Bab. 12
Pagi harinya Meena terbangun dan mendapati kondisi tubuhnya yang sangat segar. Sama sekali tidak merasakan sakit seperti kemarin. Tentu saja hal itu membuat Meena termenung. Memikirkan apa yang terjadi kepadanya.
"Tumben kali ini mempan obat dari dokter?" tanya Meena pada dirinya sendiri.
Biasanya, sakit yang ada di kepalanya itu tidak bisa di obati sama sekali. Tetap saja terasa sakit.
Meena tampak mengingat kembali, apakah ada orang yang masuk ke dalam ruang rawatnya. Jika dipikir-pikir, semalam ia tidur sendiri. Karena Digta dan manager Sita sedang pamit pulang sebentar untuk mengambil keperluan Meena. Sementara manager Sita ingin menengok anaknya lebih dulu yang juga di rumah hanya bersama bibi.
"Tidak mungkin dia datang, kan?" gumam Meena lagi setelah mendapatkan kemungkinan yang paling tepat. "Orang dia nggak ada di sini." lanjutnya lagi mencoba untuk meyakinkan diri.
Kenapa juga ia bisa memikirkan pria dingin itu. Sedangkan dia sama sekali tidak mau bertemu dengannya.
Karena merasa sangat sehat, Meena beranjak dari ranjang pasien dan ingin segera pergi ke kamar mandi. Badannya terasa lengket, karena semalam tidak mandi setelah pulang syuting. Lagian bagaimana mai mandi jika kepalanya rasanya mau pecah.
Tidak ingin membuang waktu, Meena segera menyelesaikan urusannya di dalam sana.
Sementara itu di depan ruang inap Meena, tampak seseorang yang mengintip Meena dari celah kaca yang ada di pintu. Orang itu menggeleng kepala ketika melihat Meena bergumam sendiri dan sepertinya menolak apa yabg menjadi kesimpulan wanita itu. Lalu orang itu memutuskan pergi setelah memastikan Meena sudah sehat kembali.
Tidak berselang lama, Digta datang dan membawakan apa yang Meena minta tadi melalui pesan singkat.
Di saat Digta sudah sampai di depan rumah sakit, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan ternyata Meena menghubungi dirinya. Menyuruhnya untuk membeli bubur ayam. Karena perut wanita itu minta di isi. Lagi pula mumpung managernya belum datang, sehingga Meena meminta Digta untuk merahasiakannya. Kalau tidak, Meena bakalan tidak diperbolehkan makan jajan kesukaannya selama satu minggu. Karena tidak mentaati peraturan dan memang sekarang ini masih jam enam pagi. Masih jauh menuju jam makan pagi.
Sebagai artis yang mengharuskan penampilannya sangat sempurna. Entah itu dari kecantikan atau cara berpakaian. Tetapi yang lebih penting juga Meena menjaga bentuk tubuhnya agar tetap seperti ini.
"Kak Meena, Kakak di mana?" tanya Digta dengan suara keras. Karena tidak mendapati Meena di atas ranjang pasien.
Meena yang selesai dengan urusannya, pun segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Digta dengan menggunakan handuk yang melilit di dadanya.
"Kamu bawain baju, nggak?" tanya Meena langsung mengambil tas yang ada di tangan Digta.
Sedangkan Digta sendiri sedikit tersentak kaget.
"Astaga, Kaaaakk ... ini bukan di apartemen loh. Jangan sesekali keluar hanya dengan handuk modelan begitu. Nanti kalau ada dokter atau perawat lain yang masuk gimana? Bisa bahaya tau! Apalagi kalau sampai ada yang moto Kakak kayak gini. Beuh ... sudah pasti Kak Sita pusing sepuluh keliling," omel Digta yang tidak bisa didiskon sedikit pun.
"Tujuh keliling," ralat Meena mengenai pepatah yang sering di ucapkan oleh orang.
"Ya kan ini beda. Soalnya lebih pusing dari biasanya. Makanya sepuluh keliling aja," sahut Digta yang masih ngotot dengan pemikirannya sendiri.
"Sama aja sudah. Daripada kamu ngomel mulu dari tadi. Yang ada sakit kepalaku kambuh," putus Meena menghentikan ucapan Digta.
Jika di luar lokasi seperti ini, mereka memang sangat dekat bahkan bisa dibilang seperti adik kakak. Sudah biasa saling bercanda dan mengejek.
"Nanti ada syuting jam berapa?" tanya Meena pada Digta.
Wanita itu tiba-tiba saja melepas handuk dan berganti di sana. Membuat Digta yang sudah biasa sebenarnya melihat secara langsung keindahan tubuh Meena. Namun, yang membuat Digta terkejut bukan perkara Meena yang polosan sekarang. Melainkan di saat Meena menjatuhkan handuknya, di detik berikutnya terdengar suara manager Sita dengan seseorang. Lebih parahnya mereka langsung main membuka pintu begitu saja.
"Hhuuuaaa!" sontak saja Meena berteriak dan langsung menutupi bagian inti yang memang sudah tertutup serta menutupi dua buah kembarnya yang lumayan besar itu dan tidak bisa semua Meena tutup.
Sedangkan orang yang bersama manager Sita tampak membeku melihat pemandangan indah di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments