Bab. 10
Sesuai dengan apa yang sudah terucap, selesai syuting hari ini pun Meena juga menyempatkan diri untuk menghampiri, bukan, lebih tepatnya ialah ia sengaja datang lagi ke lantai paling atas yang berada di bangunan hotel D'amour tersebut.
Tidak tanggung nganggung, demi agar tidak ketahuan kalau dirinya menyelinap di kawasan terlarang tersebut, Meena kembali melakukan penyamaran. Menutup keseluruhan wajah dan juga gaya pakaiannya pun sedikit berbeda dari biasanya.
Jika biasanya Meena mengenakan pakaian yang sebatas bawah lutut sedikit, kini Meena mengenakan dress panjang tanpa lengan. Tentu saja wanita itu melapisinya dengan outher serta masker wajah dan juga kain segitiga berukuran kecil untuk menutupi kepalanya. Tidak lupa pula Meena mengaplikasikannya dengan kacamata hitam berukuran besar. Namun, tetap tidak mengurangi daya mancung hidungnya.
Penyamaran Meena hari ini benar-benar totalitas sekali. Melenceng dari kebiasaan wanita itu sendiri.
"Mudah-mudahan dia ada di dalam," gumam Meena.
Tentu saja, di depan pintu kamar tersebut tidak akan dibiarkan lenggang begitu saja oleh pemiliknya. Dia menaruh dua orang security untuk berjaga di sana. Jelas, Meena sedikit kesulitan untuk menerobos masuk.
Meena mengintip di balik dinding tepat persis di depan pintu lift. Wanita itu tidak bisa serta merta berjalan dengan santai menuju pintu kamar sang presdir seperti kemarin lagi.
"Kenapa juga dipasang patung di sana," gerutu Meena. Karena wajah mereka datar dan tidak bergerak sama sekali.
Kali ini rencananya untuk menemui sang Presdir pun gagal total. Meena tidak mungkin main menerobos begitu saja. Bisa-bisanya dia nanti justru ketahuan dan berujung malu.
Akhirnya Meena memutuskan untuk mundur. Akan mencobanya lagi di lain waktu.
Hingga tanpa terasa, lima hari sudah berlalu dari kejadian Meena gagal menemui presdirnya. Dia juga sama sekali tidak melihat akan tanda-tanda orang itu berada di perusahaan. Atau sekedar mengecek lokasi syuting seperti yang pernah beliau lalukan.
"Ok, cut!" suara seorang sutradara mengakhiri adegan akting dua orang yang tengah saling berpelukan. "Hari cukup sampai di sini. Kerja kalian bagus. Pertahankan." tekan pria berperut buncit dan rambut depannya sedikit tipis.
Para kru dan artis pun bergegas untuk mengemasi peralatan mereka. Namun, ada yabg berbeda.
Padahal syuting sudah dinyatakan selesai untuk hari ini. Namun, dua artis yang baru saja melakukan take adegan pun masih betah di posisi mereka sedari tadi. Bahkan terlihat sangat begitu dekat.
"Akhh ...." Meena mengerang sakit sembari memegang kepalanya.
Lawan mainnya tadi yang belum beranjak sedikit pun dari tempatnya, tampak khawatir dengan keadaan Meena.
"Kamu kenapa, Meena?" tanya orang itu yang tak lain ialah Gerald. Aktor nomor satu di negara ini.
Tingkat kemahiran aktingnya sama halnya seperti Meena. Itulah mengapa rating drama yang mereka bintangi dan baru lima episode tersebut sudah mencapai nomor satu. Tidak heran jika kedua artis itu bersatu dan bermain bersama. Lebih lagi mereka menjadi pasangan utama.
"Kepalaku sakit banget, Ge," ujar Meena yang masih menekan sebelah kepalanya.
Rasa sakit yang hampir satu minggu ini tidak dia rasa, kini mulai datang kembali. Membuat Meena memejamkan mata begitu erat, demi menyamarkan rasa sakit tersebut. Meskipun hal itu percuma saja. Sebab, rasa sakitnya sama sekali tidak berkurang.
"Kak Sita! Kak!" teriak Gerald langsung memanggil manager Meena yang kebetulan berada di lokasi syuting. Membantu mengemasi barang Meena.
Tentu, manager Sita yang melihat Meena seperti orang kesakitan pun langsung menghampiri.
"Meena kenapa, Ge?" tanya manager Sita menatap ke arah Gerald dan menuntut penjelasan pada pria itu. Karena selama hampir satu minggu ini artisnya tidak mengeluh sakit sedikit pun. Jadi ia sedikit cemas.
Gerald menggeleng. "Aku juga nggak tau, Kak. Pas adegan selesai, dia bilang kepalanya sakit banget," beritahu Gerald. Karena memang ia tidak tahu menahu.
Manager Sita yang panik pun langsung meminta Digta untuk memanggilkan sopir mereka dan akan membawa a Meena ke rumah sakit. Namun, Gerald mencegah dan menawarkan diri untuk membawa Meena ke dalam mobil. Tentu, hal itu tidak luput dari kamera seseorang yang akan menjual momen ini ke media. Walaupun sedikit dikasih sentuhan manipulasi keadaan yang sebenarnya.
Sesampainya di rumah sakit, Meena tetap mengeluhkan kepalanya yang sakit. Wanita itu sampai melengking ke kiri dan ke kanan. Rasa-rasanya mau pecah. Sementara dia sekarang sendirian berada di dalam ruang inap vip. Entah, ke mana perginya asisten dan managernya.
"Aaarrgggg ... sakit ...." rintih Meena sembari menekan kepalanya sendiri.
Pandangannya mengarah ke segala arah. Namun, ia tidak mendapati satu orang pun yang ada di ruangan tersebut.
Meena hanya bisa bergerak gelisah di atas ranjang pasien. Hingga seseorang membuka pintu ruang rawat inap nya dan berjalan ke arahnya. Meena tidak bisa melihat wajah orang itu. Karena pandangan matanya pun juga kabur.
"Tolong ... tolong panggilkan dokter. Kepala saya sakit banget," rintih Meena meminta tolong kepada orang yang Meena sendiri tidak tahu wajahnya seperti apa. Hanya bisa melihat sosok seorang pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments