Ch. 6

Bab. 6

Tentu saja manager Sita mengernyitkan keningnya. Menatap curiga ke arah Meena.

"Tumben cari dia? Ada apa?" tanya manager Sita penuh selidik.

Pasalnya, selama ini Presdir mereka tidak pernah terlibat percakapan dengan orang asing. Lebih lagi manager Sita tahu, kalau mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

"Memangnya kamu ada masalah sama dia? Kapan ketemunya? Kok aku nggak tahu," cecar manager Sita. Sedikit janggal sekali.

Sedangkan Meena sendiri menyengir. Ia lupa jika Presdir mereka merupakan sosok misterius. Kalaupun bertemu pun juga tidak akan mengetahui siapa dia sebenarnya. Akan tetapi itu berlaku bagi orang yang belum pernah melihat sosok Presdir misterius tersebut. Berbeda dengan Meena yang sudah pernah bertemu dengannya, meskipun hanya satu kali.

"Nggak ada sih, Kak. Cuma pingin ucapin makasih aja, karena kan dia masih pertahanin aku di peringkat atas selama ini," sahut Meena memberi alasan yang sangat masuk akal.

Sebab, kesuksesan dirinya sekarang ini juga tidak luput dari Presdir mereka. Di mana Presdir mereka yang mempertahankan Meena untuk tetap membintangi serial drama ataupun film. Sehingga wajahnya masih tetap wara wiri di layar kaca ataupun layar lebar. Sehingga Meena masih dikenali banyak orang dan tidak dilupakan begitu saja karena jarang muncul di publik.

"Ya udah sih kalau cuma itu alasannya. Naik aja nanti di hotel D'amour sana. Lantai paling atas. Hanya ada satu kamar, dan itu kamarnya beliau. Ingat, sebutin namamu dulu sebelum masuk. Nanti palingan juga ada Pak Hanjie yang setia ada di samping beliau," jelas manager Sita yang tidak menangkap ada keanehan ada Meena.

Toh bagus juga jika mereka bisa dekat. Paling tidak Meena bisa bertahan di posisinya sampai beberapa musim ke depan. Atau syukur-syukur sampai puluhan tahun ke depan. Walaupun itu jelas sangat mustahil sekali. Sebab semua berputar sesuai rotasinya.

"Oke, Kak. Makasih atas infonya," ujar Meena dengan suara yang lirih serta kedipan mata genit. Membuat manager Sita yang gemas pun mencubit ujung hidung Meena.

"Kerja dulu yang bener. Jangan buat ulah kayak sebelumnya." ingat manager Sita. Kemudian wanita itu pergi untuk melakukan tugasnya yang lain.

Sementara Meena tersenyum senang. Karena ia bisa mengucapkan terimakasih secara langsung kepada pria itu. Setidaknya dia sudah menolong dirinya dari rasa sakit yang sering menyerang kepalanya.

Hari ini Meena menjalani syuting drama dengan lawan pemainnya ialah aktor senior. Sehingga take adegan yang dilakukan oleh mereka pun tidak banyak mengulang.

Oleh karena itu, di saat jarum jam masih menunjuk ke angka tiga, syuting hari ini pun selesai dan akan dilanjut lagi nanti malam. Pengambilan gambar di kala hari berganti malam.

"Dig, kamu tunggu aja di apartemen langsung ya. Aku ada urusan bentaran," ujar Meena di saat mereka akan bersiap untuk pulang.

Digta menatap bingung sekaligus tidak mengerti ke arah Meena.

"Memangnya Kak Meena mau ke mana? Terus nanti gimana kalau Kak Sita nanyain Kakak? Aku harus bilang apa? Jangan aneh-aneh deh, Kak. Nanti yang dimarahin juga bukan Kak Meena. Tapi aku," cecar gadis itu dengan raut wajah yang cemas.

Menjaga seorang artis terkenal bukanlah hal yang sanga mudah. Jika terjadi pada artis tersebut, walaupun bukan salahnya, maka dirinya harus bersiap untuk dijadikan sasaran amarah dari beberapa pihak.

"Tadi aku udah bilang Kak Sita. Tenang aja."

Setelah mengatakan itu, Meena segera mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya, topi, dan juga jaket untuk melengkapi penyamarannya.

Baru kemudian wanita itu segera menjauh dari sana dengan langkah kaki yang cepat.

Meena sudah seperti seorang stalker yang berjalan mengendap-ngendap dan celingukan ke kanan ke kiri. Seolah memastikan kalau keadaan sekitarnya aman.

"Huft ... akhirnya sampai juga dengan selamat. Untung tadi dapan minjem topi dari Jordi," ujar Meena merasa lega setelah berhasil masuk ke lift dan kini sedang menuju ke lantai dua puluh. Di mana kamar orang yang ingin Meena temui berada.

Meena melepas semua penyamarannya itu di dalam lift dan hanya menyisakan masker yang masih menempel di wajahnya.

"Semoga saja dia ada di kamarnya," gumam Meena ketika pintu lift terbuka di lantai lima belas dan ada seseorang yang masuk ke dalam lift tersebut.

Maaf, matanya yang dibuat sakit oleh tulisannya Yuta di bab 1-3. Itu Yuta up langsung dari laptop, terus enggak cek ulang setelah muncul. Kirain tulisannya ya sama aja kek up di hape. Eh, taunya bikin mata sakit😭🙏🏻 Terimakasih juga pada Akak yang ingetin Yuta. lope lope kalian😘

Terpopuler

Comments

Puspa Trimulyani

Puspa Trimulyani

pinter juga kamu beri alasan Meena 🤭😅

2023-03-14

0

️W⃠️️CeMeRLa️nG🌹

️W⃠️️CeMeRLa️nG🌹

sekarang baru back ke diri kamu yuta, semangat yaa, salam kenal😘😘
maaf kalo kakak koreksinya secara langsung bukan maksud apa-apa cuma biar enak di baca aja sama yg lain juga, semangat yaa makin rajin up nya💪💪😘😘

2023-03-14

0

happy oktavia

happy oktavia

semangat kak othor

2023-03-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!