Rumah Terakhir Bunda

Revan dan nona Vi telah berhasil mendapatkan data tuan Emmerson, kini mereka duduk berdampingan mengecek data Abraham Arkana Emmerson. Viona tercengang dan Revan tersenyum tipis sangat tipis hingga tak terlihat, rupanya dugaannya benar.

Rhea Prameswari adalah istri dari Abraham Arkana Emmerson yang artinya kepanjangan inisial E dari Rhea adalah Emmerson, tuan dan nyonya Emmerson memiliki putra bernama Ezra Zafeer Emmerson. Seketika mata Viona berlinang air mata, Viola

mengalihkan kepalanya dan diam-diam menghapus air mata yang mengalir dari dalam kacamata hitamnya.

"salin data-data ini, tapi sepertinya jika kita bertanya bertanya pada tuan Abraham dia tidak akan mengatakan penyebab istrinya meninggal" ucap Viona.

"tapi dalam misi ini saya rasa adalah tentang keberadaan putri dari ibu Rhea" timpal Revan.

"apa ada bukti mengenai putri dari tuan Emmerson? bukankah sejauh ini tuan Abraham Ardana Emmerson dikabarkan publik hanya memiliki satu putra, jika memang dia memiliki 1 putri kenapa tidak di publish?"

"bisa saja ada kaitannya dengan meninggalnya istrinya bukan?"

Revan terkejut, dia tidak berpikir sejauh itu tapi nona Vi bisa memikirkan hal sejauh itu. Apakah dia mengetahui sesuatu tentang teka-teki tuan Abraham atau memang dia seperti ini karena sudah terbiasa dengan profesinya?.

'selain misi ini Viona dan Nona Vi masih mempunyai banyak teka-teki, sebenarnya siapa kalian? Gue semakin penasaran sama kalian' gumam Revan di dalam hatinya.

...****************...

"ma,mama,mama dimana?" teriak Revan saat masukk ke dalam rumanya.

Rosa yang berada di dapur utama yang pun langsung keluar menghampiri putra satu-satunya itu.

"kenapa Revan? ada apa? Kenapa teriak teriak" tanya Rosa setelah mendekati Revan.

"ma ternyata bener, tuan Abraham Ardana Emmerson adalah suami dari sahabat mama"

Rosa terkejut dan menampilkan senyumannya yang manis.

"akhirnya, tapi..." Rosa menggantung ucapannya.

"selama ini tuan Abraham hanya memiliki satu putra bukan? Tidak ada kabar mengenai putrinya dan yang selalu di publish pun hanya putranya"

Revan mengangguk "seperti yang nona Vi katakan pada Revan tadi ma, sepertinya ada sesuatu lain yang tersembunyi mengapa tidak ada kabar mengenai putri tuan Emmerson "

"nona Vi bilang..." Revan ragu untuk mengatakan pada ibunya ini, takut akan menyakiti hati ibunya.

"bilang apa Van?"

namun bagaimana pun juga mamanya harus tahu daripada mamanya tahu dari orang lain lebih baik dari dirinya saja.

"kemungkinan ada hubungannya dengan kematian sahabat mama, itu yang di pra duga oleh nona vi. Namun kita belum tahu kejelasannya bagaimana"

Rosa seketika murung, dia memiliki firasat yang tidak baik. Apa yang terjadi pada sahabatnya itu? Apakah selama dia hidup dia tidak bahagia atau bagaimana?

Rosa merasa Rhea bahagia, sangat jelas sekali saat dia sudah menikah dan saat dia hamil pertama bahkan saat dirinya bertemu dengan Rhea bersama anak-anak pertama mereka. Rhea cerita banyak hal, tentang pernikahannya tentang rumah tangganya semua berjalan dengan normal dan bahagia. Rhea menikah atas dasar cinta bukan karena perjodohan jadi sudah dipastikan sahabatnya ini bahagia, begitulah pikiran Rosa.

Sepertinya Rosa harus bertemu dengan tuan Abraham agar dia tahu bagaimana kejelasannya.

"Revan sepertinya untuk mendapat kejelasannya mama harus menemui tuan Abraham"

"tapi ma apa gapapa? Kalau bahaya?"

"dia rekan baik bisnis papamu, setau mama selama ini dia baik, dia dermawan, bertanggung jawab bahkan dia donatur di sekolah-sekolah anak dari keluarga yang kurang mampu dan juga sering beramal ke panti asuhan. Jadi mama rasa dia tidak jahat Van"

"tapi ma"

Rosa paham akan ke khawatiran putranya itu, dia sama sekali tidak risih dia senang anaknya sangat peduli dan perhatian padanya. Rosa sangat bersyukur mempunyai anak seperti Revan dan Renata. Anak-anaknya sangat baik, ramah, sopan santun. Meski anak-anaknya tumbuh dia keluarga kaya mereka tidak sombong, sangat rendah hati, dan dermawan. Rosa terharu didikannya dan suaminya tidak gagal, bahkan lebih dari apa yang mereka harapkan putra putrinya ini selalu membuat orang tuanya bangga.

"kamu tenang aja, biar mama di temani papa yah"

Revan menghela nafas dan mengangguk. Setidaknya ada papanya yang akan menjaga mamanya.

'sekarang gue harus cari cara untuk memastikan kebenaran nona Vi dan Viona, mereka hampir memiliki persamaan, mulai dari tinggi badan, suara dan postur tubuh. Selain melihat wajah nona Vi atau matanya gue harus cari cara yang lain, Alternatif apa yang bisa' gumam Revan bermonolog di dalam hati.

'Viona siapa Lo sebenarnya, apa bener yang dikatakan mama kalo lo sebenarnya menyimpan banyak luka? Mama bilang dia bisa melihat itu dari surai mata Lo. Viona siapapun Lo, Lo udah berhasil menarik simpati mama gue sampai dia nitipin lo ke gue buat jagain lo'

...****************...

Menangis dalam diam, bukankah itu hal yang paling menyakitkan bukan?

Seperti itulah keadaan Viona saat ini, Viona berhenti di tengah jalan karena tak kuasa menahan kesedihannya memutuskan menepikan dirinya, kini dia berada di taman pinggir jalan, di dalam helmnya tidak ada orang yang tau bahwa gadis itu sedang menangis.

'bun, kenapa semakin Viona cari semakin Viona sakit? Sebenernya apa yang terjadi sama bunda? siapa yang sebenarnya tega membunuh bunda? Bun, Viona sudah ketemu sama sahabat bunda, apa sifat bunda sama seperti sahabat bunda? Viona butuh pelukan dari bunda, Viona butuh pelukan Bun" Isak tangis Viona dalam hatinya

Ingin sekali Viona menjerit, berteriak sekuat-kuatnya untuk meluapkan rasa sakitnya. Seumur hidupnya dia baru mengetahui nama ibu yang telah melahirkannya setalah menginjak usia 17 tahun. Ini bukan sweet seventen buat Viona namun **** seventen. Saat tengah asik merenung Viona melihat mobil yang familiar bagi Viona.

'mobil papa? Itu mobil papa kan?' tanya Viona dalam hati.

Tanpa basa-basi lagi Viona langsung mengikuti mobil papanya, ia penasaran kemana papanya akan pergi di jam kantor seperti ini.

Viona mengikuti papanya dengan diam-diam, dia sedikit memberi jarak agar tidak di curigai oleh papanya. Tak berapa lama mobil papanya berhenti, Viona pun ikut berhenti dari kejauhan. Namun seketika Viona merengut, melihat tempat yang papanya kunjungi ini.

'ngapain papa kesini?'

Viona mengendap-ngendap mengikuti papanya yang berjalan kaki menuju suatu tempat, tak berapa lama papanya berhenti di satu pusaran. Terlihat papanya berjongkok dan menaruh bucket bunga di tanah, Viona mencoba mendekat dan bersembunyi di balik pohon yang berada tak jauh dari papanya.

"sayang, mas kembali. Maaf baru bisa kesini lagi"

Viona penasaran siapa yang dipanggil sayang oleh papanya?

"Rhea maaf"

Deg..

Sekujur tubuh Viona seketika kaku, nafasnya tercekat. Dia tidak salah dengar bukan, papanya baru saja menyebut nama bundanya? Itu berarti.

"maaf mas belum bisa menyayangi putri kita dengan baik, mas bingung, mas masih terpukul atas kepergian kamu. Tidak bisakah kamu muncul di mimpi mas sekali saja ceritakan apa yang terjadi sebenarnya, ma janji mas akan percaya. Mas selalu percaya sama kamu sayang"

"waktu Viona masih kecil kamu sering datang ke mimpinya kan? Kenapa gak pernah dateng ke mimpi mas? Viona selalu mengatakan bahwa dia selalu bertemu sosok perempuan yang mengatakan dia adalah ibunya, itu kamu kan?"

"apa sampai sekarang kamu masih sering datang ke mimpi Viona? maaf kalo mas marah sama Viona kecil saat dia cerita kamu datang ke mimpinya, sefrustasi itu mas tanpa kamu sayang" seketika tangis abraham pecah, laki-laki paruh baya ini menangis dengan pilu. Siapa saja yang melihatnya pasti ikut merasakan kesedihannya, kehilangan orang yang disayang adalah hal yang sangat menyakitkan, meski sudah ikhlas namun tetap membekas.

"mas pamit pulang yah, nanti mas kesini lagi. ingat sayang mas akan selalu mencintai kamu, i love you" ucap Abraham sambil mengecup batu yang terukir cantik.

Setelah kepergian Abraham dan laki-laki itu telah pergi dengan mobilnya, Viona mendekat ke tempat dimana papanya tadi berdiam diri. kakinya sangat berat saat melangkah, dengan sedikit bergetar Viona terus melangkah. Setelah sampai sekujur tubuh Viona bergetar menahan Isak tangis, bibirnya kaku, mata birunya kini tengah berkaca-kaca, Viona pun berjongkok.

"B-bunda..." ucapnya gemetar.

"i-ini bunda..??" seketika air mata Viona menetes dia tidak bisa membendung air matanya.

Viona pun memeluk batu nisan itu, baru nisan yang bertuliskan nama bundanya. Tangisan begitu terasa menyesakkan dada, Viona seperti gunung merapi yang meletus.

Dia menangis sejadi-jadinya, sepertinya semua luka yang dia pendam kini meluap. Viona tidak pernah menangis seumur hidupnya, untuk pertama kalinya Viona menangis, dia menangis di pusara bundanya.

Dia, dia adalah putri semata wayangnya tuan Abraham Ardana Emmerson. Dia adalah cucu perempuan keluarga Emmerson yang tidak dipublikasikan. Dia rahasia terbesar keluarga Emmerson. Dia adalah putri yang tidak di anggap oleh tuan Abraham, putri yang tidak pernah di kenalkan pada publik.

Viona Ardelina Emmerson. Seorang anak yang tidak diperbolehkan menggunakan marga keluarganya sendiri, seorang anak yang tidak di perlakukan seperti anak sendiri, seorang anak yang hidup dengan mencari biaya sendiri, seorang anak yang hidup namun seperti mati.

Terpopuler

Comments

Dwi Sulistyaningsih

Dwi Sulistyaningsih

sakit, pake banget.

2024-02-03

1

Dwi Sulistyaningsih

Dwi Sulistyaningsih

Iya. Bisa jadi gitu faktanya, atau mungkin entahlah.

2024-02-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!