SKSD

Viona kini tengah berada di taman belakang hari ini kelas jam kosong karena ada rapat guru, Viona lebih memilih tempat sepi Viona benci keramaian. Satu hal lagi, Viona sedang berpikir mengenai kasus ibunya. Terdapat informasi yang telah di hapus dijejaring alamat rumah sakit tempat ia dilahirkan.

Viona merasa ada yang janggal, tidak ada waktu kematian ibunya, aneh. Bukankah semua rumah sakit akan mencatat tanggal dan waktu kematian seseorang? Memang ada tulisannya bahwa kandungan ibunya lemah hingga menyebabkan sang ibu meninggal.

namun, melihat tahun kematian bundanya di makam beliau itu jelas bukan tahun dia lahir. Tahun itu dimana dia seharusnya dia tepat berusia 1 tahun, benar itu tanggal lahirnya namun tahunnya tidak. apakah ibunya meninggal saat ulang tahun pertamanya? Atau batu nisan itu salah cetak?

Apakah data rumah sakit juga di sabotase? Kepala Viona pusing, terasa sangat berat. Kepalanya berdenyut begitu ngilu, hingga suara seseorang menyadarkannya.

"hai Viona" sapa seseorang yang membuat Viona menoleh.

"hmm" jawab Viona.

"aku boleh ngobrol sama kamu gak?" ucap Luna dengan suara yang di imut-imutkan.

"apa?" ucap Viona sewot.

"kamu ada hubungan apa sama Revan?"

"gak ada"

"serius?" ucapnya dengan mata berbinar.

"hmm"

"kalo gitu aku boleh deketin Revan?"

Pertanyaan itu membuat Viona mengerutkan dahinya, untuk apa gadis ini bertanya kepada toh itu bukan urusannya. Viona hanya mengangguk Enggan menjawab.

"kamu ga ada rasa suka ke Revan kan?"

Viona menghela nafas, sungguh gadis ini sangat menyebalkan bagi Viona untuk apa dia bertanya sebegitu detailnya jelas-jelas dia tidak dekat dengan Revan.

"ga"

Gadis itu mencak-mencak kegirangan membuat Viona memutar bola matanya malas.

"kamu mau ga temenan sama aku?"

Viona melihat gadis itu dari bawah hingga keatas dengan sebelah alis yang terangkat.

"ga" Viona pun berdiri dan hendak beranjak dari tempat itu namun saat sampai di samping gadis itu Viona mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu "gue ga temenan sama cewek murahan" ucap Viona dingin membuat sang empu merinding.

"ck, songong banget tu cewek, tapi kalo gue ngelawan dia gue juga bakal kalah, dia aja bisa ngelawan Clarista apalagi gue?"

......................

Ezra Company, adalah perusahaan besar milik Ezra Zafeer Emmerson. Di usianya yang berumur 23 tahun Ezra memiliki bisnisnya sendiri yang sangat sukses. Dengan jerih payahnya di usia yang terbilang masih muda ini kini telah berstatus sebagai CEO di Perusahaan besar di jakarta.

Laki-laki itu tengah menatap bingkai foto yang ada di meja kantornya, Ezra menatapnya dengan tatapan sendu.

"Bun, sebenarnya apa yang terjadi? Ezra ga percaya kalo Viona adalah penyebab bunda pergi, tapi ga ada bukti yang mengarah bahwa Viona tidak bersalah?"

"Dek, apa benar kamu memiliki jiwa Psycho? Buat Abang percaya kalau bukan kamu pelakunya dek"

"seharusnya hari itu aku diam saja di rumah, seharusnya aku ga nongkrong sama temen-temen" lirih Ezra.

"Bun maafin Eja, maaf kalau eja gabisa menjaga bunda, maaf karena eja bersikap kasar kepada Viona bahkan memukulinya"

"maaf Bun" ucap Ezra dengan terisak.

hatinya kacau, hidupnya kacau dan tidak ada yang tahu jika seorang CEO muda terkenal ini memiliki masa lalu yang kelam dan menyakitkan.

"Eja harus gimana Bun?" sembari memandang foto favoritnya yang ia simpan dan ia pajang di meja kantornya dan juga di nakas dalam kamarnya. di foto itu terdapat 2 laki-laki dan 2 perempuan, laki-laki paruh baya, 1 wanita paruh baya, 1 anak laki-laki dan 1 lagi bayi perempuan yang berada di gendongan wanita patuh baya di foto itu.

"aku ragu jika bayi selucu ini adalah pembunuh, tidak ada bukti apapun"

...****************...

Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak 15 menit yang lalu, namun Viona masih tetap berada di tempat duduknya. Hanya tersisa dirinya saja di dalam kelas itu, gadis itu diam dengan tatapan yang sulit di artikan. Di dalam tatapannya itu terdapat penyesalan dan terdapat kekecewaan.

Dia kecewa karena baru pertama kalinya dia gagal dalam bidang yang dia tekuni sudah hampir 5 tahun, baru kali ini ia gagal menjadi Hacker. Mungkin kliennya mengira misinya berhasil namun bagi Viona tidak, misinya gagal. Karena misi kliennya bukan hanya misi klien itu saja tapi juga misi pribadinya dan ia gagal.

Kemana dia harus bertanya, kemana dia harus mencari lagi. Viona kehilangan arah, dia tidak tahu harus berjalan ke arah mana.

Setelah dirasa sekolahnya sepi Viona bangkit dan beranjak dari kelas menuju ke parkiran sekolah. Viona yang sudah berada di motornya langsung tancap gas meninggalkan pekarangan sekolahnya, dengan pikiran yang berkecamuk penuh tanda tanya.

Viona tidak ingin pulang ke rumahnya, dia butuh waktu sendiri jadi dia akan tinggal di apartemennya sementara waktu. Saat perjalanan menuju ke apartemennya Viona melihat segerombol preman yang memiliki tubuh besar tengah mengukung seorang gadis. Viona memicingkan matanya ia seperti tidak asing bagi Viona, setelah Viona perhatikan lebih seksama ternyata gadis itu adalah gadis yang satu sekolah dengannya.

Sebenarnya Viona akan pergi begitu saja tapi mengingat bundanya dia pun berniat ingin menolong gadis itu. Viona pun meninggikan motornya.

"hehh kalian" ucap Viona sembari berjalan mendekat ke mereka.

"Eittss... Ada pahlawan kesiangan nih"

"tapi cewe mah bisa apa, sini cantik ikut main sama kita kita"

"cih, banci kalian beraninya sama cewek, sini hadapi gue" bentak Viona.

"udahlah cantik daripada kamu repot-repot lawan kita nanti sakit semua mending kita kasih yang enak-enak"

Viona geram preman-preman ini banyak basa-basi Viona yang malas berkata pun langsung menghajar mereka, Viona menendang, memukul, membanting memiting, bahkan sampai mematahkan kaki salah satu preman-preman itu. Meski 3 banding 1 bukan tandingan bagi Viona Meski ukuran badan mereka lebih besar dari Viona. Mereka bertiga pun tumbang dan berlari meninggalkan Viona.

"cih, sok kuat badan aja gede lawan gue aja ga becus" gumam Viona.

Viona yang hendak kembali ke motornya seketika berhenti melangkah.

"Tunggu" ucap gadis yang ditolong Viona.

Viona berhenti dan berbalik menghadap ke gadis itu.

"makasih ya vi udah nolongin aku"

"hm" Viona pun kembali berjalan ke arah motornya.

"V-vi tunggu"

Viona menggeram dalam hati gadis ini selalu saja membuat Viona kesal, ingin sekali Viona membanting gadis ini sudah cukup seharian ini dia mengganggu ketenangan Viona.

"apa?" tanya Viona tanpa berbalik badan.

"G-gue boleh nebeng sama lu ga?"

Sebenarnya Viona malas membantu orang lebih jauh lagi, tapi daripada dia tidak pulang-pulang juga karena Viona yakin jika tidak langsung di setujui gadis itu akan lebih merumitkan dirinya.

"ya ayo" jawab Viona yang langsung menaiki motornya.

Saat hendak naik gadis itu kembali bertanya "i-ini gimana cara naiknya?"

"Ck, dasar cewek manja dari tadi ribet banget sih Lo heran banget gue, gue pengen cepet-cepet pulang" sewot Viona.

"i-iya maaf" gadis itu pun naik ke atas motor Viona, karena motor Viona tinggi membuat roknya tersingkap Viona yang melihat itu langsung melepaskan jaketnya dan memberikan pada gadis itu.

"pake"

"hah?"

"ck, pake rok lu kebuka anj lelet banget sih lo Lun"

Luna pun menuruti Viona dan menerima jaket lalu ia gunakan untuk menutupi pahanya.

"rumah lo tunjukkin jalannya nanti"

"iya Vi"

setelah itu Viona melajukan motornya, Luna pun mengarahkan Viona menuju ke rumahnya. Tak berapa lama mereka pun sampai di rumahnya Luna.

"makasih ya vi atas tumpangannya dan udah nolongin tadi" ucap Luna setelah turun dari motor Viona.

"Hm, jaket" ucap Viona yang seketika membuat Luna segera mengembalikan jaketnya. Viona pun langsung memakainya kembali.

"sekali lagi makasih ya Vi, gue ga nyangka meski lo cuek tapi lo masih mau bantu gue meski gue tadi bersikap ga sopan ke Lo pas di kantin"

"hm" setelah berdehem Viona pun melajukan motornya, sungguh Viona muak terlalu banyak basa-basi, dia ingin segera pulang dan kembali menyelesaikan teka-teki kehidupannya.

"gue ga nyangka Vi, meski lo orang yang cuek, judes dan sedikit kasar tapi lo masih mau bantuin gue yang bahkan sempat bersikap ga sopan ke lu, coba orang lain di posisi lu ga bakal bantuin gue"

"kayanya ga ada salahnya gue berteman sama Lo Vi, gue ga pernah ada temen, walau mungkin sulit semoga Lo mau jadi temen gue Vi" ucap Luna yang masih memandang ke tempat dimana Viona menghilang dari pandangannya.

"gue tau hati lo selembut sutra meski sikap yang Lo tunjukin ga mencerminkan itu Vi, gue yakin pasti ada sesuatu yang membuat lo jadi kayak gini. Lo sebenernya gadis yang murah hati, lembut, baik dan suka menolong hanya saja ada sesuatu lain yang gue atau ga siapapun ketahui dengan sikap lo yang kayak gini" gumam seorang laki-laki dari jarak jauh di balik helm full facenya. laki-laki itu menyaksikan semua tindakan yang Viona lakukan, semenjak Viona menghajar preman-preman hingga gadis itu mengantarkan Luna ke rumahnya, dia mengikuti Viona.

"udah 2 kali gue liat lo nolong orang sekitar, hati lo ga sepenuhnya beku makanya Lo masih nolong orang disekitar Lo"

Iya, laki-laki itu adalah orang yang sama dengan orang yang melihat Viona membantu seorang ibu-ibu yang anaknya akan di culik tempo lalu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!