Sebuah siluet bayangan pria melesat dengan cepat menuju sebuah tempat di kaki gunung pandora, gunung itu telah lama tak terjamah oleh manusia karena keberadaan nya yang tertutupi array di tambah aura gelap yang membuat siapa pun bergidik saat melewatinya.
Dulu sekitar seribu tahun yang lalu, tempat itu ramai di datangi para kultivator dengan berbagai tingkat untuk mencari sumber daya ataupun hewan beast. Mereka berbondong-bondong datang kesana untuk mendapatkan harta guna menaikkan ranah kultivasi mereka yang mandek atau pun sekadar mencari hewan beast untuk di jadikan tunggangan.
Hingga akhirnya sekelompok pria bertopeng dengan pakaian serba hitam muncul dan menjarah seluruh harta yang di dapat oleh para kultivator, dia juga membantai banyak sekali hewan beast hingga akhirnya seorang pria muncul dan menyelamatkan hutan itu.
Setelah bertarung selama tiga puluh hari tiga puluh malam, akhirnya pria itu pun berhasil mengalahkan kedua puluh pria bertopeng, dia juga mengambil seluruh harta jarahan dari mereka dan mengembalikan nya ke hutan.
Demi untuk keselamatan seluruh penghuni hutan, akhirnya pria itu pun membuat array pelindung, dia juga mengajak seluruh hewan beast yang tinggal disana untuk membuat tempat tinggal dan menanam herbal. Pria itu bernama Fang Shi, seorang dewa kebijaksanaan yang telah di usir dari alam atas untuk menjalani samsara selama seribu kali kehidupan, dan Fang Shi merupakan reinkarnasinya yang ke 555.
Andai saja saat ini seluruh penghuni hutan pandora itu tahu jika Fang Shi mereka telah kembali dan tinggal di hutan akasia hijau dalam wujud Liu Yibei, mungkin hutan pandora akan di tinggalkan oleh penghuninya dan akan berbondong-bondong mengikuti Liu Yibei yang merupakan reinkarnasi dari dewa kebijaksanaan yang ke seribu satu.
Hanya saja hingga saat ini, Liu Yibei belum mau membuka dirinya, dia kini fokus untuk menjalani kehidupan yang bahagia bersama istri dan juga putri angkatnya yang bernama Liu Lin.
Meskipun telah mengalami seribu satu kali reinkarnasi, wajah dewa kebijaksanaan masih tetap sama, dia di takdirkan memiliki paras yang menawan dan juga sangat karismatik, hingga di masa lalu banyak sekali nona muda mau pun putri kaisar yang menginginkan nya.
Tapi karena Dewa kebijaksanaan tidak ingin menghianati kekasihnya, akhirnya dia menolak semua gadis yang mendekatinya dengan alasan telah memiliki seseorang yang dia suka.
Patah hati masal selalu terjadi saat dewa kebijaksanaan beranjak dewasa, banyak sekali gadis yang tertarik dan ingin menjadikan nya sebagai suami, hanya saja tidak ada satu orang gadis pun yang mampu membuat dewa kebijaksanaan itu berpaling dari hukuman yang di terimanya dari dewa agung.
Hingga akhirnya lagi dan lagi dalam seribu kali reinkarnasi, dewa kebijaksanaan tidak memiliki kekasih ataupun istri, hingga di kehidupan nya yang ke seribu satu, akhirnya langit pun berpihak padanya dan memberikan gadis yang selama ini di cintainya sebagai pasangan hidupnya.
Banyak cerita turun temurun yang di wariskan para leluhur pada keturunannya, terutama tentang betapa setia dan sabarnya seorang dewa kebijaksanaan dalam menanti pertemuannya dengan sang kekasih hati, hal itu kini sering di dengar oleh anak muda saat beberapa leluhur tengah memberinya nasihat.
Swush...
Tap...
Bayangan itu pun akhirnya menapakkan kakinya di depan sebuah gubuk yang lumayan besar, disana telah berkumpul beberapa pria yang tengah menunggu kedatangan pria tua berjanggut putih itu.
"Salam Patriark Meng!" ucap pria tua yang kini tengah duduk itu sambil bangkit dan menangkupkan kedua tangannya.
"Para tetua! Kalian disini?" pria tua berjanggut putih yang merupakan patriark dari keluarga Meng itu bertanya.
"Benar patriark! Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan dengan patriark!" ucap salah seorang dari para tetua itu seraya mengulurkan tangannya dan membantu patriark Meng menurunkan seorang pria yang terluka parah dan terlihat sangat mengenaskan.
"Baiklah tapi sebelum itu tolong panggilkan tabib untuk mengobati dia! Sepertinya lukanya cukup parah!" ucap patriark Meng.
Akhirnya para tetua itu pun segera memanggil beberapa orang pemuda untuk membawa tamu yang di bawa patriark mereka menuju sebuah kamar. Sedangkan beberapa orang lain nya di perintahkan untuk memanggil tabib dan berjaga di sekitar kamar itu.
Meskipun keadaan orang itu sangat parah, dan pakaiannya pun telah kotor dengan darah dan juga debu, tapi para tetua itu tahu jika orang yang di bawa oleh patriark mereka bukanlah orang biasa, melainkan seorang kaisar atau pun pangeran.
Karena mereka bisa menilai dari pakaian yang dipakainya nampak sangat mahal dan juga nyaman untuk dikenakan. Setelah selesai mengurus segala persiapan untuk tamu mereka, para tetua itu pun segera kembali untuk menemui patriark Meng guna membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Patriark! Siapa sebenarnya orang yang anda bawa itu?" tanya para tetua sambil mendudukkan diri di atas kursi.
Sepertinya kelima tetua keluarga Meng itu sangat penasaran karena patriark mereka sangat jarang meninggalkan gunung, dan sekalinya dia pergi malah membawa seoramg pria dalam keadaan sekarat.
"Dia itu kaisar Xiao, aku melihat dia dalam keadaan tak berdaya dan sedang terluka parah! Dia juga hampir mati di tangan saudara tirinya yang haus akan kekuasaan!" ucap patriark Meng.
"Tapi patriark, bagaimana jika orang-orang itu datang ke tempat ini dan mencari pria itu? Sepertinya ini tidak akan menguntungkan untuk kita!" tanya seorang pria tua yang merupakan tetua pertama keluarga Meng.
"Walau bagaimanapun dia itu kaisar yang baik hati dan juga bijaksana! Sudah seharusnya kita semua menolong orang itu! Kalaupun suatu hari nanti ada yang mencarinya kesini, kita bisa menghadapinya bersama-sama." ucap patriark Meng sambil menarik nafas panjang.
Dia tak mungkin membiarkan kaisar Xiao mati begitu saja, terlebih di masa lalu dia pernah mendapatkan pertolongan dari pria itu saat dirinya beserta keluarga tengah tersesat di sebuah hutan yang bernama hutan kabut.
Saat itu patriark Meng berfikir untuk mencari beberapa macam herbal, karena hutan kabut merupakan surganya tanaman herbal kelas rendah, menengah dan juga tinggi.
Namun tanpa di duga dia di serang oleh sekawanan serigala angin tingkat 6 yang berjumlah seratus ekor, patriark Meng dan keluarga hampir saja mati saat itu jika kaisar Xiao tidak datang untuk menolong mereka.
Selain membantu untuk mengobati patriark Meng dan juga keluarga, kaisar Xiao juga mengerahkan seluruh jendral dan juga para prajuritnya untuk menghadapi beast serigala angin itu. Hingga akhirnya patriark Meng pun sembuh, dan saat dia ingin mengucapkan terima kasih, kaisar Xiao hanya mengatakan beberapa kalimat yang membuat patriark Meng itu terus mengingatnya hingga saat ini.
"Jika kau ingin berterima kasih padaku, maka lakukan hal yang sama seperti yang kulakukan! Tolonglah mereka yang membutuhkan pertolongan dan selamatkan orang yang memang pantas untuk di selamatkan!" ucapnya sambil mengajak seluruh petinggi dan juga para prajurit nya untuk kembali menuju istana kekaisaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Dbz Mar
Liu LAN hidup berdampingan dengan mertuanya donnk
2025-03-26
0
٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ᭄
kata kata yg sangat bijak sekali
2024-12-07
0
Mrytl22
Mandek/mandeg artinya berhenti.
Tapi lebih pas lagi kalo katanya pake macet/mengalami kemacetan😍😍
Tapi kembali lagi sama authornya.
2024-10-28
1