Ch. 9

Bab. 9

Tentu saja Meena tidak serta merta menuruti perintah Tama yang mengusirnya sedari tadi. Wanita itu justru mengikuti langkah Tama hingga sampai mereka masuk ke dalam ruangan di lantai paling atas tersebut. Di mana hanya ada satu ruangan di ujung.

"Ini ruangan Pak Presdir?" tanya Meena yang sangat penasaran.

Wanita itu mengedarkan pandangannya. Lalu kemudian mengangguk ngangguk. Seolah mengagumi interior dan desain ruangan ini.

Jika biasanya ruangan seorang pria itu cenderung gelap, apalagi presdirnya ini sedikit berbeda. Namun, warna yang dipilih justru warna soft. Mungkin mencerminkan hatinya yang juga lembut. Begitulah kiranya pemikiran Meena.

"Khem!"

Suara deheman dari orang yang berbeda pun Meena dengar. Sontak saja, membuat Meena yang sedang fokus gaya dan tema ruangan presdirnya pun terjingkat kaget.

"Sedang apa kau di sini?" tanya orang itu yang tampak lebih menyeramkan dari wajah Tama.

Meena mendekat dan mengingat wajar pria yang kini juga berjalan ke arahnya. Wajahnya dingin. Tanpa ekspresi. Bahkan tatapannya pun begitu tajam. Membuat Meena merasa sedikit kurang nyaman.

"Dia ngikutin aku," sahut Tama setelah melepas hoodie yang dia pakai.

Orang berwajah dingin yang tidak lain ialah Hanjie, menatap menelisik ke arah Meena. Memperhatikan wanita itu dengan seksama.

Sementara Meena yang mengenali pria berkacamata tersebut pun menundukkan kepalanya. Sebagai bentuk sikap sopannya kepada atasan.

"Selamat siang setengah sore, Pak. Maaf, saya ada butuh sama Pak Presdir. Makanya ngikutin beliau. Tidak ada maksud lain," ujar Meena memperjelas maksud dirinya untuk mengikuti Presdirnya. Karena memang ada hal yang sangat dia bahas dengan pria itu.

Hanjie mengangkat alisnya. Berani sekali wanita ini berkata seperti itu bahkan dengan terang-terangan di depan majikannya.

'Perasaan sifat dia itu lembut dan penurut. Kenapa sekarang seperti cewek susah di atur?' tanya Hanjie di dalam hati.

Bukan tanpa bukti Hanjie membatin seperti itu. Sebelumnya ia pernah bertemu dengan Meena serta manager wanita itu.

Kala itu, Meena sedang melakukan pemotretan untuk sampur drama mini yang sedang wanita itu jalani. Hanjie yang di utus untuk melakukan pengecekan di tempat syuting pun melakukan tugasnya.

Dia melihat artis nomor satu di Paramount Picture itu pun tampak mengamati cara kerjanya. Juga sikapnya kepada kru serta pemain yang lain tampak ramah. Di saat manager dan fotografer mengarahkan untuk bergaya seperti apapun itu selalu menurut dan sering menundukkan kepalanya. Seolah menunjukkan kalau wanita itu merupakan wanita yang sangat manis dan penurut.

Namun, apa yang ia lihat sekarang ini. Di depan mata kepalanya sendiri, bahkan pria dingin yang sesungguhnya pun tak bisa berbuat banyak dan tidak berhasil mengusir wanita ini. Sampai-sampai berhasil masuk ke dalam ruangan yang tidak sembarang orang bisa masuk sebenarnya.

"Usir dia keluar," ujar Tama yang melangkahkan kakinya ke ruangan yang sedikit lebih masuk lagi ke dalam. Dan tentu saja hal itu tidak bisa Meena akses. Sebab, ia masih sadar betul di.mana dirinya sekarang berada.

Setelah kepergian Tama, Hanjie menatap ke arah Meena dengan tatapan menunggu jawaban. Sedangkan Meena tetap diam membeku di sana.

"Sudah dengar, kan?" ujar Hanjie dengan tatapan dinginnya. "Sekarang tunggu apa lagi. Pintu keluarnya tepat ada di belakangmu.'

Meena mendengkus kesal. Usahanya untuk bisa berbicara berdua saja dengan Presdir itu gagal total.

Mau tidak mau, dengan langkah yang berat, akhirnya Meena keluar dari kamar, bukan, ini bahkan bisa disebut dengan apartemen yang berada di kawasan elit.

"Ck! Jangan harap aku akan menyerah begitu saja," ujar Meena seraya melirik ke belakang. Di mana pintu itu baru saja tertutup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!