" kok gue ngerasa aneh ya sama nona Vi itu, bukankah seharusnya dia bisa ya ngelakuin itu, kaya ada alasan lain yang buat dia gak ngertas data dari suami dari sahabat nyokap Lo Van"
"bener gak, atau mungkin gak sih nona Vi itu orang suruhan suami sahabat nyokap Lo"
"Almarhumah" celetuk Arbian.
"Ck, iya iya almarhumah. Mau ganti profesi lagi lu Ar?" tanya Andrew.
"apalagi?"
"jadi ustadz " ucap Andrew lalu tertawa terbahak-bahak.
"Arbian mah gak cocok jadi ustadz yang ada makin sesat" ucap Galang.
"Ck, udah udah lanjut ke topik ngapa sih. Ngeroasting gua mulu kalian berdua"
Galang dan Andrew seketika terdiam dan saling memandang satu sama lain, tidak seperti biasanya Arbian akan seserius ini ketika tengah bercanda.
"gue setuju sama Galang" ucap Rafael.
"apa mungkin nona Vi ada kaitannya dengan suami dari sahabat nyokap Lo?"
"siapa sih suami dari sahabat nyokap lo Van?"
"Tuan Emmerson tapi ini masih praduga aja makanya butuh di selidiki makin dalem lagi, dan ini satu kesempatan gue buat tahu siapa nona Vi dan Siapa Viona"
"Gal, gimana lu udah berhasil retas data-data Viona?" tanya Revan.
"gabisa Van malah aksesnya tiba tib gak gue temuin lagi, atau mungkin gue di blokir atau entahlah bisa-bisanya data yang kemarin pas gue buka lagi malah Error"
"itu artinya Viona lebih handal IT daripada Lo Gal, sumpah keren sih. Apa nyokapnya Viona ini dulu pas hamil Viona ngidam Albert Einstein ya tokcer bener otaknya" ucap Arbian.
"Bener, semua nilainya gaada yang mengecewakan cuyy selalu sempurna. Angka 100 tuh langkah dalam nilai selain lu sama Rafael sekarang ada Viona, kalian berdua masih ada celahnya gak semua mapel dapet 100. Tapi Viona semua mapel dapet 100 dia" sambung Andrew.
"Sabi kalo ya kalo ulangan nyontek ke Viona" Celetuk Arbian.
"emang lu yakin Viona bakal ngasih?" tanya Andrew.
"he he gak yakin sih"
"eehh tuh, itu Viona bukan sih" ucap Arbian sembari menunjuk ke bawah ke tengah lapangan sekolah.
Inti Alexand kini tengah berada di Rooftoop.
"iya bener gak salah lagi, tapi kenapa dia di hukum yah?" tanya Andrew.
"apa dia telat masuk?"
"mungkin" jawab Rafael datar.
Sedangkan Revan hanya memperhatikan Viona dengan diam dengan tatapan tajamnya. Namun Rupanya Viona tidak sendiri, ada satu perempuan lagi yang berada di tempat itu. Jika Viona tengah hormat ke bendera, 1 perempuan itu sedang lari mengitari lapangan.
"itu Clarista bukan sih?" ucap Andrew.
"Beh iya itu si nenek lampir, si tukang bully itu gak sih" sahut Arbian.
"apa Viona di hukum karena berantem Ama Clarista ya? Tapi apa alasannya, gak mungkin kalo Viona di bully Clarista" ucap Galang.
Rafael yang sedari tadi bermain ponsel kini memperlihatkan layar ponselnya kepada teman temannya. Terdapat sebuah vidio yang diunggah oleh akun Instagram khusus berita sekolah, Vidio yang menunjukkan tindak bullying.
"Clarista lagi lagi ngebully murid yang lemah dan cupu" dengus Andrew.
"berarti gaada urusannya sama si Viona?" tanya Galang, karena di dalam vidio itu sama sekali tidak ada keberadaan Viona.
Namun tak lama kemudian ponsel mereka berlima berbunyi secara bersamaan, saat mereka mengecek ternyata ada pesan masuk di grup besar sekolah. Pesan itu adalah sebuah Vidio.
"ohhh bidadari pahlawanku" celetuk Arbian setelah melihat vidio itu.
Vidio itu adalah kelanjutan dari vidio bullying yang di lakukan oleh Clarista, yang dimana aksinya di cegah oleh Viona. Viona memiting tangan Clarista yang hendak menampar gadis cupu itu, Viona sama sekali tidak menjambak rambut Clarista namun Viona sedikit memotek leher Clarista. Mesti sedikit dan tidak menyebabkan patah tulang namun masih terdengar suara 'krek', walau tak membuat patah tulang tetap ngilu bagi Clarista.
"baru pertama kali liat Viona mau menolong orang lain di sekitarnya biasanya cuek-cuek aja seakan semua orang disekitarnya itu makhluk ghaib, tak terlihat"
...****************...
Hari ini hari yang berat untuk Viona, sebab ini kali pertamanya nona Vi akan bekerja berdampingan dengan orang lain. Viona harap tidak akan ada yang mengetahui identitas asli Viona ataupun mengenal Viona.
Meski bekerja sama Viona tetap memilih bekerja di kantornya sendiri, yah Zea punya kantor sendiri dari hasil jerih payahnya melakukan pekerjaannya Viona bisa membangun kantor untuk profesi rahasianya ini. Viona pun mengatakan bahwa mengerjakan di kantornya lebih efektif karena terdapat banyak alat yang canggih oleh sebab itu Rosa dan Revan menyetujuinya. Namun Viona belum mengetahui bahwa Revan lah yang akan menjadi partner kerjanya.
Disisi lain Revan telah sampai di kantor Viona, dia memakai mobil kali ini. Setelah memarkirkan mobilnya Revan pun masuk ke dalam kantor Viona yang bernama "Vi Croporation"
Vi Croporation terdaftar sebagai perusahaan jasa, yang dimana perusahaan ini menangani jasa agen rahasia. Selain agen rahasia ada juga jasa ART, Baby Sitter, supir pribadi yang dimana orang orang yang mencari pekerjaan ART akan datang ke perusahaan Vi Croporation yang dimana nanti mereka dicarikan tempat untuk mereka bekerja begitupun sebaliknya. Orang membutuhkan jasa-jasa itu akan menghubungi Vi Croporation untuk mendapat pekerja.
Revan yang melihat kantor nona Vi pun tertegun, tidak menyangka nona Vi memiliki perusahaan yang besar. Gedung yang tinggi dengan arsitektur yang unik dan elegan, bahkan furniture yang di dalam perusahaan itu terlihat sangat elegan. Revan semakin bertanya-tanya, jika nona Vi adalah Viona maka artinya perusahaan ini adalah milik Viona yang dimana gadis itu masih menginjak bangku SMA.
Revan pun sebenarnya juga punya perusahaan hasil usahanya sendiri, Revan sejak di bangku SMP sudah di ajarkan berbisnis oleh ayahnya, sering kali ayahnya mengajak Revan bekerja di perusahaannya entah sebagai asistennya atau pegawai paruh waktu. Namun tetap sesuai dari kualifikasi Revan yang juga diwawancarai oleh sekertaris ayahnya, ayah Revan bernama Arya Delvin Arsenio.
Meski Revan adalah putranya, bukan berarti dia bekerja tanpa persyaratan seperti karyawan lainnya. Arya benar-benar mengajarkan Revan dari bawah agar Revan tau bagaimana susahnya dunia bisnis.
"selamat pagi pak, ada yang bisa dibantu?" tanya scurity pada Revan.
"saya ada janji dengan nona Vi"
"baik mari saya antarkan ke ruangannya nona Vi"
Revan pun mengikuti scurity itu, banyak karyawan perempuan di perusahaan tersebut menatap Revan dengan tercengang. Bagaimana tidak mata ambernya mampu memikat siapapun yang menatapnya, hidung mancung, kulit putih bersih, bulu mata yang lentik, Rahang yang tegas, bibir berwarna merah muda yang natural yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal sangat pas, tubuh yang tinggi dan atletis, perempuan mana yang tidak tertarik, mungkin hanya perempuan yang penyuka sesama jenis saja.
Ruangan nona Vi berada di lantai 9, setelah sampai di satu ruangan scurity itu menekan tombol dan berbicara di depan tombol itu.
"nona Vi ada tamu untuk anda katanya sudah memiliki janji dengan anda nona" ucap scurity itu.
Lalu setelahnya lampu di samping alat komunikasi itu menyala berwarna hijau dan scurity mempersilahkan Revan masuk ke ruangan. lalu pintu pun terbuka otomatis seperti pintu lift, lagi lagi Revan tertegun fasilitas di perusahaan ini benar-benar canggih. Mungkin karena nona Vi ini Ahli IT jadi semua fasilitas dan keamanan disini menggunakan Teknologi IT. Setelah Revan masuk scurity pun kembali ke tempat dia berjaga.
"selamat pagi nona Vi" sapa Revan saat berada di depan meja nona Vi.
Nona Vi duduk membelekangi Revan sehingga Revan belum bisa melihat nona Vi. Nona Vi yang mendengar suara itu pun seketika terkejut, suaranya tidak asing bagi nona Vi. Nona Vi pun berbalik menghadap ke arah Revan, Revan pun memandang nona Vi dengan intens.
'sial' gerutu Revan dalam hati.
Bagaimana tidak kesal Revan berharap bisa melihat wajah nona Vi, setidaknya bisa melihat matanya namun nona Vi sangat tertutup meski berada di kantornya sendiri. Kacamata hitam, masker hitam, topi hitam dan Hoodie hitam. Tunggu, Revan merasa tidak asing dengan hoodie yang dipakai oleh nona Vi, mungkinkah....
"selamat pagi dengan siapa ini?"
"saya Revan Arsenio putra dari nyonya Rosa Arsenio yang akan menjadi partner anda dalam misi ini"
"anda pandai dalam bidang IT?"
Revan hanya mengangguk.
"baiklah, langsung saja?" tanya nona Vi yang hanya diangguki oleh Revan.
"baik ikuti saya" lalu nona Vi bangkit dari mejanya menuju lemari yang berada di dalam ruangan itu.
Dan ternyata lemari itu bukan hanya lemari biasa, setelah nona Vi menekan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Revan lemari itu terbuka dan dibaliknya ada pintu lift di dalamnya. Rupanya perusahaan ini juga banyak rahasia dan misteri seperti kepribadian nona Vi.
Nona Vi dan Revan pun masuk ke dalam pintu lift yang akan membawa Mereka entah kemana. Tak lama kemudian pintu lift itu berhenti dan mereka berada di lantai paling atas kedua di perusahaan ini, di atasnya masih ada 1 lantai entah ruangan apalagi yang ada di perusahaan ini. Saat sampai mereka langsung di suguhkan berbagai macam alat elektronik, Revan kini meresa seperti menjadi agen rahasia negara.
"kau duduk sebelah sini dan aku di sebelah sana, kau tunggu aba-aba ku supaya alamat dan datamu aman saat menerobos akses keamanan tuan Emmerson"
"dan yah di komputer itu kau menggunakan alamat rahasia mu dan aku akan memberikan virus menggunakan alamat ku"
'suara ini tidak asing, apakah benar dugaan ku selama ini' gumam Revan di dalam hati.
Mereka pun melakukan tugas masing masing dengan fokus.
"Revan sekarang coba masuk"
Revan terkejut nona Vi memanggilnya dengan namanya saja, namun Revan tetap profesional dan masuk mengakses keamanan tuan Emmerson.
"saya sudah menjaga data anda dengan keamanan yang saya buat, kalau sudah berhasil dapat datanya bilang, biar saya langsung transfer virus ke alamat tuan Emmerson"
Revan mengangguk tanda mengerti, Revan mengotak-atik komputer itu dengan handal, dia memasukkan coding dengan lancar.
"berhasil, dapet" ucap Revan setelah berhasil mendapat data tuan Emmerson.
Nona Vi pun langsung beraksi dengan menyebarkan virus pada keamanan alamat tuan Emmerson.
"Nice" ucap nona Vi setelahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dwi Sulistyaningsih
oh, dia
2024-01-28
2
Dwi Sulistyaningsih
Aku yang baca aja ikutan ngilu
2024-01-28
2