Bab. 8
"Presdir Tama, kan?" ulang Meena lagi.
Artis yang sedang berada di puncaknya tersebut semakin mendekat ke arah Tama. Mendekatkan wajahnya, menelisik pria yang ada di depannya. Berusaha untuk memastikan lagi, kalau apa yang dia lihat, benar-benar orang yang ada dalam pikirannya.
"Presdir nggak ngenalin aku?" tanya Meena lagi yang entah mendapat keberanian dari mana berinteraksi seperti itu dengan orang asing. "Aku Meena, Presdir. Wanita yang semalam Presdir tolong, kan?" lanjut Meena yang pantang menyerah.
Deg!
Pria yang berada di depan Meena saat ini cukup dibuat terkejut dengan pernyataan Meena barusan. Bukan masalah Wanita itu bisa mengenali dirinya. Melainkan Meena yang ingat dengan kejadian yang seharusnya dia melupakan itu.
Sementara itu, mata Meena semakin memicing. Mendekat lagi agar lebih jelas melihat sorot mata Tama yang sedikit terhalangi oleh topi hitam di kepala pria itu.
Lantas, dengan kurang ajar dan tidak sopan sedikit pun tangan Meena mengulur ke depan. Lalu meraih topi Tama dan juga masker yang menutupi pria sebagian wajah pria itu.
"Kaaann ... benar! Anda Presdir Tama!" seru Meena seolah senang sekali menemukan apa yang sedang wanita itu cari.
Jelas saja, hal tersebut membuat Tama mengangkat satu alisnya. Menatap tingkah artisnya ini yang menurutnya sedikit kekanakan dan sedikit barbar. Sangat berbeda sekali dengan penampilan saat ini dan juga ketika berada di depan layar. Di mana Meena tampak begitu kalem dan lembut.
Bahkan Meena sampai menarik dan menggoyangkan lengan Tama.
"Kau salah orang," ujar Tama dengan nada serta mimik wajah yang sangat dingin sekali. Membuat Meena langsung menghentikan tingkahnya dan menatap ke arah Tama. Seolah sangsi sekali dengan ucapan presdirnya barusan.
"Ck! Anda nggak usah bohong, Pak Presdir. Lagian aku juga tahu siapa anda sebenarnya," ujar Meena sedikit kesal dengan respon presdirnya tersebut.
Entah, karena apa? Yang jelas Meena tidak menyukai Tama bersikap seperti ini kepada dirinya. Walaupun memang seperti itulah sikap presdirnya selama ini.
Tama tidak menjawab. Pria itu hanya diam dan mengamati Meena.
'Jangan-jangan dia lihat apa yang kulakukan?' batin Tama menebak dan tidak berapa lama kemudian, pria iru mendapatkan jawabannya dengan cepat.
Tanpa di duga, Meena semakin mendekatkan posisinya hingga begitu dekat ke arah Tama.
Dengan sedikit menjinjit, Meena membisikkan sesuatu yang mampu membuat perubahan mimik di wajah Tama. Walaupun dengan sekejap pria itu memasang wajah dinginnya lagi.
"Salah orang!" sahutnya ketus.
Tama tidak lagi menatap ke arah Meena. Pria itu menatap ke arah pintu dan melihat di bagian sisi atasnya. di mana di sana tertulis jika mereka berada di lantai 18 dan ada tanda panah ke atas di sebelahnya.
'Ck! Lama sekali.' batin Tama.
Sedangkan Meena tidak serta merta menyerah begitu saja. Ia sangat yakin kalau yang dia lihat semalam itu pria yang saat ini berdiri di dekatnya.
Beberapa kali Meena menggelengkan kepala. Dia benar-benar yakin dan pasti pria ini yang mengelak. Terbukti di saat tadi ia membisikan sesuatu, Tama tampak terkejut walau barang sebentar saja.
"Baunya sama," ujar Meena yang tiba-tiba saja wajahnya berasa begitu dekat dengan Tama. Membuat pria itu terkesiap kaget dan langsung menjaga jarak. Menggeser sedikit posisinya.
Sementara Meena masih tetap mengendus bau harum dari tubuh Tama yang jelas-jelas sama dengan orang yang sudah menggigitnya semalam.
Tama menempelkan jari telunjuknya ke kening Meena, lalu mendorong ke depan. Hingga wanita itu sedikit mundur ke belakang.
"Jaga jarak. Kamu nyebarin virus," ujar Tama asal.
Padahal yang terjadi bukan karena Tama tidak suka, tetapi karena Tama berusaha sekuat mungkin untuk tidak mencium harum manis bau darah Meena. Sebab, jika sudah pernah merasakan, akan berakibat kecanduan ke depannya. Tentu, ini yang sedang Tama hindari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
️W⃠️️CeMeRLa️nG🌹
hellehhh....
babang vampire sok"an ga butuh, awas saja nanti sampe gila karena ga ketemu sama meena🙄🙄🙄
2023-03-15
0