Ch. 18

Bab. 18

Setelah kejadian kemarin, Meena benar-benar kembali pada dirinya yang seperti sebelumnya. Wanita itu tetap ramah dengan semua orang yang ada di sekitarnya, namun akan kembali merasa sendiri jika sudah berada di apartemennya. Terlebih lagi beberapa hari ini Digta pulang ke apartemen wanita itu sendiri jika Meena sudah tidak membutuhkannya. Karena sekarang Digta mempunyai kekasih. Sehingga Meena lebih sering sendiri jika malam tiba.

Contohnya saja sekarang. Meskipun banyak memiliki teman seprofesi, namun Meena benar-benar tidak memiliki teman yang tulus. Hal itu membuat wanita itu kerap sekali menyelinap keluar jika jam sudah menunjuk ke angka sepuluh.

Mencari kesenangan sendiri di tengah padatnya jadwal kerjanya, itu jelas tidak mudah bagi Meena. Di tambah lagi ia tidak pamit kepada manager dan asistennya. Meena benar-benar ingin merasakan jadi orang biasa.

"Ternyata kebahagiaan sesaat itu hanyalah mimpi," gumam Meena sembari menatap minuman yang ada di tangannya.

Ketika Meena merasa memiliki orang yang sama seperti dirinya. Sama-sama kesepian, namun dalam sekejap mata Meena kehilangan dia.

Entah ini perasaan apa. Yang jelas ketika tahu Presdir yang menyelamatkan dirinya, Meena menaruh hati langsung pada pria itu. Mencaritahu sifat dan sikap pria itu. Meskipun Meena menemukan fakta yang mengejutkan, namun itu tidak berarti sama sekali baginya. Karena di sekitarnya pun ia juga mendapati dua ras yang hidup berdampingan dan saling membantu. Bahkan ada juga yang menjadi keluarga.

"Kenapa kamu kaku banget, sih? Coba kalau lebih santai, gitu. Pasti akan banyak fans yang kamu miliki nanti. Meskipun itu semua hanya semu belaka," ucap Meena yang sedari tadi mengoceh sendiri.

Meena tidak ingin membuang minuman yang ada di tangannya sekarang ini. Meskipun efeknya akan membuat dirinya tidak sadar. Namun Meena ingin melupakan perasaan sesaatnya.

Ketika Meena ingin menuangkan minuman berwarna kuning ke dalam gelasnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sampingnya. Orang itu mengenakan masker dan juga topi hitam. Sehingga hanya memperlihatkan matanya saja.

"Apa yang anda lakukan di sini sendirian, Nona?" tanya orang itu kepada Meena.

Sementara kesadaran Meena mulai terenggut oleh minuman yang sedari tadi dia teguk. Ia menatap ke arah pria itu, berusaha untuk menatapnya dari dekat agar pandangannya tidak kabur seperti ini.

"Kamu siapa?" tanya Meena.

Sedangkan bartender yang dari tadi mengawasi Meena dari posisinya pun sudah bersiaga untuk mengambil ponselnya.

Pria itu tersenyum di balik maskernya. Terlihat sekali dari matanya yang menyipit melengkung.

"Tentu saja aku juga orang yang sedang cari hiburan," jawab pria itu. "Kenapa cewek secantik Nona sendirian di sini? Bahaya kan kalau nggak ada yang ngawal?" tanya pria itu penasaran.

Meena menggeleng. "Justru aku ingin lepas dari mereka. Tapi itu sebuah ketidakmungkinan, kan?"

Meena tersenyum miris dengan apa yang dia alami sendiri. Berjuang hidup sendirian di kota yang bukan tempat kelahirannya, juga jauh dari orang tua. Membuat wanita itu tidak sedikit mengalami pahit dan kejamnya hidup ini. Meskipun tidak mendapat perundingan yang berarti. Karena selama ini hidupnya terlihat sangat sempurna.

"Apa Nona kesepian?" tebak pria itu ingin tahu lebih jauh.

Meena menggeleng. Meskipun kesadarannya sedikit terenggut oleh pengaruh minuman, akan tetapi Meena masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengungkap lebih jauh masalah pribadinya.

"Hanya untuk mencari hiburan. Ya. Hanya untuk mencari hiburan saja," jawab Meena.

Kemudian wanita itu memilih untuk menikmati minumannya yang baru dipesannya lagi. Seolah ingin menghilangkan rasa yang begitu sesak di dadaanya beberapa hari ini.

Ketika jarum jam mulai menunjuk ke angka dua belas, Meena yang sudah merasa cukup mencari ketenangan yang sebenarnya tempatnya sangat riuh pun memilih berdiri dari tempatnya.

"Berapa semuanya, Ben?" tanya Meena kepada bartender yang sudah lama ia kenal.

"Seperti biasa, Na. Semua sudah diurus sama agensimu," jawab Ben pada Meena.

Membuat Meena mengangkat alisnya. Sejak kapan agensinya tahu kalau dirinya sering pergi ke sini? Sedangkan ia selalu diam-diam dan tidak mengatakan apapun kepada managernya.

"Sejak kapan?" tanya Meena sedikit curiga.

Ben yang keceplosan pun gelagapan harus mengatakan apa. Sedangkan dirinya tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Meena.

"Beenn?" panggil Meena dengan tatapan yang meminta penjelasan. "Aku selama ini nggak pernah mengatakan apa-apa sama Kak Sita. Darimana ini semua agensi yang bayar? Jangan bercanda di saat aku nggak pingin, Ben!" tekan Meena lagi.

Ketika Ben akan menjawab, pria yang sedari tadi menemani Meena minum pun berdiri dan meraih tangan Meena. Tentu saja langsung mendapat penolakan dari wanita itu.

"Jangan sentuh aku!" sentak Meena seraya menghempaskan tangan pria itu juga menatap melotot ke arah pria tersebut.

Pria itu langsung mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kepalanya.

"Oke, oke. Aku nggak akan nyentuh kamu. Aku cuma mau mengantarmu pulang. Karena ini sudah sangat larut, akan sangat berbahaya jika cewek secantik kamu pulang sendirian," ucap pria itu memberi alasan kepada Meena.

Meena menggelengkan kepala. "Nggak. Kita tidak saling kenal. Lebih baik kamu pergi saja." ketus Meena.

Wanita yang sangat ramah dan kalem sebelumnya, kini berubah begitu galak. Sama seperti karakter yang selama ini Meena perankan.

Ben tidak bisa berbuat banyak mengenai pelanggaannya. Dia harus bersikap profesional meskipun teman yang sering curhat kepadanya itu dalam keadaan yang tidak menguntungkan.

Mendapat perlakuan seperti itu, bukannya segera pergi atau paling tidak menyingkir dari Meena, pria itu justru semakin mendekat ke arah Meena. Membuat wanita itu semakin geram.

"Berhenti di sana atau aku akan teriak!" ancam Meena dengan suara yang sangat keras.

Bukannya takut dengan ancaman Meena, pria yang masih memakai masker tersebut justru tertawa mendengar ancamannya.

"Memangnya aku ngapain kamu? Orang aku cuma nawarin untuk pulang bareng, sekalian jaga kamu. Apa itu salah?" tanya pria itu yang masih ingin mendekat ke arah Meena.

Meena yang merasa dirinya dalam posisi yang tidak nyaman, pun menoleh ke arah Ben.

"Ben, hubungi Kak Sita dan kasih tahu kalau aku di sini. Sekarang!" perintah Meena menatap tajam ke adah Ben.

Ben mengerti akan tatapan itu pun menghubungi seseorang yang Meena ucapkan barusan. Namun, bukan malah manager Sita yang menjawab telepon darinya.

Meski agak canggung, Ben mengatakan keadaan Meena sekarang ini.

Sedangkan Meena sendiri berusaha untuk menepis tangan pria yang tidak dia kenal tersebut.

"Ayolah, Meena. Aku tahu kamu itu siapa. Jadi, nggak usah main tolak menolak kayak gini," ujar pria itu.

Walaupun masih ingin meraih tangan Meena, beruntung pria itu tidak menggunakan kekerasan pada Meena.

Ben bisa saja membantu Meena, akan tetapi ia tidak siap jika berurusan dengan orang kalangan atas tersebut.

Suka tidak suka, seperti inilah kehidupan malam di club. Mereka akan tertawa bersama, namun akan saling tak acuh jika salah satu di antara mereka terkena masalah. Tentu saja hanya satu alasannya. Tidak ingin ikut terseret.

Meena tersadar langsung dari pengaruh alkohol yang dia minum tadi. Meskipun kadarnya sangat sedikit, namun wanita itu sempat merasa pusing sebentar. Akan tetapi kini benar-benar tersadar sepenuhnya. Hanya saja entah kenapa tubuhnya terasa kian lemas.

Meena memilih untuk segera keluar dari sana. Beberapa kali mencoba untuk menghubungi Digta, akan tetapi tidak mendapat respon dari wanita itu. Mungkin wanita itu sudah tidur di jam seperti sekarang.

"Siaal!" umpat Meena hampir saja membanting ponselnya sendiri. Tetapi segera ia urungkan.

Sementara pria bermasker tadi terus mengikuti langkah Meena. Walau tidak berjalan di sampingnya, tetapi pria itu seolah tidak mau melepaskan Meena dari pandangannya.

"Ayolah, Meena. Tidak akan ada taxi yang lewat sekarang ini. Daripada kamu nanti di apa-apain, mending pulang sama aku aja," desak pria itu.

"Pergi atau aku lapor polisi?" lagi dsn lagi Meena mengancam pria itu.

Pria itu justru tersenyum mendengarnya. "Lakukan apapun yang kamu mau, asal kita pulang bareng sekarang. Oke!"

Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah penekanan pada Meena untuk tidak menolak dirinya lagi.

Terpopuler

Comments

Puspa Trimulyani

Puspa Trimulyani

siapa sebenarnya pria ini????

2023-03-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!