Bab. 2
Selama masa liburannya, Meena benar-benar menikmati waktunya dengan rebahan di rumah, dan terkadang juga jalan-jalan di taman bersama dengan Digta. Hal yang selalu menjadi list Meena jika wanita itu libur kerja.
Memanjakan matanya dengan pemandangan yang ada di taman.
Terkadang juga Meena belajar memasak, tentu dia belajar dari managernya di kala dia sedang senggang. Karena tidak hanya Meena saja yang sibuk. Managernya yang bernama Rosita itu pun juga sama sibuknya dari Meena. Sebab, dialah orang yang mengatur segala jadwal Meena selama ini. Meena sukses pun juga karena orang itu.
“Meena, untuk gaun nanti malam sudah ada?” tanya manager Sita kepada Meena. Wanita baru saja masuk ke dalam kamar Meena sembari membawa paper bag yang ada di tangannya.
Meena yang sedang membaca naskah untuk persiapan syuting lusa pun, mengangkat kepalanya. Menatap ke arah managernya.
“Belum ada, Kak. Memangnya harus banget hadir ya, Kak? tanya Meena dengan begitu polosnya. Padahal dia bukanlah artis kemarin sore.
Manager Sita terlihat menghela napas. Seperti biasa, Meena memang selalu ingin kabur jika ada acara seperti ini.
“Wajib, Meena. Kan ini drama yang kamu bintangi. Ya kali pemeran utamanya enggak datang. Bisa hancur nanti pemasaran itu drama. Terus si pak Hendra bakalan ceramah sepanjang malam kalau sampai kamu nggak datang. Secara, dia itu juga fans kamu,”
beritahu manager Sita.
Tentu saja wanita itu tidak akan membiarkan Meena mangkir begitu saja. ia sudah menduga, jika Meena belum menyiapkan apapun untuk nanti malam.
“Pasti kamu juga nggak siapin gaun untuk pesta nanti malam, kan?” tebak manager Sita.
“Memang belum, Kak!” bukan Meena yang menjawab, melainkan Digta yang baru masuk dengan membawa semangkuk mie kuah di tangannya.
Baunya bengitu kuat hingga mampu menarik selera makan Meena. Gegas, wanita itu langsung turun dari sofa dan menghampiri. Tangannya sudah terulur dan mau meraih garpu yang ada di atas mangkuk. Namun, dengan segera manager Sita menepis tangan Meena. Wanita itu menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
“No no no,” ujarnya. “Bentar malam ada acara. Tubuhmu harus terlihat sempurna. Nggak boleh keliatan buncit sama sekali. Ingat, semua kamera akan mengarah padamu,” ingatnya lagi.
Meena langsung menarik tangannya kembali dan memasukkan ujung jarinya ke dalam mulut.
“Dikit saja loh, Kak,” pintanya dengan tatapan memohon.
Manager Sita tetap menggelengkan kepalanya. Menolak permintaan Meena.
“Lebih baik cepat mandi dan bersiap untuk datang ke acara nanti malam. Karena aku nggak bisa temani kamu, jadi kamu pergi sama Digta saja, ya?” ujar manager Sita yang tidak bisa ikut dalam acara nanti malam.
“Memangnya Kak Sita mau ke mana?” tanya Digta yang sangat penasaran.
“Ada kerjaan lain. Meeting sama penuli yang pingin Meena main di karyanya. Tapi masih rembukan dulu sih. Soalnya dia juga belum nemu produser yang pas,” jawab manager Sita.
Sementara Meena yang sudah tergiur dengan aroma mie kuah yang di bawa Digta, pun wanita itu mencuri kesempatan untuk mencicipi makanan yang sudah lama tidak dia makan. Namun, tetap ketahuan juga oleh mata elang manager Sita.
“Udah, sana buruan bersiap. Nanti mobilnya datang satu jam lagi. jadi waktumu tinggal sedikit, Nona,” ujar manager Sita memberitahu yang kemudian pergi berlalu begitu saja dari sana.
Tidak ada pilihan lain selain menurut, Meena pun segera melakukan apa yang disarankan oleh managernya. Wanita itu membersihkan diri seperti biasa lalu segera mengambil paper bag yang di bawa oleh manager Sita
tadi. Ternyata, di dalam sana sudah ada gaun berwarna merah menyala. Benar-benar sangat kontras sekali dengan kulit Meena yang sangat putih.
“Ini beneran disuruh makai ini?” tanya Meena seraya menatap pantulan dirinya dari balik cermin. Bergerak ke kanan dan ke kiri, menatap punggung dan bahu yang bebas tanpa penutup sama sekai.
Meskipun roknya sangat panjang, namun bagian belakang dan atas tubuh Meena sangat terbuka. Hanya di kaitkan dengan sutas tali yang melingkar di belakang lehernya.
“Di paper bag tadi Cuma ada gaun itu, Kak,” jawan Digta yang mencoba untuk memeriksa paper bag tersebut. “Lagian pantes kok Kak Meena makai ini. terlihat seksi dan elegun,” ujar wanita itu lagi.
“Elegan!” ingat Meena.
Digta meringis, menampilkan beberapa giginya yang berjajar begitu rapi. “Ya itu maksudnya, Kak.”
Lagi dan lagi Meena menghembuskan napas kasar. Wanita itu sedikit risih menggunakan gaun yang terbuka seperti ini jika menghadiri sebuah pesta. Ia terasa kurang nyaman. Karena merasa banyak pasang mata yang akan menyorotnya.
Walaupun ketika syuting tidak jarang Meena mengenakan pakaian yang hampir sama seperti ini, namun wanita itu merasa biasa saja karena hanya sebentar dan menyorot dirinya ialah beberapa kamera. Bukan beberapa pasang mata yang seperti ingin sekali menelanjangi dirinya.
Namun, ini lah salah satu resiko yang harus Meena terima di saat memutuskan untuk terjun di dunia hiburan seperti ini.
“Ya sudah, yuk, berangkat!” ajak Meena setelah selesai dengan penampilannya yang benar-benar memukau malam ini.
Sesampainya di tempat pesta, tentu saja Meena bertemu dengan banyak artis dan juga beberapa penulis yang memang sengaja di undang untuk menghadiri pesta selsainya mini drama yang baru saja dibintangi oleh Meena.
Acara pun berlangsung hingga sangat malam. Meena yang hanya mengenakan pakaian yang terbilang terbuka di bagian atasnya pun merasa tubuhnya kurang nyaman dan sepertinya sakit kepala itu kambuh lagi.
Sebelum menjadi masalah, dengan segera Meena melipir keluar dari aula tersebut, bahkan ia tidak sempat memanggil Digta. Rasa sakit yang mulai terasa pun membuat Meena tidak bisa menunggu lebih lama.
Ia berjalan melewati lorong kamar-kamar yang ada di hotel tempat berlangsungnya acara. Lorong tersebut sangat sepi, sehingga membuat Meena lebih leluasa. Ia tidak takut kalau sampai ada kamera yang menyorot
dirinya.
“Kenapa datangnya tidak tepat waktu sama sekali, sih!” keluh Meena seraya memegang kepalanya.
Wanita itu sudah tidak tahan. Tubuhnya terasa lemas, pandangannya pun mulai kabur.
“Aaakhhh … sakit banget ….!” Rintih Meena sembari tangannya bertumpu pada dinding agar tubuhnya tidak merosot jatuh begitu saja.
Meena mencoba untuk berdiri tegak dan berjalan tertatih menuju kamar yang sudah di pesankan oleh Digta sebelumnya. karena tadi pak Hendra sempat bilang acaranya akan sampai dini hari. Sehingga untuk jaga-jaga
seperti ini Meena menyuruh Digta pesan kamar.
Walaupun dengan susah payah, namun pada akhirnya tubuh Meena kalah dan terjatuh juga. Benar-benar lemas tidak punya tenaga, sedangkan tangannya terus meremas kepalanya sendiri yang terasa sungguh luar biasa sakitnya.
Dan di sela-sela antara sadar atau tidak, Meena melihat ada sosok laki-laki yang berjalan mendekat ke arahnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dan membawa dirinya melangkah ke depan.
“Di kamar berapa?” tanya laki-laki yang tidak bisa Meena lihat wajahnya. karena posisi laki-laki itu membelakangi cahaya sinar lampu.
“407,” jawab Meenaa yang menurut.
Pun kemudian pria itu membawa Meena ke kamar yang di sebutkan tadi. Sesampainya di sana, Meena direbahkan di atas ranjang. Pria itu tampak melihat keadaan Meena yang sangat menyedihkan. Sehingga entah kenapa
tiba-tiba saja pria itu membungkuk dan menempelkan bibirnya di leher Meena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Lee Yuta
baru sadaarr😭
up langsung dari laptop, kenapa begindang deh jadinya. hiks😭
2023-03-14
0
️W⃠️️CeMeRLa️nG🌹
kok penyambungan katanya kek gini ya thor, yg harusnya lanjut malah ada di bawah, mohon koreksi thor, mungkin spasi otomatis atau apa
2023-03-14
0
Puspa Trimulyani
vampir???
2023-03-14
1