi Viona dengan keras.
"bagaimana reaksi publik ketika mereka tahu tuan Abraham Ardana Emmerson yang baik bak malaikat ini ternyata iblis"
"Viona jaga ucapan Lo" Ezra pun memukul Viona hingga sudut bibir Viona mengeluarkan darah Viona tak melawan, Viona tidak pernah melawan papanya dan kakaknya dia membiarkan mereka mengajar dia habis-habisan. Karena bagi Viona mereka tetaplah ayah dan kakaknya, dia menghormati mereka meski hanya dalam hati tidak ia tunjukkan secara langsung.
"Lo seharusnya bersyukur kita mau menampung Lo dan dan membesarkan Lo disini"
"Lo gatau terima kasih, setidaknya jadi anak yang membanggakan buat papa, bukan keluyuran gajelas di malam hari"
"kurang baik Apa kami nerima pembunuh di rumah ini"
"gue bukan pembunuh"
"Lo pembunuh, Lo yang udah buat bunda meninggal. Seharusnya bunda gak lahirin Lo, gue lebih baik kehilangan Lo daripada kehilangan bunda gue tau ga"
"terus kenapa kalian gak bunuh gue, bunuh gue sekarang ayo bunuh gue"
Amarah Ezra memuncak, Ezra menghajar Viona bertubi-tubi sedangkan Viona hanya diam saja menikmati rasa sakit yang diberikan sang kakak. Sekejam-kejamnya Viona dia tidak pernah melukai keluarganya sendiri.
"Lo mau gue bunuh, ayo gue bunuh sekarang juga"
"Cukup Ezra, jangan mengotori tangan mu dengan membunuh pembunuh itu. Apa kau ingin masuk penjara? Cukup"
Ezra yang tadinya tengah memukul kepala Vionapun berhenti. "kenapa bukan lo yang mati, kenapa harus bunda ha?" tanya Ezra dengan berteriak.
"andai gue bisa memilih, gue yang bakal memilih mati dan bunda tetap hidup daripada gue yang harus dituduh sebagai pembunuh. Gaada anak yang ingin membunuh ibu yang telah melahirkannya kecuali anak itu gila, bahkan seorang bayi yang tidak bisa apa-apa apakah bisa membunuh manusia?"
"kalian tenang aja, setelah bunda dapet keadilan anak pembawa sial ini akan pergi untuk selamanya dari kehidupan kalian" setelahnya Viona pergi dari hadapan Meraka berdua.
Abraham dan Ezra tertegun, keadilan? Apa maksud ucapan Viona itu. Keadilan untuk apa?
...****************...
"ssshh.... Aww, kenapa kepala lagi sih yang jadi korbannya" desis Viona.
Viona kini berada di rumah pohon di tengah hutan, rumah pohon itu dia buat sendiri untuk menenangkan diri. Di rumah pohon itu sudah tersedia P3k, setelah dia mendapat kasih sayang dari papa maupun kakaknya dia akan ke rumah pohon ini untuk mengobati bekas-bekas kasih sayang papa dan kakaknya.
"Ssshh... rasanya pusing banget ni kepala"
Viona menatap ke langit "Bun, apa bunda melihat apa yang terjadi pada Viona?"
"bunda tenang aja, Viona kan anak kuat. selama bunda belum mendapatkan keadilan, Viona gak akan nyerah"
"setelah bunda mendapatkan keadilan setelah itu kita pasti bisa ketemu, Viona janji" ucap tulus gadis itu dengan sedikit tersenyum seakan gadis itu tengah berbicara kepada bundanya. Tidakkah ada yang mu mengasihani gadis ini? Setidaknya lihatlah sisi lain dari gadis ini.
"kalo bonyok kayak gini bagaimana bisa gue jenguk anak-anak, sial. Gue telfon Bu ratih aja deh kalo gue gabisa berkunjung hari ini, mungkin besok atau lusa"
Viona memejamkan matanya menikmati angin semilir yang ada di hutan, membiarkan anak rambutnya tertiup angin. Damai rasanya, kapan Viona akan merasakan kedamaian ini di rumahnya. Setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin di sayang oleh papa dan kakaknya sebelum terlambat. Apakah mendapatkan kasih sayang dari papa dan kakaknya adalah hal yang mustahil?
"pah, kak kapan kalian akan menyayangiku?" lirih Viona.
...****************...
Viona kini tengah menjadi perhatian warga sekolah SMA Garuda karena penampilannya, memakai masker hitam dan juga kacamata hitam sontak membuat warga sekolah berbisik-bisik. Namun Viona tak peduli, dia seakan tuli dan tidak melihat orang di sekitarnya.
Sesampainya di kelas, inti Alexand Tercengang melihat Viona memakai kacamata hitam di sekolah.
"itu Viona kenapa tumben pake kacamata hitam"
"gatau, Fashion kali" celetuk Arbian.
Setelah Viona duduk di bangkunya Arbian menoleh kebelakang menghadap Viona.
"kenapa lu pake kacamata hitam di sekolah, ini sekolah bukan pantai kali"
"bukan urusan Lo" ucap Viona lebih dingin dari biasanya.
Hal itu membuat Arbian merinding dan kembali menghadap ke depan, rupanya Viona lebih menyeramkan daripada Revan.
"kenapa?" kali ini bukan Arbian yang bertanya, melainkan laki-laki yang duduk disebelahnya yang bertanya.
"gapapa" hanya itu jawaban dari Viona, setelahnya hening.
Tak berapa lama kemudian bel masuk pun berbunyi, Viona tetap memakai kacamata hitamnya. Ia berharap gurunya tidak akan menyuruhnya melepas kacamata.
Seorang guru perempuan pun masuk ke dalam kelas.
"selamat pagi anak-anak"
"selamat pagi Bu" jawab semua murid kelas XII Ipa 1.
"itu yang dibelakang, kenapa pakai kacamata hitam?"
Viona yang dibicarakan masih saja diam tanpa menjawab.
"lepas kacamata itu, kita di sekolah bukan di pantai" titah guru itu.
Melihat Viona diam tak bergerak maupun bersuara guru itu pun geram.
"kamu, maju ke depan sini"
Akhirnya Viona pun mengikuti titah guru itu.
"lepaskan kacamata hitammu"
"boleh pake kacamata asal kacamata untuk mata minus"
"sekarang cepat buka"
"tapi Bu" ucap Viona masih datar.
"kenapa?"
"saya sedang sakit mata"
"kenapa tidak bilang sejak tadi, terus kenapa pake masker juga?"
"Flu" jawab Viona begitu singkat.
"baiklah kamu boleh kembali duduk, saya izinkan kamu memakai masker dan kacamata hitam agar penyakitmu tidak menular kepada teman-temanmu"
Guru itu percaya akan apa yang Viona katakan begitu juga yang lainnya, yang sejak tadi bertanya-tanya kenapa gadis itu menggunakan masker dan kacamata, namun tidak dengan Revan. Laki-laki itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Viona, Revan merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Viona.
Setelah 4 jam pelajaran bel istirahat pun berbunyi, guru yang tengah mengajar mengakhiri pelajarannya. Dan siswa-siswi pun berhamburan keluar untuk istirahat ke kantin, perpustakaan, atau tempat lainnya. di rasa kelas sudah sepi kini hanya tersisa inti Alexand Viona memutuskan akan keluar dari kelas, namun langkahnya terhenti karena tangannya dicekal.
Viona menoleh melihat siapa pelakunya ternyata Revan, hal itu tak luput dari pengawasan inti Alexand yang lain.
"kenapa?" tanya Viona dingin.
"buka kacamata Lo"
"gak bakal"
"Ck, kenapa Lo pake kacamata"
"udah gue bilang mata gue sakit"
"gue gak percaya"
"terserah Lo, lepasin gue"
namun Revan malah semakin mengencangkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Viona. Revan pun berdiri dan berusaha melepaskan kacamata Viona, namun tangannya langsung di tepis oleh Viona. Arbian, Andrew, Galang, dan Rafael hanya diam menyaksikan kejadian itu, seakan mereka tengah menonton drama Korea.
"ck, apa-apaan sih Lo"
"buka ga"
"engga ya engga"
Revan semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Viona, Viona merintih kesakitan sebab Revan menekan luka yang ada di pergelangan tangannya. Melihat Viona yang menatap pergelangan tangannya sontak ikut menatap pergelangan tangan Viona, dia melonggarkan cekalannya dan melihat pergelangan tangan Viona ternyata ada bekas luka disana, melihat Viona lengah Revan langsung membuka kacamata Viona, dan betapa terkejutnya ia melihat mata Viona begitu juga dengan inti Alexand lainnya.
Bagaimana tidak terkejut, mata Viona bengkak dan Lebam. Jelas ini bukan sakit mata, mereka sangat tau bahwa itu adalah bekas pukulan. Viona yang tersadar pun terkejut, lantas dia kembali merebut kacamatanya dan memakainya lalu pergi dari kelas. Ke 5 inti Alexand masih tercengang atas apa yang baru saja mereka lihat.
"itu mata Viona kenapa, itu jelas banget bekas pukulan"
"habis berantem sama siapa dia?"
Begitulah pertanyaan kedua teman Revan, begitu juga Revan dia sedang bertanya-tanya sendiri dalam hati.
'sebenernya apa yang terjadi sama Lo Viona?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dwi Sulistyaningsih
sejenis ular sawah kali 🥱
2024-02-03
1