Bab. 4
Merasa tubuhnya sehat kembali, gegas Meena segera membersihkan diri dan bersiap untuk pulang. Beruntung, pria semalam itu meninggalkan jaket untuk dirinya. Sehingga jika ia keluar dari kamar ini, Meena tidak merasa malu-malu amat. Sebab bagian punggung dsn bahunya yang terbuka pun tidak akan terlihat lagi.
Selang beberapa menit membersihkan diri dsn tanpa mengenakan make up, sebelum keluar Meena meminta kepada pelayanan hotel untuk mengantarkan masker dan topi kepadanya. Karena Digta sampai sekarang juga belum bisa dia hubungi.
Tidak lupa juga Meena memesan sebuah taxi online dan menyuruhnya untuk menunggu di depan.
Sesampainya di lobby, Meena lebih dulu memastikan taxi yang dia pesan itu benar atau tidak. Baru kemudian Wanita itu masuk ke dalam setelah ternyata benar.
Kepergian Meena, tidak luput dai sorot mata seseorang yang berada di lantai atas bangunan hotel D'amour tersebut. Dengan suasana ruangan yang tertutup rapat, dan hanya membuka sedikit celah di tirai jendelanya, sudut bibir pria itu terangkat ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.
"Sepertinya ke depan kau akan menemuiku," ujar pria itu tersenyum penuh arti.
Kemudian pria itu menutup tirai jendelanya. Ketika ia memejamkan mata, ia mengingat betapa lezat dan manisnya darah wanita yang baru saja pergi meninggalkan hotel ini.
"Aaahh ... sepertinya aku yang akan kecanduan darahmu," ujar pria itu yang masih menutup matanya sembari menyandarkan tubuh di balik kaca jendela.
Sementara itu, tatapan pria yang ada di depannya begitu dalam. Menelisik siapa sebenarnya orang yang majikannya maksud.
"Kali ini, siapa lagi yang anda jadikan mangsa? Setelah beberapa tahun tidak mencari mangsa?" tanya pria itu cukup penasaran. Membenarkan kacamatanya yang melorot, sambil terus menatap curiga ke arah majikannya.
Orang yang di balik jendela tak lain ialah Tama, pun pria itu tersenyum. Berbeda dengan senyuman pria tampan lainnya. Di mana senyuman mereka akan terlihat sangat menawan dan mempesona bagi lawan jenis maupun sesama jenis. Akan tetapi, senyuman Tama kali ini terlihat sangat mengerikan di mata pria berkacamata yang ada di depannya.
Dialah Hanjie. Berasal dari ras manusia dan yang paling mengetahui rahasia majikannya dari yang terlihat hingga tak terlihat. Merupakan kaki tangan Tama, jika Tama tidak bisa melakukan sesuatu sendiri. Sebab keterbatasan ruang gerak nya jika di siang hari seperti ini.
"Bukan aku yang mencari," ujar Tama seraya melangkah menuju meja kerjanya.
Di kamar hotelnya yang berada di lantai paling atas bangunan hotel D'amour tersebut, Tama juga menjadikannya sebagai ruang kerjanya selama ini. Kamar yang sangat luas itu dia sulap menjadi seperti sebuah apartemen mewah. Isinya sangat lengkap. Bahkan ada taman juga di atap. Tempat di mana Tama biasa menghabiskan waktunya di sana jika malam tiba.
"Lalu?" Hanjie semakin menyipitkan matanya. Menatap penuh selidik. Pria itu tetap mengikuti langkah kaki majikannya.
"Dia yang datang padaku. Dia yang membutuhkan obat dariku," jelas Tama.
Pria itu sama sekali tidak menyangka, jika dirinya tergerak untuk menolong artisnya hanya karena rasa tanggung jawab sebagai atasan dan karena tidak mau merugi tentunya.
Dia cukup sering mendengar keluhan dari beberapa kru yang mengikuti sutradara Hendra. Tentu, Tama tidak akan membiarkan hal itu semakin merugi. Meskipun mereka sangat membutuhkan artis tersebut.
"Ternyata penyakit yang diturunkan dari ras Evloir masih ada," gumamnya lagi.
Kali ini Hanjie mengernyit. Tidak mengerti ke mana arah pembicaraan majikannya. Karena baru mendengar nama ras tersebut.
"Ras Evloir?" ulang Hanjie.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Puspa Trimulyani
ras apakah itu???apa ras sesama vampire?
2023-03-14
0