Ch. 16

Bab. 16

Gemas dengan sikap Tama yang terus mengelak, padahal Meena bukan wanita yang bodoh dan bisa ditipu begitu saja. Bahkan aroma parfum orang itu sama persis dengan apa yang ada di Tama sekarang ini.

Namun, pria itu terus saja mengelak. Atau mungkin dia berusaha untuk menutupi semuanya demi keamanan dan juga konflik yang akan terjadi setelahnya kalau sampai ini semua ini terungkap.

Oke, kalau begitu Meena tidak akan menyiapkan kesempatan bisa berdua seperti ini dengan sang Presdir. Karena dari tebakan Meena sebelumnya dan juga risetnya akan suatu ras yang sangat Meena curigai. Dia mendapatkan sebuah fakta yang cukup mengejutkan dan menantang. Hal itu jelas akan Meena coba kepada pria keras kepala ini.

Dengan tarikan napas panjang serta perhitungan yang matang, Meena mengulurkan tangannya ke belakang kepala Tama dan dalam satu tarikan, bibir mereka pun menyatu.

Jika saling menempel bibir bukan kali pertamanya untuk Meena, namun lain hal bagi Tama. Dia memang pernah mencintai seseorang dalam hidupnya, namun segera dia hapus karena itu sebuah ketidak mungkinan terjadi.

Hidup selama seribu tahun pun juga tidak bisa membuat Tama mempunyai banyak kemampuan mengenai bidang yang satu ini.

Tubuhnya membeku tanpa bisa merespon perintah dari otaknya untuk mendorong wanita yang saat ini masih menem ... bukan. Lebih tepatnya Meena sedang mencium dirinya.

Meena berusaha sendiri untuk menerobos masuk ke dalam benteng pertahanan mulutnya yang terkunci rapat, hingga tanpa di sangka wanita itu justru mencari celah dan kesempatan dengan cara menggigit bibir bagian bawah hingga berdarah. Bibirnya sendiri. Bukan bibir Tama.

Secara refleks dari sikap keterkejutannya, gegas Tama menghisap cairan merah yang keluar dari bibir Meena. Membuka mulutnya dan tentu saja Meena diam-diam menarik sudut bibirnya ke atas. Tersenyum puas karena ia mendapat jawaban dari respon tubuh Tama secara langsung. Bukan dari perkataan pria itu yang penuh akan dusta.

Ketika merasakan nyeri yang luar biasa di bibirnya, serta tubuhnya seakan gemetar dan mulai lemas, sekuat tenaga Meena mendorong dada Tama agar menjauh darinya.

"Haaahh ....!"

Hampir saja Meena benar-benar habis oleh pria ini. Namun, bukannya takut Meena justru menyunggingkan senyumannya. Puas akan sesuatu hal yang sudah bisa dia pastikan.

"Sekarang anda tidak bisa mengelak lagi, Pak Presdir," ucap Meena seraya mengusap bibirnya yang masih terasa ngilu dan nyeri. Karena Tama menggigitnya di bagian yang Meena gigit di awal.

Tama menghela napas secara kasar. Bisa-bisanya dia terkecoh dengan maksud dari wanita licik ini.

"Setelah kamu tahu, apa kamu tidak khawatir kalau saya hisap sampai daraah kamu mengering?" Tama menaikkan satu alisnya serta tersenyum menyeringai di kala melihat raut Meena yang sedikit terkejut atau sebenarnya takut kepada dirinya.

Namun, rupanya anggapan Tama tidak ada yang tepat sama sekali sedari tadi. Meena dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum senang. Seolah tengah menantang Tama.

"Siapa takut!" jawab Meena dengan raut senang. "Karena aku tahu, kalau Pak Presdir tidak akan melakukan hal yang sangat rendahan seperti itu, bukan?" tanya Meena dengan wajah yang menyebalkan saat ini di mata Tama.

Pria itu memejamkan mata. Memang ia puas bisa menghisap daraah yang rasanya sangat manis untuk ke tiga kalinya. Terlebih lagi yang barusan sedikit lebih banyak. Sebab ia baru merasakan sensasi yang berbeda ketika menghisapnya di bibir, daripada di tempat yang lain.

"Ck! Yakin sekali kamu!" decak Tama kesal. Kini identitasnya sebagai ras vampir pun kemungkinan sudah wanita itu sadari.

Tidak mau berlarut dalam fantasi yang semakin liar di kepalanya, Tama memilih untuk menghidupkan mesin mobilnya lagi dan melajukannya menuju ke arah apartemen Meena.

Sedangkan Meena tak berhenti mengamati Tama. Seolah ada yang sedang wanita itu perbandingkan. Membuat Tama merasa risih di tatap seperti itu.

"Jadi ... Pak Presdir benar-benar dari klan ...." Meena sengaja menjeda ucapannya demi mendapat kepastian dari pria yang sama sekali tidak melihat ke arahnya, namun tangannya yang sebelah kiri mendorong wajahnya agar menatap ke arah yang lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!