Kembali ke Mansion kediaman utama
Keluarga besar Hillatop (Gao dan Ayana).
"Pernikahan Jessica dan Sean telah dilaksanakan"
Suara seseorang membuat Tiffany diam, dia hampir selesai menyusun pakaian nya kedalam lemari walk in closet saat suara tersebut menyeruak masuk di balik telinga nya, sejenak tangan Tiffany bergetar, meskipun dia berusaha menekankan diri jika semua baik-baik saja dan dia pasti bisa melupakan semua nya, menyakinkan pasti mampu menjawab pertanyaan orang-orang, nyata dia tetap berada pada fase dimana ketika mendengar dua nama tersebut disebutkan langsung membuat dia bergetar.
Dia sama sekali belum bisa melupakan segalanya, dia masih kecewa dan marah juga masih belum ikhlas menerima segalanya dan mungkin dia masih belum bisa melihat kedua orang tersebut saat ini.
Yang bicara adalah sepupu nya, putri bungsu dari Untie Nadine nya.
"Jessica terus berkata dia ingin bicara pada mu sejak beberapa hari yang lalu"
lagi suara tersebut terdengar, sosok gadis itu menatap dirinya sembari menghela sejenak nafasnya.
"aku tahu ini berat Tiff, tapi memilih diam dan tidak membicarakannya juga bukan solusi yang bijak, pada akhirnya kalian perlu bicara, mungkin ini adalah kesempatan untuk bertanya atau apapun itu, aku tidak tahu harus memberikan saran apa atau entahlah...."
Gadis tersebut menghentikan kata-kata nya.
Dia pikir dengan diam nya Tiffany semua tidak akan selesai, minimal gadis tersebut harus bicara dan memutuskan sesuatu soal Jessica.
Dia tidak berani menghakimi siapapun saat ini tapi tak ada yang mengeluarkan suaranya sama sekali tentang penghianatan dilakukan oleh Jessica meskipun dia tahu mommy Ayana telah bicara pada Jessica dan Sean. Wanita tersebut seolah-olah sengaja bungkam dan tidak mengumbar aib keluarga pada para anak muda seperti mereka, mungkin orang tua nya mendapatkan cerita nya tapi tetap tidak mengumbar berita.
Bagi mereka, aib keluarga seperti aib diri sendiri yang tidak perlu di umbar kemana-mana.
Namun meskipun begitu semua orang menunggu keputusan Tiffany, dia paling berhak memutuskan apa yang harus dilakukan pada Jessica selanjutnya, meski bagaimanapun juga Jessica tinggal dalam atap yang sama dengan Tiffany sejak kecil hingga kini, setelah menikah apakah Jessica diizinkan untuk tetap tinggal atau pergi, jika pergi apakah boleh berkunjung kembali atau tidak, semua harus diputuskan oleh Tiffany.
Tiffany masih memilih diam, tapi dia kembali mencoba untuk menyusun kembali pakaiannya kedalam lemari Walk in closet, beberapa pakaian dan barang-barang yang pernah dia pindahkan ke kediaman baru impian nya kini telah kembali ke tempat asalnya, kamar kebanggaan nya dirumah orang tuanya.
Entah berapa lama waktu berlalu, hingga akhirnya sepupunya tersebut bergerak mendekati dirinya, gadis itu menyentuh lembut bahu nya kemudian memeluknya dari belakang.
"Selesaikan semuanya, dengan begitu kamu akan merasa lega dan tenang untuk melangkah kedepan"
Ucap gadis tersebut pelan.
Masih gadis tersebut memilih diam, menghentikan seluruh gerakan tangannya secara perlahan, dia memejamkan bola matanya sejenak sembari menggigit bibir bawahnya, mungkin tepat nya dia masih berusaha menahan perasaan yang bergejolak didalam hati nya atau mungkin dia masih berusaha untuk menahan tangisannya yang akan pecah.
"Kamu tahu Tiff? Debasish Mridha berkata masa lalu memberi kita pengalaman dan membuat kita lebih bijaksana sehingga kita bisa menciptakan masa depan yang indah dan cerah." -
Gadis tersebut bicara, mengusap lembut punggung tangan Tiffany yang kini menggenggam lengannya yang memeluk sepupu nya itu.
"Dan Roy T. Bennett berkata begitu kamu menyadari bahwa kamu pantas mendapatkan masa depan yang cerah, melepaskan masa lalumu yang kelam adalah pilihan terbaik yang pernah kamu buat." -
Lanjut gadis tersebut lagi pelan.
"Selesaikan lah, buat keputusan untuk kalian,Jessica menunggu mu di depan"
Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Tiffany dan memberikan nya sebuah kekuatan besar agar gadis tersebut tetap kuat.
"Semua pasti baik-baik saja"
Dan mereka diam didalam keheningan untuk beberapa waktu diiringi suara jarum jam yang tiba-tiba berdentang memenuhi kamar tersebut.
******
Entahlah aku bukan takut hanya saja aku merasa belum siap melihat wajah orang-orang yang mengkhianati diriku, Seolah-olah mereka lebih mengerikan daripada begal yang membunuh korbannya demi untuk mendapatkan barang rampasan mereka.
Aku takut khilaf pada kemarahan ku saat menatap salah satu wajah yang telah aku anggap seperti saudara kandung sendiri, rupanya dia adalah benalu dan juga musuh didalam selimut hangat ku.
Bukannya aku pengecut tapi aku hanya takut masih belum bisa mengendalikan emosionalisme ku atas kemarahan yang menghantam ku saat ini.
Tiffany.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Kugy Narisa
WaJaR Kl TiffANy blm sAnggup BerTeMu SAudArA AngKAt'a N MAntAn KeKaSih Yg SudaH MeNghiAnAti'a.....
2023-07-17
0
Wati_esha
Sulit untuk menahan diri dalam waktu sekejab. Namun bola kehidupan terus berputar.
2023-04-29
0
Wati_esha
Tq ya update nya.
2023-04-29
0