Bab. 3
Seorang pria yang akan menuju ke kamarnya, melewati sebuah lorong kamar hotel yang tampak sepi. Ingin melemaskan kakinya dengan sedikit berjalan-jalan. Sebab seharian dia hanya berada di dalam kamar, tanpa melakukan hal yang berarti. Malam ini dia baru saja dari taman. Menghirup udara segar
yang hanya bosa dia lakukan di malam hari. Sebab, ada suatu kondisi yang tidak
memungkinkan dia berada di luar ruangan jika di siang hari.
“Ck! Orang mabuk lagi,” ujar pria itu ketika melihat ada seorang wanita yang berjalan sempoyongan di depannya. Bahkan tangannya sampai bertumpu pada dinding. Mungkin karena ingin menjaga keseimbangan tubuhnya.
Mulanya pria itu ingin mengabaikan dan berjalan melewati wanita yang ada di depannya tersebut begitu saja. Namun, di saat jarak mereka semakin dekat pria itu dibuat terkejut saat mengetahui siapa wanita yang terlihat kesakitan tersebut.
“Bukankah dia Meena? Artisnya Sita?” ujar pria yang bernama Gentama Tatsuya. Seorang Presdir di Paramount Pictures. Di mana perusahaan tersebut merupakan rumah produksi yang cukup besar di negara ini.
Paramount Pictures tersebut juga merupakan tempat di mana perusahaan yang menaungi Meena. Sehingga sudah jelas Tama sangat tahu wajah-wajah artisnya yang memppunyai prestasi sangat gemilang. Serta bakat yang
di miliki wanita yang sekarang ini ada di gendongannya pun memang sangat
memukau.
Ya. Karena tidak tega melihat Meena tampak begitu kesakitan pun pria itu memutuskan untuk menggendongnya. Beruntung, Meena dalam keadaan setengah sadar. Sehingga Tama tidak khawatir kalau sampai Meena mengenali dirinya.
“Di mana kamarmu?” tanya Tama.
Kemudian Tama menuju ke kamar yang di sebutkan oleh Meena. Beruntung juga Meena masih bisa menjawabnya dengan benar.
Tama memperhatikan kondisi Meena, lalu pria itu mengernyitkan kening. Seperti ada yang janggal dengan kondisi Meena saat ini.
Tama tahu betul jika ini bukan karena pengaruh alcohol. Di tambah lagi Tama
sama sekali tidak mencium aroma alcohol dari tubuh Meena.
“Badannya juga nggak panas. Tapi kenapa kok keringatnya dari tadi keluar terus,” gumamnya dalam hati sambil menyentuhkan tangannya di kening Meena di kala dirinya baru saja merebahkan wanita itu di atas tempat tidur.
“Sakit … sakit … Mama …” rintih Meena. Wanita itu mengernyit, menahan rasa sakit yang mungkin teramat sangat. Bahkan sampai
mengguling ke samping kiri lalu berganti ke kanan.
Tama mencoba untuk mengamati lebih dulu keadaan Meena, baru setelah tidak tega melihat wanita itu yang semakin merintih kesakitan pun akhirnya Tama memutuskan untuk melakukan hal yang selama ini sudah lama tidak dia lakukan. Lebih lagi ketika mencium aroma tubuh Meena yang sangat menggugah seleranya.
Tama mendekatkan wajahnya ke arah Meena yang masih bergerak gelisah dan merintih sakit dengan mata terpejam. Ia menatap sebentar lalu mendekatkan bibirnya ke arah leher Meena.
“Maaf, mungkin akan terasa sedikit sakit. Tapi percayalah, setelah ini kamu tidak akan merasakan sakit ini lagi,” ujar Tama sebelum
menggigit leher Meena dan melihat sekilas mata wanita itu terbuka.
Tama tidak khawatir sama sekali kalau nanti Meena akan mengenalinya atau mengingat kejadian ini. Sebab biasanya manusia yang di gigit oleh rasa mereka pun tidak akan mengingat sedikit pun kejadian tersebut.
Ya. Tama bukanlah manusia biasa seperti Meena. Pria itu berasal dari ras peminum darah. Namun, ada sebagian dari ras mereka yang sudah tidak menghisap darah dari manusia secara langsung seperti ini. Sebagian dari mereka meminum darah dari babi atau sapi sebagai pengganti darah manusia.
Meskipun rasanya lebih lezat darah manusia, namun efek yang ditimbulkan pun juga sangat luar biasa. Mereka akan merasa terus menerus ingin menghisapnya hingga tanpa sadar sampai menyebabkan kematian.
Oleh sebab itu, ada beberapa tetua yang sudah melarang mereka untuk tidak minum darah manusia lagi. karena mereka sekarang ini hidup secara berdampingan dan demi menjaga keseimbangan antar kedua ras yang berbeda.
Setelah di rasa cukup, Tama menjauhkan wajahnya dari Meena. Pria itu mengusap bibirnya yang basah. Menjilat ujung bibirnya yang terasa masih begitu manis.
“Pantesan aromanya beda. Darahnya sangat manis sekali,” ujar Tama.
Meskipun tidak sampai kenyang, Tama melakukannya untuk sebuah pertolongan. Lalu dia menggigit ujung jarinya hingga mengeluarkan darah segar, lalu memasukkan ke dalam mulut Meena.
“Ini sebagai pencegahan agar darahmu tidak tercium oleh vampire lain. Juga sebagai symbol kalau sudah ada vampire yang melakukan perjanjian dengan dirimu,” ujarnya kenudian. “Kau artis yang bekerja di bawah
pengawasanku. Jadi aku harus bertanggung jawab dengan kesehatanmu. Paling tidak
ini menekan rasa sakitmu untuk beberapa hari ke depan.”
Setelah mengatakan itu, Tama segera pergi dari sana dan meninggalkan Meena sendiri di kamarnya. Sebelum wanita itu sadar dan melihat dirinya ada di sana. Akan panjang nanti urusannya.
Baru pertama ini Tama peduli pada seorang manusia. Lebih lagi ini artisnya sendiri. Padahal selama ini Tama tidak pernah menunjukkan dirinya di hadapan para bawahannya. Pria itu cukup misterius dan hanya keluar di saat mentari menyembunyikan sinarnya. Lebih lagi jika ada keperluan apa-apa, selalu melalui asistennya.
Pagi harinya, Meena merasa tubuhnya terasa begitu bugar. Terasa lebih sehat dari sebelum-sebelumnya wanita itu pun langsung beranjak dari tempatnya dan menatap ke cermin.
Benar saja, ia tidak melihat wajanya yang sayu jika tanpa make up. Kulitnya pun terasa lebih kencang dan kenyal.
“Aneh banget. Kenapa rasanya lebih sehat dari kemarin, ya? Bahkan kepalaku juga sudah nggak sakit sama sekali.Padahal aku ingat betul, kalau semalam aku pingsan. Terus siapa yang bawa aku ke sini,” gumam Meena yang bingung dengan kondisi dirinya sekarang ini.
Berada di kamar, tubuhnya terasa sehat, dan yang lebih mencengangkan lagi, sudah ada makanan di atas nakas samping tempat tidur.
“Siapa yang melakukannya?”
Meena tampak mengingat kembali kejadian semalam. Ada yang janggal dan membuat Meena merasa was-was. Takut kalau sampai ada berita yang tidak mengenakkan mengenai dirinya.
Samar-samar ia mengingat ada sosok pria yang menolong dirinya. Lalu pria itu tampak sedang membicarakan sesuatu kepadanya, namun sayangnya Meena tidak ingat sama ssekali.
“Astaga!” pekiknya kemudian dengan wajah yang sangat terkejut. “Nggak. Nggak mungkin. Dia nggak pernah terlihat selama ini.” tolak Meena kemudian sembari menggeleng kepala.
Meena pernah sekali bertemu dengan pria itu tanpa ssengaja. Jadi, ia masih ingat betul wajah pria itu dan tahu siapa dia yang sebenarnya.
“Tapi jika benar itu kamu, aku bakalan membuat sesuatu yang menguntungkan diriku,” ujar Meena setelah memastikan kalau pria yang semalam itu merupakan pria yang ada dalam pikirannya saat ini. “Sepertinya kamu melupakan sesuatu,” lanjutnya lagi dengan senyuman yang senang. Karena di dalam kepalanya sudah tersusun rencana untuk bisa membuat pria itu selalu berada
dalam jeratannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
️W⃠️️CeMeRLa️nG🌹
cerita nya bagus thor tentang vampire tapi tulisannya amburadul, maaf tolong koreksi lagi biar ga kabur readernya🙏
2023-03-14
0