Nyali Cayna langsung menyiut melihat seseorang berbadan besar, dengan wajah mengerikan mengangkat pergelangan tangan Cayna dengan mudah nya sampai tubuh Cayna terangkat ke atas, tinggi badan nya tak di duga benar benar besar.
"Hai nona cantik..." lelaki itu menghempaskan Cayna ke bawah hingga pinggang Cayna sakit terbentur aspal.
"Si... siapa kau~" Cayna cepat cepat berdiri segera lari dari hadapan nya yang menurutnya akan mencelakai dirinya. Tak peduli bagaimana kondisi tubuh nya sekarang yang paling penting ia harus lari dari sini terlebih dahulu.
Karin melepaskan genggaman Alan yang tadi menolong dirinya, "Kamu..." Karin mendongak melihat seorang lelaki besar, tinggi yang sekarang membungkuk di hadapan nya.
"Yah padahal perempuan tadi cantik, kamu gak apa apa?" ucap nya dengan senyuman lebar. Karin langsung tersenyum dan menebak "Paman Jordan!" Karin langsung memeluk tubuh besar yang disebut paman Jordan itu erat erat kedalam pelukan.
Paman Jordan langsung melepaskan pelukan Karin "Kau tidak takut lagi dengan ku?" tanya paman Jordan yang 2 kali lebih tinggi dari nya. "Kan pas itu aku masih kecil, sekarang enggak soalnya paman menurutku biasa aja gak ada seram seram nya" kata Karin yang ucapan nya agak menyindir, tapi ya gimana lagi awalnya memang terkejut tapi pas dilihat dari dekat. Paman Jordan hanya lah orang dengan tampang nya memang agak menakutkan tapi setelah diperhatikan tidak kok.
Hanya saja mungkin gara gara tubuh tinggi dan badan besar nya kali ya, yang membuat orang suka salah paham.
"Alan , antar paman Jordan ke kamar nya"
"Siap nona"
Karin melihat paman Jordan yang hanya diam di tempat "Kamu gak ikut aku?" tanya Jordan dengan muka memohon.
"Kemana?" tanya Karin tak tahu. "Ke kamar ku lah, sekalian habis ini kita latihan"
"APA!!! SETELAH INI!!!"
"Kamu jangan pura pura lupa gitu..., kalau gitu tunggu paman di tempat latihan ya sambil pakai... ehm... baju olahraga apapun yang kamu punya, pakai aja gak papa"
Karin menatap kepergian paman nya dengan muka tercengang, tapi tak apa juga sih lebih cepat lebih baik. Karin bersiap siap memakai baju olahraga lalu langsung menuju ke tempat yang kemarin sudah diletakkan barang barang nya kemarin malam.
Ukuran tubuh paman Jordan dengan Karin. kira kira Karin saja sih.
.
Memakai baju olahraga biru nya, Karin berlari kecil dari kamar menuju ke tempat latihan di belakang taman sana. Memang agak jauh, tapi Karin harus tetap bersemangat. Setelah beberapa menit, tak lebih dari 30 menit Karin sampai, melihat paman Jordan sudah ada di sana dengan melakukan push up, Karin hanya diam di tempat takut menganggu aktivitas paman nya.
Beberapa menit paman nya tak sadar kalau Karin sudah berada disini, langsung tersadar saat berdiri. "Kamu! kaget aku, kenapa diam aja?" tanya paman Jordan mendekat ke arah nya yang langsung Karin menjauh darinya. bau keringat paman Jordan tak disukai Karin "Kamu harus terbiasa mulai sekarang Karin. Sudah dari tadi menunggu atau bagaimana?".
Karin mengangguk, Karin berdiri dari duduk nya soalnya dia diajak untuk berdiri di depan nya. "Sekarang kita pemanasan saja dulu, saya mau lihat kamu masih bisa tidak melanjutkan semua ini"
Karin berdecih "Memang nya aku anak kecil gitu! aku bisa melakukan pemanasan!" jutek nya yang sudah ancang ancang peregangan tangan.
"Ya sudah kalau gitu lakukan pemanasan, 1 pemanasan 100×!"
"HAH????" Karin mengangga tak percaya.
.
"SATU... DUA... TIGA...!" paman Jordan melihat stop watch nya.
"AYO KARIN LAKUKAN PUSH UP LAGI! LAKUKAN LAGI!!! LAKUKAN LAGI!!! INI MASIH YANG KE 30! TIDAK BOLEH BERHENTI!!!"
"AKHHHH-" Karin berteriak di saat ia mengangkat tubuh nya.
"Ayo angkat tubuh atas mu Karin, sampai menjadi posisi duduk"
Karin melakukan sit up beberapa kali, beberapa kali sampai lelah pun Karin harus melakukan semua ini, tak boleh minum bahkan tak boleh berhenti kalau berhenti akan dihitung dari awal. Ini hukuman atau gimana sih, awalnya Karin tak bisa melakukan semua ini, rasanya sudah tak usah dilanjutkan tubuh nya sudah tak kuat lagi.
Tapi hati nya menolak menyerah, tubuh dan hati nya tak se frekuensi yang dimana tubuh ingin berhenti, pingsan saja pingsan saja tapi hati nya menolak untuk berhenti dengan mudah nya. Hati Karin seperti mengatakan "Ayo, ayo terus maju, semangat semangat!!!" gelora api menyebar di seluruh tubuh Karin, wajah Karin memerah untuk melakukan semua ini. 2 jam ia lalui dengan baik untung saja paman langsung memberhentikan kegiatan karin yang sedang mencoba pull up walau tak bisa, rasanya ingin jatuh dan pingsan untung saja pas itu langsung dihentikan. Dengan waktu istirahat langsung Karin jatuhkan tubuh nya di matras empuk, tenang saja tubuh Karin masih aman.
Sudah, ampun rasanya kedua lengan, kaki semua bagian tubuh nya sakit semua. Apa Karin bisa melanjutkan nya semua penderitaan yang harus ia jalani ke depan nya? paman Jordan datang membawakan sebotol aqua dingin untuk Karin yang sedang mencoba bernapas, menghirup udara dan memejamkan mata. Menerima botol aqua dari paman nya, Karin mencoba untuk duduk kaki nya terlentang, tapi tak bisa ia untuk duduk seperti itu walau ia mencoba untuk duduk pun kaki dan kedua tangan nya sakit semua, apa karena ia kurang pemanasan jadi nya begini?
"Mau kubuka kan aqua nya?" tanya paman Jordan tanpa rasa bersalah maupun rasa kasihan di wajah nya, benar kata Mama , paman Jordan adalah orang yang ketat, saking ketat nya dibuat rapuh tubuh murid nya.
Karin menggeleng, ia memang haus, tapi ia ingin minum sendiri saja nanti. Yang pasti ia sudah bebas sedikit, yah walau ia harus olahraga lagi nanti.
25 menit dihabiskan tubuh karin sedikit mendingan melihat uluran tangan dari paman Jordan sontak Karin menerima dan langsung ditarik berdiri begitu saja.
"Bagaimana? kau memilih lanjut atau belajar dulu yang kecil kecil? itu tadi yang kau lakukan sudah menjadi pembiasaan paman. tapi tidak untuk kamu Karin, jadi kamu jangan remehkan olahraga paman yang terlihat kecil bagimu. sekarang sudah sadar kan?"
Karin mengangguk kelelahan napas nya ngos ngosan. Tak apa semua ucapan paman diangguki saja. "Ya.. ya sudah kita olahraga kecil kecilan dulu... jangan 100 kali plis" mohon Karin dengan suara kecil.
"Kata mu ingin kuat!"
PLAKK-
Punggung Karin di tampar dengan keras.
"SEMANGAT DONG!!!"
Karin kaget saat tamparan paman nya keras, apalagi rasanya sakit di punggung.
"I... iya paman pasti... Karin bisa" kata nya mencoba menyemangati diri menaikan tangan kanan nya ke atas. "Berapa jam lagi paman? jangan lama lama ya..."
"4 jam! tenang saja! paman beri bonus, karena ini adalah hari pertama Karin menjalani ini semua"
"4 JAM!!!" Karin ingin pingsan lagi, ia ingin tidur. lebih baik ia tak mengatakan ini ke Mama dari awal kalau tau ini semua.
"Jadi paman kalau misalnya hari ini ditotal semua nya 6 jam jadi besok besok berapa jam?" tanya Karin dengan suara lemas.
"9 jam lah!"
"HAH!!!" Karin melotot tak percaya, sembilan jam? gila. paman nya benar benar gila.
"Tapi pliss kasih waktu buat istirahat ya paman jangan kayak tadi..."
Paman Jordan malah tertawa mendengar perkataan Karin yang terlihat lucu "Ya tenang saja, tadi itu hanya test saja untuk melatih mental mu. Kamu melanjutkan atau tidak. tapi rupanya kamu masih melanjutkan. Gitu aja sih, tenang aja paman gak bakal sekeji itu..."
Karin hanya tertawa kecut untuk jawaban Jordan. "Ya begitu ya" padahal paman nya tak tau apa kalau perbuatan nya benar benar kejam tadi... huhu Karin ingin menangis karena paman Jordan. Untung tak sejahat Haikal.
"Ya sudah, ayo paman aku mau olahraga kecil kecilan dulu! aku akan berlatih sungguh sungguh!" mantap Karin menatap kedua mata paman nya dengan seksama dan jelas.
"Nah gitu dong, katanya ingin punya pertahanan kuat. bagaimana pertahanan mu bisa kuat kalau olahraga saja masih capek"
"I... iya paman"
Setelah 3 jam setengah dibuat untuk latihan kecil yaitu untuk melatih semua bagian tubuh, kegiatan selesai jam 16.59. Paman Jordan melihat Karin yang terduduk diam dengan tangan semua nya terlentang ke depan bahkan kepala Karin menatap lurus ke arah depan dengan tatapan seperti melamun.
Paman Jordan melihat makanan yang baru saja dibawa Nina tadi hanya Karin tak menyadari kalau ada makanan. Paman langsung menuju ke Karin sambil membawakan sepiring makanan.
"Makan dulu, biar tubuh mu makin berisi, lihat tubuh mu kurus begitu"
Karin langsung memincingkan mata nya "Makasih" ketus Karin langsung memakan lahap makanan yang diberikan paman Jordan.
"Karin"
"Hem?"
"Apa tujuan mu meminta semua ini?"
Karin diam sesaat tak memberikan jawaban sampai ia selesai makan pun tak diberikan jawaban apapun sama sekali. "Ayo paman olahraga lagi, tubuh ku mulai aktif nih" ucap Karin menekuk lengan kanan nya.
"Kamu ini tak sabaran ya, yasudah ayo!"
Lebih dari 43 menit kegiatan usai, Karin berjalan membereskan barang yang berantakan, yang sudah ia gunakan untuk membantu nya olahraga. Dengan dibantu paman Jordan semua nya selesai, tertata rapi. Karin mendongak sedikit melihat ke arah paman Jordan.
"Makasih, aku gak sabar nunggu besok" usai Karin pergi dari sini yang ditemani Alan yang sudah menunggu dari luar.
Paman Jordan melihat Karin dari kejauhan "Apa dia kecapekan ya? dia sedikit cuek dengan ku" gumam paman yang langsung menepis pikiran nya jauh jauh.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments