Jam 22.00 malam.
Pintu rumah terbuka, decitan pintu terdengar.
Karin menatap sekeliling.
Berjalan menaiki tangga menuju ke kamar nya, sampai lupa dengan keberadaan Tasya yang sudah menunggu Mama nya sedari tadi sore di dapur dengan minim cahaya.
Tasya sudah di dapur dari tadi.
Hanya ada dirinya sendiri disini.
"Mama kemana ya??? aku pengen makan kue ini sama Mama-Papa" pandang Tasya dengan bola mata berkaca kaca.
Tadi sore asisten pribadi Haikal memberikan gadis itu sebuah bingkisan cokelat pada Tasya untuk tanda hadiah.
Tasya tak ingin makan sendiri, ia ingin makan dengan Papa dan Mama nya walau tau pasti Haikal tak akan datang hanya karena makan makanan kecil seperti ini.
Tasya bangkit dari duduk nya menuju ke arah kamar Mama.
Benar saja, sang ibu sudah pulang tanpa melepas jaket coklat panjang milik nya, tidur pun langsung memakai sepatu hak nya.
Tasya berjinjit jinjit masuk ke dalam sembari membawa bingkisan coklat di kedua tangan miliknya. Tasya sudah berada di samping ibu nya, dengan penuh perhatian.
Tasya menoel pipi mama nya berkali-kali, merasa mama nya sangat imut, apalagi saat tidur.
Tasya ingin makan cokelat sekarang... Tapi Tasya ingin makan sama Mama.
Tak mungkin gadis itu habis kan sendiri.
Hasrat kesukaannya dengan coklat sudah ia tahan dari tadi...
"Tasya pengen makan coklat malam ini"
Terpaksa Tasya membangun kan mama nya.
"MA... MA... BANGUN... AYO MAKAN COKLAT SAMA-SAMA... MA... MAMA!!"
Tasya membangunkan Karin dengan semaksimal mungkin.
Tetapi tubuh Karin lebih besar, susah dirinya yang kecil untuk menggoyang goyangkan tubuh ibu nya.
"MA AKU PENGEN MAKAN COKLAT... BANGUN DONG..." keluh Tasya, mengembungkan pipi kiri nya.
Memang nya sang ibu dari mana saja??! datang datang langsung tidur, bagaimana dengan anak nya?? dia tak mengurus gadis manis nya dahulu???. Pikir Tasya.
"Ya udah, aku makan aja sendiri disini. mama gak bakal kebagian..." ambek Tasya beralasan, membuka mata sebelah nya berharap mendapat jawaban dari Mama.
"Ya udah Tasya makan aja sendiri" gumam Tasya.
Tasya segera mengambil posisi, ia duduk di bawah jendela melihat ke arah luar jendela. Bisa ia lihat remang remang cahaya bintang bersinar indah, cahaya rembulan putih masuk ke dalam kamar.
Perasaan hangat datang.
"Maaf ya ma kalau coklat nya udah gak ada besok nya... hihihi..."
Anak ini malah tertawa sendiri.
Segera gadis itu mengambil bingkisan kotak berisi coklat dengan cepat cepat. Membuka segel plastik yang menghalangi kotak, dan membuka nya.
Bau coklat yang ia suka, bau nya benar benar harum khas cokelat baru panen.
Cokelat makanan favorit Tasya.
"Nyam nyam enyaaakk...." Tasya satu persatu menikmati coklat. Melahap nya, memasukkan ke mulut kecil nya cepat.
"Hihi pengen lagi rasanya benar benar enak banget".
"Bintang kecil di langit yang tinggi!" Tasya menunjuk ke arah luar jendela, ke arah bintang berada.
"Enyak bwangyett"
Tasya malah linglung sendiri makan coklat ini, rasanya gak bisa berhenti saking enak nya.
Tasya ingin lagi... eh tinggal 3.
Tasya pun berpikir.
'Buat Mama aja ya?, kasihan Mama gak kebagi sama sekali'
'Rasanya enak banget sih. pokoknya Mama harus coba!'
Tasya menutup kotak cokelat nya rapat rapat.
Tasya berjalan menuju ke Mama nya, menaruh sekotak coklat di samping ibu nya yang terlihat kelelahan.
Tasya berjalan dengan langkah pelan.
.
.
Aneh sekali, di dalam paru-paru Tasya tiba tiba berdetak 2 kali lebih cepat.
Kenapa ya, rasanya sakit sekali saat paru paru nya memompa pernafasan cepat tanpa ada jeda henti?
Blak! -
Tasya jatuh lunglai.... Menatap langit langit kamar, Tasya mencoba menghirup udara dalam dalam.
Semakin cepat jantung nya memompa, semakin membuat gadis kecil itu tersiksa karena dirinya merasa sesak dan kejang kejang.
"Makkh-maa-khakk-akkhha! M-a... Maa"
Karin tentu langsung terbangun setelah mendengar suara lenguh kesakitan dari anak nya, tak kuasa melihat anak nya kejang kejang.
Karin langsung menghamburkan pelukan terakhir nya kepada sang anak.
"Nak, kamu kenapa? Bilang ke mama kamu kenapa? Mama akan memberimu apapun kalau kamu bicara."
"Mama akan panggil dokter, tahan ya nak."
Dengan langkah tertatih tatih khas orang bangun tidur, Karin berhasil menggapai ponsel nya dan berniat menelepon ambulance cepat.
Tapi terlambat, anak nya tak bisa diselamatkan lagi. Karin bukan medis, dia tak bisa menangani apapun.
Tes. Setetes air mata jatuh ke lantai, dengan langkah berjingkat jingkat Karin menghampiri Tasya dan memeluk anak nya erat erat. Saking erat nya, sang ibu tak akan pernah melepaskan ikatan nya malam ini.
Hati kecil Karin bergemuruh, sedih sangat mendapat gempuran pahit yang selalu saja di alami nya sedari tadi.
Apa keberuntungan tak pernah berpijak padanya sama sekali?
Dalam hati ia menyesal, dirinya terlalu masuk ke dalam jurang kesedihan gara gara kekejian suaminya dan kenakalan sahabat nya.
Sampai wanita itu tak sadar, bahwa Tasya lah seharusnya menjadi prioritas utama nya.
Tajam. Setajam pisau belati, kini ketajaman hati semakin di bentuk. Satu persatu kepingan kaca hitam mulai membentuk, dengan bantuan lem merah menempel di sela sela serpihan kaca.
Tatapan nyalang bagai penuh kekecewaan terpancarkan. Dimalam cahaya rembulan, sosok Karin perlahan mulai berubah. Dimana awalnya ia adalah wanita penuh rapuh senyum bahagia untuk penyemangat nya, kini menjadi wajah penuh masam dengan kobaran api biru menyala.
"Siapa yang membuat mu seperti ini? Siapa!!! Siapa!!!"
Karin tak bisa menangis lagi, ia tak bisa meluruhkan air mata nya lagi.
Gadis cantik, lembut, penuh senyum, polos dan selalu mempunyai canda tawa bagi orang lain kini telah pergi menjauh. Pergi jauh jauh ke alam atas.
Karin makin memperdalam pelukan nya, ia memeluk anak nya yang sudah tiada.
Sorot mata hitam kilat menuju ke arah wajah pucat Tasya. Karin melanjutkan penyesalan nya dalam dalam.
"Kau bisa merenggut hidup ku, tapi kau tak bisa merenggut nyawa anak ku. Siapapun! Siapapun! Siapapun yang telah membuat anak ku tiada, akan ku pastikan hidup nya berada di tangan ku"
Karin menyunggingkan senyuman panjang nya, kesan nya dipaksa ditambah bulir air sedikit menetes mengenai wajah pucat Tasya.
Tatapan tajam nya langsung tersorot pada gunting besar, bekas menggunting bingkisan cokelat di atas ranjang.
Tangan panjang nya langsung meraih gunting dengan cepat, pelan pelan ia arahkan gunting hitam besar itu ke arah rambut cokelat panjang nya.
Sreet-Sreet-Srett
Karin sengaja menggunting rambut panjang nya menjadi rambut pendek acak acakan, malam ini Karin semakin anggun se cantik pancaran cahaya bulan.
Di tatap nya bingkisan cokelat di atas ranjang. Dan di lihat, siapa pengirim bingkisan cokelat untuk anak nya itu.
"Dari papa Haikal, jangan lupa dimakan sama Mama mu ya. Papa lagi ada kerepotan di kantor"
Karin menggeretak kan gigi gigi nya, kebencian langsung muncul dari tatapan kosong nya.
Pria sombong seperti itumenulis hal jijik seperti ini bagi Haikal??
Karin merasa mual saat membayang kan wajah Haikal menulis kalimat indah seperti ini.
Karin tak mau terus tersulut atas kesedihan nya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya pria itu ikut jera ke dalam rencana jahat nya sendiri.
"Haikal....."
"Berani berani nya dia membunuh anak ku!."
"Awas kau"
.
.
Karin menghampiri anak nya, menggendong tubuh kaku Tasya dan menaruh tubuh nya di ranjang kamar tidur.
Merasa Iba dengan keadaan anak nya yang tak segera ditangani dari tadi. Segera Karin bergegas menelepon ambulance.
"Tunggu disini ya Tasya, akan ku laporkan mereka ke Polisi"
"Dengan bukti kematian mu, Haikal pasti segera dimasukkan ke penjara"
Karin mengelus puncak rambut Anak nya masam.
Memegang sekotak bingkisan cokelat.
Menatap bengis kepada pria dengan nama(Haikal).
Pria itu pasti senang dengan perbuatan nya, mengira bahwa istri dan anak nya sudah tiada.
Karin tak kan membiarkan pria itu lepas dari cengkraman nya.
BALAS DENDAM.
Ia akan membuat Haikal terduduk lemas. Meminta maaf , dan membayar semua kesalahan nya.
.
.
Karin segera memanggil ambulance untuk segera ditangani proses pemakaman anak nya.
Daripada terus bersedih tak menerima kenyataan, lebih baik ia susun rencana.
Besok pagi, ia mau bertemu dengan Haikal. Apa reaksi pria itu setelah melihat istrinya dalam kondisi baik baik saja sedangkan anak nya sudah tidak ada sama sekali?
"Sampah harus dibuang di tempat sampah. Seharusnya tak ku pungut kamu dulu di cafe jalanan. Lebih baik kau kembali ke asal mu berada. Babi"
Hidup baru nya akan segera dimulai.
"Tunggu saja nak. Mama akan membalaskan dendam mu."
Layar ponsel Karin menyala, memperlihatkan kiriman chat nya kepada Haikal.
@Karin
Saya ingin bertemu dengan mu. Besok kita janjian di cafe, dan kamu juga jangan lupa pulang ke rumah ya? Karena hantu gentayangan milik Tasya sudah menanti kedatangan mu dirumah.
Jangan jadi pengecut kalau bisanya main di luar, sini hadapi aku.
Sampah.
####
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
verachipuuu
up... up!
2022-12-30
1