Kekejaman Viona

Semua anggota Mafia Oscura telah di sekap oleh Cruel Devil begitu juga dengan bos mereka Kalandra. Namun yang menjadi pusat perhatian Cruel Devil adalah si penghianat Cruel Devil.

Dixon, kaki dan tangannya di ikat dengan diposisikan duduk berlutut tengah gedung itu. Viona menatap Dixon dengan sangat tajam seolah-olah pedang yang siapa akan menusuk musuhnya. Viona mendekati Dixon bersama sahabat kesayangannya sembari memainkan senjata tajam yang ada di tangan kanannya. Setelah sampai di hadapan Dixon Viona berjongkok.

"Dixon, Apa yang kau lakukan hm? Kau tidak sayang dengan nyawamu sendiri? Kau sudah bosan hidup sayang?" ucapan kata sayang dari bibir Viona bukanlah ucapan romantis tapi mengintimidasi justru kata sayang yang muncul dari seorang Viona adalah diperuntukkan kepada mangsa yang akan menjadi mainan Viona dan Calon Jenazah.

"jika kau bosan hidup seharusnya kau katakan secara langsung, aku pasti akan langsung menghabisimu tanpa rasa sakit. Tapi kau rupanya lebih memilih cara yang lebih ekstrim, mengagumkan sayang"

Viona mengarahkan pisaunya ke pipi Dixon, pisau itu tajam namun tumpul. Yahh Viona lebih suka memakai pisau tumpul untuk bersenang-senang.

"sangat di sayangkan kau sudah menyalah gunakan kepercayaanju kepadamu Dixon, jangan salahkan aku atas apa yang akan ku lakukan, salahkan saja dirimu sendiri yang tak setia" Viona pun menggores pipi Dixon dengan pisau tumpul miliknya, darah pun mengalir dari pipi Dixon, Dixon mendesis dia tidak bisa berbicara karena mulutnya di bungkam oleh kain, perih itu yang dirasan oleh Dixon.

Kalandra yang melihat Viona mengukir wajah Dixon dengan pisau tumpul itu bergidik ngeri, ia tidak menyangka gadis berparas cantik dan manis ternyata seorang Psycho pikirnya. Seharusnya dengan parasnya yang seperti itu bukankah itu menggambarkan dia gadis yang takut akan tindakan yang sedang gadis itu lakukan, jangankan melakukannya melihatnya saja akan bergidik takut tapi tidak gadis itu sangat berani dan melakukan kekejian itu dengan tangannya sendiri.

Viona melepaskan kain yang berada di mulut Dixon "menjeritlah sayang" setelahnya Viona menyayat Leher Dixon "lihatlah karya ku yang sangat indah"

"Argghhhh!!" jerit Dixon membuat anggota Mafia Oscura bergidik ngeri.

"Good" ucap Viona dengan sebuah senyuman mengerikan.

Karena belum puas Viona pun langsung menancapkan pisau tumpul itu ke paha Dixon dan menusuk-nusukkannya berkali-kali membuat Dixon tidak berhenti menjerit dan berteriak kesakitan. Setelahnya Viona berdiri dan berjalan mundur, setelah dirinya telah sejajar dengan sahabatnya Viona mengeluarkan smirknya yang menyeramkan.

Sahabat Viona pun lantas berlari ke arah Dixon dan menerkam Dixon siapa lagi kalau bukan Leon, Leon menggigiti kaki Dixon yang terikat membuat Dixon berteriak begitu hebatnya. Melihat singa jantan itu melahap kaki Dixon seketika membuat semua musuh Viona menutup matanya begitu juga dengan Kalandra sang ketua Mafia Oscura. Leon terus melahap tubuh Dixon, mencincang cincang tubuh Dixon hingga akhirnya tak terdengar suara teriakan dari Dixon menandakan laki-laki itu pingsan atau mungkin telah tiada. Viona dan anak buahnya telah terbiasa melihat adegan itu sehingga mereka semua menatap jelas dengan tatapan tajam mereka.

Leon memiliki tubuh yang sangat besar sekarang tangan, kakinya dan bagian tubuh lainnya terlihat sangat gempal, dulu singa jantan itu seperti anak kucing bagi Viona karena tubuhnya yang mungil dan lucu, Viona memelihara Leon karena singa jantan itu sama sepertinya sama-sama kehilangan ibunya. Di pekarangan binatang buas saat itu Viona melihat sosok singa betina yang terkulai kaku dan disebelahnya terdapat singa jantan kecil yang tengah merenung melihat ibunya yang akan di urus oleh penjaga pekarangan itu untuk di kremasikan. Viona melihat singa kecil itu dengan iba hingga ia meminta izin untuk memeliharanya, awalnya sang pemilik pekarangan hewan buas itu ragu untuk memberikan singa kecil itu pada seorang gadis mungil tersebut. Namun gadis itu begitu kekeh untuk memeliharanya bahkan memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar.

Begitulah kisah persahabatan antara manusia dan singa yang terjalin karena sama-sama merasa kosong dalam hidupnya, keduanya saling melengkapi dan Leon sangat menurut kepada Viona. Bahkan disaat Viona sedang sedih Leon akan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Viona seolah-olah singa itu memeluk Viona.

Setelah tubuh Dixon telah ditelan habis oleh Leon Viona berbalik badan menghadap ke Kalandra "bagaimana Mr? kau ingin bernasib sama seperti temanmu atau kau ingin bernegosiasi?"

"cepat putuskan sebelum aku berubah pikiran" lanjut Viona dengan Leon yang sudah berjalan kembali ke sisi Viona.

"bernegosiasi untuk apa?" tanya Kalandra.

Viona lagi-lagi mengeluarkan Smirknya "jika kau setuju bergabung dengan tim ku dan mau manjadi anak buahku aku akan memaafkanmu, mungkin hanya hukuman ringan seperti penjara bawah tanah atau yang lainnya"

"Tapi..." Viona sengaja menggantungkan ucapannya membuat Kalandra menaikkan sebelah alisnya.

"jika kau berhianat seperti Dixon, aku jamin kau akan bernasib yang sama atau bahkan lebih menyedihkan dari Dixon" ucapan Viona begitu tajam membuat anak buah Kalandra meneguk ludahnya dengan susah payah.

"apa yang aku dapat jika bekerja sama denganmu dan menjadi bawahan mu" ucap Kalandra, rupanya laki-laki itu masih berlagak sombong.

"kehidupan" jawab Viona.

"ckckck, kau sudah ku beri kehidupan kau masih ngelunjak rupanya. seharusnya kau bersyukur aku masih memberikanmu kesempatan untuk bernegosiasi denganku, jika tidak kau Sudah menyusul Dixon saat ini" lanjut Viona.

"sekarang kau pilih, hidup atau mati" tanya Viona Mutlak.

Melihat Kalandra tengah berpikir membuat Viona jengah dan memutar bola matanya malas "jangan terlalu lama berpikir atau Leon akan segera menerkam mu"

"O-okay Okay, Deal aku pilih hidup. Aku akan bekerja untukmu"

"Nice, pilihan yang tidak buruk"

"kau tenang saja, setelah masa hukumanmu selesai kau tidak akan jatuh miskin. Kau akan mendapatkan gaji dariku, tapi setelah kau berhasil menyelesaikan misi yang akan ku berikan nanti, Right Understand?" tanya Viona yang langsung di angguki oleh Kalandra, membuat Viona tersenyum miring "Good Boy"

"Reynan kau dan pasukanmu urus mereka, Robert perintahkan separuh pasukanmu membantu pasukan Reynan mengurus anggota baru Cruel Devil, separuhnya ikut denganmu dan denganku" titah Viona yang langsung di angguki oleh anak buahnya.

Anggota Cruel Devil begitu banyak hingga Viona membagi per tim, setiap pasukan memiliki pemimpinnya masing-masing jika semua pasukan disatukan maka pemimpin pasukan akan menjabat sebagai panglima dan semacamnya karena pemimpin besar mereka adalah Viona.

Anggota Cruel Devil bukan hanya kumpulan pria saja tapi juga ada wanitanya, mereka semua menjadi satu kesatuan dan pastinya handal dalam bertarung. Terdapat pasukan khusus juga yang Viona bentuk, dimana pasukan khusus ini hanya berisi para wanita yang juga di pimpin oleh wanita. Pasukan khusus wanita ini terdiri dari 650 orang, sedangkan jumlah pasukan biasa berjumlah 500 orang yang berisikan pria saja atau campur pria dan wanita. Jumlah total anggota Cruel Devil sebanyak 3.650 orang yang dimana terdiri dari 1.650 anggota wanita dan 2.000 anggota pria.

Di tambah lagi kini mereka memiliki anggota baru yang akan dilantik menjadi anggota Cruel Devil yang belum di data berapa jumlahnya.

...****************...

Di sekolah, inti Alexand bertanya-tanya kemana Viona, mengapa gadis itu tidak masuk hari ini dan tidak ada keterangan. Itu karena 4 hari lagi mereka akan tampil untuk menyelesaikan tugas kesenian mereka.

"tuh anak kemana dah ngilang aja, kita baru latihan 2 kali ini. Awas aja kalo tuh anak lama ngilangnya pas Dateng gue banting sumpah" ucap Arbian.

"emang lo berani?" tanya Galang

"ya enggak lah" jawaban Arbian sontak membuat Galang dan Andrew Tertawa, Rafael hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Revan? Dia seperti sebuah manekin di toko pakaian, hanya diam saja tak bergerak maupun bersuara.

Revan sibuk dengan pikirannya sendiri, banyak pertanyaan di kepalanya. Tentang apa yang terjadi dengan sahabat mamanya, belum lagi Viona yang tiba-tiba menghilang dan Nona Vi mengatakan bahwa dia sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis jadi belum bisa bertemu untuk beberapa waktu.

'bagaimana bisa di waktu yang bersamaan?' tanya Revan dalam hati.

Ini sebuah kebetulan atau hanya firasat Revan belaka. Kepala Revan rasanya ingin pecah, belum lagi masalah perusahaan papanya yang berada di jakarta dan juga dia harus mengurus bisnisnya sendiri.

Sungguh Revan kelimpungan, isi kepalanya serasa ingin meledak. belum lagi teror yang di dapat di perusahaan papanya, sungguh Revan membutuhkan jurus membelah diri agar ia bisa menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dengan cepat dia sungguh lelah, pikirannya sangat lelah.

Rafael yang melihat Revan diam saja ia mengerti sahabatnya ini tengah merenung, dia tengah memikirkan masalah yang menimpanya. Rafael pun beralih duduk di bangku Viona dan menepuk-nepuk bahu Revan.

"semua akan baik-baik saja, kita selesain satu persatu secara bertahap oke?" ucap Rafael berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!