Naima menghela napas panjang. Duduk di kursi meja makan dengan wajah masam. Begitu pula dengan Natalie yang menatap Aurora dengan rasa iri benci, dan cemburu yang menjadi satu.
Rayyan dengan sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Aurora di depan mamanya dan Natalie.
"Makan yang banyak, biar kamu punya energi untuk melayani aku malam ini,"ucap Rayyan sengaja agak di keraskan seraya meletakkan lauk di piring Aurora, kemudian...
"Cup"
Rayyan mencium pipi Aurora sekilas dengan senyum tipis di bibirnya. Naima mendengus kesal melihat putranya bermesraan di depannya. Sedangkan Natalie menggenggam erat sendoknya dan garpu di tangannya. Pria yang sudah lama ditaksirnya malah menikah dengan orang lain dan sekarang harus melihat kemesraan mereka.
"Terimakasih,"ucap Aurora dengan senyuman manis di bibirnya. Namun di dalam hati,"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙞𝙗𝙡𝙞𝙨 𝙢𝙚𝙨𝙪𝙢! 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙠𝙚𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪!"umpat Aurora karena pipinya di cium Rayyan.
Rayyan melihat Aurora sudah selesai makan. Pria itu membersihkan sudut bibir Aurora yang sedikit kotor dengan tisu. Aurora sempat terkejut karena tindakan Rayyan itu. Namun sesaat kemudian langsung memasang senyum di bibirnya. Sedangkan Naima dan Natalie semakin muak melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Rayyan.
"𝙄𝙗𝙡𝙞𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙠𝙩𝙞𝙣𝙜,"gumam Aurora yang bibirnya tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Rayyan. Tapi dalam hatinya mengumpat.
Pria itu kemudian mendekat ke arah Aurora,"Jangan GR(Gede Rasa)! Aku melakukan ini hanya untuk membuat mereka percaya jika kita adalah suami-istri sungguhan,"bisik Rayyan yang terlihat mesra di mata Naima dan Natalie, tapi membuat jengkel Aurora.
"Sudah tahu. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengambil keuntungan dariku, 'kan,"sahut Aurora dengan berbisik pula, pura-pura tersenyum, tapi dalam hati ingin mengumpat.
"Kami sudah selesai,"ucap Rayyan beberapa saat kemudian pada Naima dan Natalie" Ayo, sayang, kita ke kamar!"ajak Rayyan meraih tangan Aurora, lalu menggandengnya menuju kamarnya.
"Kami permisi!"pamit Aurora, tersenyum pada Naima dan Natalie. Tepatnya pura-pura tersenyum.
Naima dan Natalie nampak mengacuhkan Aurora. Namun Aurora tidak perduli. Aurora dapat melihat kebencian di mata Naima dan Natalie pada dirinya. Tapi Aurora tidak ambil pusing karena hubungannya dengan Rayyan hanya sebatas kontrak.
"Tante, apakah mereka benar-benar sudah menikah?"tanya Natalie yang belum percaya sepenuhnya. Bisa saja Rayyan pura-pura sudah menikah, itulah yang ada dalam otak Natalie. Mengingat selama ini Rayyan tidak pernah dekat dengan siapapun. Namun tiba-tiba mengaku sudah menikah dengan Aurora.
"Tante tidak tahu. Tante akan menyelidikinya,"sahut Naima yang juga belum percaya jika Rayyan dan Aurora sudah menikah. Karena Naima juga tahu, semenjak putus dengan pacarnya dulu, Rayyan tidak pernah dekat dengan seorang wanita pun.
"Apa Tante benar-benar menerima perempuan itu sebagai menantu Tante?"tanya Natalie.
"Mana mungkin Tante menerima dia sebagai menantu Tante! Kamu dengar sendiri, dia itu hanya wanita biasa. Tidak pantas bersanding dengan Rayyan. Entah dari mana Rayyan menemukan perempuan itu. Hanya kamu yang pantas bersanding dengan Rayyan, karena kamu adalah calon menantu ideal Tante,"sahut Naima yang merasa kesal dengan Rayyan dan Aurora.
"Tapi Tan, jika Rayyan benar-benar sudah menikah, aku sudah tidak ada kesempatan lagi untuk menjadi menantu Tante,"ucap Natalie dengan wajah sedih.
"Kamu tenang saja. Tante akan mencari cara untuk menyingkirkan perempuan itu, dan menjadikan kamu sebagai menantu Tante,"ujar Naima meyakinkan Natalie.
Rayyan membawa Aurora masuk ke dalam kamarnya, kemudian melepaskan pegangan tangannya pada tangan Aurora saat sudah ada di dalam kamar. Pria itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
"Dasar bunglon! Tadi, saat ada di depan dua orang perempuan itu, dia mesra sekali padaku. Bahkan memanggil aku sayang. Sekarang sikapnya sudah datar seperti papan dan dingin seperti es balok,"gerutu Aurora menatap Rayyan yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Aurora mengamati kamar Rayyan yang bersih, dan luas itu. Semua perabot yang ada di ruangan itu tertata rapi. Dan Aurora yakin, harganya pasti mahal.
"Iblis ini benar-benar kaya raya. Tapi kenapa saat dia menolong aku waktu itu dia memakai baju seragam petugas hotel? Oh ya, dimana aku harus tidur? Tidak mungkin, 'kan, aku tidur di ranjang yang sama dengan iblis mesum itu?"gumam Aurora.
Beberapa menit kemudian, Rayyan keluar dari kamar mandi memakai bathrobe. Pria itu masuk ke dalam walk- in closet dan tidak lama kemudian keluar menggunakan baju piyama.
"Kamu bisa mengganti pakaian kamu di walk-in closet. Semua pakaian kamu ada di dalam sana,"ujar Rayyan datar. Tidak ada lagi senyuman di bibirnya seperti waktu di meja makan tadi.
"Lalu.. aku harus tidur di mana?"tanya Aurora.
"Terserah!"sahut Rayyan datar. Pria itu meraih laptopnya, kemudian duduk di tepi ranjang. Rayyan mulai bekerja dengan laptopnya.
Aurora mendengus kesal mendengar jawaban Rayyan. Rasanya Aurora benar-benar ingin mencekik pria dingin dan datar itu. Aurora memutuskan untuk membersihkan diri.
"Kamar mandinya luas sekali. Ada shower dan juga bathtub. Mending, aku berendam dulu di bathtub untuk menghilangkan stres ku karena iblis sialan itu,"gumam Aurora kemudian mulai melucuti pakaiannya dan berendam di dalam bathtub.
Rayyan yang masih duduk di tepi ranjang, sesekali melirik ke arah kamar mandi.
"Apa gadis itu pingsan di dalam kamar mandi sana? Lama sekali dia mandi,"gumam Rayyan karena sudah hampir satu jam Aurora berada di dalam kamar mandi, tapi tidak kunjung keluar juga.
Setelah puas berendam, akhirnya Aurora keluar juga dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Gadis itu melihat Rayyan yang masih berada di posisinya tadi. Aurora berjalan menuju walk-in closet untuk berganti pakaian.
"Astaga..! Ruangan ini sudah seperti toko baju. Gila! Rapi banget,"gumam Aurora yang merasa kagum dengan ruangan itu.
Semua pakaian di dalam ruangan itu tersusun rapi. Di deretan pakaian pria, ada pakaian kerja, pakaian kasual, pakaian santai, pakaian untuk tidur, pakaian dalam, semuanya tersusun rapi dan dikelompokkan. Sehingga tidak sulit untuk mencari pakaian. Bahkan sepatu, dasi, jam tangan dan semua aksesoris yang di perlukan Rayyan ada di ruangan itu.
Aurora semakin berdecak kagum saat melihat semua pakaian yang dibelinya tadi sudah tersusun rapi di dalam walk -in closet itu. Lengkap dengan sepatu, tas, perhiasan dan berbagai pernak pernik lainnya.
"Banyak sekali pakaian ini. Apa semua ini untuk ku? Padahal aku tadi tidak membeli pakaian sebanyak ini. Kalau seperti ini, berarti aku belanja seharian tadi juga nggak bakal berpengaruh pada dompetnya,"gumam Aurora membuang napas kasar.
"Lingerie? Apa maksudnya ini? Kenapa di deretan baju tidur ini ada banyak lingerie? Dasar iblis mesum! Dia pikir aku akan memakai baju saringan tahu ini? Jangan harap! Aku tidak akan mempertontonkan tubuh ku padanya,"gerutu Aurora yang kemudian memilih piyama berlengan dan bercelana panjang.
Saat keluar dari walk-in closet Aurora melihat lampu utama di dalam kamar itu sudah dimatikan. Hanya lampu tidur yang menyala. Rayyan juga sudah berbaring dan memejamkan matanya.
"Tidak mungkin aku tidur seranjang dengan dia. Lebih baik aku tidur di sofa saja,"gumam Aurora kemudian bermaksud mengambil bantal dari atas ranjang.
Karena malas berjalan memutari ranjang yang besar itu, Aurora mengambil bantal dari sebelah Rayyan berbaring. Namun karena bantal itu agak jauh....
"Akkhh!"
"Apa kamu ingin menggodaku?"
...🌸❤️🌸...
Walk-in closet atau walk-in wardrobe atau ruang ganti biasanya merupakan lemari besar, lemari pakaian atau ruangan yang terutama ditujukan untuk menyimpan pakaian, alas kaki dll, dan digunakan sebagai ruang ganti.
.
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 434 Episodes
Comments
ardiyud852
ibu kok kek gitu
2024-01-04
5
gampar aja Ra biar gak asal nyosor tuh bibir si Rayyan
2023-12-09
1
AnisaFitry🌺
btw kok rayyan gk mempermasalahkan iya kartu kredit nya habis atau gk...yahhhh percuma donng Andi dan rora🤭🤭
2023-12-04
3