Viona 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 hanya diam dan melamun dan dia tidak menyadari kalau Revan membawanya ke rumahnya. Revan membawa Viona ke rumahnya sebab ia tidak tahu dimana rumah gadis itu dan selama di perjalanan gadis itu nampak melamun, Viona yang melihat itu enggan untuk bertanya rumah gadis itu.
saat motor itu berhenti Viona kembali sadar, dan melihat sekitarnya nampak asing ia pun mengerutkan dahinya.
"Dimana" tanya Viona.
"rumah gue"
Viona yang mendengar itu berdecak kesal dalam hatinya, kenapa laki laki itu malah membawanya ke rumah laki laki itu. Viona pun langsung turun dari motor Revan dan beranjak ke arah gerbang rumah Revan. Revan yang melihat hal itu menyerngitkan dahinya dan segera turun dari motornya.
" mau kemana? " tanya Revan.
"pulang" jawab Viona tanpa menoleh ke arah Revan dan masih melangkah ke arah gerbang.
"nanti gue anter, gue mau ganti baju dulu"
"gausah, gue bisa sendiri"
Revan merasa kesal dan menyusul Viona dan selanjutnya dia mencekal tangan Viona dan menariknya memasuki rumahnya. Viona yang di tarik tina tiba pun tubuhnya hendak terhuyung hanya saja Viona dapat mengimbanginya. Viona mengikuti langkah kaki Revan akibat cengkraman laki laki itu yang kuat, bukannya Viona tidak bisa memberontak. namun ia tahu, jika ia memaksa melepaskan cekalan ditangannya itu akan membuat tangannya memerah dan bekas luka yang ada di pergelangan tangannya akan kembali tergores sehingga dia menurut saja.
saat sudah masuk ke dalam rumah Revan, bersamaan dengan mamanya Revan yang turun dari lantai atas.
"Revan baru pulang kamu" ucap mamanya Revan sambil melangkah mendekati Revan.
Viona yang mendengar suara perempuan paruh baya mengedarkan netranya ke arah pemilik suara.
'Deg
'itukan' gumam Viona dalam hati.
Viona terkejut melihat perempuan paruh baya di depannya ini.
"iya ma, tadi mampir ke markas bentar" jawab Revan sembari mencium tangan perempuan paruh baya itu.
'ha? jadi ibu ini ibunya Revan' tanya Viona dalam hati.
"Eh, ini kamu bawa siapa?" tanya mama Revan.
"Temen"
"Cantik, jadi kamu culik dia? "
"Engga, mama apaan sih masa Revan culik anak orang"
"nama kamu siapa cantik?" tanya mama Revan pada Viona.
"Viona" jawab Viona.
'suara ini..... ' gumam mama Revan.
"saya mamanya Revan, Rosa Arsenio" ucap mama Revan sembari mengulurkan tangannya.
benar, dia tidak salah mengenali orang meski baru hanya sekali bertemu.
melihat Viona hanya diam saja Rosa sedikit mengerutkan dahinya sembari menoleh sebentar pada Revan, gadis di depannya ini seperti Revan hanya saja dalam versi perempuan.
"yaudah sini duduk dulu, anggap rumah sendiri ya pasti capek kan abiss sekolah" ucap Rosa sambil menuntun Viona ke sofa ruang tamu.
Viona hanya diam dan mengikuti jelas dia bingung haruss berperilaku bagaimana. dia tidak pernah berinteraksi dengan orang lain kecuali hanya sebatas partner kerja, dia tidak pernah bersosialisasi dengan banyak orang.
"kamu tinggal dimana?" tanya Rosa setelah keduanya duduk.
"Dirumah" jawaban Viona seketetika membuat Rosa tercengang, ya dia tau semua orang tinggal di rumah tapi bukan itu maksudnya.
saat Rosa melihat mata Viona dia seakan mengingat seseorang, mata itu persis dengan mata seseorang yg dia kenali, Rosa pun mulai mengamati wajah gadis itu dengan seksama dia mendapatkan sebuah kemiripan dengan seseorang yang dia kenal. dan suaranya sama persis dengan orang yang Rosa maksud sejak tadi, bahkan Rosa pun merasa gadis ini sama dengan hacker yang yang dia temui kemarin yang membuatnya penasaran.namun setelah mendengar suara Viona mungkin beberapa orang memiliki suara yang sama begitu pikirnya, dia berusaha berfikir positif.
"orangtua kamu siapa kalau boleh tau" tanya Rosa berusaha mencari suatu informasi siapa tahu akan membantunya.
"saya tidak tahu" balas Viona dengan suara yang lumayan kecil namun masih terdengar di telinga Rosa.
"kamu tidak punya orang tua?" tanya Rosa dengan hati hati takut menyinggung gadis cantik di sebelahnya.
Viona menatap mata Rosa dan hanya mengendikan bahunya. dari sorot mata Viona Rosa bisa menyimpulkan bahwa terdapat luka di balik sorot mata Viona yang berusaha ia tutupi. namun naluri keibuan Rosa sangat dalam, dia bisa merasakan bahwa ada luka yang disimpan dengan rapi oleh gadis cantik di depannya ini. ingin sekali dia merangkul memeluk gadis cantik ini.
"Em, bagaimana bisa kamu pulang bersama Revan, Viona?" tanya Rosa lembut.
Viona tertegun, baru kali ini ada seseorang yang memanggilnya dengan lembut selama ini dia selalu mendengar namanya di panggil dengan tegas, nada tinggi, kasar dan terdengar seperti sarkas.
"A-aku, ban motor bocor" jawab Viona sedikit terbata, entah dia sangat gugup dengan situasi saat ini, kuku kuku tangannya memucat entah mengapa dia sangat grogi saat ini.
"Ban motor kamu bocor, baiklah tunggulah Revan sebentar. Viona mau minum apa nak atau sekalian mau makan?"
Viona yang sejak tadi sedikit merunduk menoleh menatap Rosa, jantungnya berdebar cukup kencang. 'nak' baru pertama kali selama hidupnya dia di panggil nak. katakanlah Viona norak, tapi memang itulah kenyataannya. gadis cantik itu tidak pernah mendapatkan panggilan itu dari siapapun termasuk ayah kandungnya sendiri.
"tidak perlu t..tante, terimakasih" Viona ragu memanggil perempuan paruh baya di depannya, sungguh Viona tidak pernah memakai panggilan itu Viona seperti manusia yang keluar dari goa.
Rosa ingin kembali bertanya namun urung karena melihat Revan sudah datang.
"makan dulu habis itu gue anter lu" ucap Revan datar.
"iya lebih baik kita makan dulu Viona" Sambung Rosa.
"tidak perlu, kalian saja yang makan, saya akan menunggu saja atau saya pulang sendiri saja tidak masalah" jawab Viona.
"gak, lo harus ikut makan dan gue gak izinin lo pulang sendiri" ucap Revan tegas dan mencekal tangan Viona erat.
Rosa yang melihat itu lantas menyurai rambut Viona dengan lembut.
"ikut makan ya nak, kamu tamu di rumah ini mama akan sedih kalau mama tidak bisa menjamu kamu"
Viona yang di perlakukan lembut seperti ini hanya bisa diam mematung, dia bingung dengan situasi ini, dia merasakan desiran aneh di dalam dirinya, entah gejolak apa ini.
Viona menatap Rosa, Rosa yang ditatap pun tersenyum manis dan menganggukan kepalanya. akhirnya Viona pun mengangguk pada Revanndan menuruti kemauan ibu dan anak ini.
selanjutnya mereka pergi ke meja makan dan makan siang bersama. tidak ada percakapan, hening mereka makan dengan hikmat. Rosa yang sebenarnya ingin menanyakan banyak hal pada Viona sebab dia merasakan kejanggalan dan rasa ingin tahu siapa Viona dan siapa keluarga Viona. namun Rosa tidak mau gadis itu merasa tidak nyaman padanya hingga dia akan mendekati Viona secara perlahan.
setelah acara makan siang selesai Revan akan mengantarkan Viona pulang.
"mah, Revan pamit nganterin Viona" ujar Zayn.
"iya hati hati ya jangan ngebut, jangan sampai lecet Viona nya" ucap Rosa lembut.
"tante, Terimakasih atas makanannya" ucap Viona pada Rosa nadanya tidak sedatar tadi namun masih datar walau hanya sedikit.
Rosa tersenyum dan mengelus rambut Viona.
"sama sama cantik, semoga kita bisa bertemu lagi"
lagi, lagi dan lagi. Viona merasakan hal aneh dalam dirinya, mendapat perlakuan lembut seperti ini adalah suatu hal yang asing bagi Viona.
...****************...
"anterin gue ke tempat motor gue" ucap Viona.
kini keduanya sedang berada dijalan di atas motor Revan tentunya.
"kenapa?" tanya Revan dalam helmnya dengan tetap fokus menyetir.
"ha?" tanya Viona, entah kenapa setelah berinteraksi dengan mamanya Revan membuat Viona sedikit bolot.
"kenapa gak langsung ke rumah lu? "
"gapapa, lagian gak mungkin motor gue belum kelar, mumpung lagi di luar jadi sekalian aja"
Revan pun mengangguk menuruti kemauan gadis itu, entahlah dia malas berdebat saat ini.
tak berapa lama setelah 20 menit perjalanan mereka sampai di bengkel dimana motor Viona diperbaiki. terlihat motornya sudah siap, namun saat Viona ingin membayar administrasi ternyata sudah di bayarkan Viona pun menoleh ke arah Revan yang masih berada di motornya berdiri dan menghampiri Revan.
"nih" ucap Viona menyodorkan uang kepada Revan.
Revan yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya.
"bayar ban bocor" lanjut Viona.
Revan yang akhirnya mengerti menggelengkan kepala.
"gausah"
"ck, gue gamau berhutang sama orang jadi lo Terima ini"
"sekali engga ya engga, Viona Ardelina" ucap Revan tegas dengan menekan namanya. setelahnya laki-laki itu kembali menaiki motornya dan memakai helm.
"ayo buruan pulang, gue ikutin lo dari belakang" ucap Revan.
"gausah, mending lu pulang gue bisa sendiri" tolak Viona dan beranjak dari motornya.
bukan Revan namanya jika tidak keras kepala, Revan tetap menunggu Viona. saat melihat Viona sudah siap pergi, Revan pun begitu. Viona menyalakan motornya diikuti oleh Revan, begitu pun saat melajukan motornya Revan pun mengikuti di belakang Viona.
Viona yg melihat Revan mengikutinya pun mendengus kesal, kenapa laki laki itu sangat keras kepala. Viona tidak mungkin membiarkan laki laki itu mengetahui rumahnya, bisa kacau semuanya. bagaimana jika dia tau keluarganya yang sebenarnya. Revan pun melajukan motornya dengan kencang, namun rupanya laki laki itu tak mau kalah.
Viona yg geram pun akhirnya ingin mengecoh Revan, dia menuju ke jalan raya yang lebih rame dengan mobil. Viona melewati mobil-mobil itu dengan pola zigzag, saat dia melihat ke arah spion Revan lumayan Tertinggal setelahnya Viona langsung membelokkan motornya ke arah Gang kecil. Viona melihat ke arah spion lagi belum ada tanda-tanda Revan muncul di belakangnya Viona pun segera berbelok lagi ke kiri saat melihat sebuah belokan dan Kembali ke jalan yg akan ke rumahnya.
Revan yang melihat ke depan tidak mendapatkan Viona menggeram di balik helmnya, sial Dia kehilangan jejak Viona. Dia tidak menyangka bahwa Viona handal dalam bermotor, dia seperti seorang pembalap. Untuk ukuran perempuan itu cukup menakjubkan, membuat Revan semakin penasaran dengan siapa Viona sebenarnya. Karena tidak kunjung mendapati sosok Viona, Revan pun putar balik dan pulang ke rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dwi Sulistyaningsih
🤣
2024-01-22
1