"Kalau begitu apa?"tanya Aurora penasaran.
"Rayu sekalian, jadikan suami beneran untuk selamanya,"sahut Sumi antusias.
"Ogah! Males aku punya suami macam dia. Pria kasar, pemaksa, datar kayak papan dan dingin kayak es balok. Suka menindas dan tidak berperasaan. Jika aku punya suami macam dia, aku akan tua sebelum waktunya, atau lebih parahnya, aku bisa masuk rumah sakit jiwa karena tekanan batin. Aku tidak mau jadi bonsai di dalam pot,"ujar Aurora panjang lebar.
"Eh, baru dua kali bertemu, kamu sudah banyak tahu tentang dia,"sahut Sumi mengerutkan dahinya.
"Dari sikapnya tadi aku bisa menilai dia seperti itu. Awalnya aku menolak permintaan gilanya untuk menikah kontrak dengannya. Tapi dia malah memaksaku. Iblis sialan itu mengancam aku. Apa kamu tahu? Aku tidak pernah memberikan nomor telepon ku, tapi tahu-tahu dia menelpon aku. Dia menjemput aku di kafe, mengantarkan aku pulang ke apartemen, padahal aku tidak pernah memberi tahu dia apapun. Bahkan dia juga tahu kalau kamu di rumah sakit dan orang tuaku di kampung,"ujar Aurora panjang lebar.
"Hah? Yang benar?"tanya Sumi tidak percaya.
"Benar. Dan menurut aku, itu sangat menakutkan. Aku tidak tahu, apakah dia tahu atau tidak jika aku berprofesi sebagai kupu-kupu malam,"sahut Aurora lesu.
"Begitu, ya? Menakutkan juga kalau begitu,"sahut Sumi menghela napas panjang. Namun sesaat kemudian, Sumi nampak terkejut,"Eh, lalu gimana dengan kolaborasi kita? Kamu nggak bakal berhenti jadi kupu-kupu malam karena menikah dengan dia, 'kan?"tanya Sumi terlihat agak cemas.
"Aku belum tahu. Masalahnya, mulai besok dia akan mengajak aku tinggal di rumah dia. Walaupun dia berjanji membiarkan aku bekerja, tapi aku tidak ingin dia tahu jika aku bekerja sebagai kupu-kupu malam. Lagi pula, kamu juga masih harus istirahat setelah menjalani operasi, 'kan?"sahut Aurora menghela napas panjang.
"Ya sudah, kita pikirkan nanti saja. Kamu lihat dulu bagaimana situasi di tempat pria yang ingin menikah kontrak dengan kamu itu,"sahut Sumi memutuskan.
"Hum,"sahut Aurora.
Kembali lagi pada bos dan bawahan. Setelah mereka mengantarkan Aurora ke apartemen nya, mereka kembali ke kantor. Andi sedang berada di ruangan Rayyan. Pria itu berdiri menunduk di depan meja Rayyan. Sedangkan Rayyan duduk bersandar di kursi kebesaran nya menatap Andi dengan tajam.
"Kamu lihat pipiku yang merah ini?"tanya Rayyan datar.
"Lihat, Tuan,"sahut Andi masih menunduk.
"Karena siapa?"tanya Rayyan lagi.
"Karena nona Aurora, Tuan,"sahut Andi masih setia menunduk.
"Karena Aurora? Lalu siapa yang memberiku ide untuk mencium dia hingga aku kena tampar?"tanya Rayyan terdengar dingin.
"Tuan, saya tidak memberikan ide itu pada Tuan. Saya hanya asal ceplos saja. Lagi pula, saya, 'kan tidak menyuruh Tuan mencium nona Aurora dengan kasar. Seharusnya Tuan mencium nona Aurora dengan lembut dan penuh perasaan, agar dia terhanyut dan jatuh cinta pada tuan. Setelah dia jatuh cinta pada tuan, dia pasti akan menurut pada tuan,"ujar Andi membela diri.
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi?"protes Rayyan.
"Tuan, 'kan tidak bertanya,"sahut Andi enteng.
"Aku tidak mau tahu. Yang pastinya, karena ide kamu, aku kena tampar tiga kali. Sekarang, cepat periksa semua berkas dan dokumen itu,"ujar Rayyan mengedipkan dagunya pada setumpuk dokumen dan berkas yang ada di atas mejanya.
"Tuan, saya tidak akan punya waktu untuk tidur jika Tuan menyuruh saya memeriksa semua berkas dan dokumen ini,"protes Andi melihat setumpuk berkas dan dokumen.
"Ya sudah. Kalau kamu tidak mau mengerjakannya. Bulan ini gaji kamu akan aku potong lima puluh persen,"ucap Rayyan seraya bangkit dari duduknya.
"Mana boleh begitu, Tuan! Ini namanya pelanggaran hak asasi manusia,"protes Andi.
"Ya sudah, kalau begitu, bulan ini gaji kamu akan aku potong tujuh puluh persen,"sahut Rayyan seraya berjalan ke arah pintu ruangan nya.
"Saya kerjakan, Tuan. Besok pagi sudah selesai. Jangan potong gaji saya, Tuan!"mohon Andi.
"Kerjakan!"ucap Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Andi lesu. Namun tiba-tiba pria itu tersenyum smirk,"Tuan!"panggil Andi, membuat Rayyan yang baru memegang handle pintu menghentikan langkahnya dan menoleh pada Andi.
"Apa?"tanya Rayyan.
"Ngomong-ngomong, baru kali ini ada perempuan yang tidak tertarik pada tuan. Bahkan menolak dan melawan Tuan. Padahal banyak di luar sana yang bersedia sekedar menjadi teman tidur tuan. Tapi nona Aurora malah menolak tuan ajak nikah. Bahkan dia menampar Tuan. Apa Tuan tidak merasa harga diri Tuan terluka?"ujar Andi memicingkan sebelah matanya, memprovokasi majikannya. Kali ini pria itu menatap wajah Rayyan.
Rayyan mengepalkan tangannya saat mendengar kata-kata Andi. Sebenarnya Rayyan memang merasa harga dirinya terluka saat mendapatkan kenyataan bahwa Aurora terlihat tidak tertarik pada dirinya sama sekali. Bahkan gadis itu terlihat membenci, menolak dan selalu menentang dirinya. Selama ini tidak ada seorang perempuan pun yang tidak tertarik pada pesonanya. Berbeda dengan gadis yang bernama Aurora itu.
"Kerjakan tugasmu!"ucap Rayyan terdengar dingin.
"Baik, Tuan,"sahut Andi mengulum senyum.
Rayyan keluar dari ruangannya dengan wajah yang terlihat dingin, meninggalkan Andi yang terlihat lesu melihat setumpuk berkas dan dokumen.
"Aku harus lembur malam ini gara-gara mulutku yang seperti petasan ini. Huff.. Ya sudahlah, yang penting gaji tidak jadi di potong,"gumam Andi mulai memeriksa berkas dan dokumen yang ada di meja kerja majikannya.
***
Pagi harinya, Aurora nampak sudah bersiap-siap. Sebuah koper besar berisi barang-barangnya sudah siap semua untuk dibawa. Tepat saat Aurora selesai bersiap-siap, handphone nya pun berdering dengan nama pemanggil 'Iblis Mesum'.
"Cepat keluar sekarang juga! Jika tidak, aku akan menghampiri mu dan akan mencium kamu dimanapun kita bertemu,"
"Tut..Tut..Tut..."
Belum sempat Aurora mengatakan apapun, sambungan telepon sudah di putuskan oleh Rayyan.
"Dasar iblis mesum sialan!"gerutu Aurora bergegas keluar dari unit apartemennya. Melupakan koper besar yang sudah disiapkan olehnya semalam. Begitu keluar dari apartemennya, Aurora melihat mobil Rayyan. Gadis itu pun bergegas masuk ke dalam mobil Rayyan.
"Bugh"
Suara pintu mobil yang di tutup dengan kencang oleh Aurora karena merasa kesal pada Rayyan. Aurora duduk di sebelah Rayyan dengan wajah kesal. Sedangkan Rayyan meliriknya dengan tatapan tajam.
"𝙂𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙟𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙗𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙠𝙪. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙖𝙩𝙪𝙝,"gumam Rayyan dalam hati.
"Jalan!"titah Rayyan pada supirnya. Pria itu sedang memangku laptopnya dan jemari tangannya nampak bergerak lincah di atas keyboard laptopnya.
"Aihh.. dari awal gadis ini berani menunjukkan sikap tidak sukanya pada tuan. Benar-benar gadis unik. Baru kali ini ada gadis yang bersikap kasar pada Tuan,"gumam Andi lirih. Sedangkan sang supir hanya diam, sesekali melirik ke arah kaca spion dalam mobil untuk mengintip majikannya.
"Dasar iblis sialan! Ingin sekali aku mencekik leher nya,"gumam Aurora lirih.
"Tak"
Rayyan menghentikan gerakan jemari tangannya di atas keyboard laptopnya, lalu menoleh ke arah Aurora,"Apa kamu mengatakan sesuatu?"tanya Rayyan memicingkan matanya.
"Tidak ada,"sahut Aurora ketus.
"Perbaiki sikapmu padaku! Bersikaplah seperti seorang istri yang penurut dan manis. Jika tidak..."ucap Rayyan menggantung kata-katanya, menatap tajam wajah Aurora.
"Jika tidak, apa?"sergah Aurora menatap Rayyan tak kalah tajam.
"Tak"
Rayyan tidak menjawab. Tapi pria itu menutup laptopnya dengan kasar, lalu mulai mendekati Aurora dengan tatapan tajamnya.
"Ka.. kamu mau.. mau apa?"tanya Aurora beringsut mundur menjauhi Rayyan.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 434 Episodes
Comments
Raniah Raniyah83
sakit perut ngetawain rayyan dan aurora 😂😂😂
2024-01-05
2
Rasain tuh makanya jangan mudah ngikutin ide dari asisten mu kan kena tampar untung aja nggak di lempar sama high heels
2023-12-02
1
hadeuh Sumi matre nya keluar 🤦
2023-12-02
1