Mami mengernyitkan keningnya menatap Aurora. Mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya, nampak sedang berpikir..
"Syarat pertama dan ke-tiga bisa saya terima. Tapi...tidak mau di sentuh oleh pelanggan sebelum masuk kamar... sepertinya tidak bisa. Para pelanggan biasanya akan memeluk dan mencium wanita yang dipilihnya sesuka hatinya, walaupun belum masuk kamar,"sahut Mami yang merasa tidak masuk akal dengan syarat yang di ajukan oleh Aurora.
"Berarti Mami tidak setuju dengan syarat ke-dua saya, ya? Kalau begitu, saya tidak jadi bekerja di sini. Saya akan mencari tempat lain yang mau menerima saya bekerja,"sahut Aurora beranjak dari duduknya.
"Tunggu! Baiklah. Aku menerima mu bekerja di sini. Kapan kamu mau mulai bekerja?"tanya Mami yang tidak ingin kehilangan barang baru yang nampaknya akan menghasilkan banyak uang.
Mungkin dengan kecantikan Aurora yang di atas rata-rata kecantikan wanita pada umumnya ini, pelanggan tidak akan mempermasalahkan tentang peraturan yang di buat Aurora. Bukankah selalu ada pengecualian bagi wanita cantik? Itulah yang ada di otak Mami.
"Malam ini juga,"sahut Aurora penuh keyakinan.
"Bagus. Oh, iya, siapa namamu?"tanya Mami yang dari tadi belum mengetahui siapa nama Aurora.
"Kenanga,"sahut. Aurora membuat nama samaran.
"Nama yang bagus,"sahut Mami tersenyum manis.
Akhirnya mereka pun membicarakan kesepakatan kerja mereka lebih mendetail. Mami yakin, dengan kecantikan dan seksinya tubuh Aurora, pasti akan banyak pria yang menginginkan Aurora.
"Apa kamu masih perawan?"tanya Mami.
"Tidak,"sahut Aurora mengingat Sumi yang sudah tidak perawan lagi. Entah sudah berapa banyak wanita itu mencicipi rasanya burung yang tidak bisa terbang.
"Sayang sekali. Tapi tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu tunggu di sini! Aku akan memberikan pelanggan yang dompetnya tebal padamu,"ujar Mami beranjak dari duduknya.
"Terimakasih, Mi!"ucap Aurora.
"Kalau begitu aku permisi,"ucap Sumi ikut beranjak dari duduknya.
"Tunggu! Karena kamu telah membawakan barang bagus untuk ku. Aku akan memberikan hadiah untuk mu,"ucap Nami membuka dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada Sumi.
"Terimakasih, Mi!"ucap Sumi tersenyum lebar menerima uang dari Mami.
Wanita yang di panggil Mami itu berjalan ke dalam klub malam menghampiri seorang pria. Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan wajah lumayan tampan yang sedang duduk di depan meja bartender.
"Bos,.ada barang baru. Mau tidak?"tanya mami duduk di sebelah pria yang merupakan pengusaha batu bara itu.
"Masih orisinil?"tanya pria itu sambil meneguk minuman dalam gelasnya, melirik sekilas pada Mami.
"Enggak. Tapi dia baru terjun di dunia malam. Jika bos mau, bos adalah pelanggan pertamanya. Kali ini bos pasti akan tertarik padanya,"ujar Mami antusias.
"Aku lihat dulu,"sahut pengusaha batu bara itu beranjak dari duduknya.
"Tapi.. dia punya persyaratan yang agak aneh, bos,"ujar Mami menghela napas berat.
"Persyaratan aneh? Maksudnya?"tanya pengusaha batu bara itu nampak penasaran.
"Dia tidak mau di sentuh sama sekali sebelum masuk ke dalam kamar. Jika bos melanggarnya, dia tidak akan jadi melayani, bos,"jelas Mami.
"Ayo, kita lihat dulu! Aku jadi penasaran, seperti apa orangnya,"ajak pengusaha batu bara itu.
Kedua orang itu melangkah menuju ruangan pribadi Mami. Hingga pintu ruangan itu terbuka dan Aurora menatap ke arah pintu. Menghembuskan napas berat melihat seorang pria yang bersama Mami.
"Lumayan tampan, tapi sayang.. suka celap-celup sembarangan,"gumam Aurora lirih, tersenyum merapatkan giginya.
"Cantik. Sayang sudah tidak orisinil lagi. Jika saja masih orisinil, aku sanggup membayarnya satu milyar,"ucap pengusaha batu bara itu menelisik ke seluruh tubuh Aurora dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Satu milyar? Dia sanggup membayar sebanyak itu untuk membeli keperawanan seorang gadis? Buset, dah! Itu uang apa daun?"gumam Aurora dalam hati. Mencoba bersikap biasa-biasa saja walaupun sebenarnya merasa risih dengan tatapan pria di depannya yang menatapnya dengan tatapan mesum itu.
"Boleh aku bicara dengan kamu secara pribadi?"tanya Aurora berlagak biasa saja, padahal jantung nya sudah tidak dapat di kondisi kan. Jedak jeduk tidak karuan. Tapi demi cuan untuk menyambung hidup, misi gila ini harus tetap dilanjutkan bukan?.
"Kalian bicaralah! Aku akan pergi dulu melihat-lihat di bawah,"ucap Mami tersenyum manis, kemudian keluar dan menutup pintunya.
"Kamu sudah tahu, 'kan, apa persyaratan nya jika ingin aku menemanimu?"tanya Aurora bersikap setenang mungkin.
"Kamu tidak ingin di sentuh sebelum masuk kamar,"sahut pengusaha batu bara itu.
"Satu lagi. Kita akan melakukannya dalam keadaan gelap. Jika kamu tidak setuju, kamu bisa mencari wanita lain untuk menemani kamu,"ujar Aurora.
"Bagaimana aku bisa melihat keindahan tubuh mu jika kita melakukannya dalam keadaan gelap?"tanya pria itu sambil mengernyitkan keningnya.
"Jika tidak mau juga tidak apa-apa,. Aku juga tidak memaksa,"sahut Aurora santai.
"Baiklah. Aku setuju,"sahut pria itu. Melihat Aurora yang cantik dan bertubuh seksi, pria itu benar-benar penasaran bagaimana rasanya tubuh Aurora.
Keduanya melangkah menuju sebuah kamar. Hingga akhirnya pengusaha batu bara itu membuka pintu kamar dan melihat ruangan yang gelap tanpa cahaya.
"Masuklah lebih dulu!"ucap Aurora.
"Semoga saja rencana ku berhasil. Jika tidak... Mampus aku! Kenapa juga aku bisa mempunyai ide segila ini? Sepertinya otakku sudah tidak waras karena uang,"gumam Aurora dalam hati.
"Kamu tidak akan menipuku, 'kan?"tanya pria itu menoleh pada Aurora yang ada di sebelahnya.
"Kamu tidak perlu mentransfer uang mu jika aku menipu mu, atau tidak dapat memuaskan mu,"ucap Aurora sok percaya diri, padahal jantungnya sudah berdetak tidak karuan.
"Baiklah,"sahut pria itu kemudian masuk ke dalam kamar diikuti Aurora yang kemudian menutup pintu kamar itu.
"Greb"
Sumi yang ada di dalam ruangan itu langsung memeluk pengusaha batu bara itu dari belakang. Meraba dada dan perut pengusaha batu bara itu.
"Nampaknya kamu sudah tidak sabar lagi,"ujar pengusaha batu bara itu merasa senang.
"Bukankah tujuan kamu masuk ke kamar ini memang untuk bercinta dengan aku?"tanya Aurora dari belakang tubuh Sumi dengan suara menggoda,"Tidak usah banyak bicara, Mari lakukan!"ucap Aurora yang merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Aku jadi semakin penasaran dengan service yang akan kamu berikan,"ujar pengusaha batu bara itu.
"Aku jamin, aku tidak akan mengecewakan,"sahut Aurora dengan suara yang di buat menggoda. Masih berdiri di belakang Sumi yang memeluk pengusaha batu bara itu dari belakang dengan tangan yang bergerilya kemana-mana.
"Anjayy.. aku menjadi pengisi suara perempuan nakal. Dubbing cuyy..,"gumam Aurora dalam hati, menutup mulutnya sendiri menahan tawa.
...🌟"Uang bukan segalanya. Tapi tanpa uang, kita bisa apa?"🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 434 Episodes
Comments
Memyr 67
𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻 𝗰𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝗲𝗻𝗼𝗹, 𝗮𝘂𝗿𝗼𝗿𝗮 𝗹𝘂𝗰𝘂 𝗷𝘂𝗴𝗮
2024-08-15
1
Cusiah Cusiah
lanjut thor
2024-08-12
0
Fareza Gmail.Com
anjay nya itu loh
2024-07-23
2