"Tujuh puluh persen? Untuk aku?"tanya Aurora mengernyitkan keningnya menatap Sumi.
"Iya, asalkan kamu mau cari pelanggan buat aku. Nggak apa-apa aku cuma dapet dikit. Tapi, satu malam tiga pelanggan, ya?"pinta Sumi sambil menyengir bodoh.
"Buset dah! Seneng banget kamu bikin anak orang tepar, tewas terkapar. Yang bikin aku Herman, eh heran, kenapa para pria itu bodoh banget, sih? Bodoh akut, level dewa stadium akhir, sudah tidak tertolong lagi. Bersaing harga hanya untuk kita kuras dompet dan tenaganya,"ujar Aurora geleng-geleng kepala, menghela napas panjang.
"Para pria itu hanya mementingkan di bawah perut saja, yang lainnya nomor dua puluh tujuh. Soalnya, kalau kebutuhan biologis mereka tidak terpenuhi, mereka bakal sakit kepala atas bawah. Uring-uringan nggak jelas,"sahut Sumi.
"Apa benar begitu?"tanya Aurora penasaran.
"Tentu saja benar. Dan satu lagi, jika kebutuhan biologis mereka terpenuhi, puas dengan pelayanan di atas ranjang, maka apapun yang kita minta bakal diberikan oleh mereka,"jelas Sumi.
"Kamu benar-benar berpengalaman. Tapi, ya.. memang jam terbang kamu tidak bisa di ragukan. Aku terkadang merasa tidak mengerti dengan pemikiran para pria itu. Dompet dan tenaga terkuras habis hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Benar-benar bodoh akut, tingkat dewa, stadium akhir,"sahut Aurora kembali geleng-geleng kepala.
"Jadi gimana? Mau ya, cari pelanggan? Sumpah, buat kamu tujuh puluh persen. Tugas kamu cuma cari pelanggan, bawa ke kamar dan menunggu aku memuaskan mereka. Akan aku buat mereka hingga tewas terkapar seperti biasanya,"bujuk Sumi.
"Gimana, ya? Tujuh puluh persen sangat menggiurkan. Tapi aku sudah nggak minat lagi kerja jadi kupu-kupu malam,"sahut Aurora, membuat senyuman Sumi pudar.
"Ra, tolong, lah, Ra! Satu bulan lagi aja. Setelah itu kamu boleh berhenti,"mohon Sumi.
"Tidak!"sahut Aurora.
"Tiga Minggu,"
"Tidak! "
"Dua Minggu,"
"Tidak!"
"Satu Minggu,"
"Ti..dak!"
"Satu malam, deh! Please! Kalau satu malam masih nggak mau juga, aku bakal berlutut di kaki mu. Kalau perlu, aku akan bersujud di bawah kaki kamu,"ucap Sumi benar-benar beranjak dari tempat duduknya, benar-benar mau bersujud di bawah kaki Aurora.
"Hei! Hentikan! Jangan seperti ini, Sum!"ucap Aurora berusaha membantu Sumi bangun.
"Aku tidak mau bangun sebelum kamu mengabulkan permohonan aku,"ucap Sumi, kukuh pada pendiriannya.
Aurora membuang napas kasar memijit pelipisnya sendiri,"Baiklah, tapi cuma satu malam saja. Dan ini yang terakhir,"ucap Aurora tidak berdaya.
"Terimakasih, Ra!"ucap Sumi langsung bangkit dari lantai memeluk Aurora.
"Iya. Tapi jangan malam ini, ya? Hari ini aku capek sekali. Besok malam saja,"ucap Aurora.
"Tapi janji, ya! Besok benar-benar cari pelanggan,"pinta Sumi.
"Iya. Besok aku telepon Mami dulu, biar dicarikan pelanggan,"sahut Aurora.
Keesokan harinya.
Seperti biasanya, setiap pagi, Aurora pergi ke toko kue nya. Toko kue yang semakin lama semakin laris. Siangnya, Aurora pergi ke kafe miliknya.
"Prang"
"Maaf, Tuan! saya tidak sengaja. Maafkan saya!"ucap seorang karyawati kafe itu dengan wajah pucat. Berusaha membersihkan kemeja seorang pelanggan kafe yang terkena jus.
"Ah, kemeja saya kotor,"ucap pria yang kemejanya ketumpahan jus.
"Maaf, Tuan! Dia tidak sengaja. Kami akan mengganti kemeja anda yang kotor,"ucap Aurora yang melihat kejadian itu. Karyawannya dan pria itu sama-sama berbalik hingga bertabrakan. Hingga kemeja pria itu menjadi kotor.
"Kamu siapa?"tanya pria itu menatap Aurora dari atas sampai bawah. Gadis cantik dengan makeup tipis, dan bahkan hanya memakai lips balm.
"Saya yang mengawasi kafe ini, Tuan,"ucap Aurora tidak mau mengatakan jika dirinya lah yang memiliki kafe itu. Sedangkan karyawan nya tadi segera membersihkan lantai yang kotor karena tumpahan jus.
'Bisa, kita bicara sambil duduk?"tanya pria itu. Pria tampan bertubuh proporsional dan sepertinya juga dari kalangan atas.
"Silahkan!"ucap Aurora menunjuk pada meja yang masih kosong di dekat mereka. Keduanya pun, duduk berhadap-hadapan.
"Jadi, bagaimana kamu akan meminta maaf pada saya?"tanya pria itu tersenyum manis, menatap lekat wajah cantik Aurora.
"Katakan, berapa harga kemeja Tuan! Saya akan mentransfer uang ke rekening Tuan, sebagai gantinya,"sahut Aurora.
"Bukan masalah harga kemeja saya, masalahnya, kemeja ini adalah kemeja kesayangan saya, dan ini limited edition,"ucap pria itu masih menatap lekat pada Aurora.
Aurora menghela napas panjang menatap pria di hadapannya yang tidak sedikitpun mengalihkan perhatian
nya pada dirinya.
"Lalu, Tuan ingin saya bagaimana?"tanya Aurora yang mulai merasa kesal.
"Bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama?"tanya pria itu.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙡𝙖𝙠𝙞-𝙡𝙖𝙠𝙞! 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖,"gerutu Aurora dalam hati.
"Maaf! Saya sudah ada janji dengan seseorang malam ini,"ucap Aurora memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Sudah jengah rasanya menghadapi para lelaki yang mencari alasan untuk mendekati dirinya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok malam?"tanya pria itu lagi.
"Sepertinya tidak bisa. Saya sudah menikah, suami saya tidak akan suka jika saya makan malam bersama pria lain,"sahut Aurora ingin menghindari pria di depannya itu.
"Oh, sudah menikah? Sayang sekali. Padahal masih muda banget,"ucap pria itu terdengar kecewa,"Kalau begitu, sebagai permintaan maafnya, bisa temani saya makan kue sambil mengobrol?"tanya pria itu.
"Baiklah. Kalau begitu, silahkan pesan! Tuan boleh pesan apa saja. Gratis. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari kami,"ucap Aurora tersenyum tipis.
"Terimakasih,"ucap pria itu,"Kalau boleh tahu, siapa nama kamu?"tanya pria itu.
"Saya Aurora,"sahut Aurora.
"Saya Aiden,"sahut pria itu seraya mengulurkan tangannya pada Aurora.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝. 𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙤𝙙𝙮𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙬𝙖𝙣,"gumam Aiden dalam hati.
Aiden adalah seorang Casanova. Pria itu tahu pasti, mana wanita yang masih perawan dan mana yang sudah tidak perawan.
Aiden memesan kue dan kopi. Selesai memesan, pria itu kembali menatap Aurora. Rasanya tidak bosan menatap wajah wanita di depannya ini.
"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama menikah?"tanya Aiden menatap Aurora seraya menopang dagunya dengan kedua jemari tangan yang saling terkait.
"Baru semingguan,"sahut Aurora jujur adanya.
"Oh, pantas,"ucap Aiden tersenyum tipis,"𝙋𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙬𝙖𝙣,"lanjut Aiden dalam hati.
"Pantas apa?"tanya Aurora tidak mengerti dengan maksud ucapan pria di depannya itu.
"Pantas auranya agak berbeda,"sahut Aiden.
Aurora dan dan Aiden tidak banyak berbicara, karena Aurora selalu menjawab pertanyaan Aiden dengan singkat. Dan hal itu membuat Aiden semakin penasaran dengan Aurora. Hampir semua wanita selalu terpesona saat melihat dirinya. Tapi tidak dengan wanita yang saat ini duduk di depannya itu.
***
Malam itu, Aurora menepati janjinya pada Sumi, yaitu mencari pelanggan untuk Sumi. Aurora bertekad, malam ini adalah malam terakhir dirinya menjadi kupu-kupu malam.
Sedangkan di meja bartender, Aiden baru saja duduk.
"Saya ingin bertemu dengan Kenanga. Bisa bantu saya?"tanya Aiden pada bartender.
"Sayang sekali, Tuan datang terlambat. Lihat itu! Gadis yang memakai gaun merah itu adalah Kenanga. Dia sudah dapat pelanggan,"ucap bartender itu seraya menunjuk ke satu arah.
"Di..dia.."Aiden tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat melihat Aurora berjalan berdampingan dengan seorang pria.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 434 Episodes
Comments
Memyr 67
𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗶𝗱𝗲𝗻, 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗿𝗮𝘆𝘆𝗮𝗻, 𝘁𝗲𝗺𝗲𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘁𝗮𝗷𝗶𝗿, 𝗮𝘂𝗿𝗼𝗿𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝘀𝗼𝗻𝗮
2024-08-15
1
Kanya Zyziah
adh jd deg"an takut ketahuan rayyan
2024-08-09
0
Yuli Yuli
Aidan shbatnya rayyan, Aurora kthuan Aidan kn
2024-02-01
6