Karin menatap kedua mata Papa nya "Aku memutuskan hak waris Papa menjadi milik ku seutuh nya. Kapan pun itu aku lah yang akan mendapatkan hak waris Papa. Tak ada yang namanya Suami ku-Suami ku yang mendapatkan nya"
Makan malam langsung dikagetkan dengan ucapan Karin yang terkesan berani berucap "Nak... haha jangan bercanda. Hak waris hanya bisa didapatkan laki laki bukan perempuan. "Jelas Adriana seolah tak yakin kalau Anak nya bisa mendapatkan hak waris.
Pratama kembali ke meja makan dengan sepiring sayur hijau "Siapa yang tau Ma?" sambung Pratama sembari mengambilkan tumis sayur ke piring mereka berdua dan satunya untuk dirinya.
"Tapi Pa! perempuan gak bisa jadi pewaris! mereka.... perempuan..."
Pratama menanggapi dengan gelengan kepala "Kata siapa Ma? coba lihat keluarga lain ada tuh pewaris yang warisan nya dikasih ke Anak perempuan mereka. ada lo! kalau Karin mau gitu Papa bakal mencalonkan kamu sebagai pewaris Papa. Kapan pun kamu siap"
Adriana menampar dahi nya pelan "Hadeh Papa Papa. Kamu senang Karin? kamu akan jadi pewaris Papa, bagaimana tanggapan kamu?" tanya Mama yang dari tadi Karin meloncat loncat sendiri,kesenangan.
"SENENG BANGET!!! MAKASIH PAPA!!! MUACHH BUAT PAPA!!!" Karin mencium kening Papa nya beberapa kali. Adriana sedikit iri "Mama gak juga nih..." Karin hanya tertawa kecil "Udah besar kok mau nya di cium..."
"Ih kamu juga kali!"sarkas Adriana tak ingin kalah dari anak nya.
"Ya iyalah aku sayang mama papa kok tenang aja!!!"
Papa hanya menggeleng lucu melihat tingkah mereka berdua "Kangan bicara terus lihat makanan kita jadi tempat lalat nanti"
Karin langsung duduk sedangkan Adriana langsung menunjukan sikap tegap. Mereka bertiga diam tanpa suara hanya dentingan piring dan sendok yang terdengar. Tak ada suara sama sekali.
Setelah selesai makan mereka masing masing membereskan piring ke dapur dan dicuci sendiri, tapi karena Pratama ada pekerjaan jadi dia nitip ke Adriana.
.
Di wastafel tempat cuci piring , Karin mengambil spoon tapi sebelum itu baju lengan panjang nya ia naikan agar tak basah. Lalu diambil spoon yang langsung di atas nya di isi sabun cair. Lalu digosok gosok ke 3 piring kotor, yang setelah itu semua nya dibasuh dengan air sama Mama.
Aslinya tadi pembantu mereka yang menawarkan diri mencucikan piring bekas mereka bertiga. Tapi tak dibolehkan sama Karin dan Adriana yang menyuruh mereka ber delapan untuk bersih bersih yang lain saja.
Seusai menyuci piring, Karin ingin berbincang sedikit dengan Mama di kamar nya. Ingin membicarakan sesuatu. Ia ajak Adriana untuk lekas ke kamar nya, yang berada di atas sana.
.
Di kamar nya Karin, mereka berdua duduk berdampingan. Diam dulu sejenak menenangkan pikiran mereka.
"Mama kaget, kamu tiba tiba menolak tunangan. Mama tambah kaget kamu pengen banget jadi pewaris Papa, kenapa Sayang? Apa alasan kamu untuk semua ini selain Haikal yang kata kamu jahat itu?" tanya Mama.
Karin memandang gelap nya langit yang terpancar kan melewati jendela kamar "Karena aku sudah trauma yang namanya pernikahan. Hidup ku sudah hancur Ma, dihancurkan oleh seseorang yang kita sayangi itu sakit. Aku ingin hidup sendiri, berjuang dengan hasil kerja keras ku sendiri tanpa seorang suami lagi. Walau tak ada Tasya di sampingku, aku yakin Tasya masih ada di sisi aku" ucap nya dalam hati nya.
"Tapi aku juga takut, aku takut sendiri lagi seperti yang ku alami. Aku ingin berusaha, untuk kalian juga. Aku gak akan membiarkan Haikal mendapatkan warisan Papa lagi. biarkan aku yang menentukan siapa yang pantas mendapatkan nya. Aku hanya berbohong kalau aku ingin mendapatkan hak waris Papa untuk ku seutuhnya, yang aku inginkan adalah menunggu seorang yang pantas mendapatkan nya" sambung nya dalam hati seketika menoleh ke arah Adriana.
"Ma, aku mau les. Aku mau Mama menyarikan ku guru les yang bisa mengajari ku tentang perusahaan, akutansi atau apalah itu tentang perusahaan. Aku gak tau apa apa mangkannya Aku harus belajar mulai sekarang..." pinta Karin kepada Adriana dengan tatapan berkaca kaca.
"Kamu beneran serius? Mama... Mama... Terharu sama kamu. Tak Mama sangka kamu bakal serius gini, tenang saja Karin. Mama akan mencarikan teman kepercayaan Mama. Teman Mama yang jago sekali dengan materi materi tentang perusahaan, tenang saja!"
Karin tersenyum, untuk jawaban nya ia memeluk Mama nya "Aku sayang sama Mama, aku bakal berjuang keras buat Mama dan Papa. Karin yakin, Karin pasti bisa"
Adriana mengelus kepala anak nya "Ya, Mama percaya itu"
Berpelukan sebentar Karin meminta permintaan lagi "Ma aku juga ingin Mama carikan aku guru bela diri, petarung atau pun guru olahraga yang jago dalam pertahanan diri"
"Hah? buat apa Sayang?" heran Mama.
"Buat pertahanan ku Ma, kalau misalnya aku ada sesuatu yang melibatkan fisik. Aku pasti bisa mengatasi nya dengan mudah" jawab Karin dengan sangat jelas membuat Mama mencubit pipi kanan Karin.
"Memang kamu laki laki hah..."
"Aduh... Duh...."
Adriana mengecup dahi Karin "Kamu yakin mau menanggung 2 pilihan ini? berat lo"
"Ma... Aku gini juga buat Mama, Papa, keluarga dan aku. Gak ada yang lain... Karin ingin kuat. Itu aja" mendengar uxapan Karin membuat Adriana mencemberutkan raut wajah.
"Eh Ma ada apa?... Jangan nangis"
"Mama terharu, Mama senang, Mama gak nyesal sudah ngelahirin kamu"
Karin menepuk pundak Adriana pelan, mengingat kenyataan di masa depan setelah Papa tiada. Di masa depan Mama dikabarkan menikah lagi dengan seorang lelaki bernama Dirga. setelah Adriana menikah lagi dengan Dirga, karin mulai tak bisa berbicara seperti ini lagi dengan Adriana karena ia sibuk dengan keluarga baru nya. dan Karin? di biarkan begitu saja, datang hanya melihat Tasya. Adriana hanya bertanya singkat tentang rumah tangga Karin. tak ada yang lain, seperti mereka tak pernah berbincang satu sama lain lagi seperti di masa lalu.
"Ma, aku gak tau masih bisa bicara kayak gini enggak sama Mama, tapi aku pingin selamanya kayak gini. Disamping Papa, Mama. seperti Tasya. Anak ku yang mengharapkan cinta Papa dan Mama nya. Aku sama, aku membutuhkan kalian berdua untuk menjadi rumah ku. Rumah, pundak, dan dukungan kalian yang sekarang ku butuhkan" ucap Karin dalam dalam hati nya.
"Ma tidur bareng yuk, lama nih gak tidur bareng. Yang tadi besok aja mikir nya"ucap Karin.
"Hah? tapi Mas Pratama gimana?" bingung Mama.
"Kan Papa kerja hehe"Karin malah cengengesan.
"Hah! iya juga. Sini sini dengan begini Mama gak bakal di apa apain lagi sama Papa kamu"jawab Mama.
"Di apain apa hayo???"goda Karin, melebarkan senyuman.
"Hah enggak, apa apaan sih kamu. Anak kecil jangan banyak tau!"Mama nampak malu malu kucing.
"Tapi aku udah diatas umur 17 Tahun...!" tegas Karin.
"Yasudah tidur sana" suruh Mama.
"Yaudah, Goodnight Mom" ucap Karin. .
"Goodnight Girl" balas Mama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments