"Suamiku...!" permaisuri melirik ke arah kaisar Xiao yang saat ini tengah menatap tajam pada dua ratus orang pasukan berpakaian hitam yang telah membuat keonaran di Kekaisaran nya.
"Pergilah! Dan bawa kedua putri kita! Jika sampai zhen tak selamat, kau harus bisa membesarkan anak-anak kita dengan baik!" ucap kaisar Xiao sambil mencium pucuk kepala permaisuri nya.
Permaisuri Xiao meneteskan air mata, betapa sulit hidup yang harus dia jalani saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa kaisar Xiao di sisinya? Meski begitu dengan terpaksa dua pun segera masuk ke dalam istana dan menemui kedua putrinya.
"Feng Qiang! Yi Rong!" panggil kaisar Xiao pada kedua orang kepercayaan nya.
"Hamba yang mulia!" ucap mereka dengan serempak sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan kaisar Xiao.
"Kalian berdua lindungi permaisuri dan juga putri zen!" ucap kaisar Xiao dengan tegas.
"Tapi yang mu-" ucapan Yi rong terpotong.
"Zhen harap kalian berdua bisa menyelamatkan istri dan juga kedua putri zhen!" ucap kaisar Xiao kembali.
"Baik yang mulia" Feng Qiang dan Yi Rong sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak permintaan dari kaisar mereka hingga akhirnya keduanya pun langsung menyetujuinya dan segera melesat menuju paviliun tempat kedua putri kaisar itu berada.
"Permaisuri! Kita harus segera pergi dari sini!" ucap Yi Rong.
Xiao Anchi dan Xiao Junyie saling bertatapan, kedua bocah itu belum mengerti apa yang terjadi di Kekaisaran nya hingga mereka harus segera pergi.
"Tapi Ibunda.. Ayahanda dimana?" tanya Xiao Anchi menanyakan keberadaan sang ayah.
Yi Rong dengan cepat langsung menggendong kedua bocah itu, sementara Feng Qiang membuka jalan rahasia dari istana Kekaisaran Xiao menuju keluar. Mereka berempat pergi bersama sepuluh orang prajurit dan juga 5 orang pelayan kepercayaan permaisuri.
Jalan untuk keluar dari istana itu tidaklah mulus, banyak sekali jebakan di sana. Namun karena Feng Qiang sudah sangat hapal tempat yang paling aman untuk mereka pijak dan juga pegang hingga akhirnya mereka pun bisa keluar dari sana dengan sangat aman.
Saat ini Yi Rong dan Feng Qiang dengan cepat menyuruh permaisuri dan juga kedua putrinya untuk berganti pakaian dengan hanfu polos biasa agar tidak mencolok hingga mengundang perhatian orang yang nanti mereka lewati.
Bahkan para pelayan dan prajurit itu pun langsung mengganti pakaian mereka tanpa di perintah lagi, akhirnya mereka sampai di sebuah sungai dimana ada sebuah perahu yang lumayan luas untuk mereka tunggangi.
Para pelayan dengan cepat membantu permaisuri dan juga kedua putri kaisar itu untuk naik ke atas perahu, sementara Yi Rong dan beberapa prajurit bergantian mendayung.
Mereka harus segera keluar meninggalkan wilayah Kekaisaran Xiao agar permaisuri dan juga kedua putrinya itu aman, sesuai dengan perintah kaisar mereka.
Sementara di istana kekaisaran Xiao saat ini telah terjadi pertempuran sengit antara para prajurit Kekaisaran dengan dua ratus orang pembunuh bayaran, bahkan kaisar Xiao beserta beberapa petinggi dan juga jendralnya sudah ikut turun tangan menangani para kultivator.
"Dasar payah! Kalian semua tak mungkin bisa melawan kami!" teriak si pria yang berpakaian hitam sambil mengeluarkan aura penekanan dan energi Qi nya mengarahkan serangan pada para prajurit Kekaisaran.
Booom...
Booom...
Duar...
Duar...
Ratusan prajurit Kekaisaran kini telah ambruk dalam keadaan tak bernyawa karena efek dari serangan para kultivator tingkat jendral itu. Mereka membantai seluruh pasukan dan berusaha untuk merebut putera mahkota yang saat ini tengah di sembunyikan oleh seorang pelayan di suatu tempat.
Sementara kaisar Xiao juga kini telah babak belur, tubuhnya telah di hiasi sayatan pedang dengan darah yang mengucur dari setiap lukanya, begitu juga dengan jendral dan para petingginya.
"Dasar kaisar lemah! Kau bahkan hanya bisa mengandalkan pasukan bodohmu saja! Lihatlah tubuhmu yang sudah babak belur itu! Kau bahkan tak bisa melawan ku!" teriak seorang pria berbaju hitam itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Pria lain pun ikut memprovokasi sang kaisar dengan sangat sengit, mereka sengaja ingin membuat kaisar Xiao marah hingga melakukan kesalahan dalam penyerangannya, jadi akan mudah bagi mereka untuk melenyapkan nya.
Mereka ingin kaisar Xiao terluka sebelum membunuhnya! Karena itu juga yang jadi perintah dari tuan mereka. Sementara itu di sebuah dahan pohon yang cukup besar saat ini ada dua orang pria yang sedang duduk dan memperhatikan pertempuran itu.
Keduanya menggunakan pakaian mewah layaknya bangsawan kelas atas, orang itu adalah Han Xuefeng dan Cheng Jiang yang merupakan adik tiri dari kaisar Xiao, putra dari kaisar terdahulu bersama selirnya.
Kedua pangeran itu sangat berambisi untuk menjadi kaisar Masa depan. hingga akhirnya mereka meracuni saudara mereka yang lain hingga mati. Nasib baik saat itu kaisar Xiao yang masih bergelar pangeran keempat berada di akademi, jadi dia tidak mengalami nasib yang sama seperti yang di alami oleh keempat saudara nya yang lain.
Kaisar Xiao diangkat menjadi seorang kaisar pada saat dia berumur 21 tahun atau beberapa bulan setelah pernikahan nya dengan sang permaisuri, sementara Han Xuefeng dan Cheng jiang di usir dari istana karena terbukti telah membunuh keempat saudaranya.
Ambisi Cheng Jiang dan Han Xuefeng tidak berakhir di situ, setelah kaisar Xiao yang baru naik tahta, keduanya juga sering kali melakukan penyerangan secara diam-diam pada istana Kekaisaran.
Bahkan salah satu selir termuda milik kaisar Xiao juga telah di rebut oleh Han Xuefeng secara terang-terangan. Tapi hal itu tidak membuat kaisar Xiao marah, dia dengan santai menyerahkan selirnya itu. Karena kaisar Xiao hanya mencintai permaisurinya.
"Kuharap kaisar sialan itu mati! Agar aku bisa menggantikan posisinya dia sebagai kaisar yang baru!" ucap Han Xuefeng dengan sangat santai.
Cheng Jiang hanya tersenyum manis sambil menganggukkan kepala nya, namun dia juga memiliki niat busuk di dalam hatinya terhadap Han Xuefeng.
'Tentu saja! Jika si kaisar itu mati, aku hanya perlu membunuhmu untuk bisa naik tahta' gumam Ceng Jiang dalam hati seraya menyunggingkan senyuman yang mengerikan.
Han Xuefeng sama sekali tak menyadari niat busuk saudara tirinya itu, dia berfikir jika Ceng Jiang benar-benar memihaknya dan ingin agar dirinya naik tahta. Padahal Cheng Jiang hanya menjadikan Han Xuefeng sebagai bidak catur dia untuk mencapai ambisinya menguasai Kekaisaran Xiao.
Saudara yang sangat mengharukan, saling mendukung untuk bisa menusuk dari belakang. Cheng Jiang hanya harus bersabar sampai keinginan Han Xuefeng tercapai dan di detik selanjutnya dia akan membunuh saudara tirinya itu dengan alasan pemberontakan terhadap Kekaisaran sehingga pada saat dia naik tahta, semua orang pun berfikir Cheng Jiang adalah orang yang sangat baik, Han Xuefeng lah si penghianat dan pantas untuk mati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ᭄
perebutan harta, kasta, dan tahta sampai rela mengorbankan banyak nyawa sekalipun itu saudara kandung sekalipun. sungguh miriss
2024-12-07
0
Saa
knp ga di bunuh kan jadi nyusahin
2024-11-22
0
Dewi Ansyari
Astaga 🤦🏻 banyak yg menginginkan kematian pangeran Xiao .
kasihan Ayahnya mati di bantai oleh pasukan saudaranya sendiri 😭😭😭
2024-08-30
2