Bab. 14
Tidak hanya manager Sita yang kaget ketika membuka pintu ruang rawat inap milik Meena. Malainkan juga Tama.
Dirinya sudah hidup seribu tahun, akan tetapi tidak pernah merasa berdebar seperti ini ketika melihat seorang wanita. Ini kali pertamanya bagi Tama melihatnya secara langsung.
Bukan. Bukan hanya seorang wanita saja. Lebih jelasnya bentuk tubuh wanita yang terekspose bebas seperti yang ada di hadapannya saat ini.
Pinggang yang ramping, pinggul yang lebar serta dadaa yang cukup besar dan kencang itu mampu menarik Tama dalam delusi. Entah, apa yang ada dalam tubuh wanita itu sehingga mampu membuat Tama terpaku olehnya. Bahkan suara manager Sita yang ada di sampingnya saja seolah tidak mampu menariknya agar kembali sadar. Dan hanya tangan wanita itu yang mampu melakukannya.
"Haish! Kenapa nggak ganti baju di dalam aaja, Meena?" geram manager Sita.
Lalu buru-buru wanita itu menutup mata Tama. Karena pria yang ada di sampingnya ini seolah tidak rela melewatkan pemandangan yang ada di depannya. Sampai-sampai menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Jaga pandangan matamu, pria tua!" geram manager Sita yang sangat berani sekali mengatai presdirnya.
Tentu saja hal tersebut membuat Meena dan Digta terkejut. Namun, itu hanya sementara. Karena Meena memilih untuk segera menyambar bajunya dan berjalan menuju kamar mandi.
Meena merasa sangat malu sekali dengan barusan yang terjadi kepadanya. Bisa-bisanya dirinya sangat ceroboh sekali. Kenapa juga ganti pakaian di sana. Sekarang, mau ditaruh di mana mukanya. Rutuk Meena.
Sedangkan Tama mencoba untuk mengatur napasnya. Bisa-bisanya dia juga terlena dengan keindahan tadi.
"Ck! Dasar, mata pria memang sama aja ya," decak manager Sita yang sedang menyindir pria di sampingnya saat ini. "Kukira kamu tuh udah hidup lama, nggak napsu lagi sama begituan. Eh, malah nggak berkedip sama sekali pas liat yang bening-bening. Besar dan kenceng banget kan?" bisik manager Sita yang langsung mendapat tatapan tajam dari Tama.
Bukannya takut, manager Sita malah menggodanya dengan perkataan yang vulgar. Karena wanita itu tahu betul, meskipun presdirnya ini sudah hidup sangat lama, tapi untuk urusan seperti itu sama sekali bukan kemampuan Tama. Bahkan bisa dipastikan jika pria yang ia tahu berbeda ras dengannya tersebut masih murni.
"Aku pergi," ujar Tama dengan nada datar.
"Eh, nggak bisa gitu. Temui dulu Meena," cegah manager Sita.
Digta yang hanya bisa diam melihat interaksi di antara dua orang yang ada di hadapannya saat ini. Wanita itu juga cukup kaget dengan interaksi manager Sita dan sang Presdir. Mereka terlihat seperti dua teman lama. Digta tidak menyangka kalau manager Sita sangat dekat dengan atasan mereka.
"Kamu nggak lihat, ini hamp—"
"Meena! Kamu pulangnya sama Pak Presdir, ya? Aku ada urusan sebentar sama Digta!" teriak manager Sita yang memotong ucapan Tama seenaknya sendiri.
Belum sempat mendapat sahutan dari Meena, manager Sita langsung menarik lengan Digta dengan paksa. Wanita itu memberi Digta sebuah kode dari kedipan matanya agar mengikuti dirinya.
"Tapi ini—"
"Udah, tinggal aja. Nanti Pak Presdir yang bawain. Ya kan, Pak?" sahut manager Sita memotong cepat ucapan Digta yang sebenarnya keberatan meninggalkan Meena dengan pria yang terlihat mengerikan meskipun wajahnya sangat tampan dan memiliki garis wajah yang simetris.
Tama mendengkus kesal kesal melihat sikap manager Sita yang seenaknya sendiri. Tidak tahu apa kalau hari sudah mau siang dan itu sangat beresiko baginya.
Sepeninggal manager Sita dan Digta, Meena pun keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut. Wanita itu tampak canggung ketika tidak mendapati manager serta asistennya.
"Kak Sita sama Digta di mana, Pak?" tanya Meena tanpa berani menatap ke arah Tama. Ia masih merasa sangat malu atas kejadian tadi.
"Sudah pergi," jawab Tama singkat dan datar.
Lalu pria itu mengambil barang-barang Meena dan membawanya untuk keluar dari sana. Karena Meena sudah tidak merasa sakit lagi, sehingga diperbolehkan keluar. Lebih tepatnya memaksa keluar.
"Terus, saya sama siapa?" kali ini tatapan mereka saling bertemu.
Dalam beberapa detik mereka saling menatap tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka. Hingga pada akhirnya Tama yang menghindar. Membuang muka ke arah lain.
"Pulang sama saya," ucap Tama mengusir kecanggungan yang terjadi di antara mereka. Padahal sebelumnya ia biasa saja, meskipun melihat Meena berpakaian seksi sekali pun. Akan tetapi tadi sedikit berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Puspa Trimulyani
berarti Sita juga vampire??
2023-03-16
0